Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
TAK PANTAS


Sean menarik Rain keluar kantor tanpa melepaskan genggaman tangannya. Dan Rain hanya pasrah. Dia tak bisa berfikir jernih saat ini, kata-kata Sean barusan membuatnya pusing dan bertanya tanya. Kekacauan apalagi yang akan dibuat Sean kali ini?


"Rain."


Rain menoleh saat mendengar suara familiar yang memanggilnya.


"Tante." Rain terkejut melihat Salma ada disana. Sekuat tenaga dia berusaha melepaskan genggaman tangan Sean. Rain merasakan pergelangan tangannya sedikit perih, tapi hal itu tak ada apa apanya dibanding tatapan wanita setengah baya yang ada dihadapannya.


Siang tadi Salma mendapatkan foto Rain yang tidur bersama Sean dari Dini. Dini adalah tetangga Gaza yang bekerja di perusahaan Sean. Dia tahu betul kalau Gaza dan Rain sudah tunangan.


Salma masih berharap jika foto itu hanyalah editan. Tapi harapannya musnah kala melihat Rain bergandengan tangan dengan pria yang ada difoto itu.


"Ternyata seperti ini kelakuanmu." Ucap Salma dengan tersenyum sinis.


"Rain bisa jelasin tante, ini gak seperti yang tante pikiran." Rain berjalan mendekati Salma.


"Lalu seperti apa? Aku kesini untuk menanyakan perihal foto mesummu bersama pria itu." Salma menunjuk jarinya ke arah Sean. "Tapi sepertinya aku tak perlu bertanya lagi. Semuanya sudah jelas Rain, kau menghianati Gaza. Kau selingkuh dengan pria itu. Bahkan sudah tidur dengannya."


"Tidak tante, ini salah paham, Rain gak selingkuh." Sanggah Rain sambil memegang tangan Salma tapi dihempaskan oleh wanita itu. Rain tak menyangka jika Salma mengetahui perihal foto itu.


"Udah jelas jelas kepergok selingkuh, masih aja mau nyanggah. Kamu juga mau nyanggah tentang foto syur kamu itu?"


Rain tak bisa menjawab karena foto itu benar adanya.


Pertengkaran mereka sontak menjadi daya tarik bagi para karyawan yang akan pulang. Ternyata drama dilobi tadi belum tamat, masih bersambung dihalaman kantor, batin para karyawan yang ingin pulang itu.


"Kemarin aku sudah lunak padamu. Aku sudah berniat akan merestui hubunganmu dengan Gaza. Tapi Tuhan masih menyayangi putraku. Dia menunjukkan siapa dirimu sebelum Gaza terlanjur menikahimu. Wanita murahan sepertimu tak pantas menjadi istri putraku." Maki Salma.


Sean mendadak gusar. Baru saja dia bilang kalau Rain calon istrinya. Sekarang malah Rain dan Salma membahas tentang rencana pernikahan Rain dan Gaza. Apa kata karyawannya kalau seperti ini?


"Mulai detik ini, jangan pernah lagi mendekati Gaza atau bermimpi menikah dengan Gaza. Karena sampai kapanpun, saya tak akan merestui hubungan kalian." Salma berucap dengan lantang.


"Tolong jangan seperti ini Tante, jangan paksa Rain berpisah dengan Gaza. Rain mencintai Gaza." Rain tak mempedulikan banyak orang yang melihat. Baginya sekarang yang terpenting adalah Gaza. Persetan dengan hujatan semua orang. Toh nyatanya namanya udah terlanjur buruk dimata karyawan lain. Dia bisa pindah kerja ditempat lain, kemanapun itu. Tapi dia tak mau kehilangan Gaza.


Apaan sih Rain, pakai bilang cinta sama Gaza segala. Gak liat apa semua orang memperhatikan. Bisa malu gue kalau ketahuan bohong bilang Rain calon istri gue, batin Sean.


Sean menunduk malu saat para karyawan mulai menatapnya sambil berbisik bisik. Ini tidak bisa dibiarkan, segera dia menyuruh security untuk membubarkan para karyawan yang menonton drama antara Salma dan Rain.


Walaupun kecewa karena tak bisa menonton, pada akhirnya satu persatu dari mereka bubar.


"Cih, cinta katamu. Wanita menjijikkan." Maki Salma sambil mengangkat telapak tangannya.


Hampir saja sebuah tamparan mendarat dipipi Rain jika saja Sean tak menahan tangan wanita itu.


"Berani beraninya anda ingin memukul calon istri saya," bentak Sean.


Rain memejamkan matanya mendengar Sean lagi lagi bilang kalau dia calon istrinya. Apalagi dia mengatakan itu didepan Salma.


"Berhenti bicara omong kosong Sean. Kau sudah melewati batas," bantak Rain. Kali ini dia tak bisa lagi menahan emosi. Usahanya membujuk Salma sia sia gara gara ucapan Sean barusan.


