Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
KUCING DAN ANJING


Setelah mengecek kamar mandi serta kamar Rain tapi tak mendapatkan apa yang dia cari. Sean menerobos kamar Alan. Alan yang sedang berdiri didepan pintu langsung didorongnya minggir agar tak menghalangi jalannya.


Rain dan Alan saling menatap, mereka bingung melihat Sean yang gak jelas.


"Kamu kenapa sih Sean?" Rain mematikan kompornya dan menghampiri Sean yang baru keluar dari kamar Alan.


"Mana Arya, dia pasti sembunyi setelah liat gue dateng kan?" Bentak Sean dengan kedua tangannya mengepal.


"Gak usah bentak bentak kakak gue." Alan yang gak terima langsung mendorong tubuh Sean hingga punggungnya menatap dinding. Sean memutar kedua bola matanya. Rasa kesalnya bertambah dua kali lipat karena perlakuan Alan.


"Hai anak kecil, gak usah ikut campur urusan orang dewasa." Sean balik mendorong Alan hingga terhuyung dan menabrak meja makan. Rain segera mengambil tempat ditengah tengah mereka. Dia paham betul jika kedua orang pria yang saling tidak menyukai itu sama sama sedang dikuasai emosi.


"Aku mohon jangan berantem. Ini sebenarnya ada apa Sean, aku gak paham kenapa kamu tiba tiba nyari Arya di rumahku?"


"Lo tadi jalan sama Arya kan?" Sean menatap penuh emosi pada Rain.


"Ngomong apa sih kamu? Aku tuh dari tadi sama Alan. Bukankah aku udah ijin sama kamu kalau aku mau njenguk ayah di lapas."


"Tapi Dino ngeliat kamu jalan sama Arya di supermarket. Dia juga nganter kamu kesini kan? Itu buktinya ada mobil Arya didepan rumah kamu."


Rain menghela nafas. Akhirnya dia mulai paham duduk permasalahannya.


"Kamu salah paham Sean. Aku memang ke supermarket, rapi sama Al. Dan mobil itu." Rain menunjuk ke arah luar. "Mobil itu milik Amaira, adiknya Arya, dan sekarang lagi dipakai Al." Rain melangkah mendekati Sean lalu membuka perlahan tangan Sean yang masih mengepal lalu menggenggamnya. Sebagai seorang istri, dia ingin menjadi pereda emosi bagi suaminya.


Sean terdiam mendengar penjelasan Rain. Dia merasa emosinya turun drastis saat Rain menggenggam jari jemarinya, sambil tersenyum menatapnya. Senyuman Rain bagaikan es yang mampu mendinginkan hatinya yang panas.


"Kemarin marahi Amaira karena ngelabrak mbak Rain tanpa tahu permasalahannya. Sekarang dia kayak gitu juga." Alan berdecih sambil menarik kursi disebelah lalu duduk.


Rain menuntun Sean untuk duduk dikursi meja makan. Wanita itu kemudian berjalan menuju kulkas untuk mengambil sebotol air meneral dan memberikannya pada Sean.


"Minum dulu biar adem." Sean membuka tutup botol air mineral lalu meneguknya hingga hampir habis.


Dalam hati, saat ini Sean tak henti hentinya mengumpat Dino yang telah salah ngasih informasi.


Rain menarik kursi lalu duduk disebelah Sean. Dia ingin sedekat mungkin dengan Sean untuk menjaga emosi pria itu.


"Kamu tuh kenapa gak nanya dulu sama aku? kenapa main datang terus marah marah gak jelas?"


"Semua ini salah Dino. Dia yang udah ngomporin aku." Dengan tak tahu malunya Sean malah mengkambing hitamkan Dino.


Rain menghela nafas. Dia paham betul dengan sifat suaminya yang selalu ingin tampak perfeksionis. Dia tak mau kalah serta tak mau terlihat salah.


"Jadi selama ini lo nolak mobil dari gue karena kurang mewah?" Sean menatap sinis ke arah Alan. Dia sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Kok ngomong gitu sih?" Rain bisa menangkap bibit bibit perseteruan bakal muncul antara Sean dan Alan.


"Buktinya dia minta mobil mewah sama ceweknya. Dasar cowok matre."


