
Rain berhenti dilapak penjual ikan. Dia membeli gurame, nila dan kepiting. Tak lupa Rain menyuruh pedangan itu membersihkan ikannya. Sean terus menutup hidungnya karena tak tahan bau amis dari ikan.
"Aww... " Teriak Rain saat seorang pemuda tak sengaja menabraknya.
"Maaf mbak."
"Kalau jalan tuh pakek mata. Lo sengaja nabrak bini gue, nyari kesempatan lo," bentak Sean sambil menarik kaos pemuda itu.
"Maaf Mas, saya gak sengaja."
"Udah Sean, dia gak sengaja. Jangan bikin keributan." Rain berusaha menenangkan Sean.
"Pergi lo sebelum gue hajar." Sean mendorong pria itu dengan kasar. Rain jadi keki karena kejadian itu membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Sudah neng." Penjual itu menyerahkan ikan yang sudah dibersihkan.
Wajah Sean seketika panik. Dia merogoh saku celana kanan dan kiri tapi tak menemukan keberadaan dompetnya.
"Ada apa?"
"Dompet gue raib."
Sean melihat orang disekitarnya. Matanya terbelalak saat melihat seorang cewek tomboi mengangkat dompetnya keatas sambil berlari dan tertawa. Dia seolah sedang mengejek Sean.
"Copet....copet... " Teriak Sean sambil berlari mengejar copet itu. Orang orang dipasar tak ada yang membantunya, semuanya hanya tertegun menatap adegan kejar kejaran didalam pasar itu. Mereka pikir sedang ada syuting karena Sean mirip aktor. Mereka seolah sedang menonton adegan kejar kejaran antara pemeran utama dan pencopet.
"Copet copet... " Suara Sean sampai serak tapi tak ada yang membantunya mengejar pencopet itu.
Saat Sean hampir berhasil menangkapnya, wanita tomboi itu malah melemparkan dompetnya pada seorang pria. Dan pria itu adalah orang yang tadi menabrak Rain. Ternyata pria itu mengalihkan perhatian agar wanita tomboi itu bisa mencopet dompet Sean.
"Woi.. kembaliin dompet gue." teriak Sean dengan nafas ngos ngosan saat mereka sampai diarea parkir.
"Jadi lo mau ini?" copet itu mengangkat dompet keatas. "Oke, bakal gue balikin." setelah mengambil semua uang cash didompet , copet itu melemparkan dompetnya ke arah Sean.
"Cih, gayanya kayak orang tajir melintir, uangnya cuma 400 rebu." Kedua copet itu tampak kecewa lalu pergi meninggalkan area parkir.
Sean tak mau mengejar, dia tak butuh uang itu. Dia cuma butuh dompet beserta kartu kartu yang ada didalamnya.
"Sial, sial, sial."
"Udahlah Sean." ucap Rain dengan nafas ngos ngosan karena dia ikut mengejar. "Yang penting dompetnya kembali. Orang uangnya juga cuma 400 rebu. Belanjaannya tadi mana?" Rain melihat tangan Sean yang tadinya membawa belanjaan terlihat kosong.
"Aku membuangnya saat mengejar copet tadi. Terlalu ribet ngejar copet sambil bawa belanjaan."
"Apa!" Kaki Rain yang lemas akibat lelah berlari jadi makin lemas mendengar belanjaannya udah dibuang. Sia sia dong usahanya dapet diskon 15 rebu tadi.
"Ini semua gara gara lo Rain. Kalau aja gak belanja kepasar sialan ini. Gue gak bakal kena sial." Sean masih saja ngamuk ngamuk.
"Iya, iya gue yang salah. Udah jangan ngamuk ngamuk, malu dilihat orang."
"Pokoknya lo harus tanggung jawab."
"Astaga Sean, cuma masalah uang 400 rebu aja kamu minta aku tanggung jawab. Ya udah aku ganti."
"Bukan masalah uang 400 rebu."
"Lalu masalahnya apa?" Rain jadi kesal.
"Lihat ini." Sean mengangkat kakinya. Rain ingin ketawa melihat sepatu Sean yang awalnya warna navy berubah menjadi coklat kehitaman.
"Jadi itu masalahnya. Ok nanti aku cuci sampai bersih."
"Gak akan bisa bersih walau dicuci, pasti warna nya jadi jelek. Sepatu ini limited edition, harganya 30 juta lebih."
