
Setiap kali mengikuti pengajian, ada ketenangan hati yang tidak bisa Yanti katakan.
Hiruk pikuk di rumah Dennis, terutama saat Yanti masih belajar dengan Bu Niken, ditambah pekerjaan rumah dan mengurus anak. Yanti seperti terus dikejar-kejar waktu. Belum lagi sikap majikannya yang sebentar perhatian, sebentar lagi dingin.
Batin Yanti lelah mengalami pasang surut emosi sejak datang ke Surabaya.
Mengulang-ulang pujian dan doa, mendengar ceramah dan kata-kata yang baik, menyejukkan hati Yanti. Ibu muda itu merasa dimanja, seperti seorang tamu yang datang ke perjamuan, meski suguhannya hanya es sirop dan jajanan sederhana.
Yanti sangat senang waktu mbok Jum ingin ikut. Dia ingin wanita yang sudah menjaganya dengan baik, agar merasakan ketenangan pikiran seperti Yanti.
Mbok Jum pun pergi bersama Yanti setelah maghrib. Ada banyak orang yang dia kenal dari lingkungan sekitar yang hadir. Tapi wanita sepuh itu tidak kenal dengan Ustadz dan Ustadzah yang memberi ceramah. Materi yang disampaikan pun berkali-kali mengulang tentang pentingnya pengorbanan demi tujuan yang lebih baik.
Pada akhir acara, mulai keluar suguhan macam-macam. Seperti pesan Dennis, mbok Jum mengambil beberapa untuk dimasukkan ke kantong plastik.
.
"Kamu dapat darimana, makanan ini?" tanya teman Dennis.
"Kenapa?" Dennis balik tanya sambil membuka hasil pengujian dari lab. Mata pria itu terbelalak melihat hasil akhir dan kesimpulan di belakang. "Kau serius?"
"Buat apa aku main-main. Justru aku kuatir kalau kamu terlibat masalah!" seru teman Dennis. "Halucyanth bukan zat yang mudah ditemui. Aku pergi dulu! Kamu hati-hati, jangan sampai ketahuan!"
Dennis tidak membalas perkataan temannya. Pikirannya dipenuhi banyak kemungkinan tentang makanan dan minuman yang sudah masuk ke tubuh Yanti dan anaknya. Halucyanth, sesuai namanya bisa menyebabkan halusinasi. Karena sering disalahgunakan pada masa perang dunia, zat ini dijaga ketat dan hanya dipakai untuk penelitian.
Jadi bagaimana bisa zat ini bisa tercampur salam suguhan pengajian?
Saat Dennis membawa hasil temuannya ke Antok, pria itu menggelengkan kepala.
"Divisi kita tidak menangani tentang penyelidikan. Aku bisa memberi info ke atas tapi akan lebih cepat kalau kamu lapor ke polisi."
Dennis yang tidak puas dengan jawaban atasannya, berusaha menegosiasi lagi. "Tapi ini masalah serius! Sudah banyak yang ikut pengajian itu dan mengkonsumsi zat ini!"
"Makanya! Tugas kita mengeliminasi orang! Bukan membubarkan kelompok pengajian!!" balas Antok tidak kalah sengit.
Antok lalu menurunkan lagi suaranya. "Info ini pun, masih akan divalidasi, biar yakin kalau benar halucyanth atau bukan. Lalu masih menelusuri pembawanya, produksinya. Istrimu bisa keburu mati overdosis sebelum turun perintah."
Dennis yang tidak puas dengan jawaban itu, akhirnya menyuruh mbok Jum melapor. Berdasar laporan warga dan bukti hasil analisis, pihak keamanan setempat langsung bertindak.
Sementara Dennis mempersiapkan diri menghadapi efek dari penggunaan halucyanth yang lebih berbahaya. Yaitu efek withdrawal, atau gejala putus obat.
"Aku mau berangkat ngaji, Pak..." rengek Yanti yang kini bahkan mulai memakai cadar di dalam rumah.
"Tempat ngaji kamu tutup, Yan. Tadi kan kamu lihat sendiri kalau tempatnya dikasih garis batas dilarang masuk sama polisi," bujuk Dennis yang berdiri di depan pintu.
"Ndak apa, aku tetep mau kesana.. Jangan halangi aku, Pak!" rengekan Yanti berubah jadi bentakan bersuara keras.
Dia bahkan menarik tangan Dennis agar menjauh dari pintu dengan sekuat tenaga. Dennis berpegangan pada rangka pintu agar Yanti tidak bisa melewatinya.
"Sadar, Yan! Nyebut!" teriak Dennis.
Namun Yanti yang seolah hilang akal, mulai mencari cara lain ketika Dennis tidka juga bergeming. Dia mencoba menggigit bahu dan lengan Dennis, bagian tubuh mana saja yang bisa diraih wanita itu. Cadar dan kerudungnya lepas diantara pergumulan mereka.
"Aduh! Yan! Hentikan, Yan!"
