
Pov Rain
Aku mengerjabkan mataku perlahan. Mulai mengumpulkan kesadaranku dengan susah payah. Tubuhku rasanya remuk. Sean sungguh menepati janjinya untuk membuatku terjaga sepanjang malam.
Dengan mata yang belum terbuka sempurna, aku meraba sisi ranjang disebelahku. Kosong, tanganku tak menemukan sosok pria yang telah memberiku klimaks berkali kali tadi malam.
Aku memaksa mataku untuk terbuka lebar. Ternyata aku sendirian diranjang. Dan saat aku menoleh ke arah lain. Aku melihat Sean sedang mematut dirinya didepan cermin sambil memasang dasi dikerah kemejanya.
"Sean." lirihku dengan suara serak khas bangun tidur.
"Beb, kamu udah bangun?" Sean membalikkan badan ke arahku. Melihat Sean sudah siap dengan pakaian kerjanya membuatku melihat ke arah jam dinding. Astaga, ternyata sudah jam 9 lebih.
Aku mencoba untuk bangun, mengubah posisiku menjadi duduk dan bersandar di sandaran ranjang. Tanganku masih setia memegangi selimut untuk menutupi tubuhku yang masih polos.
"Kenapa kau tidak membangunkanku?"
Sean berjalan ke arahku dan duduk disisi ranjang sebelahku. "Aku tak tega membangunkanmu, kau terlihat sangat lelah." Ucap Sean sambil mengusap lembut pipiku menggunakan punggung tangannya.
"Seberapun lelahnya aku, aku masih bisa membantumu bersiap siap. Dan kau, apakah kau tidak lelah? kita baru tidur menjelang subuh. Apa kau yakin akan pergi bekerja? Apa tak sebaiknya kau istirahat saja dirumah hari ini?" Aku merasa tak adil jika setelah kami sama sama bergelut hingga tak tidur semalam, Sean harus bekerja dan aku malah enak enakan tidur.
"Kau akan menyesal jika aku tetap dirumah. Aku pasti tak tahan untuk tidak melanjutkan aktifitas kita semalam." Goda Sean dengan seulas senyum dibibirnya. Sumpah demi apapun, dia terlihat sangat tampan saat tersenyum seperti ini. Dan aku, kenapa aku begitu ingin mencium bibirnya yang seksi itu.
"Sarapan untukmu sudah siap dimeja makan. Aku sudah pesan delivery tadi. Bersihkan tubuhmu dari sisa sisa percintaan kita semalam. Setelah itu habiskan sarapanmu. Aku harus segera kekantor." Titahnya sambil merapiakn rambutku yang berantakan dan menyelipkannya dibelakang telinga.
"Kau benar benar membuatku menjadi istri yang tak berguna sayang. Seharusnya aku menyiapakan sarapan dan membantumu bersiap kekantor, bukannya tidur." Aku benar benar merasa bersalah.
"Jangan menganggap dirimu tak berguna. Kau sangat berguna untuk memanaskan ranjangku." Sean mengerlingkan matanya sambil tersenyum nakal.
Aku terkekeh melihat caranya menggodaku. Baru dini hari tadi kami selesai, dia sudah mulai menggodaku lagi. Tapi tak masalah, aku senang jika suamiku masih mau menggodaku, itu artinya aku masih menarik dimatanya.
"Sayang, aku pasti akan kesepian sendirian dirumah. Tak bisakah jika hari ini kau tak usah bekerja?" Tanpa tahu malu aku meminta Sean untuk menemaniku dirumah. Perasaanku tiba tiba tidak enak. Aku merasa takut sendirian, aku ingin bersama Sean.
Sean mendesah frustasi. "Maaf beb, aku ada meeting penting. Aku janji akan segera pulang setelah pekerjaanku selesai."
Wajahku langsung muram, aku benar benar masih ingin bersama Sean.
"Kalau begitu, tunggu aku sebentar, aku akan pergi bekerja denganmu." Aku ingin beranjak tapi Sean melarangku. Dia tak mengizinkanku bekerja hari. Dia menyuruhku tetap dirumah dam istirahat, dengan janji dia akan segera pulang selesai meeting.
"Aku berangkat dulu." Sean mencium keningku lama dan kemudian beranjak. Tapi aku buru buru menarik tangannya sebelum dia menjauh dariku. Entahlah pagi ini rasanya berat sekali melepasnya pergi bekerja.
"Aku takut dirumah sendirian sayang." Alasan gila apa yang baru saja aku katakan. Ah, rasanya aku memang sudah gila. Bagaimana mungkin aku takut sendirian, bukankan sebelum menikah aku tinggal sendirian?
