Diceraikan

Diceraikan
SEASON 2 Mengunjungi Makam


Ali melajukan mobilnya menuju rumah dengan perasaan campur aduk. Sungguh apa yang dikatakan Reni tadi membuat Ali tak pernah menyangka. Laki-laki yang sempat Ali benci sekarang sudah tak ada lagi di dunia. Laki-laki yang mungkin saja tubuhnya sudah habis di makan ulat. Setitik air bening keluar dari mata tegas laki-laki itu. Sejahat apapun Reyhan, laki-laki itu tetaplah Ayah kandungnya.


Akhirnya Ali sampai di rumah. Memarkirkan mobilnya pada tempat biasanya. Memasuki rumah dengan menenteng tas kerjanya.


"Assalaamu'alaikum," Ali membuka pintu rumah dan mengucapkan salam seperti biasanya.


"Wa'alaikumsalam, Abang," Aileen yang kebetulan berada di rumah tamu langsung berlari menuju Abangnya. Memeluk kaki panjang laki-laki itu dengan erat.


"Bunda mana Ai?" Ali mengedarkan pandangannya yang tak melihat keberadaan orang rumah selain Aileen dan Azlan yang tengah duduk menonton televisi.


"Bunda lagi masak sama Kakak Mimi, Abang," jawabnya.


Ali menggendong adik kecilnya itu. Tak lupa mendaratkan ciuman pada pipi sang adik. "Ai main disini dulu ya, Abang mau mandi dulu. Gerah!" Ali menuruni Aileen tepat di samping Azlan.


"Iya, Abang," jawabnya.


Ali mendekati adik kecilnya mendaratkan ciuman pada pipi adik laki-lakinya itu. Membuat bocah laki-laki itu cekikikan karena geli. Apalagi brewok yang berada di pipi Ali belum di cukurnya.


Malam ini keluarga Yumna tengah duduk di ruang keluarga. Ali duduk di depan Abi dan Bundanya. Menatap kedua suami istri itu secara bergantian. "Bunda, Abi, aku ngomong sesuatu," ucapnya.


Mika yang juga berada di sana, menatap kearah Ali. Gadis itu penasaran dengan apa yang akan di katakan Ali. Pasalnya wajah laki-laki itu tampak sangat serius.


"Mau ngomong apa Al?" tanya Yumna.


Sebelum menjawab Ali sekali lagi menatap wajah kedua orang-tuanya. "Tadi aku ketemu sama Reni, Bun," jujurnya.


"Reni siapa Sayang? Apa Reni adik tiri kamu?" tanya Yumna yang kini menatap intens ke arah putranya.


"Iya Bun, tadi aku ketemu dia di rumah sakit. Kebetulan anaknya sakit gigi," jawab Ali.


"Lalu?"


"Aku sama dia sempat bercerita sebelum pulang tadi Bi, Bun. Reni mewakili Ayah untuk meminta maaf kepada aku," jawab Ali dengan jujur.


"Terus?" Yumna tampak sangat penasaran dengan apa yang dikatakan ke-dua orang itu.


"Aku sudah memaafkan Ayah jauh sebelum laki-laki itu meminta maaf Bun. Meski tak akan pernah lupa bagaiamana perlakuannya kepada ku dulu, itu jawaban aku Bun,"


"Bagus Nak, Abi suka kalau seperti itu. Tidak perlu menaruh dendam berkepanjangan. Ikhlas itu nomor satu."


"Iya Sayang, apa yang dikatakan Abi benar."


"Ayah sudah tenang Bun, Bi," Lagi Ali menatap wajah ke-dua orang-tuanya bergantian.


"Maksud kamu apa Al?" Sungguh Yumna tidak mengerti apa yang dikatakan putranya. Sama halnya dengan Ali tadi saat Reni mengatakan hal yang sama.


"Ayah sudah meninggal Bun,"


"Innalilahi wainnailaihi roji'un," Serentak Yumna, Andi dan Mika mengucapkan kata itu.


"Kapan Al?"


"Tiga tahun yang lalu Bun. Tepat saat aku terakhir bertemu Ayah. Saat Bunda dan Abi mengatakan dalang di balik kecelakaan aku. Saat itulah Ayah meninggal. Meninggal karena kecelakaan Bun, Bi," jelas Ali.


Yumna yang mendengar tidak dapat berkata-kata. Meski dia sakit hati dengan perlakuan mantan suaminya itu terhadap putranya, namun dia juga tidak mau mantan suaminya berakhir dengan tragis seperti itu. Apakah itu juga termasuk karma atas perbuatannya dulu. Apakah itu juga termasuk karma dari perbuatan laki-laki itu kepada dirinya juga.


Sedangkan Andi juga terkejut dengan apa yang dikatakan putranya. Tak menyangka jika laki-laki itu akan berakhir dengan tragis. Tak menyangka jika laki-laki itu meninggal dalam keadaan tak termaafkan oleh putranya sendiri. Apalagi waktu itu Andi sangat ingat, betapa benci dan sakitnya hati Ali saat mendengar kebenaran kecelakaannya.


"Semoga Ayah tenang disana Al," Yumna menatap wajah putranya yang tampak sedih.


"Aamiin Bun. Oh iya Bun, Bi besok aku mau berkunjung ke kuburan Ayah," izinnya.


" Iya Bunda, nanti aku Al sampaikan."


"Abi juga Al, jangan lupa sampaikan salam Abi sama mereka," pinta Andi.


"Baik Bi,"


***


Pagi ini Ali sudah Tapi dengan pakaian santainya. mengambil kunci mobil untuk menuju kediaman Reni. Sesuai rencana laki-laki itu kemaren, jika hari ini dirinya akan mengunjungi tempat istirahat sang ayah.


Melajukan mobilnya dengan santai menuju rumah Reni. Sebelum itu tak lupa Ali membeli tiga tangkai bunga mawar untuk di letakkan nanti di kuburan Ayahnya.


"Sudah siapa, Ren?" Saat sampai di rumah Reni Ali melihat wanita itu sudah berada di teras rumah seorang diri.


"Sudah Kak, tapi tunggu sebentar ya. Ibu juga mau ikut katanya,"


Ali mengangguk. "Baiklah,"


"Kamu sehat Nak?" tanya Lani saat mereka tengah berjalan menuju pusara Reyhan yang tak jauh dari rumah mereka.


"Alhamdulillah Al sehat Bu, Ibu sehat?" tanya Aku balik.


"Uhuk..., seperti yang kamu lihat Nak, ibu kurang sehat," jawab Lani dengan batuk yang tiba-tiba saja menghampiri dirinya.


Semenjak ditinggal Reyhan, wanita itu sudah sering sakit-sakitan. Cintanya, pujaan hatinya, separuh jiwanya sudah pergi untuk selamanya. Tak ada lagi semangat hidupnya, jika tak memikirkan keberadaan sang putri, mungkin saja dirinya sudah pergi menyusul suaminya. Berkumpul dengan suami tercintanya di alam sana.


"Semoga Ibu cepat sembuh, apa Ibu sudah berobat?" lagi laki-laki bertanya.


Lani mengangguk. "Sudah Nak, mungkin saja ini sudah sakit tua. Makanya tidak bisa lagi sembuh," jawabnya.


"Tidak Bu, Ibu pasti bisa sembuh. Bukankah setiap penyakit itu ada obatnya? Allah tidak akan memberi seorang hamba ujian jika tak ada penyelesaian Bu, sama halnya dengan sakit Ibu. Aku yakin Ibu pasti akan sembuh," Ali berusaha menyemangati wanita ringkih itu. Tubuh yang dulu berisi kini sudah semakin kurus. Lantaran pikirannya penuh dengan sang suami serta penyakit yang dideritanya.


"Aamiin Nak, Semoga saja Ibu tetap sehat,"


"Aamiin," Reni ikut mengamini do'a Ali.


"Oh iya Bu, Ren semalam Bunda sama Abi suruh nyampaikan salam untuk Ibu dan Reni sama aku," ujar Ali yang hampir saja lupa dengan amanah orang-tuanya.


"Iya nak, sampaikan juga salam balik Ibu sama orang-tuanya kamu," balas Lani.


"Iya Kak, aku juga,"


"Iya Bu, Reni nanti aku sampaikan. Maaf Bunda sama Abi tidak bisa datang ke sini. Karena hari ini Bunda sama Abi pergi ke toko. Mungkin suatu saat mereka akan datang berkunjung ke kuburan Ayah," Ali terus melangkah, mengikuti kedua orang itu.


"Tidak apa Nak, kamu datang berkunjung ke kuburan Ayah saja Ibu sudah sangat senang, Nak. Apalagi kamu sudah memaafkan Ayah itu merupakan suatu kebahagiaan bagi Ibu. Ibu sungguh tidak akan tega melihat Ayah yang terus bersedih di atas sana, lantaran tidak mendapatkan maaf dari kamu Nak." Air mata Lani dengan tidak tahu dirinya keluar dengan lancar. "Ibu tidak mau Ayah akan tersiksa terus menerus diatas sana atas perbuatan yang tak termaafkan itu, Nak," lanjutnya.


"Sudahlah Bu, yang penting sekarang Ayah sudah tenang disana. Ayah tidak akan lagi sedih seperti apa yang Ibu bayangkan," ujar Ali.


"Iya Nak, terima kasih. Terima kasih sudah memaafkan Ayah,"


"Itu sudah tugasku Bu. Lagian tidak ada gunanya aku dendam. Jika tak ada Ayah, aku juga tidak akan ada di dunia ini Bu. Terlepas dari apa yang pernah Ayah lakukan kepadaku, aku sudah memaafkannya jauh sebelum Ayah meminta maaf kepadaku," Jujur Ali.


"Alhmadulillah kalau gitu Nak,"


Akhirnya perjalanan yang hanya butuh 10 menit. Ketiga orang itu sampai dimana tempat terakhir Reyhan beristirahat. Kuburan yang tampak sangan bersih dengan tumbuh bunga mawar yang tampak catik dengan warna kuning. Ali berjongkok diikuti kedua orang buang bersama dirinya.


TBC