BRAKK


Alan yang tak terima langsung berdiri dan menggebrak meja didepannya. Sean dan Rain sampai berjingkat karena terkejut. Kalau saja bukan karena menghormati kakaknya, bukan meja yang dia pukul, melainkan Sean.


"Jaga omongan lo. Kalau lo ga bisa ngomong baik, setidaknya diam. Jangan gunain mulut lo buat nyakitin orang." Teriak Al


"Al, yang sopan. Dia suami mbak, kamu gak pantes bentak bentak dia."


Sean menyeringai, dia merasa diatas awan saat Rain membelanya.


"Tapi dia udah keterlaluan Mbak."


"Kamu juga Sean, kenapa sih nuduh adikku kayak gitu. Alan bawa mobilnya Amaira karena sekarang dia udah gak kerja di cafe lagi. Dia kerja jadi supir pribadinya Amaira."


Sean membelalakkan matanya mendengar adik iparnya jadi supir dirumah Arya. Dia yang mempunyai harga diri tinggi tak bisa terima hal itu.


"Lo jadi supir adiknya Arya? Sumpah lo malu maluin gue. Kalau lo mau kerjaan, bilang sama gue. Jangan ngemis sama Arya. Lagian lo gak malu apa jadi supir cewek lo sendiri. Kayak gak ada harga dirinya."


"Mbak, lebih baik bawa suami kamu pulang. Aku gak tahan sama dia." Alan berusaha menstabilakan emosinya.


"Elo kurang ajar banget ngusir gue."


"Gue juga gak akan ngusir lo jika lo ngerti sopan santun. Asal lo tahu, gue gak pernah bawa bawa nama lo. Jadi lo gak perlu malu punya ipar kayak gue. Lagian mas Arya itu orangnya baik. Dia gak pernah ngerendahin gue karena jadi supir adiknya. Dia justru sangat berterimakasih karena gue bersedia ngejagain adiknya. Amaira juga gak pernah nganggep gue supir. Dia selalu ngehargain gue. Dia selalu bilang ke semua orang kalau gue pacarnya bukan supirnya."


Alan tak bisa menolak mengingat kondisi Amaira. Dia juga khawatir pada kekasihnya itu. Oleh sebab itu, Alan menerima tawaran Arya.


"Sean, adiknya Arya menderita kanker otak stadium tiga. Arya hanya ingin Alan menjaga adiknya. Dia tak pernah merendahkan Alan karena menjadi supir. Arya dan keluarganya justru sangat berterimakasih pada Al." Pada awalnya Rain juga tak setuju saat tahu Alan menjadi supir Amaira. Tapi setelah dijelaskan akhirnya dia bisa memahami. Rain menggemgam tangan Sean agar emosinya sedikit lebih berkurang.


"Udah ah jangan marah marah mulu. Ntar gantengnya ilang loh." Goda Rain sambil bergelayut dilengan Sean. "Udah ya marahnya." Rain mengelus dada Sean agar pria itu tak marah lagi.


"Ya udah aku gak marah lagi. Terserah dia mau kerja apa." Sean sejenak menatap sinis ke arah Alan lalu beralih menatap Rain sambil tersenyum.


"Maaf ya beb, tadi aku udah nuduh kamu yang macem macem." Ucap Sean seraya memepetkan duduknya pada Rain lalu merengkuh pinggang istrinya itu sambil mengecup keningnya.


Alan berdecih melihat kemesraan dua orang itu. Dia segera beranjak dan meninggalkan meja makan.


"Kemana, kita makan dulu." Tutur Rain saat melihat Alan meninggalkan meja makan.


"Kalian dulu aja, aku gak nafsu makan kalau ngeliat dia." Alan menunjuk dagu ke arah Sean.


"Cih, lo pikir gue seneng ngeliat lo."


"Apaan sih kalian berdua ini. Udah gede tapi kelakuan kayak anak anak. Kalian persis kayak kucing dan anjing. Tiap ketemu selalu bertengkar. Duduk Al, kita makan sekarang."


Alan terpaksa duduk kembali, dia tak berani membantah ucapan Rain.


