
Zalfa menatap Leo penuh dengan kekecewaan. Dia sadar tak akan mudah membawa Leo ke jalan yang lebih baik. Dia harus berusaha ekstra keras.
Rain tak kalah kecewanya dengan Zalfa. Sean emang bilang ingin berubah, tapi kenyataannya semua hanya omong kosong.
"Beb, jangan ngambek dong. Ini semua salah kamu."
Rain melotot mendengar Sean menyalahkannya. Zalfa dan Leo juga menatap ke arah Sean. Mereka seakan gak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Harusnya kamu bilang kalau mau ngajak aku ke kajian, kanapa harus bohong bilang mau ngedate. Semua yang diawali dengan kebohongan gak akan berjalan dengan bagus karena awalnya saja sudah salah."
Zalfa merasa bersalah saat Sena menyalahkan Rain.
"Maaf kak Sean, ini ideku. Tapi sebenarnya setelah dari kajian, kami ingin ngajak kalian berdua nonton. Kami gak benar benar menipu kok." ucap Zalfa.
"Lain kali jangan seperti ini. Kalau memang kalian ingin kami jadi lebih baik, lakukan dengan cara yang baik pula."
"Maaf kalau caraku salah. Zalfa, aku ganti baju dulu dikamarmu ya." Rain segera naik kekamar Zalfa. Dia kesal karena Sean malah menyalahkannya.
"Bini lo marah tuh lo salahin kayak gitu." Leo tak habis pikir kenapa Sean bisa bisanya malah menyalahkan Rain.
"Astaga, gue salah ya?" Sean tak sadar kalau kata katanya menyakiti Rain.
"Apa kak Sean mau datang kalau Rain bicara jujur mau ngajak ke kajian? enggak kan?" Zalfa sedikit emosi. "Punya tujuan baik masih saja disalahkan. Kalian itu salah tapi mengkambing hitamkan orang lain."
"Kok kalian sih ngomongnya? Sean aja aku gak ikutan. Aku sama sekali gak nyalahin kamu kok yang. Aku tahu kamu ingin yang terbaik untuk aku." Leo tak mau ikut disalahkan.
Zalfa berdecak kesal dan segera menyusul Rain naik kekamarnya. Sedangkan Sean dan Leo masuk kekamar tamu untuk ganti baju.
"Elo keterlaluan banget Sean. Kok malah nyalahin Rain gitu. Kalau aku jadi Rain, aku juga gak bakal betah punya suami kayak kamu."
"Kok lo malah ikut Ikutan mojokin gue sih. Gue bilang kayak gitu biar kita gak disalah salahin."
"Tapi kenyataannya memang kita salah kok. Udahlah Sean, malas debat sama kamu."
Setelah ganti baju, Sean dan Leo menunggu Rain dan Zalfa disofa. Kedua pria itu tak saling bicara. Mereka sibuk memikirkan nasib sendiri sendiri.
Tak lama kemudian tampak Rain dan Zalfa menuruni tangga. Sean buru buru menghampiri Rain.
"Beb maafin aku ya, aku gak bermaksud nyalahin kamu kok. Aku yang salah. Kita pulang yuk." Sean menggenggam kedua tangan Rain.
"Aku pulang dulu Zal." Rain menghempaskan tangan Sean lalu memeluk Zalfa sambil cipika cipiki ala cewek.
"Ya udah, hati hati."
Sepanjang perjalanan pulang, Rain hanya diam. Dia sama sekali tak mau bicara walau Sean berkali kali mengajaknya bicara. Dia bahkan selalu melihat kearah jendela, dia sama sekali tak ingin melihat Sean.
"Ngapain kesini?" Rain terkejut saat mobil mereka masuk ke halaman sebuah mall.
"Ngedate." Jawab Sean sambil cengar cengir. "Nonton yuk." Rayunya sambil sambil menarik tangan Rain kegenggamannya.
"Malas, yuk pulang aja." Rain masih memasang wajah cemberutnya sambil menarik tangannya.
Sean tak menghiraukan penolakan Rain. Dia segera turun sesampainya diparkiran dan memaksa Rain ikut turun.
Dengan langkah malas, Rain akhirnya mengikuti kemauan Sean.
"Ayolah," Sean manarik tangan Rain menaiki eskalator. "Udah gak usah cemberut mulu, ntar cepet tua. Senyum dong." Bukannya senyum Rain malah melengos.
Sean mengelus dadanya sendiri. Dia menghela nafas, mencoba untuk sabar menghadapi Rain yang ngambek.
Sesampainya didepan gedung bioskop, Sean menyuruh Rain duduk, sementara dia membeli tiket serta popcorn.
...*****...
Setelah jam kerjanya selesai, Alan mengganti baju seragamnya dengan baju biasa. Besok dia mulai kuliah, dia ingin segera pulang dan istirahat.
Alan sudah meminta izin pada Dewa kalau mulai besok, dia minta shif sore terus karena pagi harus kuliah.
"Buruan keluar, ditungguin cewek lo tuh." Ucap Doni.
"Gue udah putus sama dia." Jawab Al dengan malas. Dia benar benar tak ingin membahas tentang Amaira.
"Beneran Al?" Saking tak percayanya, Doni sampai memegang kedua pundak Alan dan menatap matanya.
