Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
TERPAKSA DITUNDA


POV RAIN


Ting tong ting tong


Mendengar suara bel, aku segera bergegas membukakan pintu. Ternyata seorang kurir yang datang mengantarkan bunga. Aku bertanya dalam hati, siapa yang mengirimkan bunga untukku? Gaza? ah tidak mungkin, ini alamat baru, mana mungkin dia tahu.


Setelah aku menandatangani bukti penerimaan, dia segera pamit.


Astaga, aku mengerutkan kening lalu tersenyum saat melihat siapa pengirimnya. Ternyata Sean yang membelikan bunga untukku.


Untuk Adek Rain yang tercinta


Dari suamimu Mas Sean.


Sumpah demi apapun, aku ngakak membaca tulisan yang terlampir di buket bunga mawar merah itu.


Aku tak tahu kenapa Sean selalu memberiku mawar merah. Sejujurnya aku tak begitu suka bunga mawar merah, aku lebih suka bunga lily putih atau mawar putih. Mungkin karena aku pernah meminta mawar merah, jadi dia pikir aku menyukai bunga itu.


"Sean, sayang." Aku berteriak memanggil namanya. Ya, suamiku itu memang ada dirumah sekarang. Sejak pulang dari Labuan bajo siang tadi dia belum keluar. Maka dari itu aku tak mengira jika dia yang membelikanku bunga.


"Ada apa beb." Jawabnya sambil menuruni tangga. Oh Tuhan, kenapa suamiku terlihat tampan sekali dengan rambutnya yang masih basah dan acak acakan. Ditambah lagi dia sedang bertelanjang dada saat ini. Darahku langsung berdesir saat melihat dada bidangnya yang six pack itu.


"Ish, kok malah bengong." Tuturnya sambil mengibaskan tangan didepan Wajahku. "Terpesona ya melihat ketampananku? Aku gak kerkejut sih beb, aku memang setampan itu hingga setiap wanita yang menatapku langsung terpesona." Mulai kumat deh kesongongannya.


"Ke pedean kamu yank." Ucapku sambil nyengir. Jaim dikitlah, malukan kalau ketahuan lagi terpesona.


"Bunganya udah datang?" Dia melihat bunga yang aku bawa.


"Kamu romantis banget sih Yank sampai beliin aku bunga segala. Padahalkan kamu dirumah terus dari tadi?" Ucapku sambil senyum malu malu. Aku suka sekali diperlakukan romantis kayak gini. Jadi baper parah.


"Sekarangkan jamannya online beb. Gak perlu kemana mana, tinggal buka ponsel aja semua bisa langsung datang."


Iya juga sih, jaman udah super canggih. Pegang smartphone udah kayak pegang dunia. Udah bisa liat satu dunia.


"Kamu suka?"


"Sukalah, makasih." Ucapku sambil berjinjit lalu mencium pipinya yang terasa amat dingin karena habis mandi.


"Sama sama beb. Aku sengaja beli itu buat hiasan kamar kita. Kan ntar malem malam pengantin." Godanya sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Ish, perasaan malam pengantin gak udah udah ya."


"Buat aku, setiap sama kamu kayak malam pengantin terus beb. Rasanya masih seperti malam pertama. Masih selalu deg degan." Ucap Sean sambil melingkarkan tangannya di perutku.


"Alah, gombal kamu yank." Aku mencubit perutnya yang seksi itu lalu naik menuju kamar.


"Tapi kamu sukakan digombalin? buktinya pipi kamu selalu merah saat aku gombalin." Kalau boleh jujur sih, aku memang suka digombalin.


Aku memasang sprei warna putih lalu menaburkan kelopak bunga mawar diatasnya. Lucu gak sih, padahal bukan malam pertama, masih aja semangat menghias ranjang. Tapi ya sudahlah, biar hubungan kami selalu panas kayak pengantin baru. Aku juga menyalakan lilin aroma terapi agar kami merasa rileks. Bukankah kata Sean dia masih selalu deg degan saat mau bercinta.


Sean ada dibawah, dia sedang mempersiapkan makan malam romantis untuk kami. Ya, kami bagi tugas, aku mempersiapkan kamar, dia mempersiapkan dinner romantis.