"Kalian semua sama saja! Kenapa aku ndak boleh gini! Ndak boleh gitu!" teriak Yanti marah diantara serangannya.
Pria itu pun menggunakan tangan untuk memegangi kepala Yanti. Gigitan ibu muda itu cukup menyakitkan.
"Tenang, Yan! Sadar! Aaa!" pinta Dennis yang kesakitan.
Dennis kembali bersiap saat Yanti mendongak dengan pandangan beringas. Mata yang kemerahan tampak liar dan buas. Mata yang kini terarah bukan pada pintu, tapi pada tubuh Dennis.
Pria itu belum sempat menghindar saat Yanti kembali menerjangnya. Dennis yang mengira Yanti akan kembali menggigit atau mencakar, tidak menyangka ketika ibu muda itu menyapukan lidahnya dari bahu ke leher Dennis.
Darah Dennis yang dipacu oleh adrenalin akibat serangan Yanti sebelumnya, menjadi sangat sensitif. Karenanya, satu tindakan dari Yanti itu langsung membuat otak Dennis korslet.
Dennis dibuat makin tak berdaya saat ibu muda itu juga menjamah bagian tubuhnya yang lain. Tubuh yang belum pernah disentuh siapapun untuk tujuan erotis.
"Tidak, Yan... Hentikan..." pinta Dennis dengan suara pelan dan berat.
Nafas Dennis memburu saat Yanti merapatkan tubuh mereka dan bergerak mengikuti insting liarnya. Pria itu mencoba menjauhkan diri dari Yanti dengan susah payah. Tubuh Yanti dengan kulitnya yang halus, mulus dan hangat... Dengan lekukan yang pas dan sesuai dengan keinginannya...
"Yanti..."
Dennis tidak melawan ketika Yanti menjambak rambutnya dan menyatukan mulut mereka dalam ciuman yang saling mendominasi. Tangan keduanya saling mencari celah untuk bisa menjadi makin dekat. Dennis membantu Yanti merobek kemejanya yang sudah koyak, lalu membuangnya ke lantai.
Yanti lalu menempelkan wajahnya di dada Dennis dan memeluknya erat-erat, mengusap setiap permukaan yang bisa dijangkaunya. Dennis yang dikuasai nafsu pun mulai melepaskan kancing baju Yanti satu per satu. Dia sudah akan melepas baju itu saat mendengar suara yang tidak asing.
"Nniiss.." ujar Waskito yang berpegangan pada tirai di dekat pojokan ruang tamu. Wajah bocah itu terlihat tidak nyaman sebelum tangisnya pecah.
"Nnniss!! Nniss!!" teriak Waskito sambil berjalan tertatih-tatih ke arah mereka.
Dennis merasa kepalanya seperti disiram air es saat itu. Hilang sudah keinginannya untuk melanjutkan perbuatannya dengan Yanti. Ibu muda itu kini hanya menatapnya dengan pandangan mata yang tidak fokus. Hampir seluruh badannya berkeringat dan panas.
Asu! Umpat Dennis dalam hati.
Dia hampir saja melakukan hal yang sama dengan ayah Waskito. Bagaimanapun, Yanti sekarang sedang dalam pengaruhefek putus obat. Yanti tidak sadar dengan tindakannya. Efek yang sama dengan Waskito, yang kini menangis sambil berpegang pada kakinya.
Dengan berat hati, Dennis kembali mengancingkan dan merapikan pakaian Yanti. Membawa ibu dan anak itu ke kamar mereka. Dennis membantu mereka berbaring lalu keluar sebentar untuk mengambil baskom berisi air bersih.
Semalaman, dia menjaga agar Yanti dan anaknya jauh dari keadaan berbahaya.
.
Siangnya, saat keadaan Yanti mulai stabil, Dennis kembali ke kamarnya.
Sementara itu, Yanti perlahan ingat dengan kejadian kemarin malam. Serta semua hal-hal memalukan yang dilakukannya pada Dennis.
"Byuh! Aku kok kayak orang gila!" teriaknya malu sambil menutup wajah dengan bantal.
Tidak hanya merobek pakaian majikannya, dia juga bertindak seperti hewan yang sedang berahi. Lalu ada Kito yang melihat mereka.
"Byuh! Aku ini kenapa!?!" seru Yanti yang kembali bersembunyi di bawah selimut.
Dia tidak hanya malu. Tapi Amat Sangat Malu Sekali!
Selama ini dia memang sesekali membayangkan bagaimana jika mereka berdua adalah pasangan suami istri biasa. Meski begitu, Yanti tidak berani membayangkan tentang 'hubungan suami istri' apalagi sampai berusaha melakukannya seperti kemarin malam.
Dan jika mengingat wajah tampan dan mata tajam itu lagi... Yanti tidak keberatan kalau 'melakukannya' dengan Tuan Dennis.
Andai saja pria itu bukan sekedar suami kontrak dan majikannya...
.
.