Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
FIRASAT


POV RAIN


"Sampai tadi pagi, Ayah tak pernah menyesal menjadi seorang pembunuh. Ayah melakukan itu semua demi menjaga kehormatan putri ayah. Tapi detik ini, ayah menyesal telah menjadi pembunuh."


Aku makin sesenggukan mendengar ucapan ayah. Mendengar saja udah membuat hatiku tersayat sayat, apalagi kalau saat ini aku menatapnya langsung? Aku tak sanggup membayangkan wajah ayahku saat ini.


"Ayah sangat menjunjung tinggi kehormatanmu. Tapi kau sama sekali tak menghargai kehormatanmu sendiri. Apa kehormatan adalah sesuatu yang bisa dijual? Sungguh menjijikkan."


Ya aku memang sangat menjijikkan, dan aku pantas menerima hujatan itu.


"Kenapa kau hanya diam Rain? Padahal ayah ingin sekali mendengar kau menyangkal semua ini. Dilubuk hati ayah yang paling dalam, ayah masih berharap jika semua ini tidak benar." Suara isak tangis ayah makin terdengar.


Ya Tuhan......Bagaimana aku bisa menyangkal jika semua ini memang benar. Berbohong tak akan menyelesaikan masalah, yang ada hanya akan menambah masalah.


"Katakan ini tidak benar Rain, katakan." Aku bisa mendengar nada putus asa dalam ucapannya. Aku ingin sekali memeluk ayah untuk memberimya kekuatan. Tapi, apa aku sekarang adalah kekuatannya? Atau, aku adalah kehancurannya?


"Apakah kau pernah memikirkan ayah saat kau melakukannya nak? pernahkah kau mengingat ayahmu yang renta ini? Pernahkah kau mengingat sedikit saja pengorbanan ayahmu ini?"


Dadaku seperti dihantam batu yang sangat besar, rasanya sakit dan berat. Aku sampai kesulitan bernafas.


"Ayah tahu kau melakukan ini untuk biaya pengobatan Alan. Tapi caramu untuk mendapatkan uang salah nak, salah. Uang haram tidak akan membawa berkah. Ayah takut hidup Alan tidak berkah karena uang itu."


Aku sontak menatap Alan. Dia terlihat lemas dan terduduk dilantai. Aku buru buru mematikan loudspkeaker. Aku baru menyadari kebodohanku yang tak meng off loudspkeaker sejak tadi. Alan pasti terpukul mendengar kenyataan ini.


"Semua ini salah ayah, ayah gagal menjadi kepala rumah tangga. Ayah gagal nak, ayah gagal."


Tidak yah tidak, ayah adalah ayah terbaik bagi aku dan Alan. Lagi lagi lidahku kelu, aku hanya mampu mengucapkan kata kata itu dalam hati.


Tut tut tut


Sambungan teleponnya sudah terputus tanpa aku bisa bicara sepatah katapun pada ayah. Ya, sejak tadi aku hanya mendengarkan ayah bicara tanpa menyahuti sekalipun. Aku meletakkan ponsel diatas nakas. lalu manatap Alan yang masih duduk dilantai sambil menangis. Dia pasti sangat hancur sekarang.


Aku menarik jarum infus yang menancap ditanganku. Netraku melihat darah menetes dari bekas tancapan jarum infus, tapi anehnya aku tak merasa sakit sedikitpun. Mungkin karena hatiku terlalu sakit, hingga tubuhku seakan mati rasa.


Aku pelan pelan turun dari ranjang lalu memeluk Alan.Ya Alanku menangis, cowok yang paling anti menangis itu meneteskan air matanya. Aku bisa merasakn jika tubuhnya bergetar hebat.


"Kenapa mbak lakukan ini? kenapa mbak?" Alan bertanya disela isak tangisnya.


"Alasanya Alan kan mbak? Ya, Alan adalah akar dari segala masalah yang terjadi. Alan yang menghancurkan hidup ayah dan mbak."


"Enggak Al, enggak, itu semua gak benar." Aku tak ingin Alan menyalahkan dirinya sendiri. Semua ini murni keputusanku sendiri. Alan tak pernah meminta pengorbananku.


"Kenapa Tuhan menghukumku seperti ini? Aku harus hidup dengan menanggung rasa bersalah seumur hidup karena sudah merusak masa depan Mbak dan membuat ayah dipenjara. Alan benci pada diri Alan sendiri." Alan memukul mukul dadanya sendiri, dan itu membuatku makin sedih. "Harusnya Alan pergi bersama bunda. Harusnya Alan mati saat itu."


"Stop, berhenti berkata seperti itu. Bersyukurlah karena Tuhan masih mengizinkanmu hidup sampai detik ini."


"Harusnya mbak gak perlu melakukan pengorbanan sebesar ini. Harusnya mbak biarkan Alan mati."


