
Sean tersenyum sambil geleng geleng melihat istrinya tertidur saat bekerja. Rain terlihat menghadap komputer dengan tangan memegang mouse, tapi matanya tertutup. Semua ini terjadi karena ulahnya yang membuat Rain kurang tidur semalam.
Ditambah lagi tadi pagi Rain bangun awal karena Sean kembali meminta jatah dipagi buta.
Sean mendekati meja Rain, dia berniat membawanya masuk keruangangnya jika wanita itu benar benar tertidur dalam posisi duduk.
Saat Sean memindahkan tangan Rain dari atas mouse, Rain langsung gelagapan dan membuka matanya.
"Sean, kau mengejutkanku." Ucap Rain sambil mengucek matanya yang terasa panas.
"Ngantuk berat ya? Tadi pagi udah aku suruh tidur lagi kamunya bandel malah milih masak. Sekarang jadi ngantukkan? udah sana tidur diruanganku."
"Kamu sih pagi pagi masih aja minta jatah, padahal malem udah dua kali." Gerutu Rain sambil meregangkan ototnya.
"Ya harusnya setelah itu kamu tidur lagi, bukannya malah masak. Makan itu urusan gampang, kita bisa pesen. Kamu gak usah mikirin isi perut aku, yang perlu kamu pikirkin cuma yang ada dibawah perut aku." Goda Sean sambil terkekeh.
"Gak lucu." Rain mengerucutkan bibirnya. "Udah ah jangan ngomongin masalah rumah tangga di kantor. Kamu sendiri yang waktu itu bilang, jangan bawa bawa urusan rumah ke kantor." Rain menirukan gaya bicara Sean hingga pria itu tak bisa menahan tawanya.
"Ya udah, yuk masuk ke ruanganku." Sean mematikan komputer Rain lalu menarik tangan Rain masuk ke ruangannya.
"Kamu tidur aja disini." Sean menyuruh Rain tidur disofa. Ruangan Sean memang tak ada kamar tidur atau semacam ruangan privat. Ruangan itu cuma murni ruangan kerja dan hanya dilengkapi sebuah toilet.
"Masak jam kerja aku tidur?" Rain merasa tak nyaman jika mendapat perlakuan istimewa saat kerja.
"Percuma juga kamu kerja kalau mata kamu ketutup kayak tadi. Emang bisa ya kerja sambil tidur kayak gitu?" ledek Sean.
Rain tersenyum simpul, dia malu ketahuan tidur saat jam kerja. Untung saja bosnya suami sendiri, kalau bukan pasti udah kena semprot kalau gak gitu dipecat.
Sean mengambil laptop dan beberapa dokumen yanga ada di meja kerja lalu kembali lagi ke sofa tempat Rain duduk.
"Udah gak usah banyak mikir, tidur sini." Sean menepuk pahanya. Dia ingin Rain tidur menggunakan pahanya sebagai bantal.
"Emang gak ganggu kamu kerja kalau aku tidur dipaha kamu?"
"Cerewet, banyak banget nanya." Sean memelototkan matanya hingga Rain buru buru meletakkan kepalanya di paha Sean sambil melingkarkan lengannya dipinggang suaminya.
Sean membelai kepala Rain dengan salah satu tangannya, sementara sebelah tangannya memegangi dokumen yang sedang dia baca. Sean juga memeriksa file file yang ada dilaptop yang dia letakkan dimeja didepannya.
...******...
.
Siang ini Rain mengambil cuti setengah hari karena dia janjian dengan Alan akan pergi menjenguk ayahnya. Sean tak bisa ikut karena ada meeting dengan klien.
Alan menjemput Rain di kantor lalu mereka berdua menuju lapas tempat ayahnya. Dalam perjalanan, mereka singgah sebentar di restoran padang untuk makan siang sekaligus membelikan makanan untuk ayahnya. Rain tahu sekali jika ayahnya itu penggila makanan padang.
Rain dan Alan memeluk ayah mereka bergantian. Mereka sangat rindu karena sudah lama tidak bertemu.
"Maafin Rain ya Yah, setelah menikah Rain jarang banget jenguk ayah."
"Tidak apa apa anak, yang penting kamu tidak melupakan ayah." Tutur Teguh sambil membelai rambut Rain.
"Mana mungkin Rain melupakan ayah, Rain sayang banget sama ayah." Rain mengangkat wajahnya ke atas untuk melihat ayahnya. Tiba tiba saja, air matanya meleleh melihat wajah yang dia rindukan itu.
"Kenapa suami kamu tidak ikut? rumah tangga kalian baik baik sajakan? kamu bahagiakan nak?" Teguh menghapus air mata Rain sambil merapikan rambut yang berantakan lalu menyelipkannya dibalik telinga.
"Rumah tangga Rain baik baik saja yah. Dan Rain sangat bahagia." Ucap Rain sambil tersenyum. Dia ingin ayahnya ikut merasakan kebahagiaannya.
"Apa sudah ada isinya?" Teguh meletakkan tangannya di perut Rain yang masih terlihat datar. Rain seketika tersenyum, dia tak mengira jika ayahnya diam diam mengharapkan cucu.
