Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang

Istri Kontrak Palsu Sniper Pincang
24. Waskito (1)


Yanti memandang tongkat Dennis dengan perasaan berkecamuk. Di satu sisi, dia senang tuannya itu bisa bekerja lagi. Di sisi lain, dia takut kalau apa yang terjadi waktu itu terulang kembali.


Dennis yang tengah sarapan, menangkap ada yang aneh dengan Yanti. Wanita itu lebih sering melamun sekarang, dan pandangan matanya tertuju pada tongkat hitamnya.


"Apa? Kena tongkatku?" tanya Dennis setelah menelan makanannya. Sayur bayam dan tempe goreng.


Yanti mengangkat kepala. "Apa, Pak?" tanya wanita itu, sedikit kaget.


"Dari tadi kamu nglihatin tongkatku terus. Itu, anakmu mulutnya sudah kosong," tunjuk Dennis.


Barulah Yanti sadar lalu segera menyuapi anaknya. Wanita itu masih belum menjawab pertanyaan Dennis.


"Kapan Bu Niken mulai ngajar lagi?"


"Hmm, mungkin minggu depan. Hari selasa," jawab Yanti.


Dennis melanjutkan sarapannya ketika Yanti memberanikan diri bicara. "Pak Dennis, kalau libur kerja dulu, gimana?"


"Libur?" Dennis menaikkan sebelah alisnya.


"Iya, baru masuk minggu depan."


"Pas tongkatku rusak, aku sudah libur lama."


Pandangan Yanti kini terarah pada sayur masakannya.


"Kalau sering ndak kerja, gimana aku bisa ngasih kamu gaji? Kamu juga perlu duit buat dikirim ke desa kan?" Dennis mengutarakan alasannya.


Yanti mengangguk, wajahnya masih kecewa.


"Nih." Dennis melempar amplop ke arah Yanti. Wanita itu kaget ada benda yang tiba-tiba melayang ke arahnya.


"Buat kamu," imbuh Dennis ketika Yanti bertanya dengan matanya.


Ibu muda itu membuka amplop perlahan. Wajahnya berubah ceria melihat banyaknya rupiah yang tersusun disana.


"Banyaknya, Pak! Berapa ini?" tanya Yanti dengan antusias.


"Kamu kan sudah belajar hitungan. Hitung saja sendiri. Aku berangkat kerja dulu," ujar Dennis yang beranjak dengan bantuan tongkatnya.


Hilang sudah kegelisahan Yanti. Uang sebanyak itu bisa membeli banyak bahan bangunan. Dia memang tidak tahu berapa persisnya, tapi Yanti yakin kalau banyak sekali.


"Gajinya ibuk kalo ditukar kue kacang, dapat berapa toples, ya, Le?" tanya Yanti pada anaknya.


Waskito hanya menggebrak-gebrak meja dengan senang, menyebabkan piring dan sendok bergetar-getar.


"Yan!" Teriak Dennis lagi.


Yanti segera berdiri dan mendatangi tuannya yang sudah di pintu ruang tamu.


"Apa, Pak?"


"Duit buat bapakmu mau kamu titipin siapa?" tanya Dennis.


Kali ini Yanti tersenyum malu-malu. "Ndak tahu, Pak. Apa aku sendiri yang ngasih ke bapak? Kangen aku.."


Dennis sudah menduga kalau Yanti tidak berpikir terlalu panjang. Dia pun langsung menutup pintu di depan wajah wanita itu dan tidak mempedulikan teriakan protes dari dalam rumah.


...


Sore itu Yanti sedang menyapu halaman depan dengan sapu kerik. Sejak dia datang, rumah jadi lebih bersih dan rapi. Suami Mbok Jum juga sudah memperbaiki kandang ayam di samping rumah. Sekarang, Yanti sudah punya uang sendiri, dia bisa beli bibit anak ayam untuk dipelihara.


Deru mobil mendekat membuat Yanti spontan menutup mata. Dia mengintip sedikit karena mobil berhenti tidak jauh dari tempatnya. Sesosok yang tidak asing, berbicara pada sopir sebelum turun.


Seorang gadis cantik berkulit putih dan mata kecil seperti tuannya. Yanti tidak begitu ingat nama wanita itu.


"Hai, Ce. Ko Dennis ada di dalam?" tanya wanita itu.


"P.. Dennis masih kerja." Yanti hampir saja keceplosan. "Mau masuk dulu?" ajak Yanti.


Wanita itu menganggukkan kepala. Yanti pun meletakkan sapu dan menyuruh gadis itu masuk dulu lewat ruang tamu.


Lani berhenti melangkah ketika berada di teras rumah. Seorang anak kecil sedang duduk di lantai dengan jempol di dalam mulut. Baju dan mulut sama kotornya dengan tangan dan kaki anak itu.


"Aaa.. Nis.." ujar Waskito, memamerkan lagi senyum dua giginya.


Wanita itu heran.. dia tidak mendengar apa-apa tentang anak kecil. Lagipula bocah itu tidak begitu kecil.


"Ayo, masuk dulu," ujar Yanti yang membuka pintu ruang tamu. Dia juga cepat-cepat mengangkat Waskito dan menggendongnya di pinggang.


Lani melangkah masuk dengan rasa was-was. Apa lagi yang kakak laki-lakinya sembunyikan selama tinggal terpisah dari rumah utama.


"Maaf, Ce. Aku tiba-tiba datang."


"Iya, ndak apa. Tapi Dennis belum datang," ujar Yanti.