Aku menggeleng gelengkan kepalaku. Mana mungkin aku akan membiarakn adikku satu satunya mati. Sumpah demi apapun, aku menyayangi Alan sepenuh hatiku. Dan aku mau melakukan apapun untuknya.


"Kau mau kemana Al?"tanyaku saat Alan beranjak.


"Alan butuh waktu untuk sendiri." Ucap Alan sabil pergi meninggalkanku.


"Al, tunggu." Aku berusaha mengejar Alan. Aku tak mau terjadi sesuatu padanya. Pikirannya kacau sekarang, aku tak mau dia bertindak diluar batas.


"Al tunggu." Aku mengabaikan kepalaku yang mulai berkunang kunang dan tetap mengejar Alan.


"Aww." Pekikku saat tak sengaja menabrak sebuah brankar yang sedang didorong oleh perawat. Aku meringis kesakitan sambil memegangi perutku yang terbentur dengan pinggiran brankar.


"Mbak, mbaknya gak papa kan?" Tanya perawat itu.


...*****...


Pov Sean


PYARR


Astaga, kenapa bisa seceroboh ini. Kenapa saat aku ingin meraih botol air meneral malah tanganku tak sengaja menyenggol cangkir kopi hingga terjatuh dan pecah.


Dadaku, kenapa dadaku terasa nyeri? Apa aku terkena serangan jantung? Astaga, mikir apa sih aku ini kok sampai ngelantur ke jantung segala. Positif thinking Sean, positif thinking. Aku mengelus dadaku lalu meneguk air meniral agar rasa sakitnya sedikit berkurang.


Huft, mungkin karena aku terlalu terburu buru hingga tak sengaja menyenggol cangkir. Tak mungkinkan ini suatu firasat seperti yang di tipi tipi?


Aku makhluk yang gak peka, mana mungkin aku mendapatkan sebuah firasat? Tapi tunggu, rasanya aku gelisah, aku rindu Rain, aku rindu baby.


Aku ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaaku dan kerumah sakit. Walaupun baru sekitar 1jam yang lalu aku menelepon Rain, rasanya aku sudah sagat merindukannya.


"Shitt, dimana sih kamu beb?" Aku bermonolog karena terlalu kesal. Udah kesebelas kalinya aku telepon Rain tapi gak dijawab. Dan SiAlan itu, dia juga gak menjawab teleponku. Kenapa bisa kompak seperti ini sih?


Gila, rasanya jantungku berdetak tak beraturan. Waktu itu saat Rain mau diperkosa, aku merasa seperti Rain sedang memanggil manggilku. Dan saat ini, kenapa aku merasakan sakit? Apakah Rain kesakitan sekarang? ataukah terjadi sesuatu pada baby?


"Arrgggh.... "


Aku menjambak rambutku sendiri, ya aku harus segera ke rumah sakit. Kalau aku disini terus, aku bisa gila karena menebak nebak.


Aku meraih kunci mobil dan segera meninggalkan kantor. Persetan dengan dokumen dokumen yang harus ditandatangani. Aku tak lagi mempedulikan semua itu.


Aku berlari menyusuri koridor rumah sakit yang lumayan ramai. Aku tak sabar ingin segera memastikan jika kondisi Rain dan baby kami baik baik saja.


Aku melihat pintu kamar Rain terbuka, apa sedang ada kunjungan dokter?


Mataku terbelalak saat melihat ruangan Rain ternyata kosong. Ya, mungkin Rain sedang dikamar mandi. Aku segera membuka pintu kamar mandi, ternyata kosong juga.


Kemana Rain? apa dia sedang berjalan jalan dengan Alan?


Aku mengambil ponselku dan segera meneleponnya. Sial, ternyata ponsel Rain ada diatas nakas. Tapi dimana Rain?


Mataku melihat sesuatu yang aneh, aku segera mendekati brankar Rain. Darah, ya aku melihat beberapa tetesan darah. Dan infus ini, sepertinya sengaja dicabut. Hatiku makin tak tenang.


Aku keluar untuk bertanya pada suster, mungkin saja ada yang melihat Rain.


"Sus, lihat ibu Raina gak? pasien diruangan VVIP?"


"Maaf Pak saya tidak tahu." Aku tak putus asa, mungkin saja perawat lain tahu.


"Permisi sus, lihat Bu Raina gak? pasien di ruangan VVIP?" Entah sudah keberapa kalinya aku bertanya. Rumah sakit ini memang besar, jadi banyak sekali pegawai disini.


"Apa anda keluarganya Bu Raina?"


Aku segera mengangguk "Iya sus, suster tahu dimana istri saya?"


"Bu Raina ada di ruangan dokter Seno, spesialis obgyn. Tadi tak sengaja beliau menabrak brankar saat berlari. Beliau mengalami pendarahan dan sekarang sedang diperiksa."


"Pen, pendarahan?" Tidak, tidak mungkin terjadi sesuatu yang buruk pada baby kami.


.


Jangan lupa like dan komennya ya supaya otornya makin rajin nulis.