
Saat pulang kerja, Amaira melihat Alan tengah tertidur. Terlihat sekali pria itu lelah karena baru pulang dari luar kota. Tak ingin mengganggu tidur suaminya, Amiara memutuskan untuk mandi dulu.
"Sayang kamu udah pulang?" Tanya Alan saat istrinya baru keluar dari kamar mandi.
"I, iya." Amaira sedikit gugup. Dia lalu menuju almari dan berniat mengambil baju ganti.
"Aku kangen." Ucap Alan sambil memeluk Amaira dari belakang.
Amaira makin gugup sekarang. Dia yang hanya memakai handuk, takut Alan melihat kissmark ditubuhnya yang belum hilang akibat ulah Edward kemarin.
"Wangi banget sih." Alan menciumi pundak Amiara yang beraroma sabun.
"Aku ganti baju dulu ya Al." Amaira mencoba melepaskan belitan tangan Alan dipinggangnya.
"Gak usah ganti baju." Tangan Alan justru merambat kesimpul handuk Amaira dan berniat membukanya.
"Kamu pasti masih capekkan. Lebih baik aku pesenin makanan dulu. Kamu pasti belum makan." Ucap Amaira sambil menahan tangan Alan agar tak menarik simpul handuknya.
"Kamu kenapa sih? kayak gugup gitu? kamu gak kangen sama aku?" Alan bisa melihat sesuatu yang aneh pada istrinya. Amaira nampak tak seperti biasanya. Biasanya dia sangat cerewet dan selalu mencari kesempatan untuk menggoda Alan. Tapi kali ini, wanita itu seperti menghindar. Sangat berbanding terbalik dengan Amaira biasanya.
"Aku pengen kamu yank." Bisik Alan tepat ditelinga Amaira. Nafasnya yang hangat membuat Amaira memejamkan matanya. Biasanya darah Amaira akan berdesir jika diperlakukan seperti ini. Tapi kali ini, justru dia semakin gemetaran karena takut.
"Al, aku laper. Kita pesen makanan dulu ya."
"Tapi aku pengen makan kamu yank." Suara Alan terdengar serak, deru nafasnya juga sudah tak beraturan.
"Tapi aku bener bener laper, kita makan dulu aja ya." Amaira menjauhkan kepala Alan dari bahunya.
"Kamu kenapa sih Ra? Kamu gak kangen aku?" Alan yang sedikit kesal segera membalikkan tubuh Amaira.
Deg
Jantung Alan seperti berhenti berdetak melihat beberapa kissmark didada serta leher istrinya. Dia yakin bukan dirinya yang membuat tanda itu.
"Apa ini Ra?" Alan menatap nanar tubuh Amaira yang penuh kissmark. "Bukan, ini bukan gue yang buat." Alan geleng geleng kepala.
Amaira tak kuasa lagi menahan air matanya. Dia hanya bisa tertunduk sambil menangis.
"Apa yang lo lakuin saat gue gak ada Ra?" Alan menatap tajam kearah Amaira. "Jawab Ra, jangan diem aja." Bentak Alan. Dia sudah kehilangan kendali saat ini. Darahnya mendidih melihat kissmark buatan pria lain ditubuh istrinya. Pikirannya kacau, membayangkan apa yang dilakukan Amaira dengan pria lain saat dirinya tidak ada.
"Jawab." Alan kembali berteriak, bahkan lebih keras dari yang tadi.
Lutut Amaira terasa lemas, dia terduduk dilantai sambil terus menangis.
"Jangan bikin aku gila Ra. Cepet jawab pertanyaanku. Jelaskan Ra, aku butuh penjelasan." Tanpa sadar air mata Alan mulai menetes. Dia tak menyangka jika istrinya akan berkhianat disaat umur pernikahan mereka belum genap sebulan.
Alan menunduk lalu mengangkat dagu Amaira. Dia ingin melihat mata wanita yang dia cintai dan dia yakini juga mencintainya.
"Kamu selingkuh Ra? Kamu tidur dengan pria lain?"
Amaira menggeleng, tapi lidahnya kelu. Dia tak sanggup untuk berbicara.
"Menjijikkan." Alan melepaskan dagu Amaira dan beranjak meninggalkannya.
"Tunggu Al, jangan pergi, jangan tinggalin aku." Amaira berlari mengejar Alan lalu meraih pergelangan tangannya.
"Masih berani lo bilang jangan pergi setelah apa yang lo perbuat." Alan menghempas kasar tangan Amaira.
"Aku gak selingkuh, sumpah aku gak selingkuh." Ucap Amaira sambil sesenggukan.
"Hapus air mata buaya kamu. Aku udah bosen denger kamu bilang sumpah. Setelah lo jebak gue dalam pernikahan ini. Sekarang lo selingkuh dengan pria lain. Hebat lo Ra." Alan melangkah meninggalkan Amaira.
