
Pov Rain.
PYARRR
Seketika aku lemas mendengar ucapannya. Gelas yang aku pegang langsung jatuh hingga tak berbentuk. Beruntung tempat itu ramai sehingga suara gelas jatuh tak begitu menarik perhatian.
Jantungku berdegup kencang, aku sangat cemas. Sean, aku butuh kamu, aku butuh kamu sekarang. Aku ingin menangis dan memeluk Sean saat ini.
Beruntung saat aku menoleh, aku melihat Sean tengah berjalan cepat kearahku dengan membawa sepiring makanan.
"Ada apa beb?" Tanyanya cemas sambil meletakkan piring diatas meja lalu menggenggam tanganku yang gemetaran.
"Apa dia mengganggumu?" Sean menatap tajam ke arah Firman.
Aku bergeming, lidahku terlalu kelu untuk berucap walau hanya sepatah kata.
"Aku hanya ingin menyapa adik iparku. Kalian sangat keterlaluan karena tak mengundangku dipernikahan kalian." Ujar Firman. Tapi Sean sepertinya tak percaya dengan ucapannya. Terbukti dia masih memberikan tatapan tajamnya pada Firman.
"Aku ingin pulang Sean." Kata itu akhirnya lolos dari bibir keluku. Aku menatap Sean seolah ini adalah suatu permohonan.
"Baiklah."
"Wait, kenapa buru buru." Firman tiba tiba mencekal pergelangan tanganku.
"Jangan menyentuh istriku." Bentak Sean sambil menghempas kasar tangan Firman yang berada dipergelangan tanganku. Mata Sean memerah, rahangnya mengeras, terlihat sekali kalau dia sedang marah.
Firman tersenyum mengejek, entah apa yang ada diotaknya sekarang. Tapi yang pasti, aku takut melihat ekspresinya yang seperti iblis itu.
"Astaga, sepertinya kau sangat mencintai istrimu. Kau terlalu posesif Sean."
"Aku peringatkan sekali lagi. Janga pernah mengganggu istriku apalagi sampai berani menyentuhnya. Kau akan tahu akibatnya jika tak mengindahkan ucapanku." Ancam Sean.
"Kau terlalu berlebihan menjaga istrimu. Aku kasihan padamu Sean. Kau sangat memuja wanita ini. Wanita bekas mainan para pria hidung belang."
BUGH BUGH
Mataku membelalak melihat Sean memukuli Firman. Aku takut, sungguh takut jika kekacauan ini menarik perhatian orang. Aku takut jika pada akhirnya aku yang akan dipermalukan disini.
"Bangsat, kurang ajar. Beraninya kau menghina istriku." Maki Sean sambil mencengkeram kerah kemeja Firman. Sorot mata Sean sangat menakutkan. Aku tahu dia sedang dikuasai amarah saat ini.
Firman hanya tersenyum menanggapi perlakuan Sean padanya. Dan senyum smirk nya itu sungguh membuatku merinding dan kepalaku berdenyut hebat.
"Lepaskan Sean, jangan bikin keributan. Ayo kita pulang." Aku menyentuh lengan Sean, berharap emosinya mereda dan segera melepaskan Firman.
"Ada apa ini Sean?" Suara papa Zaenal mengagetkanku. Ternyata yang aku takutkan terjadi, semua orang sedang memperhatikan kami saat ini. Aku makin gemetaran, dan kepalaku makin berdenyut serasa mau pecah. Aku takut Firman buka mulut dan mempermalukan aku didepan semua orang.
Bukan hanya aku yang akan malu, tapi juga Sean. Dia akan dipermalukan karena menikahi wanita sepertiku.
"Sean, kepalaku sakit. Ayo kita pulang." Aku memohon lagi pada Sean. Untuk saat ini, tak ada yang lebih baik kecuali keluar dari tempat ini secepatnya.
Sean melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Firman lalu menggenggam tanganku yang gemetaran.
"Sean ada apa ini? Firman ada apa?" Papa Zaenal masih terus bertanya. Dia ingin tahu sumber masalah yang menyebabkan keributan dipestanya.
Sean hanya diam saja lalu membawaku keluar dari ballroom. Firman, aku tak tahu apa yang dia katakan saat ini kepada papa Zaenal. Semoga saja dia tak mengatakan yang tidak tidak.
Aku duduk di mobil sambil memejamkan mata dan memijat pelipisku. Kepalaku berdenyut hebat, rasanya sakit sekali. Sean memasangkan seatbelt padaku lalu memelukku.
"Kita pulang ya, lupakan semuanya tadi." Sean melepaskan pelukannya lalu melajukan mobil menuju apartemen. Sepanjang perjalanan dia berkali kali melirik dan menggengam tanganku. Sepertinya dia sangat mencemaskanku dan aku sangat berterimakasih untuk itu.
Sesampainya diapartemen aku melemparkan tubuhku diatas ranjang. Aku ingin mencari tempat ternyaman untuk menangis dan meluapkan sesak yang sejak tadi kutahan.
"Beb, jangan seperti ini. Please, jangan menangis. Jangan buat aku merasa gagal melindungimu." Sean menyunggar kasar rambutnya dengan jemarinya. Dia terlihat begitu mencemaskanku.
Aku bangun lalu memeluknya yang saat ini sedang duduk ditepi ranjang. Nyaman sekali, dialah tempat ternyamanku saat ini.
"Aku takut Sean, aku takut." lirihku diantara isak tangis.
"Ada aku, kau tak perlu takut apapun." Sean membelai punggungku. Aku bisa merasakan cintanya yang begitu tulus padaku.
