Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
JANGAN PERGI


Sepulang dari rumah orang tuanya, Sean mampir ke sebuah restoran nasi Padang. Rain sangat suka rendang di restoran itu, dan Sean berniat membelikannya untuk makan siang.


Saat ingin melangkah masuk, dia melihat sebuah kedai cake yang bersebelahan dengan restoran itu. Sean berganti arah dan menuju kedai cake tersebut untuk sekedar melihat lihat.


Tatapan Sean terpaku pada sebuah birthday cake berbentuk bulat berukuran kecil. Cake simpel dengan hiasan coklat dan cerry.


"Apa Rain ingat kalau besok ulang tahun gue?" Gumam Sean pelan. Sean tersenyum simpul lalu bermonolog.


"Kayaknya dia gak bakal inget. Dia sedang sedih sekarang, dan gue harus bisa menerima itu." Sean berusaha menata hatinya jika memang nantinya Rain tak ingat ulang tahunnya.


Sean kembali ke tujuan awalnya yaitu restoran Padang. Setelah membeli apa yang dia mau, dia segera menuju rumah sakit.


Sean berjalan pelan sambil menenteng kantong plastik berisi nasi padang. Mendekati ruang rawat Rain, Sean terkejut melihat beberapa suster dan dokter berlari masuk keruangan Rain.


Sean merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia segera berlari dan membuka pintu ruangan Rain.


"Tolong tunggu diluar dulu Pak." Perintah seorang suster yang terlihat panik.


Sean makin bingung, dia tak tahu apa yang terjadi pada Rain hingga dia tak Ijinkan masuk. Tapi yang membuatnya syok, dia melihat darah dilantai sebelah brankar Rain. Dan darah yang dia lihat lumayan banyak.


"Ada apa ini?" Gumam Sean sambil merapatkan tubuhnya pada dinding luar kamar Rain. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Walaupun tak tahu pasti, tapi dia yakin jika sesuatu yang buruk menimpa Rain.


"Apa yang terjadi pada istri saya sus?" Tanya Sean pada seorang suster yang baru keluar.


"Istri anda melakukan percobaan bunuh diri."


Deg


Sean merasa jantungnya seperti berhenti berdetak. Tubuhnya terasa lemas hingga tanpa sadar kantong plastik yang dia bawa terjatuh.


"Saya permisi dulu, saya harus segera mendapatkan darah untuk istri anda karena dia kehilangan banyak sekali darah." Suster itu segera berlari meninggalkan Sean yang masih mematung.


Bruk


Sean menjatuhkan tubuhnya kelantai karena kakinya sudah sangat lemas. Dadanya terasa sesak seperti dihimpit sesuatu yang besar. Nafasnya tersengal sengal seakan tak ada oksigen disekitarnya. Air matanya menetes dan tubuhnya bergetar hebat.


"Jangan pergi Rain, please jangan tinggalin gue."


"Bolehkah ulang tahun gue dimajukan hari ini? gue ingin buat permohonan."


"Tuhan, tolong jangan ambil Rain dariku. Jangan, aku mohon jangan. Engkau boleh mengambil apapun dariku, tapi aku mohon jangan Rain."


Sean melihat suster yang tadi kembali masuk sambil membawa sekantong darah. Dia makin frustasi, sepertinya keadaan Rain sangat buruk.


"Bertahan Rain, bertahan. Apa kamu gak ingin ngucapin selamat ulang tahun ke gue?"


"Lo gak boleh pergi Rain, gak boleh. Elo udah janji bakal ngasih gue 4 anak. Elo gak boleh ngelanggar janji, gak boleh Rain."


Sean duduk dilantai sambil memeluk kedua kalinya yang tertekuk. Dia menunduk sambil terus menangis.


"Apa terjadi sesuatu pada mbak Rain?"


Sean mendongak saat mendengar suara orang yang dia kenal. Ya Alan tengah berdiri didepannya saat ini.


Sean mengumpulkan kembali kekuatannya dan perlahan lahan mulai bangkit.


BUGH


Sean melayangkan tinjunya diwajah Alan.


"Kemana aja lo? Bukankah gue bilang jaga kakak lo. Jangan pernah ninggalin dia sendirian." Bentak Sean dengan suara tertahan karena tak ingin membuat keributan.


"A.. apa yang terjadi pada mbak Rain?" Raut wajah Alan seketika berubah cemas.


"Buat apa lo nanya? Emang lo peduli sama kakak lo? Kalau lo peduli, harusnya lo jagain dia, bukannya ninggalin."


