
Sean menatap Rain yang sedang tertidur. Ada perasaan bersalah dihatinya karena sudah berlaku kasar pada Rain. Perlahan dia mengoles salep pada pipi Rain yang memar akibat tamparannya tadi.
Maafkan aku yang gak bisa menahan diri tadi. Aku harap setelah ini kau tak lagi melakukan hal yang membuatku hilang kendali, batin Sean.
Sean memutar otaknya untuk mencari ide meminta maaf. Setelah lama berbefikir, akhirnya dia mengambil ponselnya untuk memesan makanan. Dia ingin membuat acara makan malam romantis sebagai tanda permintaan maaf.
"Beb udah hampir magrib, bangun gih." Sean mengguncangkan tubuh Rain perlahan. "Bangun dulu, ntar malem tidur lagi."
Rain hanya melenguh, dia rasanya tak ingin bangun hingga besok pagi. Badannya masih sakit semua.
"Bangun bentar, mandi lepas itu makan."
Perlahan Rain membuka matanya. Sungguh menyebalkan, kenapa orang yang pertama kali aku lihat saat bangun tidur adalah dia. Andai aja Gaza, aku pasti lebih bahagia, batin Rain.
"Aku udah siapin air hangat untuk mandi. Aku antar ke kamar mandi ya?"
"Gak usah, aku bisa sendiri." Perlahan Rain mulai bangun.
"Ish, katanya sakit? udah gak usah nolak, aku anter." Sean segera memposisikan tangannya untuk menganggat tubuh Rain.
"Udah gak usah sok perhatian sama aku, aku bisa sendiri." Rain menghempaskan tangan Sean.
Sabar Sean sabar. Ngadepin bini ngambek emang susah, batin Sean.
Rain jalan pelan pelan sampai kamar mandi, setidaknya sekarang sudah tak sesakit tadi.
"Ngapain kamu mau ikut?" Rain memelototi Sean yang mau ikut masuk ke kamar mandi.
"Mau bantuin kamu, kali aja kamu butuh diambilin apa gitu? atau kamu butuh bantuan buat menggosok punggung? atau... "
"Gak perlu."
Brak
Rain menutup pintu dengan sangat kasar.
"Sumpah, kalau ngambek nyeremin banget. Ngalah ngalahin mak gue," gumam Sean.
Sean setia menunggu di sofa sambil bermain gadget. Dia membuka akun instagramnya dan menyadari kalau sudah lama tak upload foto. Kepikiran juga ingin foto dengan Rain dan menguploadnya di sosmed.
Mata Sean seketika beralih pada Rain saat melihat wanita itu keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk. Dia terlihat sedang menggosok gosok rambutnya yang basah.
Sean seakan melihat adegan slow mo saat Rain berjalan keluar kamar mandi. Wanita itu terlihat begitu cantik dan menggoda dengan handuk putih yang menutupi sebagian tubuhnya.
"Mau ku bantuin ngeringin gak?" Sean buru buru bangkit dari posisi rebahannya.
"Gak usah, kamu ngapain disini? udah keluar sana, aku mau ganti baju."
"Sini aku bantuin." Sean mendekati Rain dan merebut handuk kecil yang dipakainya untuk menggosok rambut.
"Apaan sih, aku bisa. sendiri kok."
"Udah buruan duduk." Sean mendorong pelan Rain hingga duduk dikursi meja rias. Kemudian dia berdiri dibelakangnya sambil menggosok pelan rambut Rain dengan handuk kecil.
"Aku ganti baju dulu." Rain ingin beranjak tapi Sean buru buru mendorong bahunya agar tetap duduk.
"Nanti aja kalau udah kering, ntar baju kamu basah."
Sean melanjutkan menggosok rambut Sean sambil matanya jelalatan. Dia menelan salivanya saat melihat belahan dada Rain yang sedikit terlihat.
"Ngeliatin apa kamu?" bentak Rain sambil menutupi dadanya. Dia nampak dari cermin saat Sean menatap dadanya tanpa kedip. "Dasar otak mesum, gak bisa ngeliat orang seksi dikit."
"Idih, bisa bikin ginian aja bangga." Rain menyebikkan bibirnya.
"Emangnya kamu bisa. Buruan gih buktikan." Sean mendekatkan lehernya ke wajah Rain.
"Apaan sih." Rain mendorong kepala Sean agar menjauh darinya. "Bangga itu kalau bisa bikinin istrinya rumah mewah tinggat 10. Ada kolam renangnya, ada lift nya."
"Ada Kebon bintangnya juga?" sindir Sean.
"Ada juga lebih baik. Ditambah lagi semua perabotnya terbuat dari emas."
"Kenapa gak sekalian minta seribu candi aja kayak Roro jonggrang?"
"Hish kau ini." Rain memelototi Sean.
"Sean... " panggil Rain.
"Apa? orang dibelakangnya masih aja dipanggil panggil."
"Sepertinya, rencana balas dendammu berjalan sangat lancar. Aku melihat sendiri Gaza hancur Sean. Tadi aku melihatnya menangis." Rain tiba tiba menjadi galau. Dia menitikkan air mata mengingat pertemuannya dengan Gaza tadi pagi.
Sean seketika berhenti menggosok rambut Rain.
"Besok Gaza akan ke London. Mungkin aku dan dia tak akan bisa bertemu lagi. Hatiku sakit melihatnya menangis. Apalagi yang menyebabkan dia menangis salah satunya adalah aku." Rain menyeka air matanya yang makin deras.
Hatiku juga sakit Rain melihat kamu menangisi pria lain, batin Sean.
"Aku dan Gaza sudah benar benar berakhir. Dan semua itu karena kau dan aku. Seperti ini kan ending yang kamu mau? Kau ingin melihat Gaza hancur? Selamat, keinginanmu sudah tercapai." Rain tersenyum ditengah tengah tangisnya.
"Apa kau membenciku karena menggunakanmu untuk membalas Gaza?"
Rain menggeleng "Aku yang paling bersalah disini. Kalau saja aku tak menjual diri, endingnya gak akan kaya gini. Jadi secara langsung atau tidak, akulah yang menyebabkan Gaza hancur."
"Apa kau masih marah karena foto itu?"
Lagi lagi Rain menggeleng "Kau hanya memanfaatkan keadaan Sean. Kembali lagi, semua itu salahku. Jika saja aku tak menjual diri, foto itu juga tidak mungkin ada."
"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri Rain."
"Tapi semua memang salahku Sean. Seharusnya aku berfikir dulu sebelum mengambil keputusan. Aku terlalu tergesa gesa waktu itu. Yang ada dikepalaku hanya ingin mendapatkan uang banyak secara instan."
"Sean...."
"Hem...."
"Karena tujuanmu sudah tercapai. Bisakah setelah Gaza pergi besok, kau menceraikanku?"
Jantung Sean seakan langsung berhenti berdetak mendengarnya. Dadanya terasa sesak, dan kakinya lemas seperti tak bertulang..
"Tolong jangan berkata seperti itu lagi."
"Tapi bukankah tujuanmu menikahiku hanya untuk balas dendam? Tujuanmu sudah tercapai Sean. Tak ada alasan lagi untuk kita tetap bersama. Kau bisa segera menjatuhkan talakmu setelah Gaza pergi ke London."
Bukan itu tujuanku menikahimu Rain. Aku sungguh mencintamu dan ingin membina rumah seutuhnya denganmu, gumam Sean dalam hati.
"Rambutmu sudah kering. Segera ganti baju. Aku menunggumu dimeja makan." Sean segera meninggalkan Rain. Dia tak ingin terus membahas Gaza ataupun perceraian. Hal itu hanya akan membuatnya merasa sesak.
Sean menatap meja makan yang sudah dia persiapkan untuk candle light dinner dengan Rain. Dia membuang bunga mawar yang dia letakkan dimeja. Dia juga menyingkirkan lilin lilin yang siap untuk dinyalakan.