
POV SEAN
"Bagaimana Pak?"
"Pak." Aku tersentak saat Danu menepuk bahuku pelan. Astaga, ternyata aku melamun sejak tadi. Memikirkan sedang apa istriku dirumah dan mengingat kembali momen momen panas kami tadi malam.
Aku sama sekali tak mendengarkan presentasi tentang rencana pembangunan resort di pulau lombok. Pesan rindu dari Rain sungguh membuatku galau. Aku sangat merindukannya saat ini. Seharusnya tadi aku mengajaknya ke kantor saja dan Menyuruhnya tidur diruanganku daripada aku rindu setengah mati seperti ini.
"Bagaimana pak, apa bapak setuju dengan gagasan saya tadi?" Tanya Raka, ketua tim yang baru aku bentuk untuk menangani pembangunan resort baru.
Aku menggaruk garuk tengkukku. Apa yang harus aku setujui, bahkan aku tak tahu apa gagasannya.
"Danu, bisakan kau ambil alih meetingnya?" Rasanya percuma kalau aku memimpin meeting ini. Tak akan ada ide cemerlang yang muncul jika otakku hanya memikirkan Rain.
"Tapi pak." Sepeetinya Danu keberatan, tapi aku sama sekali tak peduli.
"Aku ada urusan penting." Aku segera meninggalkan ruangan. Aku ingin segera pulang menemui istriku yang sedang menungguku dirumah.
Sebelumnya aku tak pernah sekacau ini saat bekerja. Namun entah kenapa, aku merasa jika Rain terus memanggilku dan memintaku untuk pulang. Sepertinya dia sangat merindukanku. Ya, Rainku sudah tergila gila padaku, aku bisa merasakannya.
Aku mengambil tas dan kunci mobil diruangan lalu bergegas pulang. Aku mampir disebuah toko bunga karena Rain memintaku membelikannya bunga mawar merah.
Kenapa dia minta mawar merah? dulu saat aku membelikannya bunga, dia bilang tak suka, dan katanya, aku hanya membuang buang uang saja.
Ada apa dengan Rainku? Apa dia ingin sesuatu yang romantis saat ini? Atau jangan jangan dia ingin menghias kamar kami seperti kamar pengantin? Astaga, rasanya aku akan benar benar gila kalau memang benar. Malam ini aku akan membuatnya tak tidur lagi jika memang dia menghias kamar kami dengan bunga mawar.
Darahku langsung berdesir hanya dengan membayangkan Rain berbaring diatas ranjang yang dipenuhi bunga mawar.
"Ini pak bunganya." Pegawai toko itu menyerahkan sebuket besar bunga mawar merah padaku. Aku memandangnya sekilas, bukankah Rain minta banyak, dan kurasa segini tak akan cukup untuk menghias kamar kami.
"Aku mau sebuket lagi, dengan jumlah yang banyak seperti ini." Ucapku pada pegawai itu.
"Baik Pak, tunggu sebentar."
"Jangan lama lama ya mbak." Aku tak ingin menunggu lama. Aku sudah tak sabar ingin pulang. Hari masih siang, dan aku tak sabar ingin segera malam.
Tak lama kemudian penjual bunga itu menyerahkan pesananku. Aku sengaja memberinya uang lebih karena aku sangat bahagia saat ini.
Aku masuk kedalam mobil dan meletakkan dua buket mawar itu dikursi sebelahku. Wanginya menyeruak ke seluruh mobilku.
Kamar kami nanti pasti sangat wangi, namun tentu saja tak akan mengalahkan wangi tubuh Rain. Wangi yang selalu membuatku mabuk kepayang.
Aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku ingin menyadarkan diriku sendiri agar tak terlena membayangkan Rain dan bisa fokus menyetir.
Aku membawa dua buket mawar menyusuri lobi apartemen. Aku tersenyum kepada semua orang yang tak sengaja berpapasan. Suasana hati yang indah membuatku ingin menyapa semua orang dan memberitahu mereka jika saat ini aku sedang bahagia. Aku sedang jatuh cinta lagi dan lagi pada istriku.
Jantungku tiba tiba berdegup kencang saat aku sudah berada dekat dengan apartemen. Aku seperti pemuda yang baru jatuh cinta dan akan segera bertemu dengan pujaan hatinya.
"Lepas, lepaskan aku, jangan lakukan ini padaku, hiks hiks hiks." Aku mendengar suara yang sungguh menyayat hati saat baru menginjakan kaki di unit apartemenku.
Buk
Aku melemparkan bunga mawar itu kesembarang arah saat melihat wanitaku dihimpit oleh tubuh seorang pria yang hanya memakai boxer.
Aku segera menarik tubuh bajingan itu dan melemparkannya hingga membentur meja. Betapa syoknya aku saat mengetahui siapa pria itu.
"Firman." Lirihku seakan tak percaya.
Aku melihat Rain menangis sesenggukan. Miris sekali keadaannya, tubuhnya hampir telanjang, wajahnya lebam dan rambutnya acak acakan.
Bibirnya bengkak, pasti bajingan itu sudah menciumnya dengan paksa. kulitnya yang putih, penuh dengan tanda merah. Dan bra yang menutupi dadanya sudah bergeser dari tempatnya dan menampakkan salah satu dadanya yang basah.
Bajingan itu pasti baru saja menikmati sesuatu yang sudah menjadi hak milikku itu.
Aku seperti orang yang kehilangan akal, aku gelap mata dan menghajarnya dengan membabi buta.
"Mati kau iblis, kau tak akan bisa bernafas lagi setelah ini." Teriakku sambil terus menghajarnya tanpa ampun.
"Dasar berengsek, bajingan, iblis." Aku terus mengumpatnya.
Kalau saja aku terlambat beberapa menit. Dia pasti sudah berhasil memasuki tubuh istriku. Dan aku bersumpah akan mengebirinya jika hal itu sampai terjadi.
"Ampun Sean ampun." Ucapnya dengan bibir gemetaran.
"Jangan pernah berharap aku akan mengampunimu. Karena aku akan menghajarmu sampai mati."
Tanganku rasanya sampai kebas kerena terus memukulinya. Keringatku terus membanjiri tubuhku yang panas. Bercak darah Firman sudah mengotori kemejaku.
Aku yang gelap mata melihat sebuah vas bunga besar disudut ruangan. Aku ingin sekali menghantam iblis itu agar langsung mati.
Aku mengambil vas bunga itu lalu mengangkatnya dan mengarahkan pada bajingan itu. Ya, tak berapa lama lagi dia akan mati. Dia harus membayar mahal perbuatannya yang ingin melecehkan wanitaku.
"Jangan....." Aku mendengar teriakan Rain sebelum aku benar benar memukulkan benda itu kekepala Firman.
PYARRRRR