
pov Rain
SAHHH..
Mungkin wanita lain akan bahagia mendengar kata itu saat momen ijab qobul. Tapi tidak denganku, air mataku menetes mengiringi doa yang dibacakan oleh penghulu. Kedua tanganku menengadah, tapi rasanya begitu berat untuk mengucap amin.
Aku mencium tangan Sean, lalu dia mencium keningku. Aku bisa melihat senyum dibibirnya. Tapi aku tak bisa mengartikan senyuman itu. Entah itu senyum bahagia yang tulus, atau senyum yang dibuat buat, hanya Sean yang tahu.
Aku tak bisa mengerti jalan pikirannya. Menurutku dia seorang pria yang susah ditebak. Bahkan alasan dia menikahikupun aku masih belum tahu pasti.
Mungkin alasannya untuk menghancurkan Gaza atau mungkin untuk mengembalikan nama baiknya. Yang pasti, dia tak mungkin mencintaiku.
Kami menikah dengan mahar emas seberat 10 gram dan uang tunai 100 juta. Sepertinya maharku lebih rendah dari harga saat aku menjual diri. Lucu sekali, keperawananku dihargai sangat mahal. Tapi saat dinikahi, aku dihargai lebih murah. Miris, tapi inilah kenyataannya.
Aku masih ingat saat Sean menanyakan tentang mahar kemarin.
"Kamu mau minta mahar apa Rain?"
"Terserah, apapun yang menurutmu pantas akan aku terima."
Jadi menurutnya aku hanya pantas dihargai dengan 10 gram emas dan uang 100 juta. Ya, mungkin menurut Sean, hargaku turun setelah keperawananku hilang. Walaupun kenyataannya dia sendiri yang mangambilnya.
Aku tahu sebaik baiknya wanita adalah yang tidak memberatkan mahar. Tapi bagi seorang Sean, apalah arti uang 100 juta, kalau membeli keperawanan saja dia berani hingga 1M.
Pernikahan kami hanya dihadiri segelintir orang saja. Ayahku, Alan, Maya, kedua orang tua Sean, Danu serta dua orang polisi yang menjaga ayah dan dua orang pegawai KUA.
Aku mencium tangan kedua orang tua Sean yang baru pertama kali ini aku lihat. Mamanya yang aku sendiri tak tahu siapa namanya, sepertinya tak menyukaiku. Aku bisa melihat hal itu dari tatapannya.
Papa Sean, aku tahu namanya Zainal karena aku bekerja diperusahaannya. Dia terlihat lebih ramah daripada istrinya. Dia menyentuh kepalaku saat aku mencium tangannya.
Selanjutnya aku mencium tangan ayah. Dadaku terasa amat sesak, aku telah mengecewakannya.
"Selamat nak, sekarang kau sudah menjadi seorang istri. Patuhlah pada suamimu. Jagalah martabatnya, tetaplah bersama disaat senang maupun susah."
Aku mengangguk dengan berderai air mata. Bunda, aku merindukan bunda saat ini. Dulu dia sangat antusias jika membicarakan tentang rencana pernikahanku dengan Gaza. Tapi pada akhirnya, aku tak menikah dengan Gaza.
"Tolong jaga Rain baik baik. Ayah menitipkannya padamu. Bahagiakanlah dia, tetaplah bersamanya disaat senang maupun susah. Ayah tak bisa menjadi ayah yang baik untuknya. Tapi ayah harap, kau bisa menjadi suami yang baik untuknya. Sekarang tugas ayah menjaga Rain sudah selesai, sekarang itu menjadi tugasmu." ayah mengucapkan itu pada Sean dengan mata berkaca kaca. Menyerahkan putri yang sudah di rawat sejak kecil jelas bukan hal yang mudah. Aku yakin, ayah sangat sedih saat ini.
"Jangan khawatir, saya akan menjaga Rain dengan baik. Saya berjanji akan membahagiakannya."
Astaga, kata katanya terdengar sangat tulus. Pandai sekali dia berakting. Sepertimya dia sangat cocok menjadi aktor. Ditambah wajahnya yang tampan, aku yakin dia akan menjadi aktor besar.
Setelah pernikahan sederhana itu selesai, kami segera meninggalkan masjid.
Langkahku terhenti saat melihat Gaza berdiri dihalaman masjid. Entah siapa yang memberitahunya tentang pernikahan ini.
Sean, suamiku itu makin mempererat genggaman tangannya saat dia juga melihat Gaza. Aku tahu maksudnya, dia ingin menunjukkan pada Gaza jika aku sekarang adalah istrinya.
"Selamat ya Rain." Ucap Gaza sambil mengulurkan tangan. Matanya terlihat merah, sepertinya dia habis menangis.
"Terimakasih." Jawabku seraya mengulurkan tangan hendak menjabat tangannya.
"Bukan muhrim." Sean menarik tanganku cepat sebelum dapat kuraih tangan Gaza.
"Terimakasih sudah mau mau datang kepernikahan kami. Dan satu lagi Ga, terimakasih karena sudah melepaskan Rain untukku." Sean tersenyum penuh kemenangan.
Gaza membuang muka saat Sean mengucapkan itu. Kudua telapak tangannya mengepal sebagai penyaluran emosi.
