Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
NGEDATE ALA RAIN DAN ZALFA


Rain sudah siap sejak pagi. Dia sudah memasak sarapan, mandi dan memoles make up diwajah cantiknya. Sedangkan Sean, pria itu masih terlelap dibalik selimutnya. Sudah berkali kali Rain coba bangunkan nyatanya dia tak juga bangun.


"Sean," Rain menarik selimut dan menggoyang goyangkan bahu Sean. Tapi pria itu tak terusik sedikitpun. Rain sampai menggelitik telapak kakinya namun tetap juga dia tak mau bangun.


"Aww... sakit tau." Pekik Sean. Saat bulu halus dikakinya ditarik oleh Rain.


"Makanya bangun, sampai capek aku ngebangunin kamu," gerutu Rain sambil berdecak kesal.


"Lain kali kalau mau aku cepat bangun, kasih aja morning kiss. Aku pasti langsung bangun."


"Itu sih maunya kamu. Ya udah cepetan mandi sana. Aku gak enak kalau sampai telat."


"Emangnya mau kemana sih?"


"Aku kan udah bilang, kita mau double date sama Zalfa dan Leo."


"Males ah." Sean kembali menarik selimutnya dan tidur lagi.


"Ya udah kalau gak mau gak papa. Daripada aku sendirian jadi obat nyamuknya Leo dan Zalfa, mending aku ngajak kak Arya aja." Ancam Rain dengan wajah sewot.


"Ish, apa apaan sih pakai bawa bawa Arya." Seketika mata Sean terbuka lebar, rasa kantuknya langsung hilang. "Iya, iya, tungguin bentar aku mandi dulu." Sean segera turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.


Rain menahan tawanya, dia tak menyangka kalau semudah itu ngebujuk Sean. Padahal walau Sean tak mau, dia juga gak bakal ngajak Arya.


...*****...


Saat mobil yang ditumpangi Sean dan Rain tiba dirumah Zalfa, tampak mobil Leo sudah ada disana. Sepertinya pria itu sudah tak sabar ingin ngedate dengan kekasihnya itu.


"Ngapain sih pakai kesini dulu, kenapa gak langsung janjian ditempat ngedate aja? Emangnya kita mau ngedate kemana sih?" Sejak Tadi Rain memang tak memberi tahu Sean kemana mereka akan ngedate. Dia hanya bilang harus ke rumah Zalfa dulu.


"Nanti juga tahu." Jawab Rain sambil berusaha menahan tawa. Mereka berdua langsung masuk dan melihat Zalfa dan Leo tengah menunggu di sofa ruang tamu.


"Udah nungguin ya, maaf." Rain tak enak hati karena dia datang terlambat dari waktu janjian.


"Gak papa kok, ya udah bentar aku tinggal ke atas dulu."


Tak lama kemudian Zalfa turun membawa 2 buah paperbag warna coklat. Zalfa memberikan 2 paperbag itu pada Leo dan Sean.


"Apaan ini yang?" tanya Leo penasaran.


"Baju ganti buat kamu dan kak Sean."


Sean dan Leo saling memandang. Mereka bingung kenapa harus ganti baju. Padahal baju yang mereka pakai sudah bagus.


"Dipakai ya, aku sendiri loh yang milihin baju ini untuk kamu. Aku yakin kamu bakal ganteng maksimal kalau pakai ini." Bisik Rain tepat ditelinga Sean hingga membuat pria itu berbunga bunga.


"Ayuk Rain kamu ganti dikamar aku. Kak Leo dan Kak Sean biar ganti baju dikamar itu." Zalfa menunjuk kamar yang ada dilantai satu.


Setelah Zalfa dan Rain naik kelantai dua. Sean dan Leo masuk kedalam kamar yang tadi ditunjuk Zalfa.


Mereka berdua melotot hingga bola matanya nyaris keluar melihat isi paperbag itu. Ternyata isinya sarung, baju koko putih dan peci putih.


"Zalfa gak salah ngambil paperbag kan?" Tanya Leo sambil memegangi sarung kotak kotak warna maroon.


"Beneran nih kita pakai ini Le? Kita mau ngedate kemana sih kok pakai sarung? kayak mau ke masjid aja," timpal Sean.


