
Pov Rain
Hari ini untuk pertama kalinya aku memasuki apartemen Sean. Apartment 1 lantai yang mewah tapi tak terlalu besar menurutku. Design interiornya sangat elegan.
"Kita hanya tinggal berdua disini. Tapi setiap 2 hari sekali biasanya ada asisten rumah tangga dari rumah mama yang datang untuk bersih bersih."
Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Ini kamar kita, kau bisa meletakkan bajumu di almari itu." Sean menunjuk sebuah almari yang ada disudut kamar. "Bajuku tak terlalu banyak, jadi lemari sebelah kanan masih kosong."
Aku membuka almari itu. Almari 4 pintu itu hanya setengahnya saja yang diisi baju baju Sean. Sepertinya dia beda dengan orang kaya lainnya yang biasanya punya ruangan khusus untuk menyimpan koleksi wardrobenya.
"Bajuku memang tak banyak. Rata rata hanya baju kerja dan harian saja. Lagipula aku pria, jadi tak butuh banyak koleksi baju. Kemanapun paling cuma pakai kemeja dan jas."
"Kalau kau lelah istirahatlah dulu. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan Danu." Sean duduk disofa kemudian membuka laptopnya.
Aku menyusun pakaianku didalam almari sambil sesekali melirik padanya. Rasanya masih aneh harus berada dalam satu kamar dengannya. Selesai menyusun baju serta barang lainnya, aku merasa bingung harus melakukan apa. Hubungan ini terlalu canggung menurutku.
Aku duduk diatas ranjang sambil memainkan ponsel. Sebenarnya tak ada yang penting, aku hanya sedang bermain game. Itupun Aku tak bisa konsentrasi.
Jujur saja aku merasa tak nyaman berada dalam satu kamar seperti ini bersama Sean. Bagaimana aku bisa istirahat jika aku merasa gerak gerikku terus diawasi. Rasanya aku tak bisa bernafas diruangan ini.
Sean memang terlihat seperti sedang bekerja. Matanya menatap laptop, dan beberapa kali dia mengobrol via telepon dengan Danu. Tapi sesekali matanya melirikku.
"Kenapa tak tidur? apa kau tak nyaman berada disini?"
Aku bingung harus menjawab. Sejujurnya aku memang tak nyaman. Tapi apakah aku harus berkata jujur?
Sean menutup laptopnya lalu berjalan kearahku. Jantungku tiba tiba saja berdetak sangat cepat. Aku meremat sprei saking gugupnya. Aku takut dia akan meminta haknya sebagai suami. Tidak, tidak, aku belum siap.
"Bagaimana kalau kita bersenang senang dulu." Ucapnya tepat didepan Wajahku. Wajah kami sangat dekat hingga aku bisa merasakan kehangatan nafasnya. Tubuhku merinding saat jari jari Sean menyentuh bibirku.
Tiba tiba bayangan Gaza muncul. Ya, seharusnya aku menikah dengan Gaza bukan dengan Sean. Aku merasa bersalah pada Gaza. Pernikahan kami batal sebab kebodohanku.
Cup
Aku bisa merasakan bibir Sean mulai menyentuh bibirku, ******* dan menyesap. Aku memejamkan mata, tapi bayangan Gaza justru makin memenuhi setiap sisi otakku.
Bayangan masa lalu saat aku berciuman dengan Gaza seperti terputar kembali. Rasanya sungguh lain, tak senikmat ciumanku dengan Gaza. Maafkan aku Tuhan, aku memikirkan pria lain saat bersama suamiku.
Aw aku terkejut saat Sean menggigit bibir bawahku. Ya, mungkin dia melakukannya karena merasa tak ada balasan dariku.
Aku ingin menyudahi ciuman itu tapi Sean menahan tengkukku hingga aku tak bisa menghindar. Sesak, rasanya aku tak bisa bernafas.
Aku segera mengambil oksigen saat Sean melepaskan pagutan bibirnya. Nafasku ngos ngosan, belum pernah aku ciuman selama ini sebelumnya.
Sean kembali menciumku sambil tangannya meremas bagian dadaku. Aku segera melepaskan pagutan bibirnya serta manyingkirkan tangannya agar menjauh dari dadaku. Jujur aku merasa risih.
Aku memang pernah melakukan ini dengan Sean. Tapi rasanya sangat beda. Dulu yang ada diotakku hanya uang, uang dan uang. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya dapat uang untuk biaya pengobatan Alan.
Tapi saat ini, yang ada diotakku hanya Gaza, Gaza dan Gaza. Semua itu terlalu berat. Aku terus teringat Gaza.
"A....aku ngantuk Sean. Nanti malam saja ya." Ucapku dengan suara tertata bata. Bagaimana aku bisa melakukanya dengan Sean jika otakku penuh dengan Gaza.
"Aku lelah Sean, aku ingin istirahat."
"Sekali saja, setelah itu kau bisa istirahat." Ucapnya sambil berusaha melepaskan bajuku. Aku menahan tangannya sambil menggeleng.
"Aku belum siap Sean, tolong jangan memaksaku." Tuturku dengan mengumpulkan segenap keberanian yang aku miliki.
"Apa! Aku tidak salah dengarkan? Kau bilang apa barusan, belum siap?" Sean mengacak acak rambutnya, sepertinya dia sangat kesal.
"Ini bukan yang pertama buat kita. Kita sudah pernah melakukannya Rain. Dan dulu kau siap siap saja. Kau tak menolak sama sekali." protes Sean.
Dulu bukannya aku tak menolak. Tapi lebih tepatnya terpaksa. Aku sudah terlanjur menandatangani surat perjanjian. Dan aku juga sangat butuh uang.
"Dulu saat aku bayar kau mau mau saja. Sekarang saat kau sudah menjadi istriku kau menolak. Sumpah, lucu sekali." Sean tersenyum sinis.
Ya, terdengar sangat lucu dan murahan. Aku bahkan malu sekali mendengarnya.
"Oh aku tahu, jangan jangan karena mahar yang aku berikan kurang. Baiklah kalau begitu, katakan saja kau mau berapa. Aku akan memberimu saat ini juga," bentak Sean sambil menatapku tajam.
Sungguh bukan karena itu aku menolaknya. Aku memang sedikit kecewa perihal mahar. Tapi aku tak mempermasalahkannya.
"Aku bukannya menolak Sean, aku hanya butuh waktu. Saat ini pikiranku masih kacau."
"Kacau kenapa? memikirkan Gaza? iya?"
Aku diam saja karena tak mungkin berkata iya. Sepertinya Sean bisa membaca pikiranku.
"Kenapa kau diam? apa perkataanku benar?"
aku tetap diam karena tak mau membuatnya makin marah.
"Shitt."
BRAKK
Sean keluar kamar lalu membanting pintu sekencang kencangnya. Aku sampai terlonjak karena kaget karenanya.
Aku menolak bukan karena aku tak mau melakukan kewajibanku. Tapi lebih kepada aku butuh waktu. Pernikahan ini terlalu mendadak. Terlalu tiba tiba bagiku menjadi istri seorang Ocean Kalandra.
Setidaknya buat aku memahami situasi ini terlebih dahulu. Buat aku memahami alasan kenapa kau mau menikahiku.
Aku memang tak bisa terus terusan menolak, tapi setidaknya tunggulah aku sampai bisa benar benar ikhlas menerima takdir ini.
Melupakan seseorang dan menggantikannya dengan yang baru tidaklah mudah. Apalagi aku dan Gaza sudah berhubungan selama 3tahun. Terlalu banyak kenangan manis diantara kami yang tidak mudah untuk dilupakan.
Sampai jam 9 malam Sean belum pulang. Aku mulai merasa cemas, aku takut terjadi sesuatu mengingat dia pergi dalam keadaan emosi.
Berkali kali aku menghubunginya tapi tak diangkat. Dia pasti sangat marah padaku.
Berada diapartemen sendirian membuatku merasa sedikit takut. Apalagi tempat ini masih terlalu asing bagiku.
"Kamu dimana Sean, kenapa belum pulang juga." Gumamku sambil menggigiti jari tanganku dan mondar mandir.