Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
KETUSUK DURI YANG BESAR


Rain sangat ketakutan melihat kemarahan Sean. Belum pernah sebelumnya Sean semarah ini. Kedua matanya terihat memerah serta memancarkan aura yang yang sangat menakutkan.


"Ka, kamu mau ngapain Sean?" Rain sampai tergagap kerena panik saat Sean menghempaskan tubuhnya dengan kasar keatas ranjang.


Sean segera melucuti pakaiannya sendiri. Dan dengan brutal dia mengacak acak pakaian Rain hingga lolos dari posisi asalnya. Rain berusaha menolak tapi tenaganya tak sebanding dengan Sean.


Rain hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan brutal Sean. Semakin dia melawan, akan semakin sakit rasanya. Dia mencengkeram sprei dengan kuat untuk menahan rasa sakitnya. Sean melakukan dengan sangat kasar hingga membuat bagian inti Rain terasa nyeri.


"Sudah Sean, sakit," rintih Rain sambil berlinang air mata.


Tapi Sean yang sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa tak mempedulikan rintihan Rain sama sekali. Yang dia pikirkan hanya satu sekarang, yaitu mencapai pelepasan.


"Stop Sean." Rain terus mengiba agar Sean menghentikan keberingasannya.


"Enak Rain, enak banget, sumpah." Racau Sean. Wajahnya yang menegang karena emosi berganti menjadi wajah yang dipenuhi kenikmatan.


Kedua orang itu melakukan hal yang sama tapi yang mereka rasakan sungguh berbeda. Yang keluar dari mulut merekapun juga sungguh sangat bertolak belakang.


Sean baru berhenti setelah dia mencapai klimaks. Sedangkan Rain, jangankan mendapat klimaks, yang dia rasakan sepanjang percintaan itu hanyalah sakit, sakit dan sakit. Rasanya seperti diperkosa walau tak benar benar diperkosa.


Sean merebahkan diri disebelah Rain sambil mengatur nafasnya yang ngos ngosan. Dia masih saja senyum senyum, mengingat kembali semua kenikmatan yang baru dia raih Saat menoleh kearah Rain, dia melihat Rain sedang menangis sambil memegangi selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke dada.


"Maaf." ucap Sean dengan santainya.


Maaf katamu? setelah memperkosaku kau bilang maaf tanpa ada ekspresi bersalah sesikitpun, batin Rain sambil menatap marah ke arah Sean.


"Udah ah jangan nangis. Dikasih enak kok malah nangis. Palingan besok besok kamu minta lagi karena ketagihan."


Rain hanya bisa menghela nafas sambil memejamkan matanya. Sean sungguh keterlaluan, bisa bisanya dia ngomong kayak gitu. Tapi Rain tak bisa apa apa, mau marahpun percuma. Toh, pada kenyataannya Sean memanglah suaminya yang berhak atas dirinya.


Sudahlah, mungkin ini memang harus terjadi, Rain mencoba berdamai dengan keadaan.


Rain merasakan tenggorokan sangat kering, dia ingin bangun untuk mengambil minum tapi tubuhnya seakan susah untuk digerakkan. Badannya terasa remuk, sandi sandinya seperti patah dan bagian intinya terasa sangat nyeri.


Sean bangkit untuk mencari benda kesayangannya yang tak lain tak bukan adalah rokok.


"Shitt." Dia mengumpat karena rokoknya habis.


Sean segera memunguti pakaiannya dan mengenakannya cepat cepat.


"Kamu mau kemana ?"


"Tuh kan udah mulai takut gue tinggalin. Udah ngerasain enaknya sih lo. Gue cuma mau keluar bentar beli rokok."


Padahal Rain tanya mau kemana karena dia pikir Sean mau kedapur. Kalau ke dapur, Rain ingin sekalian diambilkan minum.


"Belikan aku air mineral sekalian, aku sangat haus."


"Ya udah aku pergi dulu."


Setelah membeli rokok dan membakarnya hingga habis dua batang. Sean segera kembali ke apartemen, tak lupa dia membawa sebotol air mineral untuk Rain.


Sean terus senyum senyum saat memasuki apartemen. Dia sudah tak sabar mau masuk ronde kedua. Tapi saat memasuki kamar, dia tak menemukan Rain ada disana.


"Beb kamu dimana? dikamar mandi ya?" teriak Sean sambil memeriksa kamar mandi yang ternyata kosong.


"Shitt, dimana Rain? Apa dia sangat marah dan pergi. Astaga....bisa gila aku kalau dia dikit dikit ngilang kayak gini. Dah kayak siluman aja dia." Sean yang kalut tak henti henti mengomel. Dia mengambil ponsel dan kunci mobil. Dia sudah bisa menebak jika Rain pasti ngambek dan pulang ke rumah Alan.


