Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
GAK JADI PUTUS


Melihat ada ornag pingsan, para pengunjung mall langsung berkerumun untuk menolong, tak terkecuali Alan. Seberapapun marahnya dia, melihat Amaiara pingsan dia tak tega.


Dia segera mendekati tubuh yang tergeletak di lantai keras itu. Wajahnya sangat pucat bagai mayat hidup. Alan dibantu beberapa orang disana membawa Amaira kedalam mobil lalu Alan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya dirumah sakit, Amaira segera dibawa ke UGD untuk mendapatkan pertolongan. Sedangkan Al, dia mengambil ponsel Amaira untuk menghubungi keluarganya. Dia menemukan kontak dengan nama mama lalu menekan icon hijau.


Setelah mengabari mamanya, Alan mondar mandir didepan UGD sambil memikirkan Amaira. Tadi sebelum ke mall, dia juga melihat gadis seperti sedang menahan sakit. Dan sekarang pingsan. Limin bilang kemarin Amaira juga pingsan, Alan jadi bingung.


"Kamu sakit apa sih Ra?" tanya Al dalam hati.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Al saat dokter keluar.


"Apa anda keluarganya?" dokter itu balik bertanya.


"Saya temannya, keluarganya sedang dalam perjalanan."


"Baiklah kalau begitu, nanti saya bicara dengan keluarganya saja." Ucap dokter itu sambil berlalu.


"Tunggu Dok, apa dia gak bisa langsung pulang? Dia sakit apa dok?" Alan makin penasaran.


"Saya belum bisa memastikan penyakitnya karena belum melakukan pemeriksaan lengkap. Tapi mungkin saja keluarganya sudah tahu. Melihat gejalanya, saya takut ini adalah kanker."


Alan melongo mendengar penjelasan dokter. Tubuhnya sampai gemetaran mendengar kemungkinanmya adalah kanker. Alan teringat sesuatu lalu mengeluarkan dari sebuah botol dari tas Amaiara yang sekarang sedang dia bawa.


"Tadi dia minum obat ini dok?" Alan menyerahkan obat itu kepada dokter. Dokter itu mengamati sesaat.


"Tepat dugaan saya, teman kamu menderita kanker. Obat ini diberikan pada penderita kanker."


Lutut Alan terasa lemas. Dia tak menyangka kalau gadis yang nampak ceria dan menyebalkan itu ternyata survivor kanker.


Alan masuk kedalam UGD, dia melihat Amaira yang sudah sadar. Melihat Alan, gadis itu buru buru mengubah posisinya menjadi duduk.


Alan seperti melihat orang lain. Gadis yang biasanya terlihat menyebalkan, saat ini nampak memprihatinkan.


"Kamu kenapa sih Ra gak bilang ke aku kalau lagi sakit?"


"Jadi kamu udah tahu Al?"


"Hem."


"Aku menderita kanker otak stadium tiga." Jawabnya sambil mengelap cairan bening yang keluar dari sudut matanya. Alan membuang pandangannya karena tak kuasa melihatnya.


"Kenapa kamu gak cerita sama aku?"


"Kerena aku gak mau dikasihani Al. Aku tak mau orang memandangku lain karena penyakitku. Aku gak mau dipandang lemah." Amaira makin terisak.


Seketika senyuman Amaira mengembang saat Alan memperlakukannya dengan manis.


"Kita gak jadi putuskan Al?"


"Astaga, kenapa masih mikirin itu?" Alan membuang nafas kasar sambil geleng geleng.


"Akukan gak mau putus dari kamu." Ucap Amaira dengan ekspresi gemasnya.


"Iya gak jadi." Mana tega Alan mau bilang putus.


.


...*****...


.


Sesampainya dirumah, Sean segera kedapur untuk mengambil es, dia ingin mengompres pipi Rain yang masih terlihat merah itu.


"Kamu bawa apa Sean?" Tanya Rain yang sedang berada didalam kamar habis ganti baju.


"Bawa air es buat ngompres pipi kamu." Jawabnya sambil mendekat ke arah istrinya. "Cepetan duduk sini." Sean menepuk tepian ranjang agar Rain duduk disana. Tak ingin mengecewakan suaminya, Rain menurut dan langsung duduk disebelah Sean.


"Kamu kenapa sih gak bales anak kurang ajar itu?" Omel Sean sambil menempelkan kain yang sudah dia peras dipipi Rain.


"Gak semua perlakuan buruk orang harus kita balas Sean." Tiba tiba Rain teringat Gaza. Dulu pertama kali dia bertemu Gaza saat sedang dilabrak dan ditampar oleh ibu ibu. Tak bisa dipungkiri sampai sekarang dia masih sering teringat Gaza. Melupakan cinta pertama yang sudah menjalin hubungan selama 3 tahun memang sangat sulit.


"Pasti sakit banget ya?" tanya Sean sambil pelan pelan menempelkan kain dingin yang baru saja dia celupkan lagi ke air es. Rain diam saja, dia masih asyik melamun.


"Rain, kok bengong sih?" Sean merasa pertanyaannya tak diindahkan sama sekali oleh Rain. "Rain, kamu denger aku ngomong gak sih?"


"Denger Ga."


"Ga?" Sean yang kesal langaung meletakkan kain kompres itu kedalam baskom. Dia pikir dengan memberikan perhatian seperti di film film bisa meluluhkan hati Rain. Nyatanya tidka sama sekali.


"Maaf." Menyadari kesalahannya, Rain buru buru meminta maaf.


"Sulit banget sih Rain bikin kamu cinta sama aku. Bahkan disaat aku memberimu perhatian seperti ini kamu malah memikirkan pria lain."


"Maaf, aku gak mikirin Gaza kok, aku cuma salah nyebut nama tadi."


"Jelas jelas kamu ngelamun dari tadi, masih bilang gak mikirin Gaza?" Sean menarik ujung bibirnya. Sean yang kesal langsung mengambil baskom berisi air es dan membawanya keluar.