Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
BELAJAR MENCINTAI


Sean segera masuk menyusul Rain. Dia melihat wanita itu duduk disisi ranjang sambil melioat kedua tangannya didada.


"Kamu kemana sih Rian kemarin? kenapa ponsel kamu gak aktif? aku nyariin kamu tau nggak?" Tanya Sean sambil duduk disebelah Rain.


"Aku tahu kok, Brian udah cerita." jawabnya sambil melirik ke arah Sean.


"Kamu hobi banget sih bikin aku jantungan?"


"Udah sana ganti baju dulu. Males aku kalau ngeliat handuk kamu jatuh lagi," gerutu Rain.


"Males apa seneng?" goda Sean sambil menyenggol lengan Rain. "Iya, iya ganti baju." Serunya saat melihat bola mata Rain yang hampir lepas kerana memelototinya.


Rain menghela nafas sambil membuang pandangannya saat dengan santainya Sean berganti baju didepannya.


"Udah nih, sekarang jelasin elo kemarin kemana?" Sean kembali mendudukkan pantatnya disebelah Rain.


"Aku ke rumah Zalfa."


"Zalfa? Zalfa ceweknya Leo?" Sean mengerutkan dahinya.


"Hem." Jawab Rain sambil mengangguk. Rain juga tahu kenapa dia bisa dekat dan merasa nyaman bersama Zalfa walau mereka baru kenal.


"Terus kenapa ponsel lo gak aktif. Gue pikir lo ninggalin gue dan kabur dengan Gaza."


"Pengennya juga gitu Sean. Tapi aku gak bisa ninggalin ayah. Dia pasti kecewa."


Seketika dada Sean terasa sesak. Lehernya terasa dicekik hingga sulit bernafas. Bisa bisanya Rain ngomong kayak gitu tanpa beban apapun.


"Kamu tega banget sih ngomong kayak gitu didepan aku? gak mikir apa gimana perasaan aku?"


"Gimana aku bisa mikirin perasaan kamu. Orang aku aja gak tahu gimana perasaan kamu ke aku?"


Sean seketika berjongkok didepan Rain. Dia menggenggam kedua tangan Rain seraya menatap tajam kedua matanya.


"Gue sayang sama lo, gue cinta." Rain gak kaget mendengarnya karena semalam Sean terus meracau dan mengatakan jika dia mencintai Rain.


"Tapi gue gak cinta sama lo." Rain melepaskan genggaman tangan Sean.


Sakit, sakit banget rasanya ditolak istri sendiri. Seumur hidup belum pernah Sean ditolak. Dan ternyata dia baru tahu kalau sesakit ini ditolak secara langsung.


"Apa kurang gue Rain? Gue kaya, sukses, ganteng. Semuanya bahkan melebihi Gaza. Tapi kenapa lo gak bisa cinta sama gue? Kenapa lo cintanya sama Gaza. Apa sih spesialnya dia dimata lo?" Disaat seperti ini Sean masih saja narsis. Dia terlalu pede dengan dirinya sendiri. Menganggap bahwa dia memiliki segalanya yang bisa membuat wanita jatuh cinta. Tapi sayangnya tidak Dengan Rain. Cinta Rain sudah terlanjur tumbuh subur untuk Gaza.


"Cinta itu urusan hati Sean. Dia mengalir begitu saja. Cinta bagai sebuah kejutan, kita tak tahu kapan dan pada siapa kita akan jatuh cinta."


"Cinta tak datang begitu saja Rain. Cinta butuh ditumbuhkan. Sekarang mungkin kau tak mencintaiku. Tapi aku yakin cepat atau lambat kau akan mencintaiku. Semua butuh proses, tak terkecuali cinta."


"Tapi aku tak yakin bisa melupakan Gaza dan menggantikannya denganmu. Kalian sungguh berbeda Sean. Dan aku menyukai pria seperti Gaza. Kamu bukan tipeku."


Kejujuran Rain sungguh bagai pedang yang menusuk jantung Sean. Sakit, sakit sekali dibanding bandingkan dengan Gaza.


