
Hay hay hay......
Apa kabar reader tersayang. Ada yang baru nih dari Author. Kisah antara Mila dan Elgar yang dikemas dalam kisah yang mengharu biru. Sedih, lucu, tegang semuanya kumpul jadi satu.
Warning 21+ yah guys. Jadi buat yang belum cukup umur, minggir dulu. Cus klik profil author, novelnya udah nangkring disana.
Dukung author selalu ya guys. Jangan lupa klik fav , like , komen.
Setelah mengetuk pintu, Mila segera masuk sambil membawa nampan berisi secangkir kopi.
Pria yang berada didalam ruangan langsung menatap tajam kearahnya.
"Kenapa lama sekali?" Bentak Elgar.
Mila menghela nafas sambil menutup kembali pintu ruangan. Bentakan Elgar sudah menjadi makanan sehari hari buatnya. Saking terbiasanya, sampai udah gak baper lagi.
"Lama darimananya El. Perasaan setelah mendapatkan pesan dari Galang, aku langsung bikin kopi buat kamu." Jawab Mila sambil berjalan menuju meja Elgar sambil memasang senyum termanisnya.
Mila geleng geleng melihat meja Elgar yang berantakan. Tak hanya meja, wajah pria itu juga tampak kusut. Setelah meletakkan kopi diatas meja, Elgar langsung menarik lengan Mila. Ditariknya wanita itu hingga duduk pangkuannya.
"Kenapa?" Tanya Mila sambil menoleh kearah Elgar.
"Pala gue pusing, kerjaan numpuk. Lo tahu sendirikan. Beban gue berat banget Mil. Ini proyek gede pertama yang gue tangani. Dan gue harus sukses sebagai ajang pembuktian ke bokap." Jawab Elgar sambil membenamkan wajahnya diceruk leher Mila.
"Mau aku pijitin?"
"Enggak, gue gak butuh itu. Gue butuh ini." Elgar menangkup wajah Mila dan langsung mencium bibirnya. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi ganas. Bahkan tangan Elgar sudah mulai mer emas dada Mila.
Bukan Elgar namanya jika menurut pada Mila. Pria dominan dan egois sepertinya jelas tak bisa menerima yang namanya penolakan.
"Lo nolak gue?" Bentak El sambil menatap tajam kedua manik mata Mila.
Dan jika sudah seperti ini , Mila yang terkenal galak dan jutek, hilang begitu saja. Ya, Mila lemah jika berhubungan dengan Elgar.
Elgar melanjutkan aksinya, dia membuka kancing baju Mila dan mulai memainkan dua benda kesukaannya. Elgar membenamkan wajahnya didada Mila dan membuat banyak tanda kepemilikan disana.
Mila mulai mende sah menikmati perlakuan Elgar. Walaupun sangat beresiko bermesraan di kantor, tapi dia sangat merindukan El dan sentuhannya. Sudah 3 hari mereka tak bertemu untuk berkeringat bersama. Elgar ke luar kota selama 3 hari untuk mengurusi bisnis.
Tok tok tok
Suara ketukan mengejutkan dua insan yang tengah mendaki puncak kenikmatan. Mila buru buru bangkit dari pangkuan El dan berdiri membelakangi pintu. Buru buru dia merapikan merapikan baju serta rambutnya. Jangan sampai ada orang yang curiga.
"Siang pak." Sapa Tari yang baru masuk. Dia adalah sekretaris Elgar. Dan Tari tampak mengernyit melihat perempuan berseragam og berdiri disebelah Elgar dan membelakanginya
"Ada apa Tar?" Elgar yang tahu kemana arah pandang Tari segera menarik perhatiannya
"Ini ada berkas yang harus bapak tanda tangani." Jawab Tari sambil mengangsurkan map berisi berkas kearah Elgar.
Elgar segera meraih berkas dari Tari dan memeriksanya.
Setelah bajunya rapi kembali dan mengatur detak jantung yang deg degan, Mila segera berbalik dan mengambil nampan dimeja.
"Saya permisi dulu pak." Ujar Mila dengan tangan yang sedikit gemetar. Mila masih tegang karen hampir ketahuan, tapi dilihatnya, Elgar tampak biasa saja. Membaca berkas dengan tenang dan tidak menyahuti ucapan Mila.
Seperti itulah hubungan kedua orang itu selama 4 bulan ini. Mereka suami istri saat berdua, tapi menjadi orang asing saat ada yang lain. Bukan tanpa alasan, karena jelas ada alasan kuat dibalik semua ini.