
Pov Rain
Aku tak tahu kapan aku mulai jatuh cinta. tapi yang aku tahu, saat ini aku jatuh cinta sejatuh jatuhnya pada Sean. Pada laki-laki yang menurutku sangat berbeda dari segi apapun denganku. Tidak aneh jika aku jatuh cinta pada Gaza, pria baik, tampan, penyanyang, romantis dan memiliki selera yang hampir sama denganku.
Tapi Sean, dia sangat berbeda dengan Gaza. Dia keras, egois, suka mabuk, perokok dan penganut sex bebas, sangat bukan tipeku. Kukira dulu mustahil aku jatuh cinta padanya. Pada laki laki yang sempat aku pikir adalah biang masalah dari semua masalahku.
Tapi nyatanya, entahlah. Aku sendiri bingung kenapa aku bisa jatuh cinta padanya. Mungkin inilah yang dinamakan jodoh. Gaza terlalu baik dan sempurna buatku. Bukankah orang baik jodohnya juga orang baik, dan sebaliknya. Mungkin itulah yang membuatku dan Sean berjodoh. Semoga saja kami yang sama sama bukan orang baik ini bisa berubah menuju yang lebih baik.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Hah." Aku gelagapan saat Sean menegurku. Aku malu kepergok menatapnya yang sedang sibuk telepon dengan Danu masalah pekerjaan. Aku bahkan tak sadar jika dia sudah selesai menelepon.
Ya, aku sudah dipindahkan keruang perawatan sekarang. Dokter menyuruhku bed rest beberapa hari di rumah sakit karena kandunganku lemah.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Sean sambil membelai rambutku.
"Belum ngantuk."
"Ibu hamil gak boleh begadang. Apalagi kamu disini buat bed rest jadi harus bener bener istirahat."
"Baiklah, aku akan tidur."
"Tidur ya nak, I love u." Ucap Sean tepat didepan perutku lalu menciumnya beberapa kali. Aku sangat menyukai perhatian kecil dan tulus seperti ini. Setalah puas mencium perutku, dia membenarkan posisi selimutku lalu mengecup keningku."
"Good night beb."
Aku kecewa saat dia meningganku menuju sofa setelah mengecup keningku. Padahal aku ingin ciuman, bukan kecupan di kening.
Sean merebahkan tubuhnya disofa dengan kedua tangan bersedekap didada. Matanya tertutup, tapi entah sudah tidur atau belum. Mungkin dia lelah karena seharian menjagaku dirumah sakit.
Aku memiringkan tubuhku menghadapnya dan terus memandanginya. Suamiku memang sungguh tampan hingga aku tak rela sedetikpun terlewat tanpa memandangnya.
"Aku bilang tidur beb, kenapa kamu malah menatapku terus?" Sean bicara dengan mata masih tertutup. Astaga, darimana dia tahu jika aku menatapnya sejak tadi?
"Aku gak bisa tidur Sean. Aku ingin dipeluk." Rengekku dengan nada manja. Sean membuka mata lalu beranjak dari sofa dan berjalan ke arahku. "Tidurlah, biar aku membelai punggungmu hingga kau tertidur." Ucapnya sambil menarik kursi dan duduk disebelahku.
"Tapi aku ingin dipeluk, tidurlah disebelahku." Aku menggerser tubuhku agar ada ruang untuk Sean.
Sean mengerutkan keningnya lalu tersenyum. "Ranjangnya terlalu sempit untuk kita berdua."
"Cukup kok, please." Aku mengeluarkan jurus puppy eyes agar Sean tak mampu menolak.
Benar saja, jurusku sangat ampuh hingga dia segera naik keatas brankar.
Sean berbaring disebalahku dan memelukku dari belakang. Aku sangat menyukai posisi ini, rasanya sungguh nyaman.
"Besok kita pulang ya. Aku mau bedrest dirumah saja," pintaku.
"Disini saja sampai beberapa hari. Jangan melawan kata dokter." Kata Sean sambil mengelus perutku dan menciumi kepalaku.
"Kau ingin anak laki laki atau perempuan?" tanya Sean tiba tiba.
"Apapun tak masalah, yang penting dia mirip. denganmu."
"Kenapa ingin mirip denganku?"
"Agar aku tak selalu merindukanmu saat kau tak didekatku."
"Aku akan selalu ada didekatmu. Aku tak mungkin menyiksamu dengan rasa yang sangat menyebalkan yang kau sebut rindu itu."
Aku tersenyum mendengar ucapannya yang manis itu. Sean sudah banyak berubah, dia tak lagi suka bicara kasar dan pedas seperti dulu.
"Kalau kau, kau ingin anak laki laki atau perempuan?" Aku membalikkan pertanyaan.
"Aku ingin seorang perempuan, dan seorang laki laki."
"Huft." Aku membuang nafas kasar.
"Kenapa? hanya 2, apa itu terlalu banyak?"
"Aku tak tega melihatmu harus melahirkan sebanyak itu beb. Melihatmu lemas dan muntah muntah karena hamil saja membuatku frustasi."
"Kata orang, melahirkan memang sakit. Tapi semua rasa sakit itu akan hilang setelah melihat anak yang kita lahirkan. Dan sepertinya tak ada masalah bagiku untuk memberimu 4 anak."