"Kalau memang seperti itu, ajari aku untuk menjadi seperti Gaza. Untuk menjadi seperti yang kau mau."


"Kau tak perlu memaksakan diri Sean. Cinta yang tulus itu yang bisa menerima pasangan kita apa adanya, bukan menjadikannya seperti yang kita mau."


"Lepaskan aku Sean, aku yakin diluar sana banyak wanita yang mengharapkan cintamu. Kau punya daya tarik kuat yang bisa membuat wanita jatuh cinta padamu."


"Kalau memang seperti itu, kenapa kau tak bisa mencintaiku? Apa daya tarikku tak bisa memikatmu sama sekali? Aku hanya mau kamu Rain. Aku tak butuh wanita diluar sana. Aku cuma mau kamu. Kamu istriku Rain."


"Tapi aku gak bisa Sean. Aku takut akan melukaimu jika tetap bersamamu. Sampai saat ini hatiku masih untuk Gaza. Apa kau mau hidup dengan wanita yang mencintai pria lain?"


Ya Allah Rain, secinta itukan kau pada Gaza? batin Sean.


"Aku rela terluka, aku sanggup menunggumu hingga bisa mencintaiku. Aku yakin jika cinta itu butuh proses. Aku juga yakin jika kau mau belajar mencintaiku, kau akan bisa mencintaiku."


Rain memejamkan matanya, dia tak tahu harus bicara seperti apa lagi.


"Bayi yang tak bisa apapun saja, akhirnya bisa bicara dan berjalan kalau terus belajar. Mereka juga akan bisa membaca dan menulis dengan belajar. Jika kita tidak bisa, bukankan caranya adalah belajar agar bisa? Aku juga yakin kau akan bisa mencintaiku jika kau mau belajar. Bukalah hatimu Rain, belajarlah mencintaiku mulai sekarang."


"Bagaimana jika aku tidak mau? bukankah saat aku menyuruhmu untuk belajar berhenti mabuk dan merokok, kau juga tidak mau?"


"Aku mau belajar, tapi kau juga harus belajar. Kita sama sama belajar untuk menjadi seperti yang pasangan kita mau. Apa kau setuju?"


"Berat Sean, cinta itu tanpa syarat. Aku tak mau berusaha mencintaimu dengan syarat kau berubah. Aku gak mau memaksa seseorang menjadi seperti yang aku mau."


"Tapi aku mau Rain, aku mau menjadi seperti yang kamu mau. Aku mohon, beri aku kesempatan." Sean mengambil tangan Rain dan meletakkannya dipipi serta berkali kali mengecupnya.


"Aku bisa gila kalau kamu ninggalin aku Rain. Aku cinta sama kamu. Terserah kamu mau bilang aku bucin atau apalah. Aku udah gak peduli. Aku cuma mau kamu." Mata Sean terlihat berkaca kaca.


"Duduklah disini." Rain menepuk kasur disebelahnya. Dia tak tega melihat Sean terus berjongkok dihadapannya. Sean berdiri lalu duduk disebelah Rain.


"Kau tahu Sean, saat ini selain cintaku pada Tuhan dan keluarga. Semua cintaku untuk Gaza."


"Apa tak ada sedikitpun untukku Rain? sedikit saja, mungkin 10 persen, atau 5 persen atau 1 persen saja?"


Rain menggeleng "Tidak ada Sean."


"Bukan tidak ada Rain, tapi belum? Beri aku waktu untuk menjadikannya ada. Aku mohon."


"Baiklah, aku akan memberimu waktu 3 bulan."


"Rain 3 bulan terlalu singkat. Bagaimana jika 1 tahun?"


"1 tahun terlalu lama."


"Baiklah kita ambil tengahnya. Bagaimana kalau 6 bulan?" Sean mencoba untuk nego.


"Baiklah aku setuju, tapi dengan syarat."


"Apa?"


"Jangan memaksaku untuk memberikan nafkah batin seperti kemarin."


"Baiklah aku janji."