Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
TUGAS MENCARI MAYA


Setelah hampir 2 jam, akhirnya meeting bersama klien dari Cina selesai juga. Banyaknya urusan pekerjaan ditambah urusan pribadi sungguh menguras tenaga dan pikiran Sean.


"Bagaimana Firman? apa semuanya sudah beres?" Tanya Sean pada Danu setelah kliennya pulang.


"Sudah pak, tadi pagi polisi sudah menangkapnya dirumah anda."


"What! dirumahku?" Sean membelalakkan matamya karena terkejut. "Aku pikir dia dirumah sakit atau dirumah orang tuanya."


"Firman cuma sehari dirumah sakit, setelah itu dia pulang ke rumah orang tua anda."


Sean mengepalkan tangannya. Dia sudah bisa menebak jika Firman pasti sudah mempengaruhi mamanya lagi.


"Menurut salah satu pembantu anda. Mama anda sangat marah saat Firman ditangkap polisi tadi pagi. Sepertinya beliau tidak terima."


"Shitt, dia pasti sudah mencuci otak mama."


Tak ingin mamanya berulah dan membahayakan kandungan Rain. Sean segera menelepon Alan dan mewanti wanti agar jangan sampai mamanya menemui Rain.


"Apa kau yakin Firman akan lama dipenjara?"


"Saya yakin pak, dia dijerat dengan pasal berlapis. Saya yakin dia akan lama disana. Selain tentang percobaan pelecehan dan korupsi. Dia juga terkena kasus narkoba."


"Jadi benar ucapan salah satu pegawainya jika Firman adalah pemakai?" Sean mendapat informasi dari pegawai di bengkel Firman jika Firman adalah pemakai obat terlarang. Tentu saja informasi ini tidak gratis, Sean membayar mahal untuk info ini.


"Bukan hanya pemakai, dia juga pengedar. Polisi sudah mengantongi bukti buktinya. Saya rasa kasus ini cukup memberatkannya. Dan saya yakin dia akan lama dipenjara."


"Bagus, kalau perlu, biarkan dia membusuk dipenjara. Segera carikan aku sekretaris baru. Sepertinya Rain harus resign agar dia bisa fokus pada kandungannya."


"Segera akan saya carikan."


"Bawa semua berkas yang harus ditandatangani ke ruanganku. Secepatnya aku harus segera kembali ke rumah sakit." Sean sangat khawatir jika mamanya benar benar datang ke rumah sakit.


"Baik Pak. Kalau tidak ada yang penting lagi, saya permisi dulu." Danu segera meninggalkan ruangan meeting karena masih banyak pekerjaan yang menunggunya.


Sean membereskan berkasnya lalu kembali keruangannya. Ternyata Dino sudah menunggunya disana.


"Udah lama lo?" Tanya Sean saat melihat Dino rebahan di sofa.


"Baru, ngapain lo nyuruh gue kesini?" Dino mengubah posisinya menjadi duduk.


Sean mengirimkan foto seorang perempuan ke ponsel Dino.


"Foto siapa nih? Ngapain lo ngirim foto cewek ke HP gue? selingkuhan lo?" Dino menatap penuh curiga pada Sean.


"Jaga bicara lo." bentak Sean.


"Sory Bro, becanda?" Dino mengangkat jarinya membentuk huruf V sambil cengengesan.


"Cari tuh cewek sampai ketemu. Semua informasi tentang dia sudah gue kirim ke HP lo."


Dino segera mengecek pesan masuk dari Sean. Dia membaca semua keterangan tentang Maya.


"Busyet, Jogja?" Dino membelalakkan matanya. "Jadi lo nyuruh gue ke Jogja buat nyari nih cewek?"


"Bener banget, dan gue maunya cepet. Lo berangkat nanti jam 2, tiket udah disiapin ama Danu. Lo tinggal berangkat aja."


Dino melongo mendengar ucapan Sean. Bisa bisanya Sean main suruh dan udah nyediain tiket tanpa tanya lebih dulu.


"Gue sibuk Sean, gue apa jadwal motret besok pagi."


"Lo cancel semua kerjaan lo." Titah Sean seenak jidatnya.


"Kalau gue dipecat gimana?" protes Dino.


"Derita lo. Pokoknya gue gak mau tahu, lo berangkat nanti jam 2."


"Tapi Sean." Dino masih berusaha bernegosiasi.


"Ok, jadi lo gak mau. Sini kunci apartemen sama mobil." Sean menengadahkan telapak tangannya. "Percuma gue ngasih lo fasilitas kalau lo gak bisa diandelin." Tutur Sean dengan muka garang.


Nyali Dino langsung menciut melihat ekspresi Sean. "Iya, iya gue berangkat. Gak usah marah marah gitu deh, kayak cewek lagi PMS aja lo. Eh, tapi tunggu dulu. Lo mesti jelasin noh, tuh cewek siapa? Gue gak bisa main culik aja sebelum tahu siapa dia."


"Namanya Maya, dia temannya Rain. Dia itu jalang, jadi lo gak perlu nyulik segala. Lo kasih duit, dia juga langsung ngikut lo." Dino langsung melebarkan senyumnya saat mengetahui jika Maya adalah seorang jalang. Dia seperti dapat angin segar yang akan membuatnya kembali bersemangat.


"Gue apa apain gak papakan?"


"Terserah lo, yang penting bawa di kehadapan gue secepatnya. Setelah itu lo bisa pakai sepuasnya."


"Gila lo. Lo bilang tadi tuh jalang temannya Rain. Bisa bisanya lo mau makai tuh cewek. Gak takut ketahuan Rain?"