"Aku ingin membelamu, kenapa kau malah marah padaku?" Sean balas membentak Rain.


"Berhenti menghina calon istri saya." Seru Sean yang masih terus membela Rain.


"Tenang saja." Salma menepuk lengan Sean." Aku jamin ini yang terakhir kalinya. Karena aku tak mau ada urusan lagi dengan ****** ini." Salma menunjuk ke arah Rain sambil melotot. "Aku peringatkan untuk yang terakhir kalinya. Jangan ganggu Gaza lagi atau berharap menikah dengan Gaza." Ucap Salma dengan suara lantang hingga mampu didengar semua orang yang berada disana.


"Nyonya tidak perlu khawatir. Rain tak akan mengganggu putra anda lagi karena kami akan segera menikah." Sahut Sean tak kalah lantang dari Salma.


"Apa benar yang dia katakan Rain?"


Deg


Rain hampir pingsan mendengar suara itu. Ya, pemilik suara merdu itu tak lain adalah Gaza. Entah sejak kapan Gaza berada disana dan tengah memperhatikan perseteruan antara mereka bertiga.


Rain hanya mampu menggelengkan kepalanya. Mulutnya tak mampu bersuara. Suaranya seakan tercekat ditenggorokan.


"Mulai detik ini, kita gak ada hubungan apa apa lagi Rain. Rencana pernikahan kita batal." Ucap Gaza.


BATAL BATAL BATAL kata kata itu seolah menggema ditelinga Rain. Kenyataan ini terlalu menyakitkan baginya. Pernikahan yang tinggal menghitung hari tiba tiba batal.


Sean, pria itu tersenyum mendengar ucapan Gaza. Hatinya terasa lega mendengar Gaza membatalkan rencana pernikahannya dengan Rain tanpa dia minta. Ternyata memisahkan mereka lebih mudah daripada yang dia bayangkan.


"Ayo kita pukang Ma." Gaza membawa Salma pergi dari tempat itu.


Aku tak menyangka kau tega menghianati aku Rain. Ternyata keputusanmu untuk tetap bekerja di tempat Sean adalah karena kalian ada hubungan. Belum hilang kecewaku karena kebohonganmu kemarin, kau sudah menambah lagi dengan kekecewaan yang baru, gumam Gaza dalam hati.


"Tunggu Ga." Rain berlari mengejar Gaza lalu menahan lengannya. "Tolong pertimbangankan lagi keputusanmu. Jangan mengambil keputusan besar saat emosi seperti ini."


"Keputusanku sudah bulat Rain. Tolong jangan ganggu aku lagi." Gaza melepas kasar tangan Rain.


"Aku bersumpah Ga. Tidak ada hubungan apa apa antara aku dan Sean." Terang Rain sambil menangis.


"Kepercayaanku padamu sudah hilang Rain. Dan dasar dari sebuah hubungan adalah kepercayaan. Tidak ada lagi yang bisa diperbaiki dalam hubungan kita. Kau sudah mengecewakanku Rain. Aku tidak bisa menerima perbuatanmu dengan Sean. Maaf, aku tak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita."


Ucapan Gaza terdengar seperti sambaran petir bagi Rain. Walaupun dia sangat mencintai Gaza, tapi dia tak mungkin memaksa Gaza untuk menerimanya setelah apa yang dilakukannya. Ya, laki laki mana yang masih mau menerima perempuan yang sudah menjual diri dan fotonya tidur bersama laki laki tersebar dimana mana.


"Kau sudah dengarkan apa yang Gaza katakan. Kau wanita murahan. Kau tak pantas mendapatkan Gaza. Menikahlah dengan dia, pria yang sama sama menjijikkan denganmu." Ucap Salma sambil mengarahkan dagunya pada Sean.


Kurang ajar wanita tua itu. Bisa bisanya dia bilang aku pria menjijikkan. Guman Sean dalam hati sambil mengepalkan telapak tangannya. Kalau saja bukan perempuan, pasti sudah dia hajar.


"Ayo pergi dari sini Rain. Kau tak perlu merendahkan dirimu dihadapan mereka. Jangan memohon belas kasihan pada mereka yang tak bisa menghargaimu." Tutur Sean sambil menarik Rain pergi.


"Demi Tuhan aku tak pernah merendahkannya. Dia sendiri yang telah merendahkan harga dirinya. Hanya wanita rendahan yang menjual diri demi uang." Sahut Gaza.


Jleb


Ucapan Gaza sungguh menohok hingga membuat Rain sangat sadar diri. Dia sadar kalau dirinya tak layak untuk Gaza. Wanita murahan yang sudah menjual diri memang tak layak untuk pria sesempurna Gaza.


Tak ada gunanya lagi memohon. Gaza sudah memandangnya sangat rendah.