Setelah merasa kamar siap, aku segera berdandan secantik mungkin dan memakai gaun yang seksi biar Sean makin gak tahan.


Aku segera turun saat sudah siap. Aku menuju halaman belakang. Sean sudah menyulap tempat itu hingga terlihat sekali nuansa romantisnya. Sebuah meja dengan dua kursi. Dua piring makanan serta minuman berwarna merah yang pastinya bukan wine. Sirup mungkin, hahahaha.. Ada juga bunga mawar dan lilin.


Disana Sean ternyata udah menungguku. Dia terlihat begitu tampan dengan setelan jasnya. Niat banget kan kami, sampai pakai pakaian formal padahal sedang dirumah. Dia bahkan sudah memutar lagu romantis yang siap untuk mengiringi dansa kami. Sean langsung berdiri saat melihatku datang.


"Kamu cantik sekali beb." Ucapnya lalu mencium bibirku dengan sangat lembut. Jantungku berdegup kencang, Sean selalu bisa membuatku jatuh cinta lagi dan lagi.


"Duduk Yuk." Dia menarikkan kursi untukku.


"Cheers." Ucap Sean sambil mengangkat gelasnya. Aku langsung mengangkat gelasku dan menyambut gelasnya hingga terdengar bunyi TING.


"Mau aku potongin beb dagingnya? "


"Gak usah, aku potong sendiri aja."


Btw, steak yang kami makan sekarang pesan online, bukan masak sendiri.


"Dansanya diskip aja ya beb." Katanya sambil menyuapiku potongan daging dari piringnya.


"Kenapa?"


"Udah gak tahan." Lirihnya yang membuat aku langsung ketawa. "Kamu sih pakai baju seksi amat. Yang bawah langsung on."


Aku makin ketawa lebar mendengar kejujurannya. Ternyata usahaku untuk membuat dia kepanasan berhasil.


Setelah menghabiskan makanan utama serta makanan penutup, kami segera naik ke lantai atas menuju kamar.


Sean terseyum menatap kamar kami. Lilin aroma papermint sangat tercium di kamar kami. Dari yang aku baca sih, lilin aroma ini bisa meningkatkan gairah bercinta. Benar gak sih? Tapi untuk saat ini, aku memang benar benar terbakar gairah. Entah efek lilin itu atau aroma tubuh Sean yang selalu sukses membuatku melayang dan makin tak sabar ingin disentuh.


Sean yang sudah terlihat tak tahan langsung mencium bibirku, ********** dan menghisap dengan lembut. Salah satu tangannya menahan tengkukku untuk memperdalam ciuman kami. Tanganku reflek melingkar dilehernya.


Tangan Sean yang satunya mulai bergerilya nakal ditubuhku. Dan saat dia menyentuh area sensitifku, aku benar benar menikmatinya. Aku tak bisa lagi menahan untuk tidak mendesah.


"Aku menginginkanmu beb, sangat menginginkanmu." Ucap Sean disela sela ciuman panas kami.


"Aku juga sayang." Sahutku sambil membuka satu persatu kancing baju Sean.


Ting tong ting tong


"SHITT." Sean mengumpat karena suara bel tak kunjung berhenti. Dia bangun dari atas tubuhku dan menyunggar rambutnya kebelakang. Terlibat sekali kalau dia sedang kesal.


"Siapa kira kira yang datang Yank?" tanyaku.


"Entahlah."


"Kamu liat dulu deh."


Sean mendengus kesal lalu mengambil kaos dan celana pendek dari dalam almari dan buru buru memakainya.


...******...


Dengan langkah malas dan mulut yang tiada henti mengumpat, Sean berjalan menuruni tangga.


Ceklek.


"Hai Sean." Sapa tiga orang pria yang tak lain adalah sahabatnya. Dan ada seorang wanita yang tak lain adalah Zalfa. Sean mengepalkan tangannya sambil melotot.


"Lagi gak terima tamu." Ucap Sean dengan sinis dan ingin menutup kembali pintu rumahnya. Tapi usahanya sia sia karena temannya lebih dulu mendorong pintu itu hingga terbuka. Mereka menerobos masuk kedalam rumah tanpa perasaan bersalah sedikitpun.