Mata Lani tertuju pada pakaian dan lengan Yanti. Wanita itu tidak memakai perhiasan apapun. Pakaiannya pun tidak seperti yang Lani bayangkan.


Yang dikenakan Yanti saat datang ke rumah utama memang bukan pakaian mahal. Tapi Lani tidak menyangka kakaknya akan membiarkan istrinya memakai baju yang lebih lusuh dibanding pelayan di rumah mereka.


"Ce Yanti dulu gimana kenal Ko Dennis? Aku kira Ko Dennis ndak akan nikah sampai tua," ujar Lani sambil tersenyum.


Yanti ikut tersenyum. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya. Dia bingung harus jawab apa.


"Aku juga ndak tahu bakal nikah sama Dennis," jawab Yanti jujur.


"Lalu, anak ini..."


"Ini anakku, Waskito."


Lani lalu terdiam. Semakin dilihat, anak itu tidak mirip Dennis. Semuanya terasa begitu janggal bagi Lani, pernikahan Dennis yang mendadak. Pakaian Yanti yang tidak terlalu layak, dan bocah itu....


"Ce Yanti... Apa kamu bahagia nikah dengan Ko Dennis?" Lani akhirnya menanyakan hal yang paling ingin dia ketahui. Ditatapnya wajah lebar Yanti lekat-lekat.


Batin Yanti berteriak, kenapa gadis ini dari tadi menanyakan hal yang susah dia jawab. Tidak bisakah majikannya itu pulang lebih cepat dan menjawab sendiri pertanyaan wanita ini?!


"Kalau Ce Yanti dipaksa Ko Dennis buat menikah, bilang sekarang juga. Aku akan bantu Ce Yanti buat pisah. Mami juga akan bantu kalau Ce Yanti mau pisah dari Ko Dennis."


Ucapan Lani yang mendadak berubah arah membuat Yanti hanya pasang senyum bimbang. Dirinya memang dipaksa, tapi Yanti juga punya keperluan lain yang hanya Dennis bisa bantu.


"Aku ndak mau pisah. Aku..." Yanti melihat Dennis yang berjalan mendekat dari halaman.


Pria itu berjalan dengan limbung, kaki kanannya tidak bisa menahan sempurna. Tapi dibalik wajah galak dan sikap judesnya, tersimpan perhatian yang tidak bisa Yanti gambarkan. Saat mereka berdekatan, Yanti merasa senang. Hal itu sudah cukup baginya saat ini.


"Aku mau tetep nikah sama Dennis," lanjutnya dengan senyum tegas pada Lani. "Memang ndak mudah, tapi dia bisa bantu aku pas lagi susah."


Mungkin matahari sore saat itu cahayanya terlampau silau. Mungkin juga karena Yanti berdiri membelakangi matahari, tapi sosok kakak iparnya yang berjalan menyambut suaminya terlihat mengagumkan. Seolah bersinar dengan cahayanya sendiri.


"Lani? Sedang apa kamu disini?" tanya Dennis dengan suara yang dingin.


Wanita itu menyeruput teh agar tidak usah menjawab kakaknya. "Hmm, tehnya enak, Ce Yanti. Aku akan main lagi kapan-kapan."


Lani berdiri dan bergerak memeluk kakak iparnya, tapi tidak jadi. Wanita itu perlu memakai lebih banyak produk perawatan agar lebih wangi. Sebagai gantinya, dia memegang erat tangan Yanti.


"Ce Yanti, minta Ko Dennis beli perfume au de toilet.. dan baju yang lebih bagus. Kalau dia ndak mau belikan..." Lani mendekatkan wajah dan berbisik keras-keras, "..tinggalin aja."


Gadis berambut hitam lurus itu lalu mengedipkan mata pada Yanti sebelum berjalan menjauh.


"Hei, apa yang kamu katakan, Lani? Jangan ngajarin kakak iparmu yang bukan-bukan! Lani!" teriak Dennis berang.


Yanti tertawa kecil dengan tingkah kakak adik yang kadang sama misteriusnya, kadang sama usilnya.


"Yan, Lani tadi kesini mau ngapain?" tanya Dennis ketika adik sekandung itu kembali naik mobil dan pergi.


"Eh, apa, ya, Pak? Aku juga ndak tahu. Bilangnya tadi nyari Pak Dennis."


Perhatian Dennis lalu tertuju pada bocah yang masih menempel di pinggang ibunya.


Pria itu tahu kalau keberadaan anak Yanti akan dipertanyakan oleh keluarga, terutama Mami-nya. Jujur saja saat itu Dennis tidak terlalu ambil pusing, dan dia juga tidak mau ambil pusing sekarang.


"Kalau ada yang tanya tentang anakmu, terserah kamu mau jawab apa. Anak dari suamimu yang dulu, atau anak kita hasil hubungan gelap," ujar Dennis.


Yanti terkejut karena tiba-tiba Dennis membahas Kito, dan...


"Anak Hasil Hubungan Gelap?!" pekik Yanti terkejut.


Dennis mengangkat salah satu pundaknya. "Ya, khilaf satu malam, lalu aku pergi... Kamu nyusul kesini setelah anak itu besar.. semacam itu."


Yanti terdiam dengan kata-kata Dennis yang tidak bermaksud buruk. Hanya saja, yang dituturkan pria pincang itu terlalu dekat dengan kenyataan yang dialaminya.


Tapi Kito bukan anak hasil hubungan gelapnya dengan Darto...


Kito adalah hasil setelah dirinya dipaksa melakukan hubungan oleh Darto..


Hati Yanti kembali serasa teriris mengingat kejadian itu.


.


.


.