
POV AMAIRA
Semalaman aku gak bisa tidur. Karena apa? karena memikirkan Alan. Memikirkan tatapan matanya, memikirkan lagu yang dia nyanyian, dan memikirkan apa yang ingin dia bicarakan denganku berdua.
Apa aku baper setelah mendengar lagunya? jawabannya iya. Aku berharap dia sungguh sungguh merasa kehilangan saat aku pergi. Tapi aku tak mau terlalu percaya diri. Mungkin selama 4 tahun ini, sudah ada perempuan lain yang mengisi hatinya. Dan Mungkin saja, lagu tadi malam untuk perempuan itu.
Aku benci diriku sendiri. 4 tahun aku berusaha lari dari Alan. Tapi sepertinya aku masih dititik yang sama. Seperti berlari di treadmill, aku tetap dititik itu.
Satu tahun aku pacaran dengan Kak Edward. Tapi tak pernah sekalipun jantungku berdegup tak karuan saat bersamanya. Tapi dengan Alan, melihat tatapan matanya saja, jantungku seperti lari maraton.
"Permisi Non, ada Mas Alan didepan." Bi Surti memberitahuku.
Alan? dia kesini? dia mencariku? untuk apa? Semua pertanyaan itu memenuhi isi kepalaku.
"Iya Bi, nanti saya temui." Jawabku sambil beranjak dari gazebo yang berada dihalaman belakang rumah.
Aku melihat Alan duduk di kursi panjang yang terletak di halaman depan rumahku. Sejak dulu, dia memang tak begitu mau masuk kedalam rumah. Katanya, dia lebih nyaman duduk dihalaman.
"Al," Sapaku sambil berjalan kearahnya.
"Ra." Dia langsung berdiri saat melihatku datang. "Aku ganggu kamu gak?"
"Enggak kok, duduk Al." Aku mempersilakannya duduk kembali. Untuk beberapa menit, kami hanya diam. Rasanya sangat canggung.
"Ada apa Al?" Akhirnya aku memecah keheningan.
"Bagaimana kabar kamu?" tanyanya sambil menatap mataku. Aku langsung menunduk, karena bertatapan dengan Alan hanya akan membuatku lemah, membuatku tak berdaya.
"Baik Al."
"Aku senang mendengarnya." Ucapnya sambil tersenyum. "Apakah kau sudah sembuh?"
"Alhamdulillah, akhirnya dengan perjuangan, aku bisa sembuh dari kanker. Untung saja, Penyakitku cepat terdeteksi, jadi masih bisa disembuhkan." Rasanya memang seperti sebuah keajaiban aku bisa sembuh. Padahal aku pikir, aku akan segera mati.
Aku melihat Alan merogoh saku jaketnya, dia seperti mengambil sesuatu. Dan ternyata benar, dia mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam dari saku jaketnya.
Tiba tiba Alan berlutut didepanku. Dan saat dia membuka kotak itu, mataku membulat sempurna. Cincin, isi kotak itu adalah sebuah cincin.
"Aku pernah berjanji akan menikahimu saat kamu sembuh Ra. Dan aku ingin menepati janjiku. Will you marry me?"
Deg
Jantungku seperti berhenti berdetak. Ini bukan mimpikan? Alan sungguh sungguh melamarku saat ini?
"Will you marry me?" Alan kembali mengatakan itu karena aku hanya diam saja.
Terlambat Al, udah terlambat. Kalau saja kamu bilang itu 4 tahun yang lalu. Aku pasti langsung bilang iya tanpa mikir lagi. Tapi sekarang, ada Kak Edward, dan aku harus menjaga hatinya. Aku gak mau ngecewain orang yang tulus mencintai aku.
"Maaf Al, aku gak bisa."
Aku melihat ekspresi kekecewaan pada dirinya. Matanya terlihat berkaca kaca. Tapi tiba tiba dia tersenyum absurd.
"Maaf ya Ra, pagi pagi udah ngeganggu kamu dengan hal konyol kayak gini." Alan membuang nafas perlahan sambil menggaruk garuk tengkuknya. Terlihat sekali kalau dia sedang menyembunyikan kegugupan serta kekecewaannya. "Aku memang gak tahu diri. Udah nyakitin kamu, tapi masih berani ngelamar kamu. Begok lo Alan, gak tahu diri banget." Alan memaki dirinya sendiri.
"Maafin aku Al."
"Kenapa minta maaf? kamu gak salah. Aku aja yang kepedean. Tapi seengaknya, aku udah nepatin janji aku Ra. Dan aku merasa lega. Setidaknya, aku sudah pernah mencoba walaupun berakhir dengan sebuah penolakan."
Aku melihat luka dimatanya. Dan dadaku rasanya sakit sekali. Apa aku udah nyakitin Alan?
...******...
"Udah yuk buruan." Sean tak sabar menunggu Rain yang sejak tadi sibuk berdandan. "Kita bisa telat nih beb, acaranya udah mau mulai." Ucap Sean sambil memperhatikan jam tangannya.
"Iya, iya, bentar lagi. Aku tuh mau terlihat sempurna yank. Aku gak mau malu maluin kamu didepan temen temen kamu. Kamu bilang, kamu yang paling gantengkan diantara teman teman kamu? Jadi aku juga harus jadi yang paling cantik dong." Ucap Rain sambil merapikan make up nya.
Sean menghela nafas, nungguin wanita dandan memang butuh kesabaran ekstra.