"Gimana, Rain sukakan rumahnya? Pinterkan gue cari rumah." Ucap Brian dengan bangganya.


"Kalian itu ganggu tau tak? Dah gih pulang sana , gue lagi sibuk." usir Sean.


"Sibuk apaan lo? sibuk ML maksud lo? Keliatan tuh muka lo lagi *****." Celetuk Dino sambil terkekeh.


"Kalau udah tahu, kenapa masih disini? Pulang sana."


"Lo tuh gak punya perasaan banget sih. Bini gue lagi ngidam pengen liat rumah baru lo. Tega banget mau ngusir, pengen anak gue ileran Lo?" Protes Leo yang enggan untuk pulang. Dia malah menggandeng Zalfa untuk


melihat lihat rumah itu.


"Astaga, ribet banget sih. Yang ngidam bini lo, kenapa yang disusahin gue ya?" Sean tak terima.


"Ya kan baby gue hobinya nyusahin lo. Entar pas lahiran juga elo kan yang ngebiayain. Perlengkapan bayi juga lo yang Beliin. Gue mah tinggal bikin doang." Seloroh Leo sambil terkekeh.


"Nyusahin." Umpat Sean.


"Eh ada kalian." Ucap Rain yang baru turun dari atas.


"Zalfa ngidam pengen liat rumah lo Rain. Jadi gak papakan kalau kita ganggu malam ini?" Tanya Leo.


"Ya gak papa lah kak." Jawab Rain sambil mendekati Zalfa lalu mengelus perutnya. "Pengen liat rumah aunty ya sayang? ntar kalau udah lahir pasti suka main kesini."


Sean yang kesal langsung menjatuhkan diri disofa. Hasratnya yang sudah diubun ubun terpaksa harus ditunda dulu.


"Uang hasil penjualan Apartemen dan mobil lo gue bawa dulu apa gue tranfer ke elo?" Tanya Dino. Apartemen dan mobil yang dipakai Dino terpaksa dijual Sean karena dia harus membuka usaha.


"Lo tinggal dimana sekarang?"


"Nebeng di apartemen Brian. Gue udah nemu tempat yang cocok buat buka cucian mobil. Besok gue ajakin lo kesana. Kalau cocok langsung kita ambil."


Sean dan Dino berencana membuka usaha pencucian mobil dan motor.


"Gimana rencana bisnis kuliner lo?" Tanya Leo pada Sean.


"Alhamdulillah udah mulai merenovasi tempatnya. Rencana minggu depan grand opening."


Sean bekerja sama dengan teman kuliahnya dulu saat diluar negeri. Mereka ingin membuka restoran italia yang berkonsep mirip cafe. Ada live music serta interior instagramable yang dibuat ala ala italia. Kebetulan teman Sean itu adalah chef.


"Rain, aku boleh liat kamar kamu kan? Kata kak Leo, kamarnya luas banget, mewah." Pinta Zalfa.


"Yuk." Rain segera menggandeng lengan Zalfa menaiki tangga. Dan Leo mengekor dibelakang mereka.


Setelah puas melihat kamar, mereka turun kembali dan berniat pulang.


"Sayang, kita ke rumah Alan Yuk." Ajak Rain tiba tiba. "Alan bilang dia sakit, dia minta dibeliin obat. Aku khawatir banget."


Sean membuang nafas perlahan. Dia tak mengira jika malam ini akan penuh dengan gangguan.


"Besok aja beb."


"Aku gak tenang Yank, kita kesana sekarang yuk." Rengek Rain sambil memegangi lengan Sean.


"Udah Sean buruan sana. Ipar lo sakit tuh. Biar gue yang jagain rumah lo." Ucap Leo sambil menyeringai kecil.


"Ngapain pula harus dijagain?"


"Ya gue ngerasa sayang aja ngeliat kamar kalian yang udah cantik itu gak kepakai. Mending dipakai kita berdua." Celetuk Leo sambil melirik Zalfa.


"Gak, enak aja lo. Lagian ini semua tuh gara gara kalian tau." Sean manatap satu persatu temannya. "Kalau saja kalian gak dateng, kita pasti udah selesai satu ronde."


"Bodo amat." Lirih Dino sambil menahan tawanya.