
Mbok Jum yang sering dititipi Waskito selama Yanti belajar bersama Niken, senang karena anak asuhnya itu pendiam. Waskito, atau Kito, bergumam pelan sambil memainkan bola plastik yang diambil Mbok Jum dari koleksi mainan Elang.
"Auwww..waaaauuu...." suara Kito yang nyempling (nada suara tinggi), sangat menggemaskan.
Wanita berbadan bongsor itu kini sedang memasak di dapur, jadi dia letakkan Kito di tempat tidur bambu, tidak jauh darinya. Mbok Jum tidak khawatir bocah laki-laki itu akan jatuh, Kito hampir tidak berpindah kalau tidak ada yang memindahkan. Anak yang malas jalan, beda dengan anaknya, Elang yang sama sekali tidak bisa diam.
Dak! Dak! Dak!
Mbok Jum menoleh ke arah Kito, bocah itu memukul-mukul bola dengan dua tangan, ke dipan yang memang keras. Dia pastikan anak itu tidak kenapa-kenapa.
"Auuuu..." Kito tertawa sambil memukulkan lagi bola plastik itu ke tempat tidur.
Dak! Dak! Dos!
Kali ini Mbok Jum menoleh karena suara yang agak berbeda. Kito masih memegang bola yang sudah pesok, satu sisinya melesak ke dalam.
"Gembos, bolanya, Le? Nanti Mbok ambilkan yang lain, ya.." ujar Mbok Jum dengan pandangan hangat.
"Aauuu!" seru Kito. Dia kembali memukulkan bola yang kini sudah tidak bulat mulus ke dipan.
Dak! Dak! Dak!
.........
Elang yang pulang sekolah dalam keadaan haus dan lapar, langsung menyerbu ke dapur.
"Pelan-pelan mimnya, Le," ujar Mbok Jum dengan lembut.
Anak laki-laki itu menurut, toh rasa hausnya sudah berkurang. Kali ini matanya tertuju pada sosok bayi yang sudah jadi pemandangan biasa. Hati Elang langsung panas melihat bolanya yang kempes di tangan bocah kecil itu.
"Buk! Bolaku dirusak Kito!" teriaknya marah.
"Uwis, sabar, Le... Nanti ibuk belikan yang baru," sahut wanita itu yang kini menguleni adonan donat.
"Kenapa sih, Buk, kok Kito sering kesini?" Elang berjalan mendekati harumnya aroma vanili bercampur gula dan ragi.
"Pak Dennis ngasih uang tambahan kalo Ibuk mau njaga Kito."
"Tapi mainanku banyak yang rusak!" Elang menghentakkan kaki. Meski begitu, hatinya luluh saat melihat Kito yang tersenyum dan bicara bahasa bayi dengannya.
"Janji, ya, Buk. Aku mau mobil truk yang besar, biar aku bisa naik," kata Elang.
Mbok Jum tersenyum kecut, "Hmm, kalo dirusak Kito lagi, gimana?"
"Ndak apa. Minta Tuan Dennis belikan yang baru," sahut Elang sambil tersenyum nakal.
.........
Dennis berjalan sambil menyeret kaki ke warung yang berlokasi di pinggir jalan, tidak jauh dari salah satu surat kabar terkenal di Surabaya. Hari ini dia sengaja meninggalkan tongkatnya di rumah, berpikir kalau urusannya hanya sebentar.
Dia mengacuhkan pandangan orang yang terarah padanya. Setelah memesan teh panas, Dennis duduk di bangku panjang dan mendengarkan pembicaraan pelanggan lain.
Cuaca sedang terik saat itu dan sebentar saja keringat sudah membasahi kemejanya. Dennis makin gerah karena kepulan asap rokok yang sampai padanya tertiup angin.
"Pak, hawanya dingin, ya," kata Dennis sambil tersenyum ke arah pria penjaga warung.
Pria itu lantas tertawa. "Iyo, Mas. Adem banget."
Dennis lalu berdiri untuk membayar minumannya. Ketika akan pergi, seorang anak kecil yang sedang berlari menabrak Dennis. Keduanya sempat kehilangan keseimbangan, anak itu kembali berlari sedangkan Dennis terduduk kembali di bangku panjang.
"Ati-ati, Le!" teriak pemilik warung yang tidak didengar anak tadi. Dia sudah hilang entah kemana.
Dennis kembali berdiri dan meninggalkan warung itu. Teh panas yang dibelinya dibiarkan tak tersentuh.
Pria berkumis tipis itu mengeluarkan tanda pengenal baru yang didapat saat bertabrakan dengan anak tadi. Selain foto dan nomor keanggotaan yang tertera pada kartu tersebut, ada catatan lokasi dan jam berkumpul.
Dennis bergumam sambil berjalan ke arah halte. Mereka jarang melakukan misi yang melibatkan lebih dari dua orang. Kemungkinan target kali ini berjumlah banyak, atau bergerak dalam kelompok.
...
Sejak adanya sesi belajar bersama Niken, Yanti baru mencuci baju setelah makan siang. Kegiatannya begitu banyak, sehingga hampir-hampir tidak ada waktu bagi Yanti untuk istirahat.