"Jangan jangan." Mereka berdua kompak mengucap kata itu. Sepertinya isi pikiran mereka berdua sama saat ini.


Leo sendiri juga tak tahu mereka mau ngedate dimana. Zalfa cuma bilang kalau pagi ini mereka akan double date.


"Sudahlah, lebih baik kita ganti baju saja." Sean tak mau menerka nerka dulu. Mengingat kata kata Rain tadi, Sean lebih bersemangat ganti baju. Tapi dia kesulitan saat memakai sarung.


"Udah gak usah dipakai kalau gak bisa." Leo melemparkan koko dan sarungnya ke atas ranjang.


"Rain bilang gue bakal ganteng maksimal kalau pakai ini. Pokoknya gue harus pakai." Sean masih berusaha memakai sarungnya.


"Dih, dasar bucin lo," celetuk Leo.


"Cih, kayak lo enggak aja? Udah buruan pakai, daripada lo diputusin Zalfa."


Setelah ganti baju, mereka menunggu kedua perempuan itu di sofa ruang tengah. Entah apa yang mereka lakukan, hingga lama sekali diatas.


Sean tertegun saat melihat Rain turun memakai baju gamis serta hijab pashmina. Dia sampai tak berkedip melihat penampilan baru Rain. Sejak awal Sean memang belum pernah sama sekali melihat Rain pakai hijab.


"Gimana, cantik gak?" Rain melebarkan gamisnya lalu berputar putar sedikit didepan Sean sambil tersenyum lebar.


"Masyaallah, bidadari surgaku memang sangat cantik," puji Sean.


"Cih, yakin banget bakal masuk surga. Padahal udah pegang golden tiket ke neraka," cibir Leo.


Zalfa yang mendengarnya langsung memelototi Leo dan meletakkan telunjuknya dibibir sebagai isyarat agar Leo diam.


"Beneran cantik?" Rain kembali bertanya.


"Kapan sih kamu kelihatan jelek Rain? Kamu itu selalu cantik. Dari bangun sampai tidur, gak pernah kamu gak cantik." Pipi Rain seketika memerah mendengar pujian Sean. Sean memang jarang sekali memujinya selama ini. Mendapat pujian dari Sean sungguh sesuatu yang langka.


"Dih, bucin," celetuk Leo.


Rain menatap Sean yang terlihat sangat tampan dengan koko putih serta sarung warna navy. Ternyata pilihannya sangat tepat. Sean terlihat cocok memakainya.


"Kamu ganteng banget kalau pakai koko gini" Rain balik memuji Sean. Sena sampai merasa tak berpijak pada tanah saking senengnya.


"Yang, aku gak kamu puji?" Leo memelas pada Zalfa. Dia iri melihat Sean dan Rain yang terlihat sweet banget.


"Kalau mau dipuji, halalin dulu coi." Sekarang giliran Sean yang balas dendam menyindirnya.


"Udah ah, yuk berangkat." Ajak Zalfa.


"Kita mau kemana sih yang? Naik mobil sendiri sendiri apa barengan?" tanya Leo yang daritadi sangat penasaran.


"Udah ikut aja, gak usah bawa mobil, jalan kaki aja."


Zalfa dan Rain jalan duluan lalu disusul oleh Leo dan Sean.


"Perasaan gue gak enak." Lirih Leo sambil menyenggol lengan Sean.


"Sama."


Zalfa dan Rain terlihat sangat akrab. Mereka asik bersenda gurau sepanjang perjalanan tanpa menghiraukan kedua pria yang mengekor dibelakang mereka.


Sedangkan kedua pria itu terlihat tak nyaman dengan penampilan baru mereka. Mereka merasa aneh memakai sarung karena tak terbiasa. Sean bahkan takut kalau sarungnya tiba tiba jatuh.


Sean dan Leo saling memandang. Mereka seakan tak percaya saat melihat kedua wanita didepannya masuk ke halaman sebuah masjid besar yang letaknya tak jauh dari rumah Zalfa.


"Kok kita kesini?" Leo meminta penjelasan pada Zalfa.


"Emang tujuannya kesini. Kita mau dengerin kajian disini."


Sean dan Leo kompak melongo. Inikah yang namanya ngedate? Rain dan Zalfa tak bisa menahan tawa melihat ekspresi mereka berdua