"Aku gak selingkuh, aku dilecehkan." Teriak Amiara dengan mengerahkan seluruh tenaganya.
Alan seketika menghentikan langkahnya lalu berbalik menghampiri Amaira.
"Apa maksud lo?"
"Aku, aku dilecehkan. Semua ini bukan mauku. Aku bahkan sangat jijik pada diriku sendiri."
"Siapa yang melakukannya?" Tanya Alan dengan nafas memburu dan kedua tangan mengepal.
Amaira mengambil ponselnya lalu menunjukkan chat dari mama Edward.
Arghh...
Pekik Alan sambil melempar ponsel milik Amaira hingga pecah membentur lantai.
"Jadi si bajingan itu sudah memperkosa kamu?"
"Enggak Al, aku gak sampai diperkosa."
"Jangan mencoba menutupi apapun dari aku Ra. Katakan semuanya tanpa ada yang kamu tutup tutupi." Alan mencengkeram kedua bahu Amiara.
"Aku gak diperkosa Al, sumpah. Kak Edward melepaskan aku."
"Dia sudah merencanakan semua ini. Jadi manamungkin dia melepaskan kamu sebelum mendapatkan apa yang dia mau. Jujur Ra, jangan bohongi aku." Alan tak percaya begitu saja.
"Aku gak diperkosa Al, enggak. Dia memang sudah menjamah tubuh bagian atasku. Tapi dia tak sampai memperkosaku."
"Jangan bohong."
"Sumpah Al, sumpah. Hanya kamu pemilik kehormatanku. Hanya suamiku, bukan pria lain. Kalau memang aku sudah ternoda. Aku sendiri yang akan minta cerai. Aku tak akan mampu menatapmu dengan tubuh yang sudah ternoda." Ucap Amaira dengan sesenggukan.
Amaira menjelaskan secara detail kejadian kemarin. Edward memang berniat memperkosanya. Tapi saat Amaira bilang sudah menikah dan akan bunuh diri jika Edward memperkosanya, akhirnya Edward mengurungkan niatnya.
Sebenarnya Edward tidak tahu jika Amaira sudah menikah. Dia pikir, setelah merenggut kehormatannya, Amaira dengan terpaksa akan mau menikah dengannya. Tapi ternyata dia sudah terlambat. Amaira sudah menikah.
"Kita harus melaporkan Edward kepolisi." Alan masih belum bisa terima.
"Jangan Al, sebenarnya kak Edward orang baik. Tapi aku sudah terlalu banyak menyakitinya. Orang tuanya juga sangat baik padaku. Aku tidak tega melihat tante Imelda bersedih jika kita melaporkan kak Edward."
"Tapi tindakan dia sudah sangat keterlaluan."
"Tapi dia melepaskanku Al. Dia tak sejahat itu. Dia bahkan menangis setelah menyadari perbuatannya padaku. Dia juga meminta maaf padaku."
"Tapi Ra."
"Aku mohon, jangan perpanjangan masalah ini."
"Kenapa kamu membelanya setelah apa yang dia lakukan padamu? Apa kau masih mencintainya?"
"Enggak Al, jangan salah paham. Sekalipun aku tak pernah mencintainya. Aku pasti akan dengan senang hati menikah dengannya jika aku mencintainya. Aku mohon untuk kali ini, maafkan dia."
"Tapi aku harus menemuinya. Aku tak ingin kejadian seperti ini bakal terulang lagi."
"Silakan kalau kau mau menemuinya. Tapi aku mohon, jangan bawa masalah ini ke jalur hukum."
Alan lalu memeluk Amiara. Mengecup puncak kepalanya berkali kali lalu menghapus air matanya.
"Maaf karena sudah menuduhmu selingkuh. Kau pasti sangat ketakutan kemarin. Maaf karena tak bisa menjagamu."
"Bukan salahmu Al. Aku yang terlalu ceroboh, aku mudah sekali percaya pada orang."
"Itu karena kau terlalu baik jadi orang."
"Benarkan aku sebaik itu?"
"Ya, kau sangat baik. Kau adalah malaikat yang dikirim Tuhan untukku, untuk menyempurnakan semua kekuranganku."
"Benarkah?" Amaira menatap kedua bola mata Alan.
"Iya." Alan mengangguk sambil tersenyum. "Tapi juga sekaligus cobaan untukku."
Amaira tak sanggup lagi menahan tawanya. Dia sangat sadar jika dirinya adalah cobaan terbesar dihidup Alan. Cobaan yang mengharuskan Alan menjadi pria paling sabar didunia.
SELESAI
**Novel harga sebuah kehormatan selesai sampai disini. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam tulisan saya. Saya hanya menulis untuk menghilangkan kegabutan. Juga untuk mencari kesibukan agar tidak ghibah dengan tetangga, wkwkwk.
Terimakasih buat yang sudah mau membaca, memberi like, komen serta hadiah.
Untuk kelanjutan cerita DELMAR, bisa dibaca di novel terbaru saya**.