Belum lagi tugas tambahan atau PR dari Niken, yang hanya bisa dikerjakan saat Kito sudah tidur. Dia tidak mau bukunya kembali sobek atau insiden lain.
Yanti bangga dengan perkembangan Kito. Anaknya itu kini semakin aktif dan mulai belajar berdiri dengan berpegang pada pinggiran barang-barang. Meski agak terlambat berjalan, anaknya itu seolah mengerti keadaannya dengan jarang menangis.
Siang itu, Yanti menggendong Kito yang sedang tertidur ke ruang tamu dan menggelar tikar untuk anaknya tidur. Sementara Yanti duduk di sebelahnya sambil belajar menulis dan membaca.
Melihat deretan huruf dalam waktu lama dan kelelahan yang bertumpuk membuat mata Yanti terasa berat. Wanita itu tetap berusaha membuka mata dan melanjutkan belajar.
Yanti bahkan menyalakan radio yang ada di ruang tamu untuk menemaninya. Namun, alunan musik yang mendayu-dayu, semilir angin jendela, dan suara pembawa acara yang kalem, semuanya membius ibu muda ini.
Matanya tertutup sendiri. Pegangan tangannya pada pensil, mengendur. Nafasnya bertambah berat dan teratur. Yanti tidak kuasa menolak ketika badannya sudah diambil alih untuk melayang dalam pengaruh bawah sadar.
Karenanya, saat Yanti bangun, dia terkejut.
Byuh, aku ketiduran! Pikirnya sebelum pandangan wanita itu terarah pada anak kecil yang harusnya berada di tikar.
"Uwaaaaaaaa!!!" tangis dan teriakan Kito membuat Yanti langsung berdiri dan mencari asal suara. Jantungnya berpacu, khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada anaknya.
Darah dan tubuh Yanti seketika dingin ketika melihat Kito yang menangis di kamar tidur tuan mereka. Anaknya itu duduk di sebelah tongkat hitam yang patah jadi dua. Yanti bergegas meraih dan memeluk Kito.
"Hush, diem, Le. Ndak apa, Le.." gumamnya sementara dia berpikir bagaimana bisa Kito masuk ke dalam kamar dan mematahkan tongkat.
"Diem... Ndak apa..." Yanti terus mengulang kata-katanya meski tahu kalau itu bohong.
Semua rasa lelah dan kantuk, hilang, berganti rasa takut. Dia memikirkan berbagai cara tapi tahu kalau dia tidak bisa menipu Dennis.
Pria itu seperti punya mata dimana-mana. Dia bahkan tahu setiap Kito dan Yanti habis beli kue kacang! (Yanti tidak sadar kalau Dennis tahu dari remahan berbau kacang yang menempel di baju, dan Kito masih belum bisa makan kacang goreng utuh).
Jadi kali ini Yanti berpikir keras apa yang sebaiknya dia lakukan, menyembunyikan dan membiarkan Dennis memarahinya habis-habisan. Atau jujur dan pasrah waktu Dennis memarahi mereka habis-habisan.
Yanti pun melangkah keluar kamar majikannya sambil menepuk punggung Kito yang mulai cegukan. Saat akan menutup pintu, Yanti heran karena gagang pintu yang longgar. Ketika dia periksa ternyata pintu sudah jebol. Wanita itu heran apa yang bisa menyebabkan gagang pintu bisa rusak.
Sesampainya di dapur Yanti sedang memberi minum pada Kito waktu dia mendengar suara pintu depan dibuka. Wanita itu pun berjalan kesana dan mendapati Dennis yang membanting diri di sofa ruang tamu. Nafasnya agak ngos-ngosan dengan keringat bercucuran di dahi yang sedikit merah.
"Yan, ambilkan minum," perintah Dennis yang masih menutup mata.
"Pakai sirup, Pak?" tanya Yanti. "Apa es? Aku ambilkan di Mbok Jum."
Kali ini Denis membuka sebelah mata. Dia heran karena tidak biasanya Yanti menawarkan minuman manis, apalagi pakai es. Seolah-olah yang ada sesuatu yang Yanti inginkan darinya.
Dennis melihat Yanti yang bertumpu dari satu kaki ke kaki lain dengan gelisah. Matanya memandang ke sekeliling ruang tamu, tapi tak sekalipun terarah padanya.
"Ada apa? Kamu habis ngapain?" tanya Dennis.
Yanti menggigit bibir bawahnya.
"Aku bikinkan es sirup dulu, Pak," sahut Yanti sambil berusaha kabur dengan membawa anaknya.
Dennis menunggu hingga Yanti membawa es sirup dalam gelas besar. Saat Dennis kembali mengulangi pertanyaannya, Yanti malah pergi lagi dan tidak kembali.
Sambil menegak es sirup yang segar dan menghilangkan dahaganya, mata Dennis jatuh pada buku Yanti yang masih terbuka. Pensil dan penghapus juga masih ada di meja.
Pria itu mulai mengumpulkan petunjuk yang ditinggalkan oleh Yanti. Dia yakin akan segera mengetahui apa yang disembunyikan ibu muda itu darinya.
.
.
.