
Disinilah mereka sekarang, di Bandar udara internasional komodo. Rain dan Sean tengah menjemput Alan dan Amaira.
Sebenarnya Sean merasa sangat keberatan dengan kedatangan mereka. Tapi mau gimana lagi, dia tak mungkin mengatakan itu pada Rain.
"Maaf ya ganggu bulan madunya mbak Rain." Ucap Alan sedikit sungkan. Sebenarnya dia memang tak enak hati. Apalagi melihat wajah Sean yang nampak ditekuk sejak tadi.
Semua ini tentu ulah Amaira, dia menyuruh Arya agar memaksa Alan menemaninya ke Labuan bajo. Alan yang merasa sebagai bawahan Arya, tak mungkin bisa menolak perintah pria itu. Tapi Arya tetaplah Arya, dia sangat menyayangi adiknya. Dia berpesan pada Alan agar menjaga Amaira dengan baik. Dan mewanti wanti agar Alan tak melakukan hal diluar batas bersama Amaira saat jauh dari rumah.
"Gak ganggu kok Al, mbak malah seneng banget kamu kesini. Mbak kangen tau." Ucap Rain sambil memeluk adik kesayangannya itu.
Mulai deh lebaynya, batin Sean.
"Udah ah, yuk buruan pulang." Sean segera menarik Rain dan membelitkan tangannya di pinggang wanita itu.
Sesampainya dirumah, Rain segera menghidangkan makanan untuk Alan dan Amaira. Sejak pagi Rain memang sudah sibuk memasak untuk menyambut mereka.
"Makan yang banyak Ra. Mbak sengaja masak banyak buat kalian." Tutur Rain sambil menambahkan lauk di piring Amaira.
"Makasih banyak mbak."
"Gak usah sungkan, anggap aja kayak dirumah sendiri."
"Ehmm... enak banget masakan mbak Rain. Kapan kapan boleh dong aku belajar masak sama mbak?" Puji Amaira.
"Gak boleh." Jawab Sean dengan tegas. "Kakak lo itu tajir, suruh dia cari chef buat ngajarin lo masak, gak usah ngerepotin Rain."
Rain seketika memelototi Sean. "Jangan didengerin Ra. Boleh kok kalau mau belajar masak sama mbak." Ucap Rain sambil tersenyum ke arah Amaira.
"Oh iya, kamar disini cuma ada dua. Jadi biar dipakai Amaira, kamu tidur di sofa gak papa kan Al?" Tanya Rain sambil beralih menatap Alan.
Alan hanya menjawab dengan anggukan karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Biar Amaira aja yang nyuci piringnya mbak." Tutur Alan saat Rain membereskan meja makan.
"Gak usah, biar mbak aja."
"Gak papa mbak, biar aku aja." Sahut Amaira saat ditatap tajam oleh Alan.
"Gak usah, mbak aja. Kamu istirahat sana."
"Udah beb, biar dia yang nyuci piring. Kita kekamar aja yuk." Ajak Sean sambil melingkarkan lengannya di pinggang Rain.
Amaira hanya berdiri didepan wastafel. Dia menatap jijik tumpukan piring, gelas serta wadah kotor lainnya. Seumur hidup, dia tak pernah mencuci piring.
"Ngak akan bersih kalau cuma diliatin doang. Buruan cuci piringnya." Titah Alan yang tiba tiba berdiri disamping Amaira.
"Aku gak tahu caranya Al. Aku gak pernah cuci piring." Jawab Amaira dengan tampang minta dikasihani.
Alan membuang nafas kasar sambil memutar bola matanya malas. "Nyuci piring aja gak bisa, tapi berani ngajak aku nikah dan sok sok an mau hidup sederhana sama aku. Makanya, kalau ngomong dipikir dulu. Hidup miskin itu gak segampang ngomongnya Ra. Ngejalaninnya susah." Omel Alan sambil mendorong pelan tubuh Amaira agar minggir dari depan wastafel.
Tak mau banyak bicara lagi. Alan segera mencuci semua tumpukan piring dan gelas kotor itu. Alan sangat terampil karena dia sudah terbiasa dengan pekerjaan itu.
Amaira berdiri disamping Alan dan memperhatikannya dengan seksama. Ada perasaan tak enak dihatinya. Tapi mau gimana lagi, dia memang tak biasa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti ini.
...*****...
Rain mengajak Amaira kekamar yang akan ditempatinya. Hari ini Rain sudah membersihkannya jadi sudah siap untuk ditempati.
"Kalau butuh apa apa minta aja sama mbak, atau Alan. Gak usah sungkan."
"Iya mbak, sekali lagi makasih ya udah nerima aku disini."
