
Cinta sejatinya tak butuh diucapkan. Tapi tak semua orang mempunyai kepekaan untuk merasakan cinta dari tatapan mata. Tak terkecuali Sean, dia bisa melihat ada tatapan yang berbeda dari mata Rain untuknya. Tapi dia tak ingin terlalu percaya diri untuk mengartikan tatapan itu adalah sebuah cinta.
Dia butuh pengakuan untuk memperkuat keyakinan dirinya. Dia butuh kata cinta dari bibir Rain agar dirinya yakin kalau hati Rain adalah miliknya.
"I love you Sean." Ucap Rain sambil menangkupkan kedua telapak tangannya pada wajah Sean. Tak ada lagi keraguan dihatinya, dia yakin kalau hatinya sudah benar benar milik Sean saat ini.
Kata kata itu bagaikan ombak besar yang menghancurkan karang. Sean merasakan jika penghalang diantara dirinya dan Rain sudah hancur saat ini. Rain miliknya, dan akan selalu jadi miliknya.
"I love you so bad babe." Ucap Sean lalu merengkuh pinggang Rain untuk mengikis jarak diantara mereka.
Cup
Sean mulai ******* bibir Rain dan sesekali memberikan gigitan kecil disana. Tangannya memegang tengkuk Rain untuk memperdalam ciuman mereka. Rain seakan tak mau kalah. Dia membalas ciuman Sean. Dia ingin menunjukkan jika dia juga mencintai pria yang sedang menciumnya saat ini.
Sean melepaskan pagutan bibirnya, memberi dirinya dan Rain waktu untuk bernafas. "I love you more babe." Ucapnya lagi lalu kembali mencium Rain.
"I love you too." Balas Rain disela sela ciuman mereka yang makin lama makin panas dan makin menuntut.
Sean menurunkan ciumannya dan mulai memberikan kissmark di leher putih istrinya.
Rain terlihat lebih agresif kali ini. Nalurinya mengatakan jika dia harus membuktikan cintanya melalui cara yang disukai Sean.
Rain yang biasanya hanya menikmati dan pasrah dengan segala perlakuan Sean. Kali ini dia ingin membalik keadaan, dia ingin benar benar memuaskan suaminya. Dia mengambil alih peranan Sean dengan berada diatas tubuh pria itu.
CEKLEK
Kedua orang yang sedang bergelut itu seketika terkejut saat ada mendengar suara pintu dibuka. Seketika Sean merengkuh tubuh Rain yang sedang berada diatasnya dan mendekapnya. Dia tak ingin Rain sampai menoleh dan menampakkan bagian depan tubuhnya yang dalam keadaan polos.
Alan buru buru menutup kamar kembali saat menyadari bahwa dia membuka pintu disaat yang tidak tepat. Jantungnya berdegup kencang dan nafasnya tiba tiba naik turun.
"Sialan, dasar sialan." Sean mengumpat saking kesalnya. Dia bisa melihat jika baru saja Alan yang membuka pintu.
Saat mendengar pintunya sudah ditutup kembali, Rain segera turun dari tubuh Sean. Sepertinya kegiatan mereka tak bisa dilanjutkan kali ini. Rain memunguti pakaiannya dan segera mengenakannya kembali. Begitu juga dengan Sean.
Alan mengambil air dikulkas lalu tergesa gesa meneguknya. Pikirannya tak karuan, adegan yang barusaja dia lihat terus mengusik pikirannya. Dia terus mengutuki dirinya sendiri kenapa bisa seceroboh itu membuka kamar kakaknya.
"Lo gak punya sopan santun ya?" Teriakan Sean membuat Alan terkejut sampai tersedak air yang sedang diminumnya. "Kenapa main buka aja kamar orang," maki Sean. Dia sangat kesal mengingat baru kali ini Rain begitu memanjakannya tapi harus terhenti karena Alan.
"Sorry, aku gak tahu kalau kalian ada didalam." Ucap Alan sambil menunduk, dia terlalu malu untuk menatap kakaknya dan Sean.
Sean tak bisa terima dengan alasan tak masuk akal dari Alan. Padahal jelas jelas dia tahu kalau dirinya sedang berada dirumah itu.
"Aku pikir kamu udah pulang karena mobil kamu gak ada."
"What!" Mata Sean membulat sempurna saat Alan bilang mobilnya tidak ada. Dia segera berlari keluar untuk melihat mobilnya. Dan benar saja, mobilnya tidak ada dihalaman maupun luar pagar rumah Rain.
"Mobil kamu mana?" Rain yang menyusul Sean kedepan tercengang saat matanya tak menemukan keberadaan mobil Sean.