"I love you beb." Ucap Sean sambil mencium lama pucuk kepalaku.
Aku perlahan mengubah posisiku menghadapnya dengan sedikit kesusahan karena ranjang yang terlalu sempit.
Aku menatap Sean lama. Membelai setiap sisi wajahnya dengan jari jariku. Sean memang terlahir dengan wajah dan tubuh yang sangat sempurna. Sean meraih tanganku yang berada diwajahnya lalu menciumnya.
Berada dalam jarak sedekat ini dengan Sean selalu sukses membuat jantungku berdegup kencang. Aroma tubuh Sean sungguh membuatku menggila. Dan bibirnya yang merah alami membuat darahku berdesir, aku tak tahan untuk tak menciumnya.
Sepertinya bukan hanya aku yang menginginkan bibirnya. Dari raut wajahnya, serta nafasnya yang mulai naik turun, sepertinya Sean juga tak tahan melihat bibirku.
Kami seperti magnet berbeda kutub yang saling tarik menarik. Tanpa apa apa saling mendekatkan wajah dan mulai mengecap bibir satu sama lain. Kalau saja tak ingat sedang dirumah sakit, kami pasti sudah bergelut sekarang. Memberikan kepuasan kepada satu sama lain dan bersama sama merasakan surga dunia.
Ceklek
Kami berdua terkejut dan reflek melepas pagutan bibir kami. Tapi Sean, sepertinya terlalu terbuai dengan ciuman kami hingga dia lupa kalau kami sedang diatas brankar rumah sakit yang sempit. Keinginannya untuk sedikit menjauh dariku justru berujung naas.
Bugh
"Aww.. " Sean meringis kesakitan saat punggungnya membentur lantai.
Suster yang masuk keruanganku sontak langsung menutup mulutnya karena manahan tawa. Sementara suster itu menahan tawa, aku dan Sean menahan malu.
"Sayang, kamu gak papa kan?" tanyaku mencemaskannya.
Dia tersenyum dan pura pura terlihat baik baik saja walaupun aku tahu dia sedang tak baik baik saja.
"Maaf ya bu, saya mengganggu. Saya cuma mau mengecek infus. Barangkali infusnya habis atau macet." Suster itu berjalan ke arahku lalu melaksanakan tugasnya.
"Lebih baik tidur disofa saja pak. Ranjangnya terlalu sempit untuk berdua. Lagipula ibunya disini untuk bedrest jadi tolong jangan diganggu dulu, apalagi sampai mau diajak macam macam."
Astaga, aku makin malu mendengar ucapan suster itu. Dia pasti mengira kami mau macem macem tadi.
Sean terlihat kesal dengan ucapan suster itu yang bernada sindiran padanya.
"Sus, ada brankar ekstra gak untuk dibawa kesini?" Tanya Sean.
"Ini rumah sakit pak, bukan hotel. Jadi bapak tak bisa request brankar ekstra. Brankar hanya untuk pesakit, bukan orang sehat seperti bapak."
Aku ingin ketawa mendengarnya. Lagian Sena ada ada saja permintaannya.
"Maaf ya sus, ini salah saya. Saya yang meminta suami saya untuk tidur diatas ranjang."Jelasku sambil menahan malu.
...*******...
Pov Sean
Pagi ini Alan berada dirumah sakit untuk menjaga Rain karena aku ada urusan penting. Aku harus bertemu klien penting dan tak bisa diwakilkan. Selain itu aku harus membahas masalah Firman bersama Danu, aku harus memastikan jika hari ini Firman sudah ditahan.
"Jaga kakakmu dengan baik, jangan tinggalkan dia sendirian." Pesanku pada Alan. Sejak kejadian Rain mau dilecehkan, aku lebih protektif padanya. Aku tak ingin dia sendirian, aku harus memastikan jika dia aman.
"Jangan khawatir, aku pasti menjaganya dengan baik." Jawab Alan sambil menepuk bahuku.
Aku dan Alan memang tak cocok, tapi jika menyangkut Rain, kami berdua sangat klop. Kami sama sama menginginkan yang terbaik untuk Rain.
"Aku pergi dulu beb, jangan lupa makan. Aku akan meneleponmu jika ada waktu senggang." Aku mencium kening Rain sedikit lama. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku enggan meninggalkannya.
"Jangan khawatirkan aku, ada Alan disini. Fokus saja dengan pekerjaanmu."
"Papa pergi dulu nak." Aku mencium perut Rain. Tapi kali ini kenapa rasanya beda. Aku tiba tiba ingin menangis. Astaga, kenapa aku jadi sering melow seperti ini, jadi mirip sadboy. Semoga ini bukan sebuah firasat.
Aku meninggalkan Rain dengan langkah berat. Aku menelepon Dino setelah agak jauh dari ruangan Rain. Aku menyuruhnya menemuiku karena aku ada tugas penting untuknya. Aku akan menyuruhnya mencari Maya dan membawanya kehadapanku secepatnya. Aku harus tahu apa alasan dia memfitnah Rain. Aku juga harus mengembalikan nama baik Rain dimata Mama.