
Seperti tak ada kapoknya. Mungkin itulah kata kata yang cocok untuk Sean. Setiap habis mabuk, dia selalu dilanda sakit kepala yang hebat. Dan Rain yang selalu jadi korban untuk memijitnya.
Mau bagaimana lagi, Rain tak tega melihat Sean kesakitan dan memijit kepalanya sendiri. Terpaksa dia memberikan pahanya untuk dijadikan bantal dan mulai memijit kepala Sean. Anggap saja ini bagian dari belajar mencintai, batin Rain.
"Aku heran deh, udah tau kalau habis mabuk itu sakit kepala, tapi masih aja mabuk. Enaknya itu dimana sih Sean, pengen tahu aku?"
"Kalau mau tahu sensasinya, ya kamu cobain aja sendiri." Jawab Sean dengan mata perpejam sambil menikmati pijatan tangan Rain.
"Ogah."
"Kalau ogah gak usah banyak nanyak, susah ngejelasinnya."
"Hish, gitu banget sih, padahal cuma ditanya doang. Gimana mau cinta sama kamu, kalau kamu aja gak ada manis manisnya ke aku."
"Aku emang kayak gini orangnya, udah dari sononya."
"Barusan tadi bilang mau berubah kayak yang aku mau. Taunya tetep aja." Rain menyebikkan bibirnya.
"Iya, iya aku berubah. Berubah dari iron man jadi doraemon. Puas?"
"Aww... sakit." Sean mengusap dahinya yang sakit akibat disentil keras oleh Rain.
"Rasain, kayak gitu aku baru puas." Ucap Rain sambil melotot lalu melanjutkan memijat.
Ditengah aktivitas yang membuat Sean hampir ketiduran, tiba tiba ponselnya berbunyi. Ternyata Danu yang menelepon dan memberitahunya kalau siang nanti ada meeting penting. Sean segera bangkit dan bersiap siap ke kantor.
"Sean tungguin aku bentar ya, aku mandi bentaran doang."
"Gak usah kamu dirumah aja. Hari ini aku kasih cuti."
"Aku udah kebanyakan cuti. Aku bosen dirumah."
"Ya kamu jalan jalan sanalah, sama Zalfa atau Alan. Nanti aku transfer uang lagi ke rekening yang kemarin." Sean menyodorkan dasi pada Rain agar istrinya itu memakaikannya.
"Kok dikasih aku."
"Ini salah satu dari bagian belajar mencintai. Udah buruan pakein, aku buru buru nih." Sean menaikkan kerah kemejanya.
Rain sampai harus berjinjit untuk membenarkan letak dasi itu. Tingginya dengan Sean memang beda lumayan jauh. Ini pertama kalinya dia memakaikan dasi sejak mereka menikah. Karena belum terbiasa Rain masih sedikit bingung, hingga ritual memakai dasi saja memakan waktu yang lumayan lama.
Walau terburu buru, Sean tetap sabar menunggu hingga Rain menyelesaikannya. Baginya bisa menatap Rain dari jarak sedekat ini sungguh menyenangkan dan membuat paginya lebih bersemangat.
"Aku berangkat dulu, cup." Sean mencium kening Rain sambil tersenyum melihat ekspresi kaget yang ditunjukkan Rain.
"Kamu kok jadi punya kebiasaan gini sih sekarang?" tanya Rain sambil mengusap dahinya bekas ciuman Sean.
"Kan udah berubah jadi manis." Sean melebarkan senyumnya dan keluar dari kamar.
...******...
Sean menyiapkan berkas berkas yang dia butuhkan untuk meeting lanjutan bersama Arya. Karena tak ada sekretaris, terpaksa dia harus kerja lebih ekstra.
tok tok tok
"Masuk." sahut Sean dari dalam ruangan. Dia pikir Arya dan sekretarisnya yang datang. Tapi ternyata bukan.
"Siang Pak bos." Sapa Rain sambil tersenyum manis. Ditanggannya tampak tas berisi kotak makan siang.
Astaga, ngapain dia kesini sih. Bentar lagi Arya kan dateng, gumam Sean dalam hati.
"Ngapain kesini? aku kan udah bilang dirumah aja."
"Ish, gitu amat sih bininya datang. Aku bawain ini buat kamu." Rain membuka tas bekal yang dia bawa dari rumah. "Jeng Jeng.. makan siang spesial buat pak bos." Rain menunjukkan isi kotak makan yang sengaja dia masak untuk Sean.
"Kok gak bilang kalau mau bikinin aku makan siang. Aku udah terlanjur makan, soalnya bentar lagi mau meeting. Lagian ini udah jam 1 lebih, udah habis jam makan siang."
"Jadi kamu udah makan?" Terlihat sekali raut kekecewaan diwajah Rain.
