
Masjid Nurul hidayah yang terletak dikomplek perumahan Zalfa terlihat sangat ramai. Setiap minggu pagi memang selalu ada kajian di masjid itu. Sean dan Leo mengekor dibelakang Zalfa dan Rain. Mereka merasa kikuk karena sudah terlalu lama tak pernah masuk masjid.
"Kok ngikut terus? laki laki sebelah sana." Zalfa menunjuk tempat jamaah pria. Leo dan Sean hanya menggut menggut lalu berjalan ke arah masjid bagian pria.
Dua orang itu masuk lalu mengambil duduk dibagian belakang. Masjid sudah hampir penuh karena kajian akan segera dimulai.
Tak lama kemudian kajian dimulai. Bukannya mendengarkan, Sean malah terus menguap. Dia merasa sangat ngantuk.
"Le, mata gue gak bisa diajak kompromi, pengen molor gue."
"Sama, gue juga ngantuk." Leo juga tak henti henti menguap.
"Keluar yuk, cari angin bentar. Gak tahan gue ngantuk parah." Ajak Sean yang dijawab anggukan oleh Leo.
Mereka berduapun akhirnya keluar.
"Mana rokok lo?" tanya Sean sambil menengadahkan tangannya.
"Gak bawa, ketinggalan dimobil."
"Ke minimarket aja yuk, nyari rokok ama minum. Pas jalan kesini tado gue lihat ada minimarket."
"Apa gak papa? gimana kalau kita ketahuan Zalfa ama Rain?" Leo masih ragu.
"Gak bakal, ntar kita balik sebelum ceramahnya selesai."
Leo pun akhirnya setuju dengan ide Sean. Mereka berdua menuju minimarket untuk membeli rokok dan soft drink.
Mereka berdua duduk di depan minimarket sambil merokok dan mengobrol hingga tak ingat waktu. Kalau dengar ceramah, 10 menit aja kerasa lama. Tapi kalau ngerokok sambil ngobrol, 1 jam gak kerasa.
"Sean gawat, lihat tuh." Leo panik saat melihat banyak orang lewat memakai baju muslim. Mereka dari arah masjid. Sepertinya kajiannya sudah selesai.
"Cepetan kembali, kita bisa ketahuan." Sean dan Leo buru buru membuang rokok dan berjalan cepat ke arah masjid.
Langkah mereka terhenti saat melihat Zalfa dan Rain berdiri di depan masjid. Kedua wanita itu tampak celingukan.
"Kayaknya mereka nyariin kita." Sean dan Leo malah sembunyi dibalik pohon besar.
"Bener Sean, gawat nih. Kalau ketahuan gue bisa perang dunia sama Zalfa." Leo makin gelisah.
dret dret dret
Ponsel Leo bergetar, ada telepon dari Zalfa. Leo ragu antara mau mengangkat atau tidak. Kalau diangkat, bingung mau jawab apa. Kalau gak diangkat, takut mereka curiga.
"Hallo." Akhirnya Leo memutuskan untuk mengangkat telepon dari Zalfa.
"Kamu dimana Kak? Kok gak keluar keluar?" Zalfa pikir Leo masih didalam masjid.
"A.. aku, sudah keluar."
Zalfa celingukan tapi gak melihat keberadaan Leo dan Sean.
"Kamu dimana? aku kok gak liat. Aku dan Rain nungguin nih."
"Masih di toilet, tunggu sebentar." Leo mencari alasan.
"Ish, tadi katanya udah keluar." Gerutu Zalfa lalau mematikan teleponnya.
Leo dan Sean bingung mencari cari bagaimana caranya masuk ke dalam masjid. Mereka tak ingin ketahuan kabur saat kajian berlangsung.
Tiba tiba dua orang pria yang juga memakai koko dan sarung, mendekati Rain dan Zalfa. Leo dan Sean tak bisa mendengar apa yang dibicarakan Zalfa dan Rain dengan kedua pemuda itu. Yang nampak hanya mereka terlihat akrab.
Sean tak bisa tinggal diam melihat Rain senyum senyum pada pemuda itu. Tanpa pikir panjang, dia segera keluar dari persembunyiannya dan berjalan ke arah Rain dan Zalfa.
Karena asik ngobrol Rain tak sadar jika Sean sedang menuju kearahnya.
"Siapa mereka beb?" Rain seketika menoleh mendengar suara Sean.
"Kok kamu dari luar? katanya di toilet tadi?" Bukannya menjawab pertanyaan Sean, Rain malah balik bertanya.
"I.. itu, kita baru aja keluar. Tadi gak ngeliat kalian ada disini. Kalian juga gak liat kita keluar karena terlalu asik ngobrol." bohong Leo.
Rain dan Zalfa saling menatap, mereka sudah bisa membaca kebohongan diwajah kedua pria itu. Apalagi melihat Leo yang terlihat cemas.
"Dia pacar kamu Rain?" Tanya seorang pria yang tadi mengobrol bersama Rain dan Zalfa.
"Gue suaminya." kata Sean sambil menggenggam tangan Rain. Wajah pria itu tampak kecewa. Sepertinya dia ada rasa dengan Rain.
"Ya udah kita pergi dulu ya." Pamit kedua pria itu.
Setelah pria itu pergi, Rain segera melepas genggaman tangan Sean. Dia menarik tangan Zalfa dan berjalan mendahului Sean dan Leo.
"Kayaknya mereka curiga." bisik Leo.
"Tau ah, paling kalau ketahuan gue cuma diomelin. Kalau lo...." Sean menggantung ucapannya sambil tersenyum "Paling diputusin, hahaha."
"Sialan lo." Leo menggebuk lengan Sean. "Kalau gue sampai diputusin, gue bakal ngadu ke Rain kalau semua ini ide lo. Gue cuma korban disini."
"Cih, korban." Sean berdecih.
Tak terasa mereka sampai dirumah Zalfa. Dua wanita itu langsung duduk disofa karena lelah berjalan. Sean dan Leo ikutan duduk didepan mereka.
"Kita pulang yuk beb," ajak Sean.
"Kalian tadi kemana?" Tanya Rain sambil melotot.
"Kita kan ke masjid sama kalian." Jawab Sean sambil sambil pura pura tenang. Padahal hatinya bergejolak. Dia takut ketahuan kabur.
"Kak Leo tadi paham gak tentang ceramahnya?" tanya Zalfa.
"Pa, paham kok." Leo sampai gagu saking gugupnya.
"Kakak tadi denger kan pas ceramah ustadnya ngejelasin tentang kerugian dan bahaya kalau meminum khomr?"
"I.. iya."
Rain menatap bingung kearah Zalfa. Jelas sekali ceramah tadi tak membahas tentang itu. Tema kajiannya adalah tentang amal jariyah.
"Trus Kakak masih mau lanjut minum?"
"Aku udah gak minum lagi kok."
"Ish ketahuan banget bohongnya," celetuk Rain.
"Suami kamu kali yang masih hobi minum," timpal Leo. Dia kesal dengan celetukan Rain yang dirasa memojokkannya didepan Zalfa.
"Apaan sih lo, kok malah gue." Sean tak terima.
"Gak usah saling tuduh gitu." Ucap Zalfa. "Kalian itu sebelas dua belas, makanya jadi sahabat."
"Yang aku maksud ketahuan bohongnya. Kalian ketahuan kalau gak denger ceramah. Padahalkan tadi gak bahas itu. Ish ketahuan banget kalau tadi ngacir."
Leo dan Sean saling menatap lalu menunduk. Mereka malu ketahuan kabur.