Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
KEHILANGAN RAIN


Sean mencoba untuk berfikira positif. Ya, mungkin saja Rain ada di apartemen sekarang. Dia segera kembali ke apartemen.


"Rain, Rain." Sean berteriak teriak sesampainya dia di apartemen. Sayangnya tak ada yang menjawab, Rain tak ada di apartemen.


"Lo gak ninggalin gue kan Rain? Gak kan Rain?" Lutut Sean terasa lemas, dia hampir putus asa. Dadanya terasa sesak.


Sean kembali mencoba untuk menelepon Rain, tapi lagi lagi tak bisa. Kemudian dia teringat Alan. Ya, mungkin saja dia dirumah Alan.


Sean segera menuju rumah Alan. Sesampainya disana, dia melihat rumah itu dalam kondisi tertutup, sepertinya tidak ada orang. Tapi dia gak mau menyerah, dia mengetuk pintu sambil berteriak memanggil Alan dan Rain.


"Cari Alan ya Mas?" Tanya seorang ibu yang kebetulan lewat.


"Iya Bu."


"Tadi pagi saya lihat dia pergi kerja. Seperti sore baru pulang."


"Apa tadi ibu melihat kakaknya Alan datang kesini?"


"Rain ya? kayaknya gak liat dia kesini. Dia tinggal dirumah suaminya." Tetangga disitu hanya tahu Rain sudah menikah, tapi mereka tak tahu seperti apa suami Rain.


"Terimakasih Bu."


Sean makin frustrasi, Rain tak ada di apartemen maupun dirumah Alan. Terakhir kali, dia terlihat dibandara, setelah itu entah dimana dia sekarang.


Sean pergi ke tempat kerja Alan, dia berharap Alan tahu sesuatu. Walaupun dia malas berurusan dengan Alan, tapi tak ada cara lain lagi. Dia harus mencari tahu keberadaan Rain.


"Dimana Rain?" Sean sudah tak ada waktu untuk berbasa basi.


"Apa maksud kamu nanya gitu. Bukannya mbak Rain tinggal sama kamu?" Alan malah balik bertanya.


"Gue tanya Rain ada dimana?" Teriak Sean sambil menarik kerah baju Alan.


"Gue gak tahu." Bentak Alan tak kalah kerasnya.


"Jangan coba coba bohongin gue. Cepat katakan dimana Rain?"


"Gue bilang gak tahu."


"Bangsat."


PYAR


Sean menyempar gelas dan piring yang ada dimeja hingga hancur berkeping keping.


"Jangan buat rusuh disini." Teman teman Alan datang untuk melerai.


"Awas kalau lo berani nyembunyiin Rain dari gue." Sean mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan sebagai ganti rugi barang yang dia pecahkan. Setelah itu dia pergi meninggalkan cafe.


"Dasar orang gila, nanyak kok ngamuk ngamuk. Kasian banget kamu mbak, dapet suami kayak gitu," gerutu Alan.


Sekarang giliran Alan yang merasa cemas. Dia berusaha menghubungi Rain tapi ponselnya gak aktif.


"Kamu dimana mbak, kenapa ponsel kamu gak aktif. Kamu ada masalah apa sama suami kamu hingga dia nyari nyari kamu kayak gini," gumam Alan.


Alan teringat Maya, hanya dialah sahabat terdekat Rain. Alan menghubungi Maya untuk mencari Rain. Tapi hasilnya nihil, Maya tak tahu dimana Rain saat ini.


...****...


Sean makin frustasi. Dia sudah mendatangi semua tempat tapi tak juga menemukan keberadaan Rain.


"Maafin gue Rain, gue salah. Gue udah jahat sama lo. Gue udah bentak bentak lo, udah perkosa lo, udah nampar lo. Tapi gak begini juga caranya ngebalas gue Rain. Lo bisa balas gue dengan cara lain, bukan dengan ninggalin gue. Gue bisa gila kalo lo tinggal Rian." Sean duduk dilantai sambil mengacak ngacak rambutnya.


ting tong ting tong


Mendengar suara bel, Sean segera berlari untuk membuka pintu. Dia kecewa saat melihat ternyata Brian yang datang. Padahal dia berharap Rain yang datang. Gara gara stress otaknya jadi error. Kalau Rain yang datang, mana mungkin dia menekan bel, dia pasti langsung masuk.


"Mana pesenan gue." Sean langsung menarik kantong plastik yang dibawa Brian. Tadi dia menelepon Brian dan menyuruhnya membeli minuman dan rokok.


Brian menghela nafas melihat penampilan Sean yang acak acakan. Tangannya juga terlihat berdarah. Dia terlihat seperti sad boy yang sedang frustasi.


Brian melihat apartemen Sean sudah berubah kayak kapal pecah. Semua barang sudah tak pada tempatnya. Banyak beling berserakan dimana mana. Tv led berukuran besar juga terlihat pecah.


"Elo kenapa sih Sean?" Brian mendekati Sean yang sedang duduk disofa sambil menegak minuman langsung dari botol.


"Elo ada masalah apa hingga kayak gini?"


"Gue udah hancur Yan, gue udah kalah untuk kedua kalinya."


"Kalah gimana sih Sean, lo kalah tander, perusahaan lo bangkrut?"


Sean menggeleng "Lebih dari itu. Gue sekali lagi kalah dari Gaza."


"Bukannya elo udah menang. Elo kan udah nikah sama Rain."


"Rain udah ninggalin gue Yan. Dia minta cerai ke gue. Rain memilih pergi dengan Gaza." Mata Sean mulai berkaca kaca. "Gue bodoh Yan, gue sangat bodoh." Sean berkali kali memukul kepalanya sendiri.


"Emang lo ngelakuin apa sih sampai Rain ninggalin lo? Kemarin pas di apartemen Dino, kalian berdua tampak baik baik aja."


"Gue nyesel Yan. Gue nyesel banget."


"Nyesel kenapa?"


"Bukannya berusaha mengambil hati Rain. gue malah nyakitin dia. Gue bentak bentak dia dengan kata kata kasar. Gue juga udah nampar dia. Dan yang paling parah, gue udah perkosa dia dengan sangat kasar."


"Hah, lo perkosa dia? bukannya dia bini lo?"


"Rain gak pernah cinta sama gue Yan. Dia gak mau gue ajak berhubungan badan. Dan kemarin gue udah maksa dia dengan kekerasan."


Brian hanya geleng geleng mendengar penuturan Sean. Sahabatnya itu kadang memang sangat keterlaluan sikapnya.


"Dia pasti ilfeel banget sama gue. Bodoh bangetkan gue? bukannya bikin dia cinta sama gue, malah bikin dia benci ama gue." Sean ketawa ngakak. Dia menertawakan kebodohannya sendiri.


"Apa lo udah pernah jujur ke Rain kalau lo cinta sama dia?"


Sean menggeleng "Gue terlalu gengsi buat bilang cinta. Gue malu karena cinta gue bertepuk sebelah tangan. Gue takut ketahuan bucin sama dia. Dan sekarang gue nyesel karena terlambat menyatakan cinta hingga dia pergi."


Setelah menghabiskan minuman satu botol, dia melemparnya hingga hancur.


"Gue cinta sama Rain Yan. Gue gak bisa kehilangan dia. Gue bakal nyariin dia kemanapun. Gue bakal susulin dia ke London." Setelah tadi ketawa ngakak, sekarang Sean malah nangis. Dah mirip kayak orang gila baru.


"Apa lo yakin kalau dia beneran ke London?"


"Gue yakin seratus persen. Gue lihat paspornya kemarin."


.


Jangan lupa like, komen dan vote. Terimakasih