Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
JATUH CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA


Rain kalut melihat sikap Gaza yang tak seperti biasanya. Hubungan percintaan mereka memang tak selalu berjalan mulus, tapi selama ini Gaza tak pernah berbuat kasar padanya. Dan hari ini, Gaza dangan kasar menghempaskan tanganya. Rain semakin yakin jika terjadi sessuatu yang besar. Rain mematung menatap punggung Gaza hingga hilang dibalik pintu lift.


Dengan langkah gontai Rain berjalan menuju. ruangan Sean. Matanya terbelalak melihat wajah Sean yang tadinya tampan jadi gak karu karuan. Lebam dimana mana serat bibir dan hidung berdarah.


"Kenapa diam disitu? cepat obati lukaku," titah Sean.


Rain keluar untuk mengambil obat, tak lama kemudian dia kembali dengan kotak p3k ditangannya.


Rain duduk disofa sebelah Sean. Perlahan dia membuka kotak p3k lalu mengoles obat diwajah Sean.


"Ssttt....pelan pelan dong." Sean mendesis karena menahan perih.


Rain diam saja tak menjawab. Dia memang sedang mengobati Sean sekarang, tapi pikirannya kemana mana. Dia bingung melihat Sean babak belur, sedangkan Gaza, Rain sangat yakin jika saat keluar tadi Gaza dalam keadaan baik baik saja. Tak ada sedikitpun luka diwajahnya.


Apakah Sean tak mampu membalas? rasanya tak mungkin. Dan lagi, kenapa Sean tak memanggil keamanan saat dipukuli. Ini perusahaannya, harusnya dia lebih berkuasa daripada Gaza.


Danu, pria berkaca mata itu tiba tiba masuk ke ruangan Sean.


"Sudah saya kirim keponsel anda Pak," ucapnya dengan sopan.


"Terimakasih, kau boleh pergi." Kata Sean sambil membuka ponselnya. Senyumnya langsung merekah melihat kerja Danu. Dan dengan sekali tekan tombol send, foto yang baru saja diambil Danu itu otomatis terkirim ke ponsel Gaza.


Ternyata Sean masih saja belum merasa puas. Dia menyuruh Danu mengambil foto saat Rain mengobati lukanya. Setelah itu dia mengirim foto itu pada Gaza.


Sakitnya langsung ilang karena diobati cewek cantik.


Seperti itulah keterangn dalam foto yang dikirim Sean pada Gaza.


"Apa yang anda bicarakan pada Gaza? kenapa dia terlihat begitu marah?" Rain akhirnya mengungkapkan rasa penasarannya.


"Tanya saja pada pacarmu itu."


Rain menghela nafas, Kalau saja Gaza mau menjawab, dia juga tak ingin bertanya pada Sean. Tapi ini, keduanya tak ada yang mau menjelaskan apa yang terjadi pada Rain.


"Saya tak melihat Gaza terluka sedikitpun, apa anda tak membalas saat dia memukul anda?"


Fisiknya memang tak terluka, tapi hatinya? aku yakin inilah yang namanya luka tapi tak berdarah, dan itu lebih menyakitkan dan sulit diobati daripada luka fisik, batin Sean.


"Hari ini aku sedang bahagia, jadi aku berbaik hati membiarkan dia memukuliku." Tutur Sean dengan smirk di wajahnya.


"Hah." Rain melongo mendengar penjelasan Sean. Ternyata ada juga orang yang rela dipukuli hanya kerena sedang good mood.


"Sudahlah gak usah overthinking, santai saja."


...*******...


Gaza mengamuk didalam kamarnya, dia melempar segala sesuatu untuk melampiaskan kemarahannya. Dadanya sesak, hatinya sangat sakit.


"Kenapa kau melakukan ini Rain? Dan laki laki itu, kenapa harus Sean?" Gaza menitikkan air mata yang sudah tertahan sejak tadi. Belum pernah dia sekecewa ini pada Rain.


"Ga, kamu kenapa nak?" Salma menggedor pintu kamar Gaza, dia sangat cemas mendengar Gaza berterika teriak dan terdengar suara barang barang pecah dari kamar Gaza. "Buka pintunya nak," teriaknya.


Gaza tak mempedulikan teriakan mamanya. Dia begitu kacau saat, dia tak ingin mamanya melihatnya dalam kondisi seperti ini.


Gaza melempar ponselnya saat melihat foto Rain sedang mengobati Sean. Lukanya yang masih menganga seperti disiram dengan air garam, sakit sekali.


Gaza teringat kembali awal pertemuannya dengan Rain. Kala itu didepan sebuah SMP dia melihat seorang ibu ibu bertubuh gempal menampar seorang gadis yang baru keluar dari mobil.


PLAK.


"Aw.... " Rain terkejut saat seorang ibu ibu menamparnya.


"Jangan bicara yang tidak tidak, kalau anda tidak punya bukti, itu namanya fitnah." Rain mencoba membela diri.


"Fitnah katamu? suami saya yang dulunya tak pernah mau mengantar anak ke sekolah, sekarang tiap hari minta nganter anak sekolah. Dan itu gara gara kamu." Teriaknya sambil mendorong bahu Rain.


Setiap hari Rain memang mengantar Alan sekolah. Saat itu Alan masih kelas 3 SMP, ayahnya tak mengijinkan Alan membawa motor sendiri karena belum punya SIM.


"Tapi saya tak kenal suami ibu."


"Jangan bohong kamu, saya melihat sendiri banyak foto kamu di ponsel suami saya." Bentak ibu itu sambil berkacak pinggang dan melotot.


Rain makin bingung, dia memang tak kenal dengan wali murid yang lain. Dia hanya mengantar Alan dan tak pernah bertegur sapa dengan siapapun. Lalu bagaimana bisa suami ibu ini memiliki fotonya.


"Dasar pelakor."


Ibu itu ingin menampar Rain lagi tapi ada sebuah tangan yang lebih dulu menahannya.


"Tolong jangan menuduh orang sembarangan." Kata pria muda yang menahan tangan ibu itu.


"Siapa kamu ikut campur urusan saya. Saya gak ada masalah sama kamu ya."


"Anda sudah melakukan kekerasan fisik dan verbal pada nona ini. Saya bisa melaporkan anda ke polisi. Lebih baik anda pergi, selesaikan masalah rumah tangga anda dirumah. Ini sekolahan, apa anda tidak malu jika anak anak melihat kelakuan anda."


Akhirnya wanita itu pergi sambil terus mengomel. Orang orang yang melihat kejadian itu juga mulai bubar satu persatu.


"Kamu gak papakan? saya Gaza." Kata pria itu sambil mengulurkan tangan pada Rain.


"Rain." Jawab Rain sambil menjabat tangan Gaza "Terimakasih sudah menolong saya."


"Pipi kamu merah, saya ada obat dimobil, lebih baik diobati dulu."


"Gak usah, gak papa kok, ntar juga sembuh sendiri."


"Yang ada makin bengkak gak makin sembuh kalau dibiarin. Tahu sendiri kan ibu ibu yang nampar kamu tadi segede gajah, tangannya pasti berat bangetkan."


Rain hanya nyengir, dia tak sampai hati mengiyakan perkataan Gaza yang bilang ibu tadi segede gajah.


Rain mengikuti Gaza masuk kedalam mobilnya. Gaza mengambil obat lalu memberikannya pada Rain.


"Mau aku bantu obatin?"


"Enggak enggak , aku bisa sendiri kok." Rain merasa malu kalau harus diobati Gaza. Jujur saja sekarang ini jantungnya berdegup kencang karena berada satu mobil dengan pria setampan Gaza.


"Kok bisa sih ibu ibu tadi nuduh kamu pelakor? emang kamu kenal sama suaminya?"


Rain menggeleng "Gak kenal, aku juga bingung. Masak katanya suaminya nyimpen foto foto aku, anehkan? Ya kali aku mau sama suaminya. Bininya aja kayak gitu, pasti suaminya 11,12."


"Hahaha... bisa aja kamu. Mungkin suaminya ngefans kamu. Jadi pas kamu kesekolah, dia nyuri nyuri tuh moto kamu."


"Mungkin sih."


"Kamu nganter siapa ke sekolah?"


"Adikku sekolah disini."


"Sama dong, adik sepupu aku juga sekolah disini. Tapi aku gak pernah nganter, biasanya supir yang nganter. Tapi hari ini supir lagi cuti, jadi aku yang nganter."


Baru kali ini aku bersyukur sopir cuti, jadi aku bisa ketemu calon bidadari surgaku, batin Gaza. Gaza jatuh cinta pada pandangan pertama pada sosok gadis bernama Rain.