Harga Sebuah KEHORMATAN

Harga Sebuah KEHORMATAN
SUDAH MELEWATI BATAS


Flashback


Sean merasa tak tenang meninggalkan Rain diapartemen sendirian dalam keadaan sakit. Setelah meeting selesai, dia buru buru pulang.


Sean mencari kekamar mandi saat tak melihat Rain ada dikamar. Tapi nyatanya kamar mandi juga kosong.


"Beb... beb.. kamu dimana?" Sean memanggil manggil Rain. Dia keluar kamar dan mencari ke dapur. Karena tempat itulah favorit Rain selain dikamar.


Setelah menyusuri semua ruang, Sean tak juga menemukan keberadaan Rain. Dia mengambil ponsel dan segera mendial nomor Rain.


Berkali kali dia telepon tapi tak diangkat.


"Kamu dimana sih Beb, bikin aku cemas aja. Udah tahu sakit malah keluyuran. Jangan jangan dia kedokter?" Sean menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga Rain yang sedang sakit.


Beruntung telepon Rain dalam kondisi aktif, jadi Sean bisa melacak keberadaannya. Sean terkejut saat melihat posisi Rain saat ini adalah disebuah cafe, bukan didokter atau rumah sakit seperti perkiraannya.


Sean segera menyambar kunci mobil yang ada dimeja dan segera menuju tempat keberadaan Rain. Selama perjalanan, Sean terus bertanya tanya kenapa Rain ada di cafe?


Tak berselang lama, Sean sampai dititik posisi ponsel Rain berada. Netranya mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Rain.


Sean bergeming beberapa saat ketika melihat sosok yang dia cari. Hatinya panas, rahangnya mengeras serta kedua tangannya mengepal kuat. Dan penyebab itu semua adalah dia melihat Rain sedang bersama musuh besarnya, yaitu Gaza.


"Kurang ajar, jadi lo nipu gue Rain. Lo bilang sakit tapi ketemuan sama Gaza." Sean bermonolog.


Sean yang merasa digeram berjalan cepat ke arah Rain dan Gaza. Dia makin tak bisa mengendalikan diri saat melihat Gaza memegang tangan Rain.


"Berengsek, berani sekali dia menyentuh milik gue. Bangsa*!" Maki Sean sambil melayangkan pukulan di wajah Gaza.


BUGH


Flashback off


Sean yang emosi melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Dia seakan mempunyai nyawa lebih dari satu, gak ada takut takutnya. Dia menerobos padatnya jalan raya sambil terus membunyikan klakson.


Berbeda dengan Rain, dia terus menutup mata karena ketakutan. Dia seperti sedang senam jantung sekarang. Dan saat Sean tiba tiba berhenti karena mau menabrak, jantung Rain seketika mau copot dari tempatnya.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari keduanya. Rain diam karena takut, sedang Sean diam karena berusaha manahan emosi agar tak ribut saat mengemudi. Sean kembali melajukan mobilnya tanpa menghiraukan cacian dari pengemudi motor yang hampir dia tabrak..


Dan semua yang tertahan itu akhirnya pecah saat mereka sampai di apartemen.


"Jadi begini kelakuan lo dibelakang gue, hah," Sean berteriak tepat didepan wajah Rain hingga wanita itu terjingkat karena kaget. "Lo pura-pura sakit agar bisa ketemuan sama Gaza, iya kan?" Sena mencengkeram kuat bahu Rain.


Rain diam saja, dia tak bisa membela diri karena dia memang bersalah.


"Lo tau Rain, gue buru buru pulang karena khawatir keadaan lo. Gue gak tenang ninggalin lo yang lagi sakit sendirian di apartemen. Tapi lo malah kelayapan nemuin laki laki dibelakang gue."


Rain semakin merasa bersalah mendengar Sean buru buru pulang karena mengkhawatirkannya.


"Jangan diam aja Rain. Kasih gue penjelasan." Teriak Sean sambil menghentakkan bahu Rain dengan kasar.


"Aku, aku hanya ingin bertemu dengan Gaza untuk terakhir kalinya. Dia akan ke London besok." Jawab Rain sambil menunduk. Dia terlalu takut untuk menatap mata Sean yang memancarkan aura bengis.


"Terus kenapa lo ngebohongin gue? kenapa lo gak jujur dan malah pura pura sakit?"


Maaf Sean, gue terlalu takut untuk jujur, batin Rain.


"Jawab Rain, jangan bengong aja kayak orang bloon. Apa alasan lo ngebohongin gue?" Sean terus berteriak hingga menampakkan urat urat diwajahnya yang mengeras.


"Shitt." Sean menendang kaki meja hingga bergeser dari tempatnya.


"Kalo lo tahu gak bakal dapat ijin, kenapa lo nekat ketemu Gaza? Seorang istri tak boleh keluar tanpa ijin suaminya, ngerti lo?" Sean berteriak sambil mendorong kepala Rain dengan telunjuknya. Rasanya dia sudah tak bisa lagi bicara pelan. Hatinya sudah dikuasai amarah. Matanya memerah dan terlihat sangat menakutkan.


"Maaf Sean."


"Maaf lo bilang."


PLAK


Sean yang emosi tak bisa menahan diri. Dia menampar Rain dengan sangat keras hingga keluar darah dari sudut bibirnya. Rain merasakan sakit yang luar biasa pada pipinya. Selama ini dia tak pernah ditampar oleh laki laki. Dan tamparan Sean kali ini sangat kuat hingga pipinya terasa kebas untuk beberapa saat.


Sean memang tak pernah bisa menerima yang namanya pengkhianatan. Harga dirinya terlalu tinggi untuk bisa menerima itu.


"Dan satu lagi, kenapa lo gak angkat telepon dari gue? Lagi ngapain kalian berdua sampai lo gak bisa ngangkat telepon dari gue?"


Deg


Rain sangat terkejut mendengar jika Sean tadi meneleponnya. Padahal seingatnya ponselnya gak bunyi sama sekali. Apakah saat dia ketoilet tadi, batin Rain.


"Kali ini lo udah melewati batas Rain. Hanya karena selama ini gue baik sama lo, jadi lo bisa nginjek nginjek harga diri gue? Gue paling anti yang namanya diselingkuhin."


"Tapi aku gak ada niatan selingkuh Sean." Ucap Rain sambil memegangi pipinya yang terasa panas. Sebenarnya dia ingin menangis, tapi dia berusaha untuk menahannya.


"Lo pikir diem diem ketemu Gaza, terus pegangan tangan, itu namanya gak selingkuh?"


"Maaf." Hanya itu yang bisa Rain ucapkan saat ini.


"Enak banget lo. Setelah selingkuh tinggal bilang maaf. Lo pikir semua masalah bisa selesai dengan satu kata maaf?"


Rain menggeleng sambil berusaha untuk tenang. Sejak tadi tubuhnya gemetaran, terutama setelah Sean menamparnya.


Ditengah pertengkaran hebat itu, tiba tiba terdengar dering ponsel. Sean menyadari jika bunyi itu berasal dari ponsel Rain yang berda didalam tas. Tanpa permisi, dia langsung menyambar tas Rain dan mencari keberadaan ponsel itu.


Tapi niatnya mengambil ponsel batal karena melihat sesuatu yang lenih mengejutkan daripada sebuah ponsel. Sean mengambil paspor yang ada didalam tas Rain. Setelah dia cek, paspor itu atas nama Raina Zemira.


"Apa ini?" Sena melempar benda itu kewajah Rain. "Lo mau kabur dengan Gaza ke luar negeri? Jadi itu yang lo rencanain dengan Gaza?" Sean makin murka. Dia merasa seperti orang bodoh yang sedang dipermainkan oleh Rain dan Gaza.


"Enggak Sean." Rain menyangkal kata kata Sean.


"Gue pikir lo perempuan baik baik. Ternyata lo tega mau ninggalin suami lo buat kabur sama laki laki lain."


"Gue gak ada niatan kayak gitu Sean, sumpah." Rain mengangkat jarinya membentuk huruf v.


"Elo emang harus dikasih pelajaran biar gak seenaknya. Lo mesti diingetin kalau lo itu istri gue."


Sean menarik Rain masuk kedalam kamar dan menghempaskannya diranjang.


"Ka., kamu mau ngapain Sean?" Tubuh Rain bergetar hebat. Dia sangat ketakutan melihat ekspresi Sean yang seperti orang kerasukan.


.


Jangan lupa sempetin kasih like dan komen dan vote. Terimakasih


Selamat menunaikan ibadah puasa