
Amaira mendatangi Al ditempat kerjanya. Seperti biasa dia menunggu didalam mobil sampai Al pulang. Gadis tampak gelisah, kemarin dia mendapat laporan dari temannya jika melihat Al bersama seorang wanita di mall. Temannya juga mengirim foto saat Al pelukan dengan wanita itu dan pergi kebioskop.
Melihat Al keluar dari cafe, Amaira langsung menghampirinya dan mengajak Al masuk kedalam mobilnya.
"Kamu selingkuh ya?" Amaira langsung ke pokok pembicaraan.
"Apaan sih main nuduh aja." Al hanya menanggapi santai pertanyaan Amaira.
"Kamu kemarin kemana? Jalan jalan ke mall sama selingkuhan kamukan?"
"Kamu ngawasin aku?"
"Jadi bener kamu kemarin ke mall sama cewek lain? Apa sih kurangnya aku Al? Dia belanjain kamu banyak barangkan? Aku juga bisa kok, kamu gak usah selingkuh kalau mau apa apa. Minta sama aku Al. Aku bakal ngasih semua yang kamu mau." Mata Amaira mulai berkaca kaca.
"Nih buat kamu." Amaira memberikan kartu kreditnya pada Al. "Pakai sesuka kamu, tapi jangan pernah selingkuh dari aku. Aku bisa terima kalau kamu nyuekin aku, gak ngangkat telepon aku, bahkan kalau morotin aku juga gak masalah. Tapi Aku gak bisa terima kalau diselingkuhin kayak gini," teriak Amaira sambil berusaha menahan air matanya agar tidak sampai jatuh.
Al tahu kalau Amaira hanya salah paham. Wanita yang dia maksud pasti adalah Rain karena dia kemarin ke mall dengan Rain. Tapi kata kata Amaira sungguh melukai harga dirinya.
"Udah selesai marahnya?"
Amaira hanya diam sambil melengos. Dia sebenarnya sangat marah dan kecewa pada Al. Hatinya sangat sakit melihat foto foto Al bersama wanita lain.
"Nih ambil." Al mengembalikan credit card ke tangan Amaira. "Gue gak butuh." teriak Al dengan mata melotot. "Mulai sekarang kita putus." Al membuka pintu mobil lalu keluar.
Amaira syok diputuskan begitu saja oleh Al. Dia yang tak terima langsung mengejar Al.
"Tunggu." Teriak Amaira sambil mengejar Al yang sudah berdiri disamping motor maticnya.
"Kamu gak bisa mutusin aku gitu aja. Kamu yang selingkuh, kamu yang salah, kok kamu yang mutusin aku?"
"Kenapa, gak terima?" sinis Al. "Maunya kamu yang mutusin aku, gitu? Ya udah putusin aku sekarang. Aku juga gak masalah. Gitu aja ribet." Tak ingin perdebatannya berlarut larut, Al segera mengambil helm. Tapi saat mau memakainya, Amaira merebut helm itu lalu membantingnya dengan keras.
"Apa apa sih lo Ra." Al mengambil helmnya yang tergeletak ditanah. Kaca helm itu pecah akibat benturan yang sangat keras dengan lantai parkiran.
"Apa sih lebihnya dia daripada aku Al? Kenapa kamu lebih milih dia dan mutusin aku?" Tanya Amaira sambil menangis.
Suara helm yang dibanting menarik perhatian orang ornag yang lewat. Ditambah lagi Amaira yang menangis. Hal itu membuat Al merasa malu.
"Ambil ini Al." Amaira menyerahkan semua kartu debit dan creditnya pada Al. "Kalau masih kurang bilang sama aku."
Al makin malu apalagi banyak orang yang melihat kejadian itu. Orang pasti akan melihatnya sebagai pria yang matre. Yang mengencani gadis kaya untuk diambil hartanya.
"Jadi ini balasan kamu ke aku? Karena aku selingkuh, kau mempermalukan aku didepan banyak orang seperti ini?"
Amaira baru sadar jika banyak orang yang melihat pertengkaran mereka.
