Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
PERCAYALAH


Rain melenguh saat merasakan geli diperutnya. Dia yang masih ngantuk jadi terpaksa membuka matanya.


"Sean, geli." Lirih Rain saat Sean terus menciumi perutnya. "Udah ah." Rain mendorong pelan kepala Sean.


"Sean." Pekik Rain saat Sean mencium bagian intinya.


"Pengen ya? Mangkanya dorong kepalaku kesini." Goda Sean sambil tersenyum nakal.


Rain menutupi wajahnya karena malu. Sebenarnya dia hanya berniat menyingkirkan kepala Sean dari perutnya, tapi dorongannya malah menampatkan kepala Sean pada bagian intinya.


"Mau lanjut?" Sean mengerlingkan satu matanya.


Rain mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya karena malu. Dia tak bisa bohong kalau sentuhan bibir Sean di bagian kewanitaannya membuatnya terangsang.


Sean menyeringai melihat wajah Rain yang memerah karena malu malu kucing. Sean membuka paha Rain dan membenamkan kepalanya disana untuk memberikan kepuasan pada istrinya.


Ting tong ting tong


Sean dan Rain tak mempedulikan bunyi bel karena terlalu menikmati aktivitas ranjang mereka. Rain yang terus terusan mendesah membuat Sean makin bersemangat.


Tetapi tamu yang datang sepertinya tak sabaran, dia terus menerus menekan bel hingga Sean merasa kesal.


"Shitt, siapa sih yang ganggu pagi pagi gini?" Sean mengacak acak rambutnya frustasi.


"Bukain yang, kali aja penting." titah Rain.


Sean berdecak kesal sambil memakai pakaianamya yang tertanggal sejak tadi malam.


"Awas saja kalau tamunya gak penting." Gerutu Sean sambil melangkah menuju pintu membukanya dengan kasar.


"Mama!" Sean terkejut melihat mamanya berdiri di depan pintu. Vivi langsung menyerobot masuk tanpa memberi salam ataupun menyapa Sean.


"Mama ngapain pagi pagi kesini?" Melihat raut muka mamanya, Sean bisa yakin jika ada sesuatu yang tidak beres.


"Kamu yang udah mukulin Firman ?" Vivi bertanya dengan nada tinggi.


Sean menghela nafas sambil memutar bola matanya. Dia sudah bisa menebak jika Firman pasti mengadu pada mamanya.


"Jawab Sean, kamu yang udah mukulin Firman sampai beberapa tulangnya patah?" Bentak Vivi.


"Iya." Jawab Sean malas tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Kamun sadar gak sih Sean, yang kamu pukulin itu saudara kamu?" bentak Vivi sambil melotot ke arah Sean.


"Saudara?" Sean menarik ujung bibirnya. "Kalau dia merasa saudara Sean, dia gak bakal berniat melecehkan istri Sean mah." Sean mulai tersulut emosi.


"Melecehkan?" Vivi tersenyum sinis. "Yang ada istri kamu yang menggoda Firman."


"Astaga ma, mama udah termakan omongan Firman."


"Kamu yang udah dibodohin istri kamu. Sadar Sean sadar. Istri kamu itu perempuan gak bener, di jalang."


"Mama." Teriak Sean yang tak terima. "Jangan menyebut istri Sean seperti itu. Rain wanita baik baik."


"Sepertinya cinta sudah membuatmu buta Sean. Kamu gak bisa melihat siapa yang kamu nikahi. Dia itu jalang, dia sudah merayu Firman agar Firman tutup mulut dan tak mengatakan kebenaran ini pada mama. Dia memberikan tubuhnya pada Firman sebagai imbalan tutup mulut."


Sean membuang nafas kasar sambil menarik rambutnya sendiri. Dia bingung mau menjelaskan pada mamanya kalau Firman sudah berbohong. Sean tahu kalau Firman sejak dulu dekat dengan mamanya dan suka cari muka. Karena itulah Vivi sangat menyayangi Firman.


Mendengar suara ribut diluar, Rain begitu penasaran. Dia segera bangun dan memakai bajunya lalu keluar.


"Jangan percaya pada Firman ma, dia itu pembohong." Sean masih berusaha meyakinkan Vivi.


"Kamu yang jangan percaya pada istrimu."


Melihat Rain, Vivi makin murka. Dia segera mendekati Rain dan melayangkan tangannya.


PLAK


"Dasar jalang." Tak puas hanya menampar, Vivi menarik rambut panjang Rain.