"Apa yang terjadi sama mbak Rain?" Alan kembali bertanya karena Sean tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Kemana Lo kemarin? Kenapa kakak lo sampai berlari keluar kamar dan menabrak brankar sampai keguguran? Gue yakin kejadian itu ada sangkut pautnya sama lo." Tanya Sean sambil mencengkeram kerah kaos Alan.


BUGH BUGH BUGH


"Jadi benar semua ini gara gara lo SiAlan. Gara gara lo anak gue meninggal. Gara gara lo SiAlan."


Sean terus menghajar Alan. Beruntung Rain dirawat di bangsal VVIP jadi sepi. Kejadian itu tidak mengundang perhatian orang.


"Sean, Sean berhenti." Dino yang baru datang langsung menahan Sean agar berhenti memukuli Alan. "Gila lo, dia adiknya Rain. Kesurupan setan rumah sakit lo?"


Sean mengalihkan pandangannya pada seorang wanita yang baru datang bersama Dino. Ya, wanita itu adalah Maya.


"Lo Maya kan?" Tanya Sean dengan tatapan setajam samurai yang mampu membelah Maya. Tangannya masih mengepal dan nafasnya naik turun.


Maya mengangguk dengan tubuh gemetaran karena takut melihat sorot mata Sean.


Sean mendorong Maya hingga tubuh wanita itu membentur tembok. "Mati lo, Bangsat." Sean mencekik Maya hingga wanita itu megap megap kehabisan nafas.


"Sean lepas Sean, lepas." Dino dan Alan berusaha melepaskan tangan Sean yang berada dileher Maya.


"Dia bisa mati kalau lo cekik kayak gini." Dino berusaha menyadarkan Sean yang terlihat seperti orang kerasukan.


Bukannya mendengarkan Dino, Sean malah menguatkan cekikannya.


BUGH


Dino terpaksa memukul wajah Sean agar dia melepaskan Maya yang terlihat sudah sekarat.


"Huk huk huk." Maya terbatuk batuk dan mulai bernafas saat Sean melepaskan cekikannya. Wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya bergetar hebat karena takut.


"Lo kerasukan apa sih Sean. Kenapa tadi lo mukulin Alan, terus sekarang lebih parah lagi. Maya bisa mati kalau lo cekik kayak gitu."


"Gue memang pengen dia mati." sahut Sean sambil mengeratkan kepalan tangannya.


"Sadar Sean, sadar. Lo bisa masuk penjara. Semua bisa diomongin baik baik."


"Apa lo bilang, baik baik hah?" Tanya Sean sambil mencengkeram kerah kemeja Dino.


"Istri gue sedang sekarat, dia sedang kritis dan lo bilang gue harus ngomong baik baik?" Sean melepaskan cengkeramannya di baju Dino lalau mendorong pria itu hingga hampir terjatuh.


"Apa maksud kakak, apa yang terjadi sama mbak Rain?".Tanya Alan cemas.


"Rain bunuh diri, puas kalian semua." Teriak Sean.


Alan seketika terduduk lemas, begitu juga dengan Maya. Dino menggeleng gelengkan kepalanya, dia seakan masih belum bisa percaya jika Rain bunuh diri.


ARGHH


Sean memukul tembok dengan sangat kuat hingga punggung tangannya berdarah untuk melampiaskan kemarahannya.


"Tolong jangan gaduh disini, ini rumah sakit." Seorang suster yang berada didalam ruangan Rain keluar untuk memperingati mereka.


Sean berjalan mendekati Maya yang bersimpuh dilantai.


"Apa sih salah Rain ke elo? Ngomong May, ngomong? Bilang ke gue apa salah Rain ke elo hingga lo tega memfitnah dia. Lo tahu gak, satu satu orang yang dianggap Rain sahabat hanya elo." Tanya Sean sambil berjongkok didepan Maya.


"Maaf, " lirih Maya.


"Apa lo bilang, maaf? Apa lo pikir kata maaf bisa mengembalikan semuanya? Apa lo pikir anak gue gak jadi meninggal kalau lo minta maaf? Apa lo pikir Rain langsung bahagia dan lupa segala masalahnya hanya dengan kata maaf lo?"


"Maaf."


BUGH


Sean memukul tembok tepat disebelah wajah Maya hingga wanita itu memejamkan matanya dan tremor.


"Berhenti bilang maaf karena gue gak bakal maafin lo selamanya. Kalau sampai terjadi apa apa sama Rain. Gue pastiin lo orang pertama yang bakal nyusul dia." Ancam Sean dengan mata melotot dan nafas menderu.


"Lo nyadar gak, jika Rain ada diposisi ini juga atas andil lo. Sahabat macam apa sih lo? Kalau ada orang yang harus disalahkan atas rusaknya Rain, orang itu adalah lo."