"Aku akan menyuruh Bi Ratih segera datang untuk membersihkan apartemen dan menemanimu. Aku akan segera pulang." Janjinya padaku.
"Baiklah." Akhirnya drama pagi ini selesai. Sean menjadi pemenangnya dan aku harus ikhlas membiarkannya pergi bekerja.
Aku masih bergeming diatas ranjang sambil mencium aroma tubuhku sendiri. Aku menyukai aroma ini, aroma tubuh Sean menempel ditubuhku. Rasanya aku enggan sekali untuk mandi.
Aku memandangi ranjangku yang berantakan. Sprei warna biru itu sudah tak pada tempatnya. Dan itu semua akibat kegilaan kami tadi malam. Oh Tuhan, aku masih ingat jelas bagaimana Sean memperlakukan aku tadi malam.
...******...
.
Aku memejamkan mataku sambil mengingat kembali dansa kami semalam. Aku terseyum senyum sendiri mengingat betapa romantisnya suamiku tadi malam. Ah, rasanya aku sangat merindukannya sekarang.
Tanganku meraih ponsel yang kuletakkan tak jauh dari bathup. Jari jariku dengan semangat menulis pesan rindu untuk Sean.
Aku merindukanmu Sean, I miss u So bad honey - Rain.
Aku juga menambah banyak emoticon love dibelakang pesanku. Aku tak lagi jaim padanya seperti dulu. Aku justru ingin menunjukkan padanya jika aku tergila gila dan sangat mendambanya.
Sepuluh detik, dua puluh detik, satu menit. Ah, aku tak sabar menunggu balasan dari Sean. Ya segila itu perasaanku saat ini. Belum ada satu jam Sean meninggalku aku sudah sangat merindukannya.
Kling.
Mataku yang terpejam langsung terbuka sempurna mendengar notif pesan masuk.
I miss u too beb. Aku tak sabar ingin segera pulang. - Sean.
Jantungku berdegup kencang hanya dengan membaca pesan darinya. Aku merasa seperti seorang abg yang baru jatuh cinta.
Tiba tiba saja terlintas khayalan konyol dikepalaku. Aku ingin berendam seperti ini bersama Sean didalam bathup yang penuh dengan kelopak bunga mawar. Berkhayal saja sudah seindah ini, apalagi jika itu nyata?
Sayang, Bisakah kau membelikanku bunga mawar merah yang banyak saat pulang nanti? - Rain.
Aku sengaja tak meminta kelopak mawar karena aku ingin mencabuti sendiri kelopak itu dari tangkainya saat berendam. Oh, rasannya aku benar benar tak sabar untuk itu.
Baiklah. - Sean
Aku kecewa melihat balasannya yang terlalu singkat itu. Tapi aku tak boleh egois. Dia sedang kerja sekarang, mungkin dia sedang sibuk.
Setelah puas berendam, aku melanjutkan memakan sarapan yang sudah dibelikan Sean. Entah masih bisa dibilang sarapan atau tidak karena sekarang sudah siang. Mataku berbinar saat melihat nasi kuning kesukaanku. Aku segera melahapnya sampai habis, dan sialnya, aku masih merasa kurang. Selera makanku sungguh sangat menggila sekarang.
Aku bingung harus melakukan apa, Bi Ratih juga tak kunjung datang. Padahal Sean bilang dia sudah menyuruh Bi Ratih agar segera datang.
Untuk mengusir kebosananku, aku mengambil laptop dan mulai menonton drama korea. Aku menonton drama mouse yang belum sempat aku tamatkan.
Ting tong ting tong.
"Itu pasti Bi Ratih, atau jangan jangan Sean sudah pulang?" aku bermonolog.
Dengan semangat empat lima, aku segera membukakan pintu. Mataku membulat sempurna melihat siapa yang datang. Firman, ya, si berengsek itu yang sekarang sedang berdiri didepan pintu.
Aku buru buru ingin menutup pintu lagi, tapi nahas Firman berhasil mencekal pintu dan mendorongnya hingga aku tak sanggup menahan. Dia masuk dan menutup pintu kembali.
"Suamiku tak ada dirumah, lebih baik datang lain kali saja." Aku berusaha mengusirnya.
"Aku tahu suamimu sedang dikantor sekarang, oleh sebab itu aku datang menemuimu."
"Sepertinya kita tak ada urusan, lebih baik kamu keluar dari rumahku." Aku sungguh tak nyaman berdua dengannya seperti ini.
"Kau yakin tak ada urusan denganku?" Tanyanya dengan seringai yang terlihat sangat menakutkan. "Ada urusan yang harus kita selesaikan cantik."