
Rain masuk kedalam ruangan Sean sambil membawa nampan berisi dua botol air mineral. Dia melihat Sean dan Ghea sedang mengobrol disofa terpisah. Dengan melebarkan senyum terpaksanya, dia meletakkan air mineral kedepan Sean dan juga Ghea.
Ghea tersenyum sinis pada Rain saat tak sengaja mata mereka beradu.
"Rain, bisa tolong ambilkan berkas di map warna biru yang ada dimeja saya," titah Sean.
"Baik Pak." Rain segera menuju meja Sean dan mencari berkas yang dimaksud. Dari meja Sean, dia mengamati kedua orang itu. Dari gerak geriknya nampak jika Ghea sedang menebar pesonanya pada Sean.
Rain membulatkan matanya saat melihat Ghea berpindah tempat duduk dari sofa single ke sofa panjang yang diduduki Sean dengan dalih menunjukkan file yang ada di laptopnya.
"Murahan sekali." Lirih Rain tanpa terdengar oleh kedua orang itu.
Sean melirik ke arah Rain saat Ghea dengan sengaja memepetnya. Dia bisa melihat wajah Rain yang berubah masam.
"Ibu Ghea, apa anda sudah menikah?" Sean yang sedang kesal pada Rain ingin sekali membuat wanita itu merasa cemburu.
"Belum."
"Benarkah? Pasti banyak sekali pria yang mengantri untuk ibu. Secara ibu sangat cantik, seksi, dan sukses dalam karier." Pujian Sean sontak membuat Ghea besar kepala. Dia seakan mendapat lampu hijau untuk mendekati Sean.
"Cih menjijikkan, berani sekali dia menggoda wanita lain didepanku." Gumam Rain dalam hati.
"Pak Sean terlalu memuji. Justru saya rasa Pak Sean yang banyak digilai para wanita. Bapak sangat tampan dan sukses. Wanita mana yang tidak mau dengan bapak." Ghea balik memuji Sean.
"Tapi kenyataannya tak seperti itu. Wajah tampan serta uang banyak tak membuat kisah cinta saya berjalan mulus. Wanita yang saya cintai tak mencintai saya."
"Benarkah? Bodoh sekali wanita itu."
Rain menggentakkan kakinya ke lantai, dia tak terima dikatakan bodoh oleh Ghea. Padahal sudah jelas sejak sekolah dia selalu mendapat rangking diatas Ghea.
Sean puas sekali melihat ekspresi kesal Rain. Rasanya ia ingin melakukan lebih untuk membuat Rain cemburu.
"Sepertinya ada kotoran dirambut anda, bolehkah saya tolong ambilkan?"
"Tentu saja." Ghea malah kegirangan. Dia mendekatkan kepalanya ke arah Sean.
Sean menyentuh rambut Ghea. Dia berpura pura mengambil sesuatu dari sana. Padahal tidak ada apa apa dirambut itu.
"Rambut anda sagat halus dan wangi. Anda pasti merawatnya dengan baik."
"Tidak hanya rambut itu saja. Seluruh rambut di tubuh saya juga wangi. Saya merawatnya dengan sangat baik." Ucap Ghea dengan sedikit berbisik agar tak terdengar oleh Rain.
Sean terkejut dengan ucapan Ghea yang dinilainya terlalu berani itu. Sepertinya dia salah sasaran. Dirinya justru kelimpungan menghadapi sikap Ghea yang agresif.
Ghea makin menempel pada Sean dan mulai meletakkan tangannya diatas paha pria itu. Tak hanya meletakkan dia bahkan mulai mengelus paha Sean.
"Ini berkas yang anda minta." Rain meletakkan dengan kasar map berwarna kuning ke atas meja.
"Apa kau tak dengar? yang Pak Sean minta map warna biru, kenapa kau membawa map kuning? Apa kau buta warna Hah?" Ghea sengaja memarahi Rain.
Melihat Rain yang nampak begitu marah, Sean cepat cepat menyingkirkan tangan Ghea dari pahanya.
"Ada lagi yang bisa saya bantu Pak?" Rain malas sekali menanggapi Ghea.
"Tidak ada, keluarlah." Jawab Sean tanpa melihat sedikitpun ke arah Rain. Pria itu seakan takut melihat kemarahan Rain, padahal tujuannya tadi adalah itu.
