Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
DIGIGIT DINOSAURUS


Sean merasakan kepalanya sangat pusing saat bangun tidur. Dia segera menegak air putih yang ada di nakas lalu memijit kepalanya perlahan.


Kok gue ada dikamar sih? perasaan kemarin gue ada diapartemen Leo sama anak anak, batin Sean.


Dia masih mencoba mengingat ingat apa yang terjadi semalam saat pintu kamar tiba tiba dibuka dari luar.


Ceklek.


Sean menoleh kearah pintu. Tampak Rain masuk sambil membawa minuman.


"Sudah bangun Sean? Ini aku buatin wedang jahe buat ngeredain hangover kamu." Rain meletakkan wedang jahe diatas nakas.


"Siapa yang nganter gue pulang? seingat gue tadi malam gue diapartemen Leo?" Sean masih linglung. Dia tak ingat apapun tentang semalam.


"Leo yang nganter." Jawab Rain.


Jadi dia gak inget apapun tentang semalam? batin Rain.


"Bibir lo kenapa?" Sean melihat luka dibibir bawah Rain.


"Jatuh, gak sengaja kepleset," bohong Rain.


"Beneran? kok kayak bekas digigit? Lo gak lagi bohongin gue kan?"


Rain sebenarnya malas mau mengingat kejadian tadi malam. Jijik sekali jika ingat bagaimana Dino menciumnya.


"Kok diam, jangan bohong, kenapa bibir lo?"


"Habis digigit dinosaurus" Ucap Rain dengan kesel.


"What!" Sean mendelik mendengar jawaban Rain. Emang ini jaman purba ada dinosaurus?


"Udah kamu mandi sana biar seger. Aku mau ngelanjutin masak dulu." Rain buru buru keluar dari kamar. Malas sekali kalau harus melanjutkan membahas hal itu. Dia ingin amnesia agar lupa kejadian semalam.


Sean meminum wedang jahe bikinan Rain sambil terus mengingat ingat kejadian semalam. Dia masih penasaran dengan luka dibibir Rain. Di gigit dinosaurus, apa maksudnya?


"Jangan jangan yang dimaksud dinosaurus itu gue." Guman Sean sambil menunjuk dirinya sendiri. Sean pikir tadi malam dia mabuk berat lalu berusaha untuk mencium Rain hingga bibirnya luka seperti itu. Secara dia selalu nefsu kalau lihat Rain.


"Haissh....Masak orang ganteng bin cakep gini dibilang dinosaurus? kebangetan banget si Rain." Sean berdecak kesal sambil beranjak menuju kamar mandi.


...----------------...


Rain yang sedang memasak omelet ketika terndengar suara bel yang ditekan berkali kali. Setelah mematikan kompor, dia segera kedepan untuk membuka pintu.


Rain terkejut melihat siapa yang datang. Pria yang paling tidak ingin dia lihat saat ini dan mungkin selamanya.


"Ngapain kamu kesini?" Bentak Rain sambil melotot. Emosinya seketika naik melihat Dino datang bersama Leo. "Pergi." Hardiknya sambil berusaha menutup pintu kembali tapi berhasil dicegah oleh Dino. Pria itu lebih kuat sehingga berhasil mendorong pintu hingga terbuka kembali.


"Rain please maafin gue. Gue gak tahu kalau lo bininya Sean. Gue pikir lo cuma sekretarisnya dia yang datang buat ikutan seneng seneng ama kita." Dino memohon sambil mengatupkan kedua tangannya didada.


"Jadi kalau aku sekretarisnya Sean, kamu bisa macem macem sama aku?" Sinis Rain.


Mendengar keributan diluar, Sean segera menuju sumber suara.


"Bukan begitu maksud gue Rain?"


"Jadi gimana maksud kamu? Aku jijik melihat muka kamu. Jadi buruan pergi dari sini."


"Please, maafin gue." Dino masih belum putus asa.


"Aku gak mau maafin kamu. Keluar dari sini." hardik Rain. Nafasnya mulai naik turun dan matanya memerah. Mengingat kejadian tadi malam membuatnya begitu murka.


"Please Rain, gue mohon maafin gue. Gue khilaf tadi malam. Gue mabok." Dino berlutut dikaki Rain. Dia tahu kesalahannya kali ini amat fatal. Kelangsungan hidupnya sedang dipertaruhkan. Bagaimana tidak, selama ini Dino hidup atas belas kasihan Sean. Dino tinggal diapartemen milik Sean. Mobil yang dipakainya sehari hari juga milik Sean.


Dino adalah seorang fotografer. Penghasilannya memang lumayan, tapi tiap bulan dia harus mengirim uang kekampung untuk membantu biaya sekolah adik adiknya karena ayahnya sudah meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan.


"Gue tahu kesalahan gue fatal karena hampir ngelecehin lo. Tapi gue mohon maafin gue. Gue gak akan bangun sebelum lo maafin gue." Dino kekeh berlutut sambil memegang kaki Rain.


"Apa lo bilang?" Suara teriakan Sean mampu menarik perhatian semua orang disana. "Apa yang barusan lo bilang? lo hampir ngelecehin Rain?" Sean naik darah dan langsung menarik baju Dino hingga pria itu berdiri.


"Jelaskan maksud kata kata lo?" Bentak Sean tepat didepan muka Dino.


Astaga, jadi Sean gak ingat apa apa? tahu gini gue gak usah kesini, batin Dino.


Sean berusaha mengingat kejadian semalam. Sedikit demi sedikit dia mulai ingat. Dia ingat Rain berada dibawah kungkungan Dino dan berteriak minta tolong. Dan dinosaurus yang menggingit Rain adalah Dino.