PLAK


Sean yang geram langsung memukul kepala Dino dengan berkas yang sedang dia pegang.


"Gue ada perlu sama dia, bukan mau makek dia blo'on." Sean membuang nafas kasar. Dia ingin sekali menghajar Dino yang sejak tadi berfikir negatif terus tentangnya.


Bugh


"Shitt, gila lo Sean. Kenapa mukul gue." Dino memegangi pipinya yang sakit akibat ditonjok Sean.


"Jangan ngarep Rain bakal jadi janda. Rain lagi hamil anak gue." Bentak Sean sambil memelototi Dino.


"Alhamdulillah, jadi gue bakal punya keponakan nih. Kok lo gak ngadain syukuran. Gue kan pengan makan gratis."


"Urusan syukuran mah nanti. Gue lagi banyak urusan. Pokoknya segera cari Maya, kalau bisa besok lo udah bawa dia kesini."


"Gue usahain. Tapi ada ongkosnya kan?" Dino menyeringai kecil.


"Gue akan transfer uang untuk biaya hotel serta makan lo disana. Udah cepetan keluar, kerjaan gue banyak." Usir Sean tanpa rasa terima kasih.


"Biaya booking tuh cewek gimana?"


"Iya gampang gue kasih sekalian. Udah cepetan keluar."


"Cih, kalau ada maunya nyuruh gue dateng. Kalau udah selesai urusannya main usir aja." Gerutu Dino sambil terus mengumpat Sean dalam hati. Keberaniannya memang hanya sebatas dalam hati, kalau diucapkan langsung, sama saja dengan cati mati.


...*****...


.


"Gimana hubungan kamu sama Amaira Al?" Tanya Rain sambil makan buah jeruk yang batu dikupas oleh Alan.


"Baik mbak." Jawab Alan tanpa ekspresi.


"Beneran? kok kamu keliatan gak semangat gitu?" Rain bisa menebak dari raut wajah Alan.


"Entahlah mbak, aju juga bingung. Beberapa hari yang lalu Ghania ngubungin aku. Dia bilang bulan depan akan liburan satu minggu di Jakarta. Dia ngajak aku ketemuan."


"Dan kamu mau gitu?"


"Aku gak bisa nolak mbak."


"Karena apa? karena masih sayang? Kamu udah sama Amaira sekarang Al. Mbak gak suka kalau kamu nyakitin perempuan. Dia itu udah sakit sakitan, terus mau kamu tambah lagi sakit hati?" Rain menghela nafas. Dia bisa melihat jika Amaira tulus pada Alan.


"Ya gak gitu juga mbak. Tapi aku belum bisa cinta sama dia sampai sekarang."


"Beneran gak cinta? takutnya kamu cinta tapi gak nyadar. Ntar kalau udah kehilangan, baru deh nyesel."


Ceklek


Rain dan Alan kompak menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu dibuka. Melihat siapa yang datang, Alan buru buru menghampiri orang itu.


"Kita bicara diluar tante." Alan sedikit mendorong tubuh Vivi agar keluar dari ruangan Rain.


"Ngapain sih kamu dorong dorong? Tente mau bicara dengan Rain." Omel Vivi.


Tapi Alan tak menggubrisnya sama sekali dan terus mendorong tubuh Vivi keluar dari ruangan Rain.


Rain menatapnya tingkah Alan dengan ekspresi bingung. Setelah berhasil mengeluarkan Vivi, Alan segera menutup pintu ruangan Rain.


"Tante mau bicara sama Rain, kenapa malah kamu ajak tante keluar?" protes Vivi.


"Maaf tante, tapi kak Sean gak ngasih ijin tante buat nemuin kakak saya."


"Hei bocah, Tente ini mertuanya Rain, biarkan tante masuk." Vivi mencoba membuka pintu tapi dihalagi oleh Alan.


"Maaf tante, sebaiknya tante pulang." usir Alan dengan nada sopan.


"Kurang ajar kamu," maki Vivi sambil berkacak pinggang dan melotot. "Katakan pada jalang itu, tante tak akan tinggal diam melihat dia terus mempengaruhi Sean." Ancam Vivi.


"Jangan sebut kakak saya seperti itu tante." Hati Alan panas mendengar Rain dipanggil jalang.


"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Kakak kamu itu jalang, dia itu seorang pelacur yang sudah menjual tubuhnya demi uang."


"Stop Tante." Teriak Alan dengan mata melotot dan nafas naik turun.


"Berhenti memfitnah kakak saya. Kakak saya perempuan baik baik."


"Hahaha." Vivi tertawa mendengar Alan menyebut Rain wanita baik baik.


"Tidak ada wanita baik baik yang melelang keperawanannya demi uang." Vivi mengucapkan kata itu tepat didepan wajah Alan. "Dan setelah dia tahu cara termudah untuk mencari uang, dia jadi ketagihan dan terus terusan menjual diri. Dan bodohnya, putraku jadi mangsa kakakmu yang gila uang itu. Dia menjebak putraku dengan foto mesum mereka lalu memaksa Sean untuk menikahinya."


Alan hanya geleng geleng kepala. Otaknya terus berusaha mencerna kata kata Vivi. Dalam hati, dia terus menyangkal jika kakaknya adalah perempuan seperti itu.


"Itu tidak mungkin." Lirih Alan sambil memejamkan matanya.


"Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi itu adalah fakta." Vivi berlalu meninggalkan Alan yang masih mematung didepan ruangan Rain.