
flashback
Adrian memanggil Gaza keruang kerjanya. Dia ingin bicara serius berdua dengan putranya itu.
"Apa kau tahu ini?" Adrian menunjukkan foto Rain tidur bersama Sean yang ada diponselnya.
Gaza mengangguk, dia tidak menyangka jika papanya juga tahu tentang itu.
"Apa mama tahu?"
"Hem." Adrian menghela nafas berat. Kenyataan ini sungguh mempengaruhi penilaiannya tentang Rain. Gadis cantik dan sopan, imej itu mendadak hilang dari Rain.
"Bukan hanya mamamu dan papa yang tahu, tapi semua orang dikomplek ini." Gaza terkejut mendengarnya. Saat ini yang dia pikirkan adalah Rain. Wanita itu pasti malu saat aibnya diketahui banyak orang.
"Mamamu mendapat foto ini dari Dini. Kau tahu siapa dia? Dia tetangga kita yang bekerja ditempat yang sama dengan Rain. Dini memberitahu tentang ini pada mamanya. Dan mamanya sudah menggemparkan berita ini diseluruh komplek."
Semua orang dikomplek itu memang mengetahui siapa Rain. Dulu mereka semua diundang diacara pertunangan Gaza dan Rain yang diadakan besar besaran di sebuah hotel.
Semua itu kerena permintaan Salma. Dia memaksa mengadakan pesta besar saat pertunangan Gaza dan Rain.
"Papa tak mempermasalahkan tentang status Pak teguh yang seorang napi. Tapi mengenai foto ini, papa tidak bisa terima. Keluarga kita akan menjadi bahan olokan satu komplek jika kau menikah dengan Rain. Belum lagi jika keluarga kita ada yang tahu soal ini. Mau ditaruh dimana muka papa. Mereka pasti menertawakan keluarga kita yang memiliki menantu wanita gak bener."
Gaza bisa memahami perasaan papanya. Hal ini memang tak mudah, apalagi papanya adalah orang terpandang. Tidak hanya papa dan keluarganya, Rainpun pasti tak akan mudah menjalani hidup denganya. Rain akan selalu menanggung malu karena semua orang disekitarnya mengetahui tentang aibnya.
"Mungkin kau akan hidup tenang bersama Rain diluar negeri seperti rencanmu. Tapi keluarga kita akan menanggung malu disini. Papa mungkin bisa betah dirumah. Tapi mamamu, kau tahu kan kalau dia suka bersosialisasi. Dia tak mungkin betah selalu berada dirumah. Dan saat diluar, dia akan jadi bahan gunjingan karena memiliki menantu seperti Rain."
Gaza hanya diam mendengarkan semua perkataan papanya. Dia merasa dilema. Berat rasanya untuk berpisah dengan Rain. Tapi dia juga tidak bisa egois pada keluarganya.
"Aku yakin kau tahu apa yang terbaik Ga. Setiap laki laki pasti ingin menikah dengan wanita baik baik. Istri kita adalah orang yang akan melahirkan dan mendidik keturunan kita. Bagaimana bisa dia mendidik dengan baik kalau dirinya sendiri saja tidak baik."
Dalam hati Gaza membenarkan perkataan papanya. Alasan dia mencintai Rain adalah selain dia cantik, perilakunya juga bagus. Tapi sekarang dia seperti melihat sisi lain dari Rain. Wanita yang dia pikir baik baik itu ternyata tak sebaik dugaanya.
Melihat foto itu saja keluarganya sudah amat kecewa. Bagaimana kalau sampai mereka tahu jika Rain menjual diri. Pasti tak akan ada celah untuk Rain masuk kedalam keluarganya.
"Dan kau juga tak inginkan kalau anakmu nanti ikut menanggung malu kerena aib yang pernah dibuat orang tuanya. Terlalu banyak orang yang tahu tentang ini. Dan kelak, sedikit banyak pasti ada yang akan mengungkit peristiwa ini."
Mundur memang sulit, tapi maju sepertinya lebih sulit lagi.
...*******...
"Udah jangan ngejar Gaza. Apa kau tak tahu malu mengejar pria yang sudah mencampakkanmu.," bentak Sean sambil menarik tangan Rain agar tak mengejar Gaza.
