
Sean mendekatkan wajahnya pada Rain. Dia mulai memberikan ciuman singkat dibibir wanita yang sangat dia cintai itu. Mendadak jantung Rain berdetak dengan cepat. Dia seperti merasakan getaran yang belum pernah dia rasakan selama menikah dengan Sean.
"Aku menginginkanmu Rain. Aku sangat menginginkanmu malam ini." Ucap Sean dengan suara serak, pria itu tak mampu lagi menahan hasratnya. Nafasnya mulai naik turun dengan mata penuh kabut gairah.
Sean kembali menyapukan bibirnya pada bibir Rain. Kali ini lebih dalam dan lebih menuntut.
"Aku menginginkanmu Rain, apa aku boleh melakukannya?" Tanya Sean sesaat setelah dia melepas pagutan bibirnya. Walaupun hasratnya sudah diubun ubun, Sean tetap meminta ijin mengingat dia sudah pernah berjanji tidak akan memaksa Rain. Kali ini dia menginginkan penyerahan diri, bukan pemaksaan.
Rain bergeming beberapa saat. Hal itu sungguh membuat Sean merasa frustrasi. Waktu seakan berjalan begitu lambat, dia sangat tak sabar menunggu Rain berkata iya atau sekedar mengangguk pasrah.
"Rain, please...." Sean terus memohon, rasanya dia benar benar akan gila jika Rain tak mengiyakannya kali ini.
Senyum Sean mengembang tatkala melihat Rain menganggukkan kepalanya. Ingin sekali dia berteriak yess sekencang kencangnya karena terlalu bahagia.
Sean kembali mencium Rain, dan kali ini Rain mulai berani membalas ciumannya. Mereka berdua saling bertukar saliva dan saling membelai lidah satu sama lain.
Sean menurunkan ciumannya pada leher Rain, menghirup dalam dalam aroma tubuh yang menjadi candu baginya. Wangi itu seakan mampu menghipnotisnya, membuatnya lupa daratan dan melayang layang di udara.
Tak ingin menyia nyiakan waktu, tangan Sean mulai bergerak membuka kancing piyama Rain satu persatu.
Jantung Rain berdegup kencang. Setiap sentuhan Sean seperti aliran listrik yang mampu menyengatnya.
"Jangan kasar seperti waktu itu." Pinta Rain saat Sean sudah berada diatasnya.
"Tidak akan sayang, kali ini kau tidak akan merasakan sakit sedikitpun. Aku akan membuatmu melayang hingga kau tak akan melupakan malam ini. Kau akan sangat menyukainya sayang."
Sean memulai penyatuan mereka dengan sangat lembut, dia memberi jeda agar Rain bisa menyesuaikan diri. Setelah merasa Rain menikmatinya, dia mulai mempercepat gerakannya hingga wanita dibawahnya tak bisa menahan desahannya.
Rain berusaha untuk tetap menjaga kewarasannya. Dia tak ingin terlihat seperti seorang wanita yang mendamba sentuhan dari seorang pria.
Tapi sepertinya hal itu tidak mudah. Sean mampu membangkitkan gairahnya. Membuat tubuhnya seakan ingin ikut bergerak menyusuri kenikmatan yang diberikan Sean padanya.
Sean menjatuhkan dirinya disebelah Rain setelah keduanya mencapai puncak bersama. Dnegan keringat yang masih bercucuran, dia mencoba mengatur nafasnya agar kembali normal. Sean memiringkan tubuhnya untuk melihat wanitanya. Senyum tersungging dibibirnya saat melihat Rain kurkulai lemas dengan tubuh penuh keringat.
Rain masih belum sadar jika Sean menatapnya. Dia masih mengatur nafas sambil mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lemas. Matanya masih terpejam, meresapi sisa sisa kenikmatan yang baru dia rengkuh.
Rain terkesiap saat dia membuak matanya. Matanya langsung bertatapan dengan mata Sean. Reflek dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Kenapa ditutupi, padahal aku belum puas melihat." goda Sean dengan seringai dibibirnya. Seketika Pipi Rain merona seperti kepiting rebus karena malu.
Sean terkekeh melihat Rain yang tersipu malu. Wajahnya yang memerah begitu menggemaskan hingga Sean tak tahan untuk segera masuk kedalam selimut yang sama lalu memeluk Rain.
"Gak sakit kan?" Tanya Sean sambil merapaikan rambut Rain yang menutupi wajahnya.
Rain menggelang, dia merasakan penyatuan kali ini sungguh terasa berbeda. Dia benar benar menikmati. Tak ada lagi sakit, tak ada lagi perasaan terpaksa serta tak ada lagi perasaan tak nyaman. Semuanya terasa begitu indah, mungkin seperti inilah definisi surga dunia yang biasanya dikatakan orang arang.
"Kau menyukainya?"
Rain mengangguk malu malu, dia tak bisa bohong. Dia memang menyukainya.