Rain melepaskan tangan Sean yang melingkar dipinggangnya lalu berdiri untuk menyiapkan makanan mereka bertiga. Selama makan Sean terus bermanja manja pada Rain. Minta diambilkan ini itu serta minta disuapin. Alan eneg melihat tingkah pria itu. Dia mempercepat makannya agar bisa segera pergi dari sana.


...*****...


"Kita nginep disini ya malam ini." Pinta Rain saat mereka sedang bersantai didalam kamar.


"Kita pulang aja, gak enak disini." Sean menatap sekitar kamar Rain. "Kamar kamu ranjangnya sempit, terus gak ada ac nya. Gak enak buat ml." Tolak Sean dengan pedasnya.


"Ya gak usah ml kalau gitu. Lagian gak ml sehari juga gak papa kan?" Rain coba bernegosiasi. Dia kengen sekali dengan kamar sederhananya yang dulu selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah.


"Ya gak bisa lah beb. Aku mana tahan, lagian kita harus gercep, aku gak mau si Zalfa hamil duluan. Leo pasti ngebully aku habis habisan kalau sampai itu kejadian. Membayangkan saja aku udah ngeri." Sean bergidik membayangkan pedesnya mulut Leo menghinanya nanti. Dia memang paling anti dengan yang namanya kalah.


"Kamu itu tetep aja ya. Gak pernah mau kalah dalam hal apapun." Rain geleng geleng.


"Oh iya beb, besok ajak adik mau ke showroom. Belikan dia mobil apapun yang dia mau. Suruh dia segera mengembalikan mobil Arya."


"Kok gitu? Alan itu kerja, udah sepatutnya dia pakai mobil Arya."


"Aku gak suka Arya sok sok jadi orang hebat dikeluarga kamu. Dia itu mau ngambil hati kamu. Dia mau membuktikan ke kamu kalau dia lebih hebat dari aku. Aku sudah bisa membaca akal busuk dia. Dia mendekati Alan agar bisa deket dengan kamu. Dia sedang memanfaatkan keadaan."


"Gak boleh suudzon. Arya itu orang baik, gak kayak gitu."


"Tuh kan bener omongan aku. Kamu udah mulai masuk kedalam perangkap dia. Kamu udah mulai belain dia. Kamu udah nganggep dia yang paling baik."


"Bukannya aku bela dia. Jangan salah paham." Rain bisa menangkap dari raut wajahnya jika Sean sedang cemburu.


"Kau tahu, aku tidak percaya diri jika itu menyangkut tentangmu."


"Apa yang membuatmu tak percaya diri?" Rain menggemgam kedua tangan Sean dan menatap matanya dalam.


"Semuanya, aku tak percaya diri Rain. Aku selalu merasa posisiku terancam. Aku ta.. " Rain meletakkan jarinya dibibir Sean agar pria itu berhenti bicara.


"Buang semua rasa itu. Aku milikmu Sean, aku istrimu, tidak ada yang akan mengancam posisimu sebagai suamiku. Aku bukan wanita yang mudah berpaling. Bahkan waktu itu kalau bukan Gaza yang meninggalkanku, aku juga tak akan meninggalkannya."


"Itu karena kau mencintai Gaza. Sedangkan aku? Kau tidak mencintaiku."


Rain menghela nafas. "Apa menurutmu begitu? Lihatlah mataku, apa menurutmu aku tidak mencintaimu?" Sean menatap kedua mata Rain. Dia seperti melihat cinta, tapi dia tidak yakin. Wanita didepannya itu tak pernah sekalipun mengatakan jika dia mencintainya.


"Aku ini orang bodoh Rain. Aku tak bisa membaca mata seseorang. Aku juga tak pandai mengartikan bahasa tubuh. Aku hanya bisa memahami ucapan yang keluar dari mulut."


Rain tersenyum mendengar kejujuran Sean.


"Cinta gak selalu harus diucapkan Sean. Cinta itu memiliki arti yang lebih dalam dari sebuah kata I love you. Tapi jika kau merasa butuh kata kata itu, Baiklah, aku akan mengatakannya. I love you Sean." Ucap Rain sambil menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah Sean.


"I love you so bad babe." Sean meraih tangan Rain lalu menciumnya berkali kali. Dia sungguh bahagia, kata yang selalu dia nantikan akhinya keluar juga dari mulut wanita yang dia cintai.