Rain melongo mendengar harga sepatu Sean. Mulutnya ternganga dan matanya membulat sempurna.
"Lo harus ganti pokoknya."
Apa aku gak salah denger, dia minta aku ganti sepatunya yang harganya 30 juta. Nafkah aja belum dia kasih, tapi malah minta ganti rugi, gumam Rain dalam hati.
"Ya udah yuk pulang." Sean menarik tangan Rain menuju mobilnya. Sampai didalam mobil Rain masih terdiam. Dia masih memikirkan ganti rugi yang diminta Sean. Semua ini seperti mimpi bagi Rain. Masa seorang ceo yang katanya kaya raya minta ganti rugi 30 juta sama istrinya sendiri.
Tok tok tok
Tukang parkir mengetuk kaca mobil Sean berkali kali.
"Apaan sih?" bentak Sean.
"Gak ada uang, lo tahu sendiri kan barusan gue kecopetan?"
"Kan bisa minta uang bininya?"
"Bini gue gak bawa uang. Udah buruan minggir, kalau gak gue tabrak lo."
"Sialan, dasar orang kaya songong. Gaya doang yang digedein, dompetnya mlompong. Bayar parkir aja gak ada duit." Sekarang giliran tukang parkir yang ngomel ngomel.
...******...
Alan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Amaira yang sedang dirawat. Gadis itu senang sekali melihat Alan datang.
"Gimana keadaan lo Ra?"
"Udah abaikan Al. Kok lo bisa tahu kalau gue dirawat disini?"
Amaira pura pura tak tahu padahal dia yang menyuruh temannya memberitahu Alan.
"Temen lo yang ngasih tahu. Kata mereka lo sakit gara gara gue gak dateng ke ultah lo. Lo nungguin gue sampai larut malem."
"Kenapa sih lo gak dateng Al?"
"Ayah gue masuk rumah sakit Ra. Jadi gue gak bisa datang."
"Ayah lo masuk rumah sakit. Rumah sakit mana Al, gue mau jenguk."
"Elo sendiri kan sakit, ngapain mau jenguk. Lagian ayah gue udah sembuh kok."
"Oh gitu ya."
Gagal deh mau ketemu camer, batin Amaira.
"Lo sakit apa Ra?"
"Gu, gue.. sakit.... "Amaira tampak berfikir. "Cuma masuk angin Al."
Astaga, masuk angin doang dirawat 2 hari di rumah sakit. Apa gini ya cara orang kaya ngehabisin duit, batin Al.
"Elo bawa apa?" Amaira melihat paper bag yang dibawa Alan.
"Aku sampai lupa, nih kado buat lo." Alan menyodorkannya paper bag yang disambut dengan antusias oleh Amaira.
"Lucu banget." Amaira terlihat senang menerima teddy bear berukuran 30cm.
"Maaf ya Ra, gue cuma bisa ngasih itu." Alan sebenarnya bingung mau ngasih kado apa. Mau ngasih baju atau tas, rasanya tak mungkin karena semua barang milik Amaira semuanya branded. Dan Al tak mampu membelikan itu.
"Kamu lagi nembak aku Al?"
"Hah." Al bingung dengan pertanyaan Amaira.
"Nih." Amaira menunjuk bantal berbentuk Love yang dipegang teddy bear itu. Di sana terlulis I love U.
Kok gue sampai gak merhatiin ada tulisan itu ya, gue langsung main comot aja ditoko, Al menyesal tak memperhatikan teddy itu.
"Gue mau kok jadi pacar lo."
"Jangan salah paham Ra, gue gak ada maksud buat..."
Ceklek, belum selesai Al dengan penjelasannya, seoarang wanita setengah baya masuk keruangan itu.
"Mamah." ternyata wanita itu mamanya Amaira.
"Siapa ini sayang, kok kamu keliatannya seneng banget?"
"Saya Alan tante." Alan mengulurkan tangannya.
"Oh.... jadi ini yang namanya Alan. Saya mamanya Amaira." Kata wanita itu sambil menjabat tangan Al. "Amaira sering cerita tentang kamu."
"Al nembak aku mah." Ucap Amaira dengan senyum yang lebar.
"Oh ya, selamat ya sayang."
Alan plonga plongo melihat dua wanita itu terlihat sangat senang dan saling berpelukan. Padahal dia sama sekali gak ada niat buat nembak Amaira.