"Mau kemana lagi?" Langkah Sean terhenti saat mendengar suara Rain. Dia menoleh kearah sumber suara untuk memastikan apakah yang bicara itu beneran Rain. Sean menghela nafas lega saat melihat Rain.


"Elo itu hobi banget sih bikin gue jantungan. Dikit dikit ngilang," omel Sean.


Astaga, kenapa aku sampai lupa gak ngecek dapur sih, batin Sean sambil menggaruk garuk tengkuknya.


"Ya udah yuk buruan."


"Kemana?"


"Yaelah, masak gitu aja mesti gue jelasin sih. Ya kekamar lah, gue masih kurang. Emangnya lo mau gue garap didapur?"


"Hah." Rain menelan salivanya dengan susah payah. Yang tadi aja belum ilang sakitnya, masih mau dihajar lagi, Batin Rain. Bagian intinya terasa ngilu membayangkan akan mengulang kesakitan yang tadi.


Rain bergeming beberapa saat sampai akhirnya dia melangkah pelan.


"Astaga Rain, lelet banget sih." Sean geram melihat Rain yang jalan terlalu lambat.


"Sakit Sean." Cicit Rain sambil meringis menahan perih di bagian intinya.


"Jadi kaki lo sakit, gak bisa jalan? ngomong dong dari tadi." Sean kembali lagi dan langsung menggendong Rain hingga ranjang.


"Yang mana yang sakit? kaki kamu kena pecahan beling atau duri?" Dengan bodohnya Sean malah mengecek telapak kaki Rain.


"Kayaknya kaki kamu baik baik saja Rain."


"Bukan kaki yang sakit."


"Lalu?"


"Ini aku yang sakit, ketusuk duri yang sangat besar." Rain menunjuk bagian intinya.


"Hah! hahaha," Sean malah menertawakanmya "Jadi kali ini kamu balas dendam mau ngeprank aku? kalau mau minta digendong gak usah pura pura sakit juga aku gendong."


"Tapi aku gak pura pura, beneran sakit."


"Udah ah gak usah caper. Kamu itu bukan perawan, jadi gak usah belagak sakit sakit kayak anak perawan."


"Tapi beneran sakit, sejak waktu itu, aku gak pernah ngelakuin itu lagi."


"Terus kalau gak ngelakuin lagi, lo balik perawan gitu? Ya mana bisa."


Ya Tuhan, gitu amat sih Sean. Tak ingin berdebat lagi dan makin makan hati. Rain menarik selimut lalu memunggungi Sean.


"Dih, gitu aja ngambek, baperan lo. Lagian aneh aneh aja, udah gak perawan masih bilang sakit."


Mungkin karena dosaku yang terlalu besar, aku jadi dapet suami kayak gini. Udah diperkosa dengan brutal, terus gak ada perhatiannya sama sekali. Rain menghela nafas panjang lalu membalikkan badan menghadap Sean.


"Bukankah kamu udah menghukum aku? Udah ngasih pelajaran yang luar biasa. Jadi aku mohon berhenti bicara kasar dan ngebentak bentak aku lagi. Belum cukup dari tadi menyakiti aku secara fisik maupun verbal? Kalau gak percaya sama aku ya udah. Gak usah ngetawain aku kayak orang bodoh. Aku tahu kamu gak cinta sama aku Sean. Tapi tolong jangan keterlaluan memperlakukan aku." Rain menangis karena sudah tak tahan lagi.


Astaga, sepertinya aku sudah sangat keterlaluan padanya. Bodoh Sean, kenapa sih sampai hilang kendali kayak tadi. Jangan jangan punyanya benar benar sakit. Secara kan gak pernah dipakai lagi sejak hari itu. Tadi rasanya juga sempit banget sampek punyaku susah masuk. Ya elah, aku juga gak pakai pemanasan tadi, main tusuk aja dengan kasar, gumam Sean dalam hati.


"Maaf, jadi beneran sakit ya?" Sean menyesali kata katanya.


"Udah, gak usah sok perhatian."


Dih, dasar cewek, dikasarin ngambek, diperhatiin jual mahal, keluh Sean.


"Maaf, aku benaran gak tahu kalau sakit. Aku pikir kalau udah gak perawan udah gak sakit lagi. Kamu mau apa? nanti aku ambilin. Kalau mau ke toilet juga bilang aku, ntar aku gendong."


Cih, sok perhatian, males banget, batin Rain