"Aku takut Firman akan mengatakan tentang diriku pada semua orang. Kau pasti akan malu jika semua keluargamu tahu aku adalah pelacur."
Sean menarik wajahku lalu membungkam mulutku dengan bibirnya untk sesaat.
"Jangan pernah menyebut dirimu seperti itu. Dan jangan pernah memikirkan bahwa aku akan merasa malu menikahimu. Jangan pernah mempedulikan tanggapan orang Rain."
Bagaimana aku tak memikirkan, rasanya masa depanku sedang dipertaruhkan sekarang. Jika sampai orang tua Sean tahu tentang ini, aku tak akan mampu untuk bertemu mereka, aku terlalu malu.
"Jangan pernah menganggap dirimu rendah. Jangan pernah pedulikan orang lain. Kalau kau menganggap dirimu rendah, lalu bagaimana dengan aku. Aku manusia bejad yang suka tidur dengan bergonta ganti perempuan. Aku lebih rendah darimu. Kalau kau bisa menerima aku yang seperti ini, mana mungkin aku tak bisa menerimamu. Aku menerima segalanya yang ada pada dirimu Rain." Ucap Sean sambil menangkup kedua pipiku.
"Apa itu artinya kau mempercayai perkataan pria tadi. Kau juga menganggap aku menjual diri pada pria hidung belang?"
"Jangan salah paham. Aku sama sekali tak mempercayai Firman. Aku hanya percaya pada apa yang kau katakan. Jika kau bilang hanya pernah menjual diri padaku, itu artinya kau memang hanya pernah melakukannya sekali itu saja. Aku mempercayai semua ucapanmu." Sean menghapus air mataku yang mengalir deras.
Aku memeluk Sean, aku sedikit tenang setelah mendengar penuturannya. Dia percaya padaku, dan itu yang paling penting untuk saat ini.
"Berhentilah menangis, aku mohon. Aku bisa gila jika kau terus menangis seperti ini. Jangan memikirkan sesuatu buruk yang belum tentu terjadi. Aku tak mengizinkan otakmu untuk berfikir sekeras itu. Serahkan semua masalahmu padaku. Biar aku yang menggantikanmu untuk memikirkannya." Hiburnya sambil merapikan rambutku yang berantakan.
"Kau cukup memikirkan aku, memikirkan masa depan kita dan memikirkan adegan hot kita diatas ranjang." Godanya dengan seringai kecil yang membuatku seketika tersenyum.
Bisa bisanya dia menggodaku seperti itu disaat ini. Mungkin ini caranya untuk membuatku tersenyum. Terimakasih Sean, kau berhasil membuatku tersenyum.
"Apa kau mau aku membantumu melupakan kejadian tadi?" Tanyanya penuh semangat. Dia bergerak keatasku dan mengungkungku dengan kedua lengannya.
"Hem." Aku mengangguk sambil mengulas senyum.
"Bersiapnya nyonya Kalandra, aku akan membuatmu hanya memikirkan aku, hanya menyebut namaku dan hanya menginginkan sentuhanku." Sean bertumpu pada satu lengannya dan menggunakan tangan satunya untuk membelai lembut mataku, pipi, hidung dan kemuadian bibirku. Sentuhannya mampu membuat wajahku terasa panas. Tak hanya wajahku, mengkin seluruh tubuhku terasa sangat kepanasan saat ini.
"Benarkah? aku tak sabar untuk itu sayang." Aku menciumi jari jari Sean yang ada diwajahku. Mungkin sesekali aku juga perlu menggodanya.
Sean malah terkekeh, sepertinya dia tak menyangka jika ucapan itu akan keluar dari bibirku.
"Kau akan menyesal telah mengucapkan kata kata itu Beb. Kau tahu, ucapanmu tadi seperti sinyal yang akan membuatku menggila malam ini." Sean mengucapkan kata itu tepat didepan wajahku. Jarak kami sangat dekat hingga aku mampu merasakan hembusan nafasnya.
"Lakukanlah hal gila itu sayang. Aku mengharapkannya malam ini." Sepertinya bukan Sean yang menggila, tapi aku. Aku seperti orang yang kerasukan roh mesum. Aku merasa ingin sekali disentuh olehnya. Tubuhku mulai gelisah menanti sentuhannya diseluruh permukaan kulitku.
Sean menyapukan bibirnya pada bibirku. Sensasi yang sudah sering aku rasakan tapi selalu membuatku kecanduan. Aku membuka mulutku dan mulai membalas ciumannya.
"Aku berjanji akan membuatmu terus terjaga malam ini. Aku akan memberimu berkali kali klimaks hingga kau lupa semua masalah yang ada dalam hidupmu." Ucap Sean dengan nafas terengah engah setelah pagutan bibir kami terlepas. Aku bisa melihat matanya yang sudah dipenuhi kabut gairah. Mungkin mataku juga seperti itu, hanya saja aku tak bisa melihatnya. Aku hanya bisa merasakan jika aku menginginkan Sean malam ini. Menginginkan hatinya sekaligus tubuhnya yang malam ini terlihat begitu seksi dimataku.
"Aku semakin tak sabar menunggumu menepati janjimu." Ucapku lalu mencium bibirnya yang terlihat begitu menggoda sambil melepaskan satu persatu kancing kemejanya.
Sean seakan tak mau kalah, dia berusaha meloloskan gaunku. Sepertinya dia juga tak sabar untuk segera menepati janjinya untuk memberiku banyak klimaks malam ini.