"Sudah cukup kamu nginjek injek harga diriku Ra. Mulai detik ini, jangan pernah temui aku lagi. Aku bukan orang miskin yang bisa kamu beli dengan uang. Aku punya harga diri. Dasar cewek sok kaya." Al menarik tangan Amaira lalu menyerahkan semua kartunya.
"Al aku gak bermaks.."
"Stop Ra, aku gak mau denger apapun dari mulut lo." Al memakai helmnya yang pecah lalu pergi meninggalkan Amaira yang menagis sesenggukan.
BRUK
Tiba tiba Amaira pingsan.
...*****...
Malam ini Rain sengaja masak spesial buat Sean. Semua itu sebagai ucapan permintaan maafnya karena kemarin udah ngasih jatah Sean ke Arya.
"Enak gak?" Tanya Rain saat Sean memakan cumi sambel ijo buatannya.
"Biasa aja."
"Besok besok aku malas mau masak buat kamu?" Rain mengerucutkan bibirnya pura pura ngambek.
"Ya kalau malas beli aja, gampang kan. Kurang enak gimana coba jadi istri aku. Gak perlu beres beres rumah, gak perlu masak, duit ngalir terus, kamu tinggal jalan jalan, shopping." Jawaban Sean benar benar diluar dugaanya. Kirain bakal dibaik baikin, dipuji biar mau masak terus. Eh... malah dianya santui aja.
"Habis makan kamu yang nyuci piring ya, aku capek," keluh Rain.
"Iya." Sean terpaksa mengiyakan agar Rain senang.
Setelah makan malam, sesuai permintaan Rain. Sean segera membereskan meja dan membawa piring kotor ketempat cuci piring. Sean memakai sarung tangan lalu mulai mencuci satu persatu piring.
PYAR
Karena tak terbiasa, dia malah menjatuhkan piring yang terasa licin kerana sabun.
Mendengar ada yang pecah, Rain buru buru ke dapur.
"Kok bisa sampai jatuh sih?" omel Rain.
"Jangan salahin aku, salahin tuh piringnya yang licin banget." Sean membela diri.
"Ya kali piring disalahin. Udah minggir biar aku beresin."
Sean melepas sarung tangannya lalu minggir. Sedangkan Rain segera memberaihkan pecaham piring dilantai dengan hati hati.
"Aww.. " Pekik Rain saat serpihan piring mengenai ujung jarinya.
Sean yang berada tak jauh darinya segera memeriksa Jari Rain. Melihat jari itu mengeluarkan darah, Sean segera memasukkannya kedalam mulut lalu menghisapnya.
Rain tertegun melihat sikap Sean. Dia sampai tak sadar memandang wajah Sean tanpa berkedip.
"Kenapa ngeliatin aku sampek kayak gitu? So sweet ya?" ledek Sean.
"Apaan sih." Rain yang malu langsung membuang pandangannya ke arah lain.
"Duduk sana, biar aku ambilin plester." Sean menunjuk dagu sebuah kursi yang ada didapur.
"Gak usah, luka dikit aja. Dibiarin besok juga sembuh sendiri."
"Tapi kalau gak diplester, ntar bisa berdarah lagi kalau kena sesuatu. Udah ah nurut napa?"
Sean segera mengambil kotak P3K lalu menempel plester dijari Rain.
"Sean, kamu mau gak kalau diajak double date?"
"Double date?" Sean terlihat mengerutkan dahinya "Aku gak suka, mending ngedate sendiri aja kita. Lebih enak, gak ada yang gangguin.
"Tapi aku udah terlanjur bilang mau Sean." Ucap Rain sambil tersenyum pelik.
"Hish kau ini. Memangnya sama siapa? Jangan bilang sama adik kamu dan ceweknya, ogah aku." tolak Sean mentah mentah.
"Enggak kok, aku tahu kamu dan Alan gak akur. Mana mungkin juga dia mau."
"Lalu sama siapa?" Sean penasaran.
"Zalfa dan Leo. Mau ya Please... Aku udah terlanjur bilang iya sama Zalfa." Melihat ekspresi wajah Rain yang mengiba, membuat Sean tak tega menolak.
"Iya aku mau."
"Makasih."