
"Rain kepala gue pusing, pijetin ya." Pinta Sean sambil memijit mijit keningnya yang terasa pusing.
Rain ingin sekali rasanya memukul kepala Sean biar sadar dikit. Bisa bisanya dia minta dipijitin setelah mabuk dan enak enak sama perempuan diluar sana.
Saking keselnya Rain tak berkata apa apa dan segera masuk kamar. Sean langsung mengekor di belakangnya. Dia pikir Rain masuk kamar mau mijitin dia, tapi kenyataannya sungguhlah tidak. Rain masuk kamar untuk mengambil ponsel dan tasnya.
"Mau kemana?"
"Keluar."
"Iya, aku tahu kamu mau keluar. Tapi kemana maksud aku?" Tanya Sean sambil menahan lengan Rain.
"Dih, emak sama anak kok bisa mirip gini ya omongannya," batin Rain.
"Bukan urusan kamu." Rain berusaha menghempaskan tangan Sean.
"Kamu kenapa sih kok tiba tiba marah gini? mama bikin kamu kesel? Emangnya mama bikin ulah apa? Kalau mama yang bikin kesel, jangan dilampiaskan ke aku dong." protes Sean.
Rain makin dongkol, ternyata pria didepannya itu masih saja tak paham apa salahnya.
"Aku mau keluar, tolong lepasin tangan kamu?"
"Mau kemana, aku antar?"
"Hah, apa? apa gak salah. Kamu lagi mabok, trus kamu bilang mau nganter aku?" Rain tersenyum sinis. "Aku masih belum mau mati." Dia menekankan kata kata itu tepat didepan wajah Sean.
"Aku juga belum mau mati kali. Aku kan belum pernah nafkahin kamu. Ntar aku ditanyain sama malaikat Jibril mesti jawab apa?"
"Ngapain bawa bawa malaikat Jibril? Yang tugasnya nanyain kamu di alam kubur itu malaikat munkar nakir." Rain nyengir karena pelajaran dasar macam itu saja Sean tak tahu.
"Gitu ya? maklumin dikit napa. Itu pelajaran SD aku udah lupa."
"Kalau nyadar belum nafkahin, kenapa gak buruan ngasih. Takutnya udah ditungguin malaikat Izrail."
"Kamu ngedoain aku biar cepet mati?"
"Jadi masih inget tugasnya malaikat Izrail? kirain gak inget juga," ledek Rain.
"Yang itu sih inget banget. Makanya Yuk buruan." Sean mengambil tas Rain dan melemparkannya ke atas ranjang.
"Buruan kemana?" Rain terlihat bingung.
"Buruan ke kasur lah, kan tadi katanya minta dinafkahin."
Astaga, dasar otak mesum. Yang dia ingat cuma nafkah itu doang. Nafkah lahir gak inget sama sekali. Ada ya orang kayak gini. Pengen banget buka kepalanya trus lihat isi otaknya. Mungkin cuma adegan dewasa yang ada diotaknya, gerutu Rain dalam hati.
"Tunggu apa lagi? katanya minta dinafkahin?" Sean menarik tangan Rain menuju ranjang, tapi Rain buru buru menghempaskannya.
"Orang macam apa sih kamu ini Sean? Yang ada diotak kamu cuman nafkah batin doang, nafkah lahir gak inget sama sekali," tegur Rain.
Rain geleng geleng kepala mendengar jawaban Sean yang enteng itu.
"Aku lagi gak pengen lihat kamu geleng geleng. Aku maunya kamu menggut menggut. Mumpung masih siang, enakkan bisa lama sampai Malem."
Rain sampai kehabisan kata kata untuk menjawab Sean. Manusia pandai debat itu memang susah sekali dikalahkan. Dia selalu bisa mencari jawaban disaat apapun.
"Udah ah aku mau keluar." Rain mengambil tasnya kembali.
"Terus gimana urusan nafkah?"
Sean terus berusaha menghalangi Rain yang mau keluar. Dia tak putus asa demi memberi nafkah untuk Rain.
"Jadi masih kurang ceritanya?"
"Apanya yang kurang? orang belum sama sekali."
"Kan kamu baru aja nafkahin perempuan lain?"
"Siapa? istri aku kan cuma kamu." Sean tak paham dengan perkataan Rain. "Sumpah aku gak ngeduain kamu. Aku gak ada niatan buat poligami."
Tuh kan ngelantur lagi jawabannya. Sumpah, bisa bisa aku darah tinggi terus kena stroke kalau lama lama sama Sean, batin Rain.
"Udah minggir, aku mau keluar." Rain berusaha mendorong Sean yang terus menghalangi jalannya.
"Ok, kamu boleh keluar. Tapi bilang dulu mau kemana dan sama siapa?"
"Hahaha.... apa aku gak salah denger? nggak usah ngurusin urusan aku. Lagian aku juga gak peduli kok sama urusan kamu. Jadi kamu juga gak usah peduliin aku mau kemana sama siapa."
"Tapi aku suami kamu, aku berhak tahu kamu kemana sama siapa? Hargai aku dong."
"Minta dihargai berapa? seribu apa dia ribu?"
Rain menggunakan kata kata yang biasanya dipakai Sean. Menikah dengan Sean membuatnya sedikit banyak tertular kebiasaan Sean.
"Kalau kamu boleh ngelakuin apapun, kenapa aku tidak? Kamu bebas mau mabuk dan seneng seneng sama wanita panggilan. Kenapa aku gak boleh seneng seneng? Menjijikkan sekali, pagi pagi udah enak enak." Rain memutar bola matanya.
"Kamu ngomong apa sih. Jangan bilang kamu mikir aku habis main sama wanita panggilan? Jadi yang kamu bilang aku habis nafkahin perempuan lain, maksudnya itu?" Sean baru ngeh maksud kata kata Rain tadi.
"Emang gitu kan kenyataan. Bukankah itu hobi kamu, mabuk ditemani wanita cantik yang bisa diajak enak enak."
"Astaga Rain, kamu kejauhan mikirnya. Aku cuma minum dikit aja tadi. Lihat aku, aku gak mabuk, aku masih waras. Dan kami cuma minum doang, gak kayak yang kamu tuduhin. Aku udah gak minat sama yang begituan. Aku udah punya kamu. Kalau dirumah ada yang bisa bikin enak. Ngapain aku cari enak diluar."
"Ya karena aku belum ngasih, makanya kamu kayak gitu." Rain ngegas..
"Ya makanya buruan kasih." Sean ikutan ngegas.
Ternyata nyadar juga dia. Kalau aku nyari diluar marah marah. Tapi dianya gak mau ngasih. Apa sih maunya nih anak. Untung aja aku bucin ama dia. Kalau gak, udah aku karungin dan lempar ke samudera pasifik.