"Ngapain sih mikirin orang? Yang penting kamu tuh yang paling cantik dimata aku beb."
"Aku gak mau kalah aja kalau nanti temen temen kamu banding bandingin aku sama Delia."
"Gak usah insecure kayak gitu. Kamu lebih segalanya dibanding dia. Udah ah ayok." Kata kata Sean barusan membuat Rain merasa lega. Setidaknya hal itu mengurangi sedikit kegugupannya.
Dan seperti dugaan Sean, mereka datang terlambat. Panitia sudah selesai dengan acara pembukaan dan sekarang tinggal acara makan makan dan santai saja.
"Hai Sean, baru datang lo." Sapa Ahmad, si ketua panitia.
"Sory Bro telat."
"Lo gak lupakan buat ngisi acara?"
"Inget kok, tenang aja." Panitia meminta Sean dan teman temannya yang dulu bergabung dalam suatu band untuk ikut menyumbang lagu.
"Dia istri lo?" Tanya Dono yang kepo melihat Sean menggandeng perempuan. "Ternyata lebih cantik daripada di foto ya? secarakan gue cuma pernah liat di feed ig lo doang. Lo sih nikah gak ngundang ngundang. Katanya anak sultan?"
"Cuma ngundang keluarga aja. Maklum istri gue gak mau resepsi. Oh iya, kenalin nih."
"Rain." Rain mengulurkan tangannya dan dijabat bergantian oleh teman teman Sean.
"Gue kesana dulu ya." Sean mengajak Rain menemui teman teman lainnya.
"Sean, aku gak nyaman. Gak ada yang kenal. Zalfa mana sih?" gerutu Rain.
"Udah nyantai aja, nempel aku terus aja kalau merasa gak ada yang kenal."
Rain menghela nafas dan mengangguk. Matanya menyisir ke segala arah untuk mencari Zalfa. Tapi dia hanya melihat Leo.
"Itu kak Leo, kesana yuk."
Rain dan Sean menghampiri Leo yang tengah asik berbincang dengan teman temannya. Dan sepertinya Rain harus menelan kekecewaan karena ternyata Zalfa tidak ikut. Anak mereka sedang sakit, jadi Zalfa harus menjaganya.
Rain terpaksa harus ditinggal sendirian karena Sean harus manggung dengan teman temannya.
"Jadi itu istrinya Sean?"
"Cantik sih, tapi gak seksi kayak Delia."
"Ya iyalah, Delia kan model. Denger denger dia dulunya cuma sekretarisnya Sean."
"Beruntung banget ya, dari sekretaris jadi bini."
"Tapi patut waspada, siapa tahu nantinya Sean kepincut sekretarisnya yang baru. Secarakan dia udah gak kerja, jadi ibu rumah tangga doang."
"Denger denger gosip sih, dia mantannya Gaza?"
"Sumpah lo?"
"Gila, dulu Gaza ngerebut Delia. Sekarang Sean balas dendam gitu?"
Kurang lebih seperti itu julitan julitan yang terdengar ditelinga Rain. Tapi dia memilih diam dan tak mau menanggapi. Rain mencari tempat duduk ditempat yang agak sepi sambil bermain ponsel. Sejujurnya dia sangat bosan. Sean dan teman temannya terlihat masih check sound.
Seorang waitres memdekati Rain dan menawarkan minuman, merasa sangat haus, Rain langsung mengiyakannya.
Rain tak begitu memperhatikan minumannya, dia yang sibuk bermain ponsel segera meneguk minumannya. Rain merasa sedikit aneh dengan rasanya, sepertinya dia belum pernah merasakan minuman seperti ini.
"Minuman apaan sih ini?" Rain memperhatikan gelasnya, minuman itu bening, tak berwarna. Rain lalu mencoba lagi untuk lebih mengecap rasanya. "Sumpah, aneh banget rasanya."
Rain meletakkan minumannya saat melihat Sean dan bandnya mulai beraksi. Sean sungguh terlihat tampan saat memetik gitar diatas panggung seperti ini. Para penonton langsung berteriak teriak. Tak sedikit yang berteriak memanggil nama Sean. Dan hal itu membuat Rain sedikit cemburu.
Rain berniat mendekati panggung. Dia ingin melihat suaminya lebih dekat. Dia juga ingin semua orang tahu kalau Sean adalah miliknya.
Tapi saat dia baru berdiri, dia merasakan aneh pada tubuhnya. Tubuhnya terasa panas, kepalanya pusing dan pandangannya sedikit berkunang kunang.
"Aku kenapa? kenapa kepalaku berat sekali." Rain bermonolog sambil memegangi kepalanya.
Pelan pelan Rain berjalan mendekati panggung. Dia takut pingsan, setidaknya kalau pingsan didepan panggung, Sean akan melihatnya. Begitulah yang ada dalam pikiran Rain saat ini.
Rain merasa tubuhnya oleng. Beberapa kali dia bahkan menabrak orang. Rain masih terus berusaha berjalan hingga lagi lagi dia hampir menabrak seorang laki laki. Demi menghindar, Rain justru hampir tercebur kedalam kolam yang berada ditengah tengah tempat acara. Beruntung seseorang menarik tangannya hingga dia tak sampai tercebur. Rain jatuh kedalam pelukan pria itu.
"Kamu gak papakan?"
Rain seperti tak asing dengan suara itu. Perlahan dia mendongakkan kepalanya. Speechless.