Setelah Rain keluar, Sean segera menjaga jarak dengan Ghea. Dia berusaha untuk profesional walaupun berkali kali Ghea mencoba menggodanya.
"Saya mau melanjutkan meeting diluar bersama Ibu Ghea." Ucap Sean pada Rain yang berada dimeja kerjanya.
"Aku Ikut." Rain buru buru mengambil ponsel dan tasnya. Sean senang sekali karena sebelum dia mengajak, Rain sudah ada inisiatif untuk ikut.
"Sepertinya Pak Sean tidak butuh sekretaris. Kami hanya ingin makan bersama sambil membicarakan tander." Ghea sudah merencanakan untuk mendekati Sean, jadi dia tak ingin Rain ikut.
"Tidak apa apa Bu, sepertinya sekretaris saya juga sedang lapar." Sean memang berniat mengajak Rain. Dia tak mau makan berdua dengan Ghea.
Rain memutar bola matanya, dia tahu ini akal akalan Ghea yang ingin mendekati Sean. "Aku ikut." Ucap Rain sambil mendekati Sean dan melingkarkan tangannya di lengan suaminya. Dia tak ingin diam saja saat suaminya digoda wanita lain apalagi seorang Ghea yang sangat menyebalkan itu.
Ghea memelototkan matanya melihat Rain melingkarkan tangannya pada lengan Sean.
"Astaga, sepertinya anda salah pilih sekretaris. Bisa bisanya dia bersikap tak sopan seperti itu pada atasannya." Seru Ghea.
"Mananya yang tak sopan? Apa menurut anda sopan meraba raba paha rekan bisnis anda? Pakai menaikkan rok anda segala agar paha anda makin terekspos, menjijikkan." Sinis Rain. Dia seakan ingin membalas semua hinaan Ghea padanya.
"Cih, memalukan sekali. Sudah punya suami masih saja menggoda bos nya." Kedua wanita itu kian memanas.
Sean tak paham dengan pembicaraan mereka berdua. Dia sama sekali tak tahu kalau Rain mengenal Ghea.
"Wanita ini sudah menikah pak." Ghea menunjuk jari kearah Rain. "Bapak jangan tergoda dengan wajah cantiknya. Dasar wanita murahan," maki Ghea.
"Apa maksud anda bicara seperti itu pada istri saya?" Sean tak terima dengan perkataan Ghea.
"Is, istri?" Ghea ingin meyakinkan dirinya jika tak salah dengar.
"Benar, Pak Sean adalah suami saya." Jawab Rain sambil mengeratkan pelukannya pada lengan Sean.
Ghea melongo, dia seperti belum bisa percaya dengan apa yang dia dengar. Dia seperti terkena pukulan telak yang membuatnya tak mampu berkata kata.
"Menurut saya anda yang tidak sopan disini. Anda sudah menghina istri saya dikantor saya sendiri. Sepertinya saya harus meninjau ulang tentang rencana kerjasama kita."
"Sekarang anda tahukan siapa yang tak sopan disini? Apa tidak sopan jika saya memegang lengan suami saya sendiri?" Rain puas sekali karena berhasil membuat Ghea bungkam.
"Special untuk hari ini, saya Ijinkan anda melihat wajah suami saya dengan seksama. Perhatikan dengan jelas apakah dia sudah tua dan bau tanah atau masih muda dan bau uang?"
"Apa maksud kamu?" Sean tak paham.
"Dia bilang suamiku sudah bau tanah."
"Benarkah itu Bu Ghea?"
"Ti, tidak pak. Ini hanya salah paham." Ghea makin gugup.
"Sepertinya saya tak perlu meninjau ulang, saya akan langsung membatalkan rencana kerjasama kita."
"Tapi Pak."
"Tidak ada tapi tapian, keputusan saya sudah bulat. Lebih anda pergi dari kantor saya."
"Tunggu sebentar." Rain menarik tangan Ghea yang ingin pergi. "Apa kau tak ingin mengambil foto dengan kita berdua? Sebaiknya kau foto dengan kami lalu share di grup chat, biar semua orang tahu kabar tentangku yang sudah menikah dengan pria tampan dan kaya. Bukankah kalian selalu ingin tahu tentangku? Atau jangan jangan kalian hanya ingin tahu kabar buruk saja, tanpa mau tau kabar baik tenntangku?"
"Permisi." Ghea menghempaskan tangan Rain dan buru buru pergi.