"Lepas." Rain berusaha menghempaskan tangan Sean tapi tak bisa. "Semua ini gara gara kau Sean. Kau hanya sumber masalah dalam kehidupanku. Aku benci padamu."
Sean berusaha tetap sabar mendengar Rain memakainya.
"Ayo aku antar pulang." Sean menarik Rain masuk kedalam mobilnya. Baginya saat ini tak mungkin meninggalkan Rain sendirian.
Rain terus menangis didalam mobil sambil memaki maki Sean. Hatinya sangat hancur, pernikahan impiannya yang sudah didepan mata nyatanya hanya impian dan tak akan menjadi kenyataan.
"Udah jangan nangis terus, pusing aku dengernya."
Rain tak menghiraukan perkataan Sean sama sekali. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah Gaza dan pernikahannya yang dibatalkan.
"Handphone kamu bunyi tuh." Sean menepuk bahu Rain karena wanita terus menangis tanpa menghiraukan ponselnya yang terus berdering. "Angkat, berisik tahu."
"------"
"Apa! Baik saya akan segera kesana."
tut tut tut
Wajah Rain terlihat panik. Dia memegangi kepalanya yang terasa mau pecah.
"Ada apa?"
"Ayahku masuk rumah sakit, tolong antar aku kesana."
Beberapa menit kemudian mobil yang dikendarai Sean sampai disebuah rumah sakit umum. Rain bergegas menuju tempat rawat ayahnya.
Didepan pintu tampak seorang polisi yang sedang berjaga. Setelah meminta ijin, Rain masuk menemui ayahnya.
Rain tak tega melihat tubuh ringkih ayahnya terbaring diatas brankar rumah sakit.
"Ayah." Sapa Rain lembut saat berada didekat ayahnya. Teguh membuka matanya saat mendengar suara Rain. "Ayah baik baik saja kan?" Tadi sipir menelepon Rain dan mengatakan bahwa Teguh mengalami serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit.
Teguh menitikkan air mata melihat putri kesayangannya. Sesaat mulutnya kaku, tak mampu untuk berkata kata.
Rain makin cemas melihat ayahnya menangis. Tubuh ringkih itu terlihat seperti menyimpan kesedihan yang besar. Rain tak kuasa melihat ayahnya menangis, perlahan air matanya ikut menetes.
"Tinggalkan Gaza nak."
Deg
Rain makin bingung mendengar ucapan ayahnya. Apa maksud ucapan itu. Padahal jelas jelas beberapa hari yang lalu saat Rain dan Gaza datang berkunjung, Teguh terlihat sangat bahagia. Teguh juga merestui saat Gaza meminta ijin untuk menikahi Rain bulan depan.
"Jangan pikirkan itu ayah. Pikirkan saja kesehatan ayah."
Teguh menggeleng, mana mungkin dia tak memikirkan masalah anaknya. Bagi Teguh, anak anaknya adalah segalanya.
"Tinggalkan Gaza, kau tak pantas untuknya. Ayah sudah tahu semua." Ternyata tadi siang Salma menemui Teguh dipenjara. Dia menunjukkan foto Rain tidur bersama seorang pria.
Rain makin terisak mendengar jika ayahnya mengetahui semuanya. Bisa dibayangkan jika pria tua itu pasti hancur hatinya.
"Gaza berhak mendapatkan wanita yang lebih baik darimu. Ayah kecewa padamu Rain. Kau putri ayah yang sangat ayah bangggakan. Tapi kenapa kelakuanmu diluar batas."
"Maafkan Rain ayah." Rain menangis sambil mencium tangan ayahnya berkali kali.
"Ayah mati matian menyelamatkan kehormatanmu tapi kenapa kau melakukan ini? Apa alasannya Rain? Ayah tahu kau pasti punya alasan. Ayah mengenalmu nak."
Rain tak mampu menjawab. Dia tak mungkin bilang jika alasannya adalah uang. Ayahnya pasti merasa bersalah jika tahu alasannya untuk biaya pengobatan Alan dan biaya pengacara ayahnya.
"Maafkan Rain ayah, Rain sudah mengecewakan ayah."
"Kenapa kau melakukan ini nak?"
"Karena kami saling mencintai." Sean tiba tiba mengatakan hal itu. Rain dan ayahnya sontak langsung menoleh ke arah Sean. Merka berdua terlalu terbawa suasana hingga tak menyadari kapan Sean masuk.