"Aww.. " Rain meringis kesakitan sambil memegangi rambutnya.


"Lepasin ma." Sean berusaha melepaskan tangan mamanya yang menjambak rambut Rain.


"Jangan membela dia Sean. Jalang seperti dia pantas dikasih pelajaran." Maki Vivi.


Rain tak kuasa menahan air matanya mendengar hinaan mertuanya. Sakit akibat tamparan dan jambakan tak ada apa apanya dibanding disebut jalang.


"Tolong jangan sebut istriku seperti itu ma." Sean berusaha menjauhkan mamanya dari Rain. Dia tak mau mamanya bertindak kasar apalagi sampai membahayakan kandungan Rain.


"Kamu memang bisa memperdaya Sean, tapi tidak dengan aku. Aku tahu kau itu pelacur. Kau bahkan memberikan tubuhmu agar Firman tutup mulut." Maki Vivi sambil menunjuk Nunjuk ke arah Rain.


"Bohong ma, bohong. Firman bohong, dia yang berusaha melecehkanku." Sangkal Rain sambil menangis.


"Dasar tukang fitnah, beraninya kamu memfitnah Firman seperti itu." Vivi hendak maju dan menghajar Rain tapi Sean menahan tubuhnya.


"Jangan seperti ini ma, tolong hentikan. Rain sedang hamil, aku tak mau sampai terjadi apa apa padanya," terang Sean.


Vivi melongo lalu tersenyum sinis. "Hamil? Anak siapa yang kau kandung itu? Jangan jangan kau sendiri tak tahu siapa bapaknya."


Hati Rain hancur mendengar ucapan mertuanya. Dadanya terasa sesak hingga bernafaspun rasanya sulit. Firman benar benar sudah berhasil menghasut Vivi.


"Cukup ma, mama sudah keterlaluan. Itu anak Sean, cucu mama," bentak Sean. Dia sudah kehabisan kesabaran pada mamanya yang terus terusan menghina Rain.


"Jangan bodoh Sean, jalang itu sudah tidur dengan banyak pria. Belum tentu itu anakmu. Dia bahkan sudah berkali kali tidur dengan Firman."


"Bohong, itu tidak benar." Teriak Rain sambil terus menggelengkan kepalanya sambil bercucuran air mata.


"Firman sendiri yang bilang pada mama Sean, percayalah." Vivi menggenggam kedua tangan Sean untuk membuatnya yakin.


"Firman itu pembohong ma. Sean melihat sendiri bagaimana Firman coba melecehkan Rain." Sean tak begitu saja percaya mengingat kelakuan Firman memang bejat dari dulu.


"Baiklah kalau kau tidak percaya Firman dan Mama. Tapi bagaimana dengan Maya?" Vivi beralih memandang Rain. "Kau kenalkan pada Maya?" Tanya Vivi sambil menunjuk dagu pada Rain.


"Iya ma, Rain kenal."


"Siapa Maya?" Vivi kembali bertanya.


Sean ingat Maya karena dia satu satunya sahabat Rain yang datang saat pernikahan mereka. Rain juga pernah cerita jika Maya adalah sahabat baiknya dan sekarang bekerja di luar kota.


"Sahabat Rain." Jawab Rain menghapus air matanya.


"Sahabat sekaligus mucikarimu kan Rain?" Vivi tersenyum sinis. Rain terdiam, dia tak bisa menyangkal fakta itu.


"Asal kau tahu Sean, Maya sendiri yang bilang pada mama kalau dia sudah berkali kali menjual Rain pada pria hidung belang, serta beberapa kali pada Firman."


Rain menggeleng gelengkan kepalanya. Dia tak menyangka jika Maya akan memfitnahnya sekejam itu.


Sean menatap Rain dengan tatapan yang susah sekali diartikan. Hanya dia sendiri yang tahu apa yang dia pikirkan sekarang.


Rain mendekati Sean dan memegang kedua lengan pria itu sambil menatap matanya. "Itu fitnah Sean, itu tidak benar. Aku mohon percayalah padaku. Aku tak peduli jika seluruh dunia tak percaya padaku, asalkan kau percaya padaku."


Sean hanya diam, dan hal itu membuat Rain makin frustasi.


"Kamu percayakan padaku Sean? Kau bilang hanya akan percaya semua yang keluar dari mulutku. Semua ini fitnah. Percayalah, aku mohon."