Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
ANNIVERSARY 2


Rain makin mengeratkan genggaman tangannya pada Sean saat kakinya melangkah masuk kedalam ballroom. Jantungnya berdetak tak karuan, ada perasaan takut dihatinya.


Rain terpesona melihat kemegahan ballroom. Netranya menatap takjub setiap dekorasi yang tampak mewah itu. Lagu lagu cinta mengalun dengan merdu membuat suasana terasa intim.


Rain melihat beberapa pasang mata memperhatikannya. Dia hanya bisa tersenyum untuk membalas tatapan orang orang yang sama sekali tak dia kenal itu.


Sean mengajak Rain langsung menemui orang tuanya untuk mengucapkan selamat.


"Congratullation ya ma, pa." Sean bergantian mencium kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Rain, dia juga memberi selamat kepada kedua mertuanya.


"Kadonya udah Sean taruh dikamar mama." Saat Rain disalon, Sean datang kerumah orang tuanya untuk menyerahkan kado.


"Makasih ya sayang." Terlihat binar bahagia di mata Vivi. Dia sudah tahu Hadiahnya karena Sean sudah mengirimkan fotonya kepada mamanya.


"Mana kado untuk papa?" Zaenal menggebuk pelan lengan Sean.


"Astaga Pa, jadi papa juga mau kado, seperti wanita saja." Sindir Sean sambil nyengir.


"Hahahaha." Gelak tawa mereka langsung pecah.


"Hai Sean, dia istrimu?" Tegur seorang wanita sambil menunjuk dagu ke arah Rain. Wanita itu yang adalah Vina, tante Sean, tepatnya adik kandung Vivi.


"Iya tante, kenalin ini Raina, istri Sean."


"Hallo tante." Rain tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Vina, tantenya Sean." Vina mengulurkan tangannya menyambut tangan Rain.


"Kalian sangat keterlaluan, nikah gak undang undang tante."


"Maaf Tante, pernikahan kami hanya sederhana, cuma dihadiri keluarga inti saja. Pa, sebaiknya segera dimulai saja acaranya." Sean mencari pembahasan lain, berharap pembicaraannya dengan Vina tak berlanjut. Dia sebenarnya enggan sekali berbincang dengan Vina.


Zaenalpun setuju, dia segera memulai acaranya. Zaenal mengucapkan terimakasih kepada semua undangan. Sedikit berbasa basi lalu menceritakan kisah cintanya dengan Vivi hingga mampu bertahan selama 30 th.


Dan tanpa diduga, Zaenal memperkenalkan Rain sebagai menantunya dihadapan semua orang. Rain tampak sangat gugup saat semua mata tertuju padanya. Tangannya terus meremas jemari Sean. Sean yang menyadari kegugupan Rain segera merangkul pundak istrinya agar lebih tenang.


Setelah tiup lilin dilanjutkan dengan pesta dansa. Sean tak mau ketinggalan, dia mengajak Rain untuk berdansa dengannya.


Sean melingkarkan tangannya dipinggang ramping Rain. Sementara Rain menautkan kedua tangannya di leher Sean. Mereka berdua saling menatap penuh cinta. Karena tak pernah ada resepsi pernikahan, jadi inilah dansa pertama mereka.


Suasana romantis semakin tercipta tatkala lagu Since I Found You milik Christian Bautista disenandungkan oleh seorang artis ibukota yang sengaja diundang oleh Vivi.


Semua orang disana seakan terhipnotis dengan suara merdunya, tak terkecuali Sean dan Rain. Kedua orang itu seperti terhanyut dalam gelombang cinta yang luar biasa. Mereka melangkahkan kaki mengikuti irama lagu.


Sean menyapukan bibirnya pada bibir Rain. ******* serta menghisap bibir ranum yang tampak sangat menggoda itu. Mata Rain mulai terpejam menikmati setiap sentuhan bibir Sean. Mulutnya perlahan terbuka untuk memberikan akses pada Sean untuk mengeksplor lebih dalam setiap rongga mulutnya.


Dunia serasa milik berdua. Mereka tak peduli beberapa pasang mata yang memperhatikan kemesraan itu.


"Aku sengaja request lagu ini untukmu. Aku merasa jika lagu ini menggambarkan perasaanku padamu. Hidupku seperti baru bermula saat aku bertemu denganmu Rain. Saat kau bersamaku, aku tak butuh bermimpi lagi karena semua mimpiku sudah terwujud. Kaulah mimpiku Rain. Kau tujuan hidupku. Tetaplah bersamaku dalam keadaan apapun Rain. Karena yang bisa menguatkanku hanyalah dirimu." Sean menempelkan keningnya pada kening Rain. Menggesek geseksan hidungnya pada ujung hidung Rain sambil tersenyum.


"I love you beb. I love u So bad." Bisik Sean ditelinga Rain hingga membuat wanita itu merinding tak karuan.


Walaupun bukan yang pertama kalinya Sean mengungkapkan isi hatinya. Tapi kata kata cinta itu mampu memporak porandakan hati Rain. Jantungnya berdegup tak karuan. Hatinya berubah melow, cairan bening merembes melalui sudut matanya karena terharu. m


"Aku mencintaimu Sean. Aku jatuh cinta padamu Ocean Kalandra."


Rain memiringkan wajahnya dan mencium bibir Sean lembut. Sangat lembut dan penuh cinta.


"Apa aku keterlaluan jika menganggap malam ini adalah malamku bersama Sean. Apa aku serakah jika menganggap pesta ini adalah pesta kami." Gumam Rain dalam hati.


Dansa mereka berhenti bersamaan dengan berakhirnya lagu. Sean kembali menempelkan keningnya pada kening Rain.


"Aku ingin cepat pulang Beb, aku tak sabar untuk menghabiskan malam panjang bersamamu. Aku akan membuatmu menjerit menggemakan namaku dikamar kita. Aku akan membuatmu tak pernah menginginkan kepuasan lain selain denganku. Kau milikku Rain, dan aku milikmu. Kita akan menghabiskan malam dengan rasa saling memiliki dan saling memberi kepuasan satu sama lain." Lagi lagi Sean mencium lembut bibir Rain.


Suasana romantis itupun berakhir. Sean menggiring Rain ke pinggir untuk menikmati makanan. Dia butuh mengisi perut untuk tenaga nanti malam.


"Kau mau minum wine?" tawar Sean.


Rain menggeleng "Aku tak suka minuman semacam itu. Lagipula aku takut mabuk." tolak Rain.


"Tidak akan membuatmu mabuk jika hanya sedikit. Aku sudah biasa meminumnya saat bertemu kolega, dan aku sama sekali tak mabuk. Sedikit wine tidak akan membuatmu mabuk, hanya akan membuat tubuhmu hangat." Sean sedikit menjelaskan.


"Aku tak butuh minuman seperti itu untuk menghangatkanku, karena ada dirimu yang akan selalu menghangatkanku." Goda Rain dengan senyum tipis dibibirnya.


"Astaga, ternyata kau mulai pandai merayu sekarang."


Sean terkekeh mendengarnya. "Baiklah nyonya Kalandra, aku akan menuruti semua maumu. Duduklah disini, aku akan mengambilkan makanan untukmu." Sean menarik kursi untuk Rain.


"Aku mau ikut, aku ingin memilih sendiri makanan yang akan aku makan. Lagipula aku tak mau sendirian disini, aku pasti akan merindukanmu." Lagi lagi Rain menggoda Sean.


"Astaga, baiklah."


Mereka berdua menyusuri meja hidangan untuk memilih menu yang akan mereka makan.


"Beb, kenapa kau tak segera mengambil makanan? Apa tidak ada yang membuatmu berselera?" Tanya Sean saat piringnya hampir penuh sementara piring Rain masih kosong.


"Aku bingung Sean, semuanya terlihat enak. Aku ingin makan semuanya." Terlihat ekspresi galau diwajah Rain.


"Kalau begitu ambilah sedikit sedikit agar kau bisa mengambil bermacam macam. Jangan mengambil apa yang sudah ada dipiringku. Kau bisa mencicipi punyaku nanti."


"Idemu bagus sekali sayang." Rain langsung nampak bersemangat. Dia mengambil bermacam macam makanan lalu mencari tempat duduk kosong bersama Sean.


Sean menatap Rain yang terlihat sangat menikmati makanannya. Rain bahkan tak henti henti mengambil makanan dari piring Sean hingga ludes tak tersisa.


"Sayang, bisakah kau mengambilkan makanan seperti ini lagi?" Rain memasang wajah manisnya agar Sean tak menolak. Dia menginginkan makanan seperti yang ada dipiring Sean tadi.


"Tapi makanan dipiringmu masih banyak Beb. Lebih baik habiskan yang itu dulu. Lagipula apa kau belum kenyang? aku yang melihat saja sudah merasa kenyang."


"Tapi aku masih ingin makan seperti yang tadi Sean." Rengek Rain.


"Baiklah." Sean akhirnya mengalah dan mengambilkan makanan untuk Rain. Sementara Rain, dia masih melanjutkan makan makanan yang ada dipiringnya.


"Hai cantik." Rain terkejut saat seseorang memegang pundaknya. "Jadi kau istrinya Sean?" Tanya seorang pria yang berdiri disebelah Rain.


Rain mengangguk, perasaannya tiba tiba tidak enak.


"Aku Firman, saudara sepupu Sean." Firman menjulurkan tangannya kearah Rain.


"Aku Rain." Rain terpaksa menjabat tangan Firman untuk menghormati saudara suaminya.


Rain terkesiap saat Firman tiba tiba mencium tangannya. Dengan terburu buru Rain segera menarik tangannya.


"Ternyata kau lebih cantik daripada difoto." Firman dengan lancang menyentuh dagu Rain.


Rain segera menamoik tangan Firman. Dia merasa jika pria itu sudah melewati batas. "Tolong bersikaplah yang sopan jika kamu memang saudara suamiku." tegur Rain.


"Astaga, tak usah jual mahal seperti ini Rain."


"Apa maksudmu?"


"Aku sempat terkejut saat Om Zaenal memperkenalkanmu sebagai menantunya. Aku tak mengira jika Sean yang sombong itu ternyata seleranya rendahan." Firman menarik ujung bibirnya.


Rain seketika menjadi gelisah. Dia belum paham sepenuhnya apa maksud Firman. Tapi tatapan matanya terlihat sangat mengerikan.


"Ayolah Rain, bersikap lembutlah padaku." Firman kembali menyentuh dagu Rain serta menatapnya dengan tatapan penuh hasrat.


Rain kembali menampik tangan itu dengan kasar. Tubuhnya gemetar, dia meraih gelas didepannya. Gugup dan takut membuat tenggorokannya terasa kering. Dia ingin pergi dari sana dan menyusul Sean.


Firman mendekatkan bibirnya di telinga Rain. "Aku tahu siapa dirimu Rain."


Rain semakin takut, tubuhnya makin bergetar.


"A..apa maksudmu?" Rain sampai gagap saking takutnya.


"Aku tahu Rain." Firman tersenyum smirk. "Kau barang dagangan Maya kan?"


PYARR.


Seketika Rain menjadi lemas, gelas yang dipegang jatuh hingga hancur tak berbentuk.


.


.


.


Budayakan memberi like setelah membaca, terimakasih.