"Iya, emang kenapa? kok kayak Syok gitu?"
"Gak sayang cewek kayak gitu diputusin? Anak sultan Bro. Dah gitu cantik pulak."
"Lo tahu gak, kemarin waktu kalian habis berantem? dia pingsan."
Alan terkejut mendengar Amaira pingsan, dia sama sekali tak tahu tentang itu.
"Gue dan Ratna yang nolongin. Setelah sadar, dia minta dianterin pulang. Busyet Bro, rumahnya mewah banget. Real anak sultan. Sumpah, lo beruntung banget dapat dia. Dah gitu dia royal kan anaknya. Gue lihat sendiri dia ngasih kartu banyak ke elo."
Sumpah, Al malu sekali karena Doni melihat kejadian itu.
"Gue pulang dulu ya." Alan memilih pulang karena malas membahas Amaira.
Sesampainya diluar cafe, Alan melihat mobil Amaira. Sebenarnya dia malas mau bertemu, tapi karena Amaira berdiri didekat motornya, dia terpaksa menemui Amaira.
"Al." Sapa Amaira dengan senyum termanisnya.
"Ngapain lo kesini? Gue udah bilang gak usah nemuin gue lagi." Tanya Al dengan nada ketus. Saat Alan mengambil helmnya, dia merasa ada yang beda. Alan memperhatikan helm yang dia pegang. Ya, helm itu bukan miliknya, warnanya memang sama sama hitam dan mereknya juga sama. Tapi ini baru, bukan helmnya yang pecah karena dibanting Amaira kemarin.
"Maaf kemarin udah pecahan helm kamu. Jadi aku ganti yang baru."
"Ambil lagi, gue gak butuh." Alan menyodorkan helm itu pada Amaira. "Gue bisa beli sendiri."
"Aku mohon, maafin aku Al." Amaira memeluk Alan sambil menangis.
"Apa apaan sih." Alan berusaha melepaskan pelukan Amaira. Dia malu jika sampai ada yang melihat. "Jangan kayak gini, lepasin gue." Bukannya melepaskan, Amaira makin mengeratkan pelukannya.
"Lepas." Alan sangat kesal. Dia berusaha untuk melepaskan pelukan Amaira dengan paksa, hingga gadis itu terjatuh.
"Aww.. " Pekik Amaira sambil memegang sikunya yang lecet karena tergores paving. Alan yang tak tega mengulurkan tangannya untuk membantu Amaira berdiri.
Bukannya menyambut tangan Alan, gadis itu malah tertunduk sambil memegangi kepalanya yag sakit.
"Ra, lo gak papa kan? Sory gue gak sengaja. Gue gak niat ngedorong lo." Alan merasa berslaah. Dia berjongkok didepan Amaira dan melihat wajah gadis itu.
"Lo kenapa Ra, muka lo pucet banget." Al mendadak khawatir melihat Amaira yang terlihat lemas dan pucat.
"Bantu gue ke mobil Al kepala gue sakit," lirih gadis itu sambil terus memegangi kepalanya.
Alan segera membopong Amaira hingga ke mobilnya. Setelah memastikan Amaira duduk dengan nyaman, Al berputar dan ikut masuk kedalam mobil.
"Elo gak papa kan Ra? Doni bilang kemarin lo juga pingsan. Lo sakit ya? Apa perlu gue anter ke rumah sakit?"
Amaira menggeleng. "Aku gak papa Al, cuma pusing karena belum makan." Amaira mengambil botol yang berisi obat didalam tasnya lalu meminumnya.
"Lo minum obat apa Ra?"
"Bukan obat, cuma vitamin biar gue seger lagi."
"Ya udah, gue anter pulang ya."
"Gak mau." Amaira menggeleng perlahan. "Gue pengen nonton, hari ini ada film bagus. Temenin gue nonton ya?"
"Tapi lo sakit."
"Habis minum vitamin pasti badan gue seger lagi. Please, kita nonton yuk?"
"Ya udah, tapi aku obatin siku kamu dulu.Terus aku temenin kamu makan, gimana?"
"Hem." Amaira mengangguk dan tersenyum senang.
Sesampainya di mall, Al menemani Amaira makan terlebih dulu. Dan benar saja, setelah minum vitamin tadi, kondisi Amaira terlihat lebih baik. Dia kembali terlihat segar dan ceria.
Setelah makan, mereka langsung naik ke lantai 4 menuju studio bioskop.
"Elo duduk sini dulu Ra, gue mau ketoilet bentar."
"Ok, kalau gitu gue beli tiket ama popcorn dulu ya."
Amaira terlihat sangat bersemangat, dia tak henti henti tersenyum karena Alan sudah memaafkannya. Dan itu artinya mereka tak jadi putus.
Saat mengantri membeli popcorn, Amaira melihat wanita yang ada foto bersama Alan waktu itu. Dia sangat geram karena wanita itu yang dulu bersama kakaknya di restoran. Dan sekarang, wanita itu terlihat menggandeng tangan pria lain.
Wanita yang dilihat Amaira itu tidak lain adalah Rain yang baru keluar dari studio bioskop bersama Sean.
"Dasar pelakor, wanita murahan." Maki Amaira sambil menjambak rambut Rain.