"Kamu gak ngasih tahu sih beb."
"Sorry, niatku sih mau bikin surprise. Tapi malah kejebak macet dijalan."
Disaat yang tepat, Arya dan Danu masuk ke ruangan Sean. Sesuai janji, Arya datang jam 1 siang.
"Siang Sean."
"Siang Pak Arya," Sapa Rain dengan senyum manis mengembang dibibirnya.
"Siang Rain, senang bertemu lagi denganmu. Makin cantik aja," goda Arya.
"Dimana asisten kamu?" Sean mengalihkan pembicaraan agar Arya tak lanjut ngegombal.
"Hari ini jadwalku sangat padat Sean. Jadi aku menyuruh dia menggantikanku untuk meeting ditempat lain."
Dan kau lebih memilih kesini agar bisa bertemu Rain, cih menyebalkan, gerutu Sean dalam hati.
"Apa kau sudah makan siang Sean? Kalau belum bagaimana kalau kita makan diluar bersama, aku belum sempat makan siang hari ini."
"Apakah Pak Arya lapar? Saya ada makanan, kalau Pak Arya mau, Pak Arya bisa memakannya." Rain menunjukkan kotak bekalnya.
Sean otomatis memelototi Rain. Dia tak rela kalau Arya memakan jatahnya.
"Apa boleh?" Arya terllihat antusias.
"Tentu saja." Jawab Rain dengan senang hati. Setidaknya masakannya tidak mubadzir. Rain mengambil makanan tersebut dan memberikannya pada Arya.
"Terimakasih." Ucap Arya sambil membuka kotak tersebut dengan sangat antusias. Kotak itu berisi nasi putih, sambal goreng tahu dan udang, oseng kangkung andalan Rain serta ayam panggang.
"Baunya harum sekali Rain, aku yakin ini pasti enak? Apa kau yang memasaknya?"
"Hem, tapi maaf kalau kurang enak."
"Aku yakin pasti enak. Sean, kau tak keberatakan kalau aku makan dulu?"
"Tentu saja." Jawab Sean dengan senyum pura pura nya. Padahal hatinya sangat dongkol. Dia terus menatap Rain dengan tatapan tidak suka hingga Rain berusaha untuk mengalihkan pandangan darinya.
Sean kembali duduk dikursi kebesarannya. Dia malas sekali melihat Arya yang menikmati makanan dari Rain. Ingin sekali dia merebut makanan itu.
"Hem... ini enak sekali Rain. Ternyata kau tidak hanya cantik, ternyata juga pandai memasak," puji Arya.
"Hanya masakan biasa saja, pasti tak sebanding dengan masakan koki dirumah Pak Arya."
"Tidak, ini beneran enak. Aku lebih suka masakanmu dibanding koki dirumahku."
Alah, cari muka, padahal rasanya juga biasa saja. Masih kalah dengan restoran hotel bintang lima, batin Sean sambil memutar kedua bola matanya.
"Kalau aku memakan bekalmu, lalu kamu makan apa?" Arya mengira yang dia makan adalah bekal Rain.
"Saya sudah makan, itu saya buat untuk Pak Sean, tapi ternyata dia sudah makan."
"Berarti rejeki saya dong. Beruntung banget kamu Sean, punya sekretaris perhatian, sampai dibuatin makan siang." Tutur Arya sambil menoleh ke arah Sean. Sean hanya menanggapi dengan senyuman dan pura pura sok sibuk.
"Suami kamu sangat beruntung dapet istri kayak kamu. Udah cantik, baik, pinter masak dan bisa cari uang sendiri." Lagi lagi Arya menyanjung Rain dan itu membuat Sean jengah.
"Ish, bapak terlalu memuji." Sahut Rain malu malu.
Idih, dipuji gitu aja udah besar kepala, gumam Sean sambil mencoret coret kertas kosong diatas mejanya.
Sejak tadi dia pura pura sibuk padahal cuma coret coret kertas gak guna.
"Rain, boleh aku jujur?" Arya menoleh ke arah Rain yang duduk disofa lain disebelahnya.
"Tentu saja."
"Aku tunggu jandamu."
BRAKK
Sean yang sudah menahan diri sejak tadi langsung menggebrak meja. Kali ini stok kesabarannya udah habis.
"Kamu doain aku cepat mati?" seru Sean sambil memelototi Arya.
Arya hanya melongo sambil menatap kearah Sean lalu Rain. Dia tak paham dengan ucapan Sean.
"Bisa bisanya kau bilang menunggu Rain menjadi janda didepanku. Rain itu istriku."
Huk huk huk
Arya otomatis langsung tersedak, lalu buru buru membuka botol air mineral yang ada di meja dan langsung meneguknya. Sumpah demi apapun, dia malu banget.