"Kok ngomongnya gitu sih, kamu kan calon adik ipar mbak. Udah pastilah diterima. Udan gih tidur, kamu pasti capekkan? Besok mau jalan jalankan sama Al. Jadi mending buruan istirahat."
Amaira mengangguk lalu menutup kamarnya setelah Rain keluar.
"Yang, tidur yuk." Ajak Rain saat Sean tengah berbincang sambil nonton tv bersama Alan.
"Iya beb, udah gak sabar ya pengen enak enak."Jawab Sean dengan tatapan nakalnya.
"Sean, kok gitu sih ngomongnya. Ada Alan, gak malu apa?" Rain yang sebal segera masuk kekamar duluan.
"Entar kalau kakak lo udah tidur, gue wa. Lo bisa pindah kekamar cewek lo. Daripada tidur disini, dingin, banyak nyamuk." Lirih Sean karena tak ingin sampai kedengaran Rain. "Tidur dikamar lebih enak, bisa peluk pelukan, anget." Sean menyeringai kecil sambil beranjak dari sofa dan masuk kekamarnya.
Alan hanya hanya geleng geleng kepala mendengar ide gila kakak iparnya itu.
...****...
Alan membolak balikkan tubuhnya diatas sofa sambil menutup telinga. Dia ingin sekali menggedor pintu kamar kakaknya, tapi rasanya kurang etis. Dia sadar diri kalau sedang menumpang.
Bagiamana tak kesal, sejak tadi Alan disuguhi suara desahan erotis dari kamar kakaknya. Sepertinya Rain dan Sean lupa kalau sekarang tak hanya mereka berdua yang ada dirumah itu. Tapi ada Alan yang tidur diluar. Mereka juga sudah terbiasa di kamar yang kedap suara. Jadi mereka tak pernah menahan diri saat bercinta.
Malam yang sunyi membuat suara ah eh ah eh dari kedua insan yang dipuncak gairah itu sangat terdengar jelas ditelinga Alan, hingga dia merasa sangat tak nyaman.
Tiba tiba saja terpikirkan ide untuk mengajak Amaira keluar jalan jalan.
Ceklek
Alan terpaksa langsung masuk kamar Amaira karena beberapa kali mengetuk tak ada sahutan.
"Ra, bangun Ra." Alan menggoyangkan bahu Amaira yang tidur dalam posisi miring.
"Eh. " Amaira hanya melenguh dan menggeliatkan tubuhnya. Pergerakannya membuat gaun tidur yang dia pakai sedikit menyingkap hingga paha mulusnya terekspos dengan jelas. Alan sampai menelan ludah melihatnya.
Mata Alan terbelalak saat posisi Amaira berubah telentang. Ujung payudara gadis itu nampak menyembul dari balik baju tidur satin yang dia kenakan. Sepertinya gadis itu tidak memakai bra saat tidur.
"Shitt." Umpat Alan saat bagian bawah tubuhnya menegang. "Ngegoda iman banget sih lo Ra." gerutu Alan sambil mengacak acak rambutnya sendiri.
"Ra bangun." Alan kembali menggoyangkan lengan Amaira. Tapi gadis itu sama sekali tak menunjukkan tanda tanda ingin bangun.
"Lo itu tidur apa mati." Gerutu Alan yang mulai lelah membangunkan Amaira. "Kayaknya lo gak bakal kerasa deh kalau gue grepe grepe dikit." Setan disekitar Alan mulai memberikan arahan arahan yang kurang baik.
"Eh... " Amaira terdengar seperti mendesah. Hal itu membuat Alan menggila dan makin ingin lebih. Dia mulai memasukkan tangannya kedalam baju tidur Amaira. Tapi diluar dugaan, gadis itu terbangun dan langsung berteriak sangat kencang.
"Arghh....... "
Alan buru buru membekap mulut Amaira. Tapi naas Amaira langsung menggigit tangan Alan hingga bekapannya terlepas.
"Tolong..... " Amaira kembali berteriak. Dia pikir ada orang yang mau memperkosanya. Kesadarannya yang belum penuh serta kondisi kamar yang agak gelap membuatnya tak sadar jika yang dihadapannya adalah Alan.
"To----"
Alan langsung mencium Amaira agar gadis itu tak bisa berteriak lagi.
"Ini gue Ra, Alan. Gak usah teriak teriak." Ucap Alan setelah melepas ciumannya.
"Alan." Lirih Amaira dengan nafas naik turun.
Cup
Alan kembali mencium Amaira. Amaira memejamkan matanya menikmati sapuan bibir dan lidah Alan. Bisa dibilang ini adalah ciuman pertama mereka. Sejak pacaran mereka memang tak pernah berciuman.
Ceklek
"Alan." Teriak Rain saat melihat adiknya berciuman didalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur.
Sean segera menghidupkan lampu. Dan tampaklah wajah memerah dari kedua insan yang baru berciuman itu.