"Terimakasih sayang." Ucap Sean sambil mengecup lama kening Rain. Kecupan yang mampu mampu membuat yang dikecup merasa amat dicintai.
"Untuk apa?"
"Untuk malam ini. Aku sangat menyukainya sayang. Tubuhmu benar benar membuatku kehilangan kewarasan. Aku merasakan kegilaan yang luar biasa saat menyentuh setiap inci tubuhmu." Sean memberi kecupan singkat dibibir Rain lalu membenamkan kepala Rain di dadanya. "Apa kau mengantuk?"
"Belum." Jawab Rain sambil mendongak ke atas menatap wajah Sean.
"Memangnya kanapa? Apa kau lapar? apa kau ingin aku memasak untukmu?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku ingin ronde ke dua." Bisiknya ditelinga Rain hingga membuat bulu kudu Rain merinding.
Sean terkekeh melihat ekspresi Rain. Dia berencana untuk lembur semalaman. Dia tak ingin kalah dari Leo.
"Ini sudah malam, bukankah lebih baik tidur saja. Besok kita harus kerja."
"Malam apanya? Baru juga jam 11. Leo bilang malam ini dia akan lembur sampai pagi. Aku tak mau kalah darinya."
Rain geleng geleng kepala mendengar penuturan suaminya. Bisa bisanya dia iri pada pasangan pengantin baru.
"Apa kalian tidak bisa membahas masalah lain selain ranjang? Mereka pengantin baru, jadi wajar kalau mereka lembur sampai pagi. Kenapa kau harus iri?"
"Kita juga pengantin baru. Bukankan baru malam ini kita menjadi suami istri yang sesungguhnya?" Sean menaikkan sebelah alisnya ke atas. Rain tersenyum melihatnya, dalam hati dia membenarkan ucapan Sean. Mungkin memang benar, malam inilah malam pengantin yang sesungguhnya bagi mereka walau sebelumnya sudah pernah melakukannya.
"Sekali lagi ya, please. Setelah itu kau boleh tidur." Tanpa menunggu persetujuan, Sean segera melancarkan aksinya.
Setelah ronde ke dua, Rain tak mampu lagi menahan lelah juga kantuknya. Matanya tinggal 5 watt, ingin sekali terpejam. Tak butuh waktu lama dia langsung tertidur sambil memeluk pinggang Sean.
Sean memandang wajah Rain sambil menyentuh lembut setiap bagiannya. Dia begitu mengagumi kecantikan istrinya yang membuatnya tergila gila itu.
Sean menarik selimut, dia menutupi seluruh tubuh Rain hingga lehernya. Sean mengubah posisinya menjadi setengah duduk dengan posisi Rain memeluk pinggangnya.
Sean meraih ponselnya yang berada di atas nakas lalu mengambil foto selfie dirinya dan Rain. Setalah mendapatkan foto yang sesuai dengan harapannya, dia mengirim foto itu pada Leo.
Bukan hanya lo aja yang lembur malam ini. Gue juga Bro. Siap siap buat kalah taruhan. -- Sean
Ditempat lain, Leo yang baru saja belah duren, terkekeh melihat foto Sean. Melihat wanita disebelahnya tengah tertidur pulas, diapun membalas pesan Sean.
Niat banget lo ambil fotonya. Sampai sampai lo nyuri nyuri kesempatan saat Rain tidur, wkwkwk. Gue gak percaya, lo sengaja buka baju terus ambil foto kayak gitu buat nipu gue. Gak mempan Bro. -- Leo
Sean mengumpat saat membaca balasan dari Leo. Apalagi dibelakang pesan itu, Leo menambahkan banyak sekali emoticon ngakak.
Terserah mau percaya apa enggak. Yang penting gue udah buka puasa. Dan dijamin bentar lagi perut Rain bakal buncit. Lebih baik lo nabung mulai sekarang buat biaya persalinan Rain.
Leo tak bisa menahan tawanya membaca pesan Sean hingga Zalfa yang tidur disebelahnya terbangun.
"Ada apa mas?" Tanya Zalfa yang mendengar Leo ketawa sendirian.
"Gak ada apa apa sayang. Mas cuma lagi balesin pesan dari manusia sekarang lagi iri melihat kebahagian kita."
"Siapa? mantan kamu?" Zalfa langsung nyambung kesitu mendengar ada yang iri dengan kebahagiaan mereka.
"Bukan, dari Sean." Leo menunjukkan chat nya dengan Sean. "Udah kamu tidur lagi aja." Leo mengecup kening Zalfa lalu membelai kepalanya agar istrinya itu kembali tertidur.
Gue percaya bentar lagi perut Rain bakalan buncit. Tapi isinya nasi, bukan baby. Hahahahaha..... ---Leo
Sean makin kesal, kalau dilanjutkan terus, bisa bisa dia kena stroke. Dia meletakkan ponselnya lalu memeluk Rain dan tidur.