
Siang ini Yumna tengah duduk di teras rumahnya. Cuaca panas membuat Yumna lebih memilih duduk di teras rumah lantaran ada angin sepoi-sepoi yang terasa menerpa, apalagi di depan rumahnya terapat pohon yang lumayan besar.
Ditemani dengan es teh serta keripik pisang kesukaan Yumna. Wanita itu menikmati keripik pisang yang terasa manis di lidahnya. Di tambah dengan gawai yang senantiasa berada di tangan Yumna. Melihat berbagai promo alat-alat dapur yang memang banyak di gemari para ibu rumah tangga. Apalagi jika banyak diskon maka para ibu rumah tangga akan berbondong-bondong untuk membelinya.
Tangan lentik itu terus saja menscroll layar pipih itu tanpa menatap ke arah lain. Tangan kanan sibuk dengan keripik sedangkan tangan kiri sibuk dengan gawai.
"Ehhh Mbak Yumna apa kabar? lama ya nggak jumpa?" Saat sedang asik dengan gawainya seroang tetangga datang menghampiri Yumna dengan membawa kantong kresek yang Yumna tidak tau apa isinya.
"Ehh alhamdulillah baik Mbak, Mbak apa kabar? mari duduk Mbak," tanya Yumna balik dan menyuruh wanita itu untuk duduk di kursi yang ada di depannya.
"Alhamdulillah sehat," balasnya.
"Kemana saja Mbak? sudah beberapa hari nggak kelihatan?" tanya Yumna. Pasalnya tetangganya ini memang sudah beberapa hari tidak terlihat olehnya. Biasanya setiap sore kadang juga siang hari sang tetangga pasti akan duduk mengobrol dengan dirinya jika dia melihat Yumna tengah duduk bersantai di teras rumahnya.
"Kemaren saya pulang kampung, karena ada saudara yang nikahan," jawabnya dengan senyuman.
Tetangga yang memang dekat dengan Yumna. Karena tetangganya ini tidak sibuk bekerja seperti yang lain. Dia hanya duduk santai dirumah. Hanya suaminya yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kebetulan mereka tidak memiliki anak. Bukan berarti wanita yang ada didekat Yumna ini mandul. Hanya saja dia pernah hamil namun karena kecelakaan anaknya keguguran dan rahimnya harus diangkat. Jika tidak di angkat maka nyawa wanita itu bisa melayang. Itulah yang diceritakan wanita itu kepada Yumna.
Yumna cukup prihatin dengan wanita itu. Namun apa boleh buat jika takdir Tuhan tak seindah yang dia bayangkan. Allah punya cara tersendiri buat mereka. Yumna juga salut dengan suaminya wanita itu. Meski sudah belasan tahun menikah namun suaminya tak menuntut anak. Laki-laki itu sangat setia kepada sang istri. Hidup itu tak melulu menuntut segala sesuatu yang mungkin saja tidak dapat dipenuhi. Intinya syukuri apa yang menjadi takdir kita.
"Owhh, terus kapan kembali kesini lagi Mbak?" tanya Yumna menatap wanita yang juga ikut duduk di depannya. Kebetulan disana ada dua kursi yang disediakan Yumna. Sebenarnya ada tiga buah kursi, hanya saja tadi dibawa Ali kedalam rumah lantaran kursi tersebut dia pakai.
"Sore kemaren jam limaan sampai sini," jawabnya. "Oh iya nih oleh-oleh mbak bawain buat kamu," jawabnya menyerahkan kresek yang ntah apa isinya yang jelas Yumna tidak tau.
"Wahhh, makasih ya Mbak," Yumna menerima kresek yang diberikan wanita itu. Lalu meletakkan kresek diatas meja yang lumayan besar.
"Sama-sama Mbak," jawabnya dengan senyuman. "Oh ya mana anak kamu, Mbak?" tanya wanita itu lantaran tidak melihat dimana keberadaan Ali. Biasanya wanita itu selalu melihat anak Yumna ketika dia berkunjung dirumah Yumna. Hanya sekali-sekali dia tidak melihat anak bujang tetangganya ini.
"Belum pulang kuliah Mbak, katanya juga hari ini akan telat pulang. Katanya masih banyak tugas yang harus dia kerjakan," balas Yumna yang diangguki wanita itu.
"Ehh saya pulang dulu Mbak itu suami saya sudah pulang keknya," ujar wanita itu menunjukkan jarinya pada sang suami yang tengah turun dari motor yang dia parkirkan disamping rumahnya. Rumah wanita itu memang kelihatan dari rumah Yumna. Jaraknya memang tidak terlalu jauh.
"Oh iya Mbak, sekali lagi terimakasih ya oleh-olehnya Mbak," umat Yumna.
"Iya Mbak, sama-sama," Wanita itu meningalkan kediaman Yumna dengan sedikit berlari. Karena suaminya sudah sampai di rumah. Mungkin suaminya saat ini pulang cepat biasanya dia akan pulang menjelang magrib.
Sepeninggal wanita tadi, Yumna membawa kantong kresek yang berisi oleh-oleh pemberian tetangganya ke dalam rumah. Meninggalkan es teh yang masih tinggal setengah serta setengah botol keripik pisang. Yumna hanya akan meletakkan oleh-oleh itu dan akan kembali lagi ketempat dimana dia duduk.
"Ehhh mantan menantu?!" Saat sedang asik kembali dengan gawainya tiba-tiba Yumna dikejutkan dengan suara keras seorang wanita.
Yumna menegakkan kepalanya menatap tidak suka wanita yang kini sudah tepat berada di depannya. Tanpa basa-basi wanita langsung saja duduk dikursi yang ada disana.
"Kau dengar saya ngomong tidak?!" Masih dengan suara keras wanita itu menatap Yumna dengan tatapan mata yang rasanya ingin keluar.
"Tidak sudah teriak-teriak. Saya tidak tuli!!" hardik Yumna kepada wanita yang sudah bau tanah itu.
Wanita itu cukup terkejut dengan ucapan Yumna. Lantaran wanita itu berteriak tak kalah kencangnya dengan dirinya.
"Mana cucu saya?!" tanyanya dengan suara tak bersahabat sedikitpun.
"Tidak ada cucu anda disini!" jawab Yumna dengan lantang.
"Saya mau ketemu cucu saya?! kau harus ingat Yumna, jika anak itu juga darah daging Reyhan anak saya. Yang otomatis cucu kandung saya!" Wanita itu tampak marah dengan ucapan Yumna barusan.
"Emang apa yang anak anda kasih buat anak saya selama ini ha? dan sekarang dengan seenaknya anda ngomong jika dia anak dari putra anda. Harusnya anda sadar jika anak saya tetaplah anak saya. Tak ingatkan anda dengan kata-kata yang sering anda katakan kepada saya dulu, tidak ingatkah?!!!" Yumna berteriak di depan wanita tua itu. Dia sangat marah, dengan wanita tua itu. Bukannya ngomong baik-baik malah dengan cara yang dibilang tak hormat sedikitpun.
"Persetan dengan itu semua, yang jelas dia cucu kandung saya, anak dari putra saya. Kami berhak atas anak itu. Kamu lihat saja kami akan menuntut hak asuh cucu saya ke pengadilan!!" ucap wanita tua itu dengan seenak jidatnya.
"Hak asuh? apa saya tidak salah dengar?" tanya Yumna dengan menatap sinis wanita itu.
"Iya hak asuh, saya yakin jika hak asuh dia akan jatuh kepada putra saya!" ujarnya dengan bangga.
"Hahahahah," Yumna memegang perutnya mendengar ucapan wanita tua itu. Tak taukah dia jika sekarang anak bujangnya sudah dewasa. Bukan anak kecil lagi yang dengan gampang untuk mengurus hak asuhnya. "Seyakin itu anda jika anak saya akan anda miliki dengan menuntut ke pengadilan? bahkan saya juga bisa nuntut balik kepada anda!" ujar Yumna.
"Hahaha coba saja jika kau bisa! bahkan saya tidak punya salah sedikitpun!" lantang wanita tua itu.
"Tidak ada salah? yang benar saja. Bahkan anda sudah menjelekkan saya yang intinya pencemaran nama baik!!" ujar Yumna kepada wanita tua tak tau diri itu.
"Pencemaran nama baik? hahaha jangan mengada-ngada!!" ujar Rena wanita tak tau itu dengan nada suara meremehkan.
"Emang anda pikir saya bodoh? saya tidak sebodoh yang anda pikirkan. Selam ini saya diam bukan berarti saya tidak tau apa yang anda bicarakan pada orang-orang yang ada di dekat sini. Bahkan anda dengan gampangnya menuduh saya membawa cucu anda dan tidak memberitahukan kepada keluarga anda jika saya tengah hamil. Harusnya anda sebagai seorang ibu pasti tau jika berada di posisi saya. Di ceraikan hanya lantaran tidak kunjung memberi anak anda keturunan, lalu mengatai saya wanita mandul." Yumna menatap sinis wanita yang ada di depannya. "ckckckck bahkan jika bisa, anda tidaklah pantas menyandang gelar sebagai seorang mertua yang baik, bahkan lebih baik anda disebut dengan mertua jahat tak punya hati nurani!!" lanjut Yumna.
Wanita itu termangu mendengar ucapan mantan menantunya. Rasanya lidah wanita itu terasa kelu untuk mengucapkan sepatah kata.
"Kita lihat saja nanti!!" Setelah sekian lama, wanita itu baru berbicara. Memilih pergi dari hadapan mantan menantunya sebelum Yumna mengeluarkan perkataan lagi.
Sedangkan Yumna menatap wanita itu dengan pandangan nanar. Jangan lupakan jika hatinya saat ini sedang berdetak dengan kencang. Nafasnya memburu melawan wanita tua tersebut. Ingin rasanya Yumna mencekik atau melukai bibir wanita itu jika saja tidak berdosa dan juga tidak terkena hukum nantinya.
TBC