"Jaga dia dengan baik." Aku pikir Gaza benci padaku. Tapi sepertinya tidak begitu. Buktinya dia masih bisa berpesan pada Sean agar menjagaku dengan baik.
"Tidak perlu kau ingatkan, aku pasti akan menjaganya. Oh iya, aku juga ingin berpesan padamu. Jangan pernah muncul dihadapan Rain lagi. Dia istriku sekarang. Ayo kita pulang." Sean segera menarikku menjauh dari Gaza. Kusempatkan menoleh pada Gaza. Disaaat bersamaan, dia menyeka air mata. Hatiku terasa perih. Kenapa harus seperti ini akhir kisah cinta kita Ga, kenapa?
...******...
Tempat yang pertama aku tuju adalah kamar. Aku ingin segera ganti baju karena tak nyaman memakai kebaya. Hari ini aku memang sengaja tak mau memakai sanggul. Aku memilih memakai hijab karena menikah dimasjid dan juga aku tak ingin ribet.
"Jadi ini kamarmu? kecil sekali. Apa gak ada AC?" Sean terlihat kegerahan hingga dia membuka beberapa kancing kemejanya dan mengibas ngibaskan tangan didepan leher.
"Cuma ada kipas angin." jawabku sambil menghidupkan kipas angin yang tertempel di dinding kamarku.
"Aku ngantuk sekali Rain, semalaman aku tak bisa tidur. Bangunkan aku setelah kau selesai mengemas barangmu." Ucapnya sambil merebahkan diri dikasur kecilku.
"Baiklah." Jawabku sambil mengambil baju ganti di almari.
Setelah ganti baju di kamar mandi, aku melihat Sean sudah tertidur pulas. Sepertinya dia memang tak tidur semalaman.
Aku mengemasi barang barangku yang ada dikamar itu. Setelah itu aku memasak untuk makan siang.
"Kok kamu sendirian, mana suamimu mbak?" Tanya Alan yang baru pulang.
"Tidur." Jawabku sambil melanjutkan memasak.
"Astaga jam segini tidur." Sahutnya dengan nada muak.
"Kamu Darimana Al, kenapa baru pulang?"
"Dari cafe mbak, aku minta ijin libur hari ini. Oh iya mbak, apa kamu yakin akan pindah ke rumahnya?"
"Tentu saja Al, sekarang mbak sudah menikah, jadi mbak harus ikut suami mbak. Kamu harus bisa jaga diri baik baik setelah ini. Jangan sampai telat makan. Jangan keluyuran malam malam. Mbak gak bisa jaga kamu lagi." Aku berusaha menahan air matanya agar tak terjatuh. Rasanya aku baru sebentar berkumpul kembali dengan Alan, tapi sekarang, kami kembali harus terpisah.
"Jangan pikirkan Al, Al sudah besar, Al bisa jaga diri. Al justru kepikiran mbak. Al takut dia memperlakukan mbak kurang baik." Al masih saja enggan menyebut nama Sean meski pria itu sudah resmi menjadi kakak iparnya.
"Mbak akan baik baik saja." Sahutku sambil menepuk pelang lengannya.
"Tak bisakah mbak tetap tinggal disini?"
"Tidak bisa." Sean menjawab pertanyaan Al dengan suara lantangnya. Entah sejak kapan Sean mendengar obrolan kami. Tahu tahu dia sudah menyambar perkataan Al.
"Rain istriku, dia harus ikut aku."
"Istrimu?" Al menarik ujung bibirnya "Tepatnya istri yang terpaksa menikah denganmu."
Kulihat Sean mengepalkan tangannya. Sepertinya dia tersinggung dengan ucapan Alan.
"Ajari adikmu untuk bersikap sopan padaku." Tekan Sean sambil menatapku tajam. Aku mengangguk agar masalahnya cepat selesai.
"Ayo pulang." Sean menarik tanganku.
"Kita makan dulu, aku udah terlanjur masak."
Meski terlihat enggan, tapi Sean tetap duduk dimeja makan. Aku segera menghidangkan makanan diatas meja. Alan yang ingin pergi, kutarik agar makin bersama kami.
Suasana terasa tegang. Tak ada satu orangpun yang bicara diantara kami bertiga. Yang terdengar hanya suara sendok yang beradu dengan piring. Sesekali aku Sean, dia terlihat lahap. Entah karena suka masakanku atau karena kelaparan.
"Mbak pamit dulu ya Al. Jaga diri baik baik." Pamitku setelah acara makan selesai. "Jangan telat makan. Kalau ada apa apa segera telepon mbak." Aku memeluk Al sambil meneteskan air mata. Sebenarnya aku tak tega meninggalkannya sendirian. Tapi tak mungkin juga aku mengajaknya tinggal bersama Sean. Dua orang itu bagai tikus dan kucing.
"Kalau ada apa apa hubungi Al." Pinta Al.
"Hem." Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku tak mau membuat Al khawatir.
"Aku punya banyak mobil, kalau kau mau, datang saja ke apartemen." Aku terkejut mendengar Sean mengatakan itu. Aku pikir dia sangat benci pada Al. Tapi sepertinya tidak begitu.
Al tak menjawab, dia malah tersenyum sinis. Mana mungkin Akan mau menerima mobil dari Sean, menyebut namanya saja dia enggan. Tapi aku malah bersyukur, setidaknya keluargaku tidak akan dicap keluarga matrealistis.