
Perjalanan ke rumah Yumna terasa begitu cepat. Ingin rasanya Andi untuk mengajak orang-tuanya untuk kembali ke rumah. Dia ingin menyerah. Sungguh rasa, itu ingin sekali dilontarkan laki-laki itu kepada ke-dua orang-tuanya. Namun ia urungkan, lantaran mereka sudah sampai di pekarangan rumah Yumna.
Andi maupun ke-dua orang-tuanya masih di dalam mobil. Belum ada di antara mereka yang membuka pintu. Tomi maupun Tati membiarkan sang putra untuk menyenangkan hatinya yang kini mungkin tengah gelisah. Terlihat jelas dari raut wajah laki-laki itu dan jangan lupakan peluh yang tampak di dahinya tandanya laki-laki itu juga merasa gugup serta rasa takut.
"Sudah lebih tenang An?" tanya Tomi kepada putranya.
Andi mengangguk. "Sudah Pa," jawabnya dengan menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Yasudah mari kita keluar. Tetap semangat, jangan ada rasa ingin mudur. Bahkan sekalipun kamu ditolak tetap berjuang dan jika akhirnya memang dia yang tidak mau, jangan memaksa. Yakin sama Allah jika ada kabar bahagia yang akan menanti kamu nantinya," Nasehat Tomi pada putranya.
Kembali laki-laki itu mengangguk. Benar, apa yang dikatakan sang ayah. Lagian jikapun itu terjadi, masih ada Allah untuk tempat dia mengadu. Tempat dia berkeluh kesah, tempat meminta segala hal yang belum dia capai. Hanya Allah satu-satunya tempat yang paling baik dari segala hal.
Akhirnya ketiga orang itu keluar dari dalam mobil. Dengan angunnya Tati melangkah mengikuti kedua laki-laki yang sangat di cintai.
Tok...
Tok...
Tok...
"Assalamualaikum," Tomi, Andi serta Tati mengucap salam. Sebelumnya Andi terlebih dahulu mengetuk pintu rumah itu. Kebetulan di rumah Yumna tidak ada bell yang bisa untuk di pencet.
Lama menunggu akhirnya pintu rumah itu terbuka. Menampilkan sosok pemuda tampan yang tampak sedikit tercengang tentang kehadiran ke-tiga orang itu.
"Wa'alaikumsalam, mari masuk Om," ajak Ali. Pemuda itu menatap canggung ke arah Tomi dan juga Tati. Pasalnya tidak tau apa yang akan dia ucapkan kepada ke-dua orang itu.
Ke-tiga orang itu mengangguk. Mengikuti Ali untuk masuk ke dalam rumah. Ali mempersilahkan ketika orang itu untuk duduk di ruang tamu. Sedangkan pemuda itu pergi ke kamar sang bunda untuk memanggil wanita kesayangannya.
"Bunda," panggil Ali dari luar pintu. "boleh aku masuk?" lanjut Ali.
Ali membuka pintu kamar Yumna, setelah mendengar jawaban dari dalam kamar itu. Melangkah mendekati sang bunda yang tengah merias wajahnya, karena wanita itu habis mandi.
"Ada apa Sayang?" tanya Yumna saat telah selesai memakai hijabnya.
"Itu diluar ada Om Andi sama sepasang suami-istri," ujar Ali yang membuat Yumna mengerutkan keningnya.
Yumna penasaran kenapa Andi datang ke rumahnya tanpa memberi tahu dirinya terlebih dahulu. Padahal biasanya jika laki-laki itu ingin datang ke rumahnya pasti akan memberitahunya. Bukan malah datang seperti saat ini. Apalagi kini dia tidak datang seroang diri seperti yang dikatakan putranya. Membuat Yumna menerka-nerka tidak jelas. Ada gerangan apa Andi datang ke rumah.
Ke-dua anak dan ibu itu keluar dari kamar Yumna. Yumna menuju dapur sedangkan sang putra menuju ruang tamu untuk bergabung dengan Andi serta ke-dua orang-tuanya.
Yumna membawa tiga gelas jus mangga serta sekotak cemilan di atas nampan, selerti biasa dia menyuguhkan kepada tamunya. Jika cuacanya dingin maka Yumna akan membuatkan teh manis dan jika panas maka Yumna akan membuatkan jus mangga. Seperti yang saat ini dia buatkan untuk ke-tiga orang itu.
"Silahkan di minum Bu, Pak, Ndi," ujar Yumna mempersilahkan mereka untuk mencicipi apa yang sudah dia bawa.
