
Alan melajukan mobilnya memecah padatnya jalanan kota Jakarta. Amaira yang baru 2 hari pulang dari Singapura untuk kemoterapi ingin mengajaknya jalan jalan. Tujuan mereka adalah sebuah mall yang tak jauh dari kampus.
Saat Amaira tengah sibuk mencoba tester make up, tanpa sengaja Alan bertemu dengan Queen dan Siska teman satu kelasnya dikampus.
"Hai Al sama siapa kesini?" Tanya Queen sok akrab.
"Sama cewek aku." Jawab Alan sambil menunjuk dagu kearah Amaira yang sedang sibuk mencoba tester lipstik.
Queen yang kebetulan memakai kaos ketat dengan belahan dada rendah membuat Alan susah fokus. Beberapa kali matanya melihat ke arah dada Queen.
"Otak gue kok jadi gesrek gini ya," batin Sean sambil membuang nafas.
Entahlah, otaknya jadi sedikit kacau sejak matanya tak sengaja melihat yang tak patut dilihat waktu itu.
"Habis ini mau kemana? Nongkrong di cafe ama kita kita yuk." Queen memepet Alan hingga dadanya menyentuh lengan Alan.
Jantung Alan seketika deg degan. Dia jadi salah tingkah. Sebenarnya Queen tahu kalau Alan sejak tadi memperhatikan dadanya, oleh sebab itu dia mencoba menggoda Alan.
"Kayaknya gak bisa, gue harus nganter cewek gue pulang." Tolak Alan sambil berusaha menjaga jarak dengan Queen.
"Gimana kalau entar malem kita clubbing?" Ajak Queen sambil kembali memepet Alan. Dia bahkan bergelayut dilengan Alan dan sengaja menggesek gesekan dadanya pada pria itu.
"Minggir lo." Amaira yang baru dateng langsung mendorong Queen agar menjauh dari Alan. "Jangan coba coba ngajak cowok gue clubbing. Kalau lo mau clubbing, ajak cowok lain, jangan cowok gue."
"Posesif banget jadi cewek." Queen tersenyum mengejek. "Cowok juga butuh hiburan kali Ra. Kali aja cowok lo lagi pengen liat yang seksi seksi. Bosen kali liat bodi lo yang kerempeng kayak triplek itu. Gak ada enak enaknya buat dipegang. Mana dada mana pantat, rata semua." Ejek Queen dengan dengan seringai di wajahnya.
PLAK
Amaira yang tak terima langsung menampar Queen. Queen tak membalas, dia hanya memegangi pipinya yang panas. Sepertinya dia menahan diri untuk mendapat simpati Alan.
"Dasar mulut sampah." Maki Amaira.
"Ra udah, jangan cari ribut. Ayo pergi dari sini." Alan menarik lengan Amaira dan membawanya menjauh dari Queen. Dia tak mau keributan itu menjadi pusat perhatian mengingat pengunjung mall lumayan ramai.
Alan membawa Amaira keluar dari mall. Dia udah gak mood buat jalan jalan. Dia sudah bosan jadi pusat perhatian orang gara gara kelakuan Amaira yang terkesan bar bar.
"Kok pulang, aku kan belum beli apa apa?" protes Amaira saat mereka baru sampai ditempat parkir. Alan tak menjawab, dia tak ingin bertengkar diarea umum.
"Lo tuh suka banget ya Ra bikin masalah. Kalau jalan sama kamu, mesti selalu ada aja keributan. Gak capek apa kamu cari masalah." Tutur Alan saat mereka sudah masuk kedalam mobil.
"Kok kamu nyalahin aku Al." Mata Amaira mulai berkaca kaca. "Dia dulu yang cari masalah." Amaira coba membela diri.
"Tapi gak seharusnya kamu nampar dia kayak gitu. Banyak orang Ra, gak malu apa? Kamu kayak cewek bar bar tau gak?"
Amaira tak mampu menahan air matanya. Dia kecewa karena Alan malah memarahinya. Amaira keluar dari mobil dan membanting pintunya keras keras hingga Alan terkesiap.
Merasa Amaira dibawah tanggung jawabnya, Alan buru buru mengejarnya. Berkali kali dia memanggil nama Amaira tapi tak dihiraukan oleh gadis itu. Dia terus berlari keluar mall.
Amaira menyetop taksi yang lewat, tapi sebelum dia masuk, Alan berhasil menarik tangannya.
"Tunggu, ayo gue anter pulang."
"Lepasin, gue mau pulang sendiri." Amaira meronta ronta berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Alan.
"Lo itu tanggung jawab gue Ra. Gak usah macem macem, ayo pulang sama gue. Gue gak mau disalahin kalau terjadi apa apa sama kamu."
Amaira makin sesenggukan. Kata kata Alan seakan menyadarkan posisinya. "Gue pikir lo ngejar gue karena sayang sama gue Al. Ternyata lo cuma jalanin kerjaan lo sebagai bodyguard gue. Gue kecewa sama lo." Amaira menarik tangannya dengan keras hingga terlepas dari Alan. Dia segera masuk ke dalam taksi. Tapi Alan berhasil menahan pintu sebelum Amaira menutupnya.
"Jadi lo udah gak mau gue anter pulang? Apa itu artinya elo udah gak butuh gue lagi? Ok Ra kalau itu mau lo. Gue balikin mobil kakak lo sekarang juga. Gue berhenti kerja."
BRAKK
Alan membanting pintu taksi hingga membuat Amaira terjingkat karena kaget. Gadis itu gemetaran, dia takut melihat kemarahan Alan.
"Al tunggu." Amaira keluar dari taksi dan berlari mengejar Alan. "Aku butuh kamu Al, jangan tinggalin gue." Amaira memeluk Alan dari belakang sambil sesenggukan.
.
...*******...
.
Rain uring uringan karena Sean membohonginya. Sean bilang mau keluar sebentar beli rokok, nyatanya sudah satu jam lebih dia tak pulang pulang.
"Awas aja kalau nanti pulang bau alkohol. Gak bakal gue kasih jatah seminggu." Gerutu Rain sambil memencet mencet remot tv sebagai palampiasan.
Mendengar pintu dibuka, Rain yang sedang rebahan sambil nonton tv langsung bangun dan menghampiri si pembuka pintu.
"Dari mana aja kamu? Kirain udah lupa jalan pulang?" Sewot Rain sambil mendekati Sean dan mengendus baunya.
"Kamu ngapain sih beb kok kayak gitu?"
"Kamu gak habis mabokkan bareng temen teman kamu itu?"
"Astaga." Sean menepuk jidatnya. "Jadi kamu ngendus ngendus aku buat nyari tahu aku mabok apa nggak?" Sean geleng geleng. "Aku gak mabok."
"Terus darimana kamu? bilangnya beli rokok, tapi kok lama banget, hampir 2 jam tau." Rain bersedekap sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha... kamu ngitungin jam saat aku keluar? Dah mulai bucin beb, takut ditinggalin." Sean terkekeh melihat tingkah istrinya.
"Bawa apa kamu?" Rain melihat Sean membawa sebuah paperbag. Rain ingin mengambilnya tapi Sean menghalangi.
"Apaan sih beb, kepo kamu." Sean tak mau memberikan paperbag itu pada Rain. Rain tak mau menyerah, dia berusaha merebut paperbag itu. Semakain Sean melarangnya melihat, makin dia penasaran. Apalagi paperbag itu terlihat sangat elegan dan ada tulisan jewellery.
"Aku mau lihat." Rain tak mau menyerah. Feelingnya mengatakan kalau Sean sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Gak usah." Sean kekeh tak mau menunjukkan isinya.
"Itu perhiasankan? kenapa aku gak boleh lihat? mau kamu kasih siapa? Kamu kamu kasih ke selingkuhan kamu?" Rain memberondong Sean dengan banyak pertanyaan.
"Kalau ngomong suka sembarangan. Kalau mau aku kasih selingkuhan, ngapain aku bawa pulang." Sean geleng geleng.
"Jadi itu buat aku? Kamu mau ngasih surprise ke aku?" Rain yang tadinya kesal langsung tersenyum.
"Bukan."
"Lalu?"
"Buat mama, bentar lagi anniversary pernikahan mama sama papa." Rain terlihat kecewa mendengar jawaban Sean.
"Jadi kamu keluar buat beli itu? Terus ngapain bohong sama aku, bilangnya mau beli rokok?"
"Aku gak bohong, aku beli ini sekalian beli rokok." Sean mengeluarkan rokok dari kantong celananya sebagai bukti. "Dah malem, bobok yuk, aku kangen kamu beb." Ajak Sean sambil merengkuh pinggang ramping Rain.
"Tidur aja sendiri." Rain kesal, lebih tepatnya iri. Selama ini Sean tak pernah memberinya kado apapun. Bahkan saat mau ke toko perhiasan Sean tak mau mengajaknya.
"Kok gitu sih?" Protes Sean.
"Kalau ke toko perhiasan aja bisa sendiri gak mau ngajak aku. Ngapain tidur ngajak aku?Takut aku minta dibeliin ya?" Rain menatap tajam ke arah Sean. "Malam ini sampai seminggu kedepan, gak ada jatah buat kamu." Rain segera meninggalkan Sean dan merebahkan diri di sofa depan tv.
"Kamu gak lagi becanda kan beb? Seminggu itu lama loh, yakin kamu kuat?" Sean menyeringai. "Entar kalau gak hamil hamil jangan salahin aku ya." Ancam Sean.
"Kok malah ngancem aku sih? Kenapa posisinya kayak aku yang butuh dia banget gini." Gerutu Rain dalam hati sambil menendang nendang bantal sofa.
"Beneran nih gak mau ngasih jatah selama seminggu?" goda Sean sambil menahan tawa.
Rain segera bangun dari sofa dan masuk kamar. Sean langsung terkekeh melihat tingkah lucu istrinya.
"Kamu gak bisa bohong Beb, kamu butuh aku." Batin Sean dengan bangganya.