"Belum yah, doain aja biar ayah cepet dapet cucu."
"Ayah selalu mendoakan kalian berdua." Teguh menatap Rain dan Alan bergantian. "Hanya nama kalian dan alm. ibu kalian yang selalu ayah ucap disetiap doa ayah." Teguh meneteskan air mata yang tak kuasa dia tahan. Sejak menghuni lapas, dia merasa menjadi pria lemah, dia gampang sekali menangis. Bahkan hampir setiap habis sholat dia pasti menangis sembari berdoa.
Teguh merasa sebagai seorang ayah yang tak berguna. Saat ini dia tak bisa memberikan apa apa untuk anaknya selain doa.
"Rain bawain ayah makanan." Rain menyodorkan keresek berisi makanan Padang pada ayahnya. Dia ingin mengalihkan pembicaraan agar ayahnya tak bersedih.
"Terimakasih nak, nanti ayah akan memakannya. Bagaimana kuliahmu Al, lancar kan?"
"Alhamdulillah lancar yah, maaf jika sejak kuliah Alan jadi jarang jenguk ayah."
"Tidak apa apa nak, ayah tahu kau sangat sibuk karena harus kuliah sambil kerja. Jangan lupa makan, jaga kesehatan. Sekarang gak ada yang jaga kamu selain diri kamu sendiri." Tutur Teguh sambil menggenggam tangan Alan.
"Ayah juga harus jaga kesehatan. Jangan terlalu memikirkan Alan dan Mbak Rain. Insyaallah kami baik baik saja dan dalam keadaan bahagia."
"Ayah senang sekali mendengar jika kehidupan kalian sekarang jauh lebih baik. Ayah ingin sekali berterimakasih pada suamimu." Teguh menatap ke arah Rain. "Dia sudah memberimu kehidupan yang layak serta membiayai kuliah Alan. Ayah sangat berhutang budi padanya."
"Jangan bicara seperti itu. Semua ini memang sudah kewajiban suami Rain. Dan suami Rain ikhlas melakukan semua ini. Dia sama sekali tidak merasa terbebani karena harus menghidupi Rain serta membiayai kuliah Alan."
"Beruntung sekali kamu mempunyai suami sebaik itu nak. Sampaikan salam ayah serta ucapan terimakasih ayah padanya. Kalau dia ada waktu, kapan kapan ajaklah dia kesini."
"Tentu ayah, kalau dia ada waktu, Rain akan mengajaknya kesini untuk bertemu ayah."
...*****...
Dikantor, Sean sedang mengamuk karena laporan dari Dino. Dino bilang, tadi dia sempat melihat Rain keluar dari sebuah super market bersama seorang pria. Setelah itu Rain terlihat masuk kedalam mobil pria tersebut.
"Kenapa lo gak ngikutin mereka?" Bentak Sean.
Dino buru buru menjauhkan ponselnya dari telinga. Suara Sean sungguh mampu merusak gendang telinganya.
"Sialan, dikasih tahu malah gue yang dimarahin," gerutu Dino dalam hati.
"Gue ada urusan lain Sean. Tapi gue udah dapet nomor plat mobilnya. Lo bisa cari tahu pemilik mobil itu. Jadi lo bisa tahu Rain sedang bersama siapa saat ini."
Sean segera mencatat nomor plat mobil itu lalu menyusuh Danu mencari tahu pemilik mobil itu. Dari jenis mobilnya, Sean tahu itu mobil mewah, jadi bukan sembarang orang yang sedang bersama istrinya saat ini. Dia merasa cemburu sekaligus terancam.
Sean melacak ponsel Rain untuk mengetahui keberadaannya. Dan ternyata Rain berada dirumah Alan.
"Siapa pria itu? Kamu bilang pergi sama Alan, nyatanya kamu pergi dengan pria lain." Sean meninju dinding hingga punggung tangannya berdarah untuk melampiaskan kemarahannya.
Sean segera melajukan mobilnya ke rumah Alan.
BRAKK
Sean membanting pintu rumah Alan dengan sangat keras hingga yang Rain yang sedang masak didapur berjingkat karena kaget.
Tak hanya Rain, Alan yang berada di dalam kamar langsung keluar karena terkejut.
"Sean, jadi kamu?" Rain melihat Sean yang baru masuk ke dalam rumahnya. "Bukanya pelan pelan dong, ngapain sih pakai banting banting pintu segala." Omel Rain.
"Dimana dia?" Bentak Sean sambil melotot dan celingukan.
"Siapa? Alan? itu." Rain menunjuk Alan yang sedang berdiri didepan pintu kamarnya.
"Arya, dimana Arya?" Teriak Sean sambil membuka pintu kamar mandi. Melihat Kamar mandi kosong, dia membuka pintu kamar Rain. Tapi kamar itu juga kosong. Saat dalam perjalanan ke rumah Rain, Danu memberi tahunya jika mobil dengan plat nomor tersebut adalah milik Arya.
"Kenapa dia?" Tanya Alan pada Rain.
Rain mengedikkan bahunya. Dia juga tak paham kenapa Sean mencari Arya dirumahnya.
.
Jangan lupa like, komen dan vote
Terimakasih