Mereka ber-tiga langsung saja mencicipi apa yang sudah Yumna suguhkan untuk mereka. Tati melihat wajah wanita yang jika nanti akan menjadi istri anaknya. Wanita berhati lembut, itulah yang dapat Tati lihat dari sifat Yumna. Meski belum tau bagaimana sifat asli Yumna, tapi Tati dapat membacanya dari raut wajah, bahkan cara dia melayani mereka dengan sangat lembut. Tidak ada yang dibuat-buat. Bahkan tampak natural.
Lama terdiam, akhirnya kepala keluarga dari rumah tangga Tati, menarik nafas sebelum melontarkan apa niat awal mereka datang ke rumah Yumna.
"Ehemm," Tomi berdehem cukup keras. Membuat semua yang ada disana melirik ke arah nya tanpa terkecuali.
"Maaf sebelumnya untuk Nak Yumna dan--" Tomi bingung karena tidak tau nama putra dari Yumna. Anaknya pernah menyebutkan namanya hanya saja Tomi lupa. Mungkin karena umurnya yang sudab tidak lagi muda, maka dia akan mudah lupa jika tidak sering menyebutkan namanya.
"Ali," Ali menyebutkan namanya saat laki-laki tua itu terdiam saat menatap kearahnya.
"Ah ya, Nak Ali. Bapak sampai lupa, padahal Andi pernah ngomong sebelumnya. Maklumi saja, Bapak tidak lagi muda, hehe." Tomi berkata dengan sedikit tawa diakhir kalimatnya. Lalu Tomi kembali menarik nafasnya untuk berbicara selajutnya. "Kedatangan kami kesini sebenarnya untuk meminta Nak Yumna untuk menjadi istrinya putra, kami yang tak lain Andi. Apakah Nak Yumna mau menerima pinangan dari kami untuk anak semata wayang kami," ujar Tomi dengan tegas. Tapi rasanya agak aneh jika dia menyebut Bapak saat berkata kepada Ali. Bahkan dia lebih cocok di panggil kakek oleh anak itu. Tapi biarlah, jika nanti anaknya jadi menikah dengan Yumna, maka pemuda itu pasti akan memanggil dirinya dengan sebutan Kakek.
Deg...
Yumna dan Ali sangat terkejut dengan ucapan Tomi. Sungguh ini sesuatu berita yang sangat mengejutkan bagi mereka berdua. Apa lagi ini sungguh terkesan mendadak. Jika saja Andi bercerita sebelumnya, maka mereka tidak akan seterkejut ini. Tapi apa boleh buat, sama halnya dengan nasi yang sudah menjadi bubur. Tidak akan pernah kembali seperti semula.
Yumna menatap sang putra. Apakah anaknya akan setuju jika dirinya menikah dengan Andi. Meski putranya itu pernah mengatakan jika dia setuju sang bunda untuk menerima pinangan seseorang untuk dirinya. Namun, Yumna juga tidak mau memutuskan sendiri tanpa sang putra.
Sedangkan Andi tampak menahan nafasnya menunggu jawaban dari Yumna. Berharap jawabannya bukanlah sebuah kekecewaan yang akan membuat dirinya kembali pada masa lalu yang menyakitkan. Masa lalu dimana sang istri pergi meninggalkan dirinya lebih cepat.
Ali menganggukkan kepalanya. Dia setuju jika Yumna menerima pinangan dari orang tua Andi. Lagian jelas Ali sangat menyukai Andi. Dia laki-laki yang sangat baik, karena selama dia kenal dengan Andi, tak pernah sekalipun laki-laki itu berbuat sesuatu yang tidak disukai Ali. Bahkan mereka tampak terkesan sangat cocok jika berbicara. Menyenangkan, itulah salah satu kata yang bisa Ali sematkan untuk Andi.
Yumna menatap ke-tiga orang itu bergantian, setelah mendapat jawaban dari putranya. Menarik nafas dengan pelan, lalu kembali mengeluarkan dengan pelan pula.
Yumna mengangguk. "Iya saya terima," jawab Yumna membuat ketiga orang itu bernafas lega. Bahkan sangat lega, terutama untuk Andi. Dia sangat bahagia, akhirnya apa yang dia takutkan sejak tadi tidak terjadi. Bahkan kabar ini merupakan kabar yang sangat-sangat dia impikan sedari tadi.
Selanjutnya mereka menentukan kapan pernikahan itu akan terjadi. Namun pilihan akhir mereka pada tangan Yumna. Yaitu satu bulan lagi, jadi harus menunggu satu bulan lagi mereka akan mengadakan pernikahan secara sederhana. Itu pun permintaan dari Yumna. Karena Yumna tidak mau menikah mewah-mewah, cukup sederhana yang terpenting bahagia.
TBC