"Kurang ajar kamu Al."
PLAK
Rain langsung menampar Alan dengan sangat keras. Sean dan Amaira sampai melotot melihatnya.
"Kamu apain Amaira hingga teriak minta tolong? Kamu mau melecehkan dia?" Bentak Rain sambil memukuli dada dan lengan Alan.
"Udah beb udah." Sean menghentikan Rain yang terus memukuli Alan.
"Ini cuma salah paham aja kok mbak." Ucap Amaira sambil menunduk. "Alan gak ngapa ngapain aku kok. Aku tadi teriak karena aku pikir ada maling yang masuk kamar. Ternyata Alan."
"Kamu ngapain masuk kekamar Amaira?" Tanya Rain dengan tegas.
"Cuma mau pinjem charger mbak." Bohong Alan.
"Kalau cuma mau pinjem charger, kenapa mbak liat kalian ciuman?"
"Udahlah beb, namanya juga anak muda. Pengen kali mereka." Jawab Sean dengan enteng.
"Ya gak bisa gitu dong, mereka itu belum nikah. Berduaan didalam kamar bisa berujung sesuatu yang tak diinginkan. Aku gak mau sampai terjadi apa apa sama Amaira. Apalagi Arya udah nitipin dia ke aku."
"Maksudnya?" Sean langsung menatap Rain dengan tajam. Dia ingin penjelasan dari kata kata Rain barusan.
Sial, aku keceplosan, batin Rain.
"Kapan Arya nitipin dia ke kamu? Arya nelepon kamu? Kok aku gak tahu? Kenapa kamu gak bilang ke aku?" Sean memberondong Rain dengan pertanyaan.
"I, itu... anu.. " Rain bingung mau menjawab.
Sean segera pergi meninggalkan kamar itu dan kembali ke kamarnya. Mengetahui Sean marah, Rain buru buru mengejarnya dan melupakan masalah Alan.
"Kamu tadi mau ngapain aku Al? Kamu mau perkosa aku ya?" Tanya Amaira setelah Rain keluar.
"Perkosa kamu? jangan halu." Alan menyebikkan bibirnya. "Gue gak minat sama tubuh kerempeng lo itu. Makanya cepetan sembuh biar bisa montok dikit. Biar gue bisa nafsu ngeliat lo." Tutur Alan dengan nada menghina.
"Jahat banget sih kamu Al."
"Udah tahu gue jahat, masih aja ngajak gue nikah." Alan segera keluar meninggalkan kamar Amaira.
...*****...
"Jangan ngambek dong yang. Kemarin Arya nelepon aku. Dia cuma nitipin adiknya doang kok, gak ngobrol macem macem sama aku. Maaf gak bilang kamu."
"Kenapa sih si Arya malah nelepon kamu bukan aku? Bukankah yang temennya itu aku?" Ucap Sean sambil menunjuk dirinya sendiri. "Palingan dia itu modus. Dia masih suka sama kamu."
Rain menghela nafas lalu memegangi kedua bahu Sean. "Aku kan gak bisa melarang orang buat suka sama aku yang. Tapi yang aku suka itu cuma kamu. Yang aku cinta cuma kamu. Aku gak peduli jika ada puluhan atau ratusan orang yang suka sama aku, karena cintaku cuma buat kamu."
Sean serasa melayang mendengar ucapan Rain. Tapi sebisa mungkin dia mengontrol diri dan bersikap biasa saja.
"Apa buktinya?" Tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Huft, bukti apa lagi sih yang? Masak sikapku selama ini ke kamu gak ngebuktiin kalau kau cinta sama kamu?"
"Ya bukti apa gitu yang lebih konkret." Tantang Sean.
Rain menghela nafas lalu menurunkan celana pendek yang yang dipakai Sean dan berjongkok didepannya.
"Eh... " Sean tak bisa menahan desahannya saat Rain memanjakan miliknya. "Enak banget beb, kamu makin jago sekarang." Ucapnya dengan suara parau sambil membelai kepala Rain.
"Aku gak kayak perempuan murahankan yang?"
"Ya enggaklah, nyenengin suami itu pahala, bukan murahan. Lagipula kamu itu mahal beb. Mahal banget, 1 milyar loh beb harga kamu, gak murah."
Rain langsung melotot dan menggigit kepunyaan Sean saat disinggung harganya 1 milyar.
"Awww... Sakit beb."
"Jahat banget sih kamu bilang hargaku 1 milyar. Ya, aku memang murahan, aku wanita yang bisa dibeli."
sial, kenapa sih nih mulut gak ada filternya. Jadi keceplosankan, gerutu Sean dalam hati..
"Sory beb, Sory. Aku gak maksud kayak gitu kok. Sumpah aku cuma becanda tadi. Jangan ngambek dong please."