"Shitt, mobil gue ilang Rain." Sean kelabakan dan segera berlari hingga keluar pagar. Dia cemas karena mobil yang dia pakai kali ini harganya sangat mahal serta salah satu mobil kesayangannya.
Alan dan Rain ikutan cemas, meraka tak mengira jika dikomplek yang biasanya aman itu terjadi pencurian mobil.
Sean kembali masuk kedalam halaman rumah dengan langkah lemas.
"Beneran ilang mobil kamu?" Tanya Rain dengan raut cemas.
Sean diam saja lalu masuk kedalam rumah. Dia terduduk lemas di sofa ruang tamu.
Rain mengambil air putih dan memberikannya pada Sean. Dia tak tega melihat wajah Sean yang nampak lesu itu. Sean meneguk air putih dalam gelas hingga habis tak tersisa.
"Sabar ya Sean, kamu bisa segera lapor ke polisi." Rain membelai punggung suaminya agar lebih tenang.
"Ini kasus pencurian, gak bisa dibiarin gitu aja."
"Gak ilang kok beb." lirih Sean sambil melirik ke arah Rain.
Rain dan Alan membulatkan matanya seketika. Ucapan Sean sungguh tak menggambarkan keadaanya yang terlihat putus asa.
"Aku lupa, mobilnya aku parkir dihalaman rumah tetangga kamu. Ada mobil Arya sehingga aku gak bisa masukin mobil kehalaman. Saat mau aku parkir dipinggir jalan. Ada pedagang bakso yang lagi mangkal. Jadi aku titipin di halaman rumah tetangga kamu."
Rain maupun Alan melongo mendengar penuturan Sean. Suasana yang tadinya tegang berangsur menguap. Rain menghela nafas lega lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Barusan aku lihat masih ada di halaman tetangga sebelah." Sean sedikit malu mengucapkannya.
"Ish." Rain memukul pelan lengan Sean. "Kalau gak ilang kenapa ekspresi kamu kayak gitu? ngeselin."
"Sengaja, pengen ngeprank kamu, hahaha." Sean terkekeh dan hal itu makin membuat Rain kesal lalu mencubit pinggangnya.
"Ampun beb, sakit... " Desis Sean sambil meringis.
"Rasain."
Mereka bertiga terdiam beberapa saat. Tapi ketika mata Rain dan Alan saling bertatapan, kecanggungan kembali menyeruak.
Alan kembali teringat apa yang dia lihat tadi. Sedangkan muka Rain seketika memerah karena malu.
"Maafin aku ya mbak, aku beneran gak sengaja tadi." Alan menunduk sambil menggaruk garuk kepalanya.
"Jangan dibahas lagi." Sejujurnya Rain sangat malu kalau membahas masalah tadi. Apalagi mengingat posisinya yang berada diatas tubuh Sean. Sangat memalukan.
Sean yang tadinya sudah lupa masalah itu jadi teringat kembali.
"Jangan diinget inget yang barusan lo lihat, entar lo kepengen." Cicit Sean sambil menatap tajam ke arah Alan.
"Sean, apaan sih ngomong kayak gitu." Rain mencubit lengan Sean sambil memelototinya.
"Hobi banget sih nyubit aku?"
"Biarin, biar kamu tahu rasa."
"Rasa apa beb?"
"Rasa sakitlah." Jawab Rain sambil berkacak pinggang.
"Gak sakit kok beb, justru terasa nikmat, bikin aku terangsang." Goda Sean sambil menunjukkan wajah mesumnya.
"Makin gak dikontrol ngomongnya, ada Alan tauk." Rain memekik tertahan sambil memelototi Sean. Sedangkan Alan terlihat hanya cengar cengir.
"Adik kamu udah dewasa, aku yakin dia udah biasa bahas hal kayak gini sama teman temannya. Apalagi setelah lihat secara live kayak tadi, auto makin pengen dia." Sean menekankan kata Live hingga membuat Alan makin malu dan salah tingkah.
"Udah ah gak usah bahas itu." Rain tak nyaman membahas hal itu. Rain segera berjalan menuju dapur, malas sekali melanjutkan topik itu.
"Jangan lupa pakai kond*m kalau mau gituan." Sean berucap lirih sambil menatap Alan namun sialnya Rain mampu mendengar ucapannya.
"Sean." Teriak Rain lalu berbalik kearah Sean.
"Jangan ngajarin adikku yang enggak enggak."
"Aku ngajarin itu demi kebaikannya Beb. Aku kan kasihan kalau sampai adiknya Arya yang sakit sakitan harus bunting karena adik kamu gak pakai pengaman." Sean malah melebar kemana mana.
"Ayo pulang." Rain kembali mendekati Sean dan menariknya masuk kamar untuk mengambil barang barang mereka. Dia tak mau Sean sampai meracuni otak adiknya.