"Bangs*t lo, setan, gak tahu diri."


Bugh bugh bugh


Sean menghajar Dinosaurus itu secara membabi buta. Padahal lebam bekas pukulannya tadi malam belum sembuh, tapi sudah ditambah lagi sekarang.


"Sudah Sean, sudah." Leo berusaha menghentikan Sean. "Dia bisa mati kalau lo hajar terus. Lo gak liat wajahnya udah gak berbentuk kayak gitu. Kalo lo terusin, bisa bisa dia tinggal nama."


"Kurang ajar lo Din. Segera kemasi barang barang lo dari apartemen gue. Dan satu lagi, kembalikan mobil gue yang lo pakek."


"Tapi Sean, gue harus tinggal dimana? Lo gak kasihan sama gue." Sekarang Dino gantian berlutut dikaki Sean.


"Bukan urusan gue, cepat keluar dari sini dan kemasi barang barang lo." Sean merogoh saku celana Dino dan mengambil kunci mobilnya. "Pergi dari sini sebelum gue berubah pikiran dan menghabisi lo."


Leo segara membawa Dino pergi. Dia paham kalau tak mungkin bisa bicara baik baik dengan Sean saat dia dalam kondisi emosi kayak gini.


"Dasar dinosaurus tak tahu diri," teriak Sean.


Setelah mereka pergi, Sean menghampiri Rain yang duduk dimeja makan. Dia melihat Rain sedang menangis.


"Jadi tadi malem lo ke apartemen Leo?"


Rain mengangguk. Sean mengacak acak rambutnya karena frustasi. Selama ini Rain tak tahu kehidupan liarnya diluar perusahaan. Apalagi semalam sangat kacau, selain mabok mereka juga bersama wanita panggilan.


"Darimana lo tahu gue ada disana?"


"Leo ngangkat telepon aku dan ngasih tahu kalau kamu diapartemennya."


"Lalu lo nyusulin gue?"


"Hem."


"Shitt." Umpat Sean sambil memukul meja makan hingga membuat Rain tersentak karena kaget.


"Ngapain lo malem malem kelayapan?"


"Karena aku khawatir sama kamu. Kamu aku teleponin berkali kali tapi gak diangkat."


"Gue udah gede gak perlu lo khawatirin."


"Maaf." Rain segera meninggalkan meja makan.


Kelakuan kamu yang gak Bener diluar sana tapi malah kamu yang marah marah.


"Ngambek, iya ngambek?" Sean mengejar Rain sampai ke kamar. "Dibilangin malah ngambek. Aku cuma gak mau terjadi apa apa sama kamu Rain. Gimana kalau tadi malam gue gak sadar, elo pasti udah dilecehin sama Dino," bentak Sean.


"Gak mau terjadi apa apa sama aku atau gak mau aku tahu kelakuan kamu diluar sana?"


Sial, kenapa Rain malah ngebalikin ke gue sih, batin Sean.


"Selama ini aku pikir kamu laki laki baik baik Sean. Tapi tadi malam kamu kayak orang lain, kamu kayak bukan Ocean Kalandra yang aku kenal. Sepertinya aku sudah dibutakan dengan imej yang kamu bentuk di kantor. Aku lupa kalau kamu yang sebenarnya memang kayak gini, kayak 8 bulan yang lalu. Hobi kamu memang beli perempuan."


"Gue juga gak akan kayak gini kalau lo mau bener bener jadi istri gue. Lo gak mau memenuhi kewajiban lo sebagai istri terus Lo marah marah karena gue nyari palampiasan diluar."


Sumpah, sakit banget hati Rain mendengarnya. Hanya karena sekali ditolak langsung cari kepuasan diluar. Apakah pernikahan ini hanya untuk mencari kepuasan, batin Rain.


"Aku paham sekarang, jadi ini alasan kamu menikahiku. Kamu cuma butuh tubuhku untuk kepuasan kamu semata. Cuma sebatas itu kan Sean?" Rain menatap Sean dengan mata berkaca kaca.


"Kamu jangan salah paham Rain, gak seperti itu juga. Tapi aku laki laki, aku butuh palampiasan."


Rain membuka kaosnya sambil meneteskan air mata dan hal itu membuat Sean terbelalak hingga susah menelan salivanya.


"Kamu mau tubuh aku kan? aku akan memberikannya. Lakukan apapun yang kamu mau." Rain ingin melepaskan celananya tapi Sean mencegahnya.


"Hentikan, aku akan nunggu sampai kamu siap." Sean mengambil kaos Rain dan memakaikannya lagi.


"Bukannya aku tak mau melakukan kewajibanku Sean. Aku hanya masih bingung dengan pernikahan ini. Semuanya terlalu tiba tiba. Kita adalah dua orang yang tak saling mencintai tapi menikah. Jangan samakan waktu itu dengan saat ini Sean. Waktu itu pikiran kita hanya untuk kesenangan semalam, kita tak memikirkan kelanjutannya besok dan kemudian. Tapi sekarang kita sudah menikah, akan ada hari esok dan selanjutnya. Dan aku tak ingin hanya dijadikan pemuas. Sampai detik ini aku masih belum tahu apa tujuanmu menikahaniku."


Sean menghapus air mata Rain dengan kedua ibu jarinya. Aku menikahimu karena aku mencintaimu Rain. Tapi aku tak mau mengakui itu sebelum kamu mencintaiku. Aku tak mau terlihat menyedihkan karena cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan, gumam Sean dalam hati.