Diceraikan

Diceraikan
Adakah Cara Lain?


"Dokter, suami saya baik-baik saja, bukan?" Dokter itu masih menatap Lani yang berderai air mata. Bahkan belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulut dokter laki-laki itu. Sepertinya sang dokter membiarkan Lani menanyakan apa yang kini mengganjal di hatinya.


Lagi-lagi helaan nafas keluar dari mulut sang dokter. "Maaf sebelumnya Bu. Keadaan pasien tidak baik-baik saja. Bahkan dengan berat hati, kami meminta Ibu untuk menandatangani surat ini," Dokter itu memberikan kertas yang ada di tangannya kepada Lani.


"Su--surat apa i--ini Dok?" tanya Lani dengan nada bergetar, setelah mengambil kertas putih itu dari tangan sang dokter.


"Buka dan lihat lah Bu," jawab dokter itu.


Degan segera jari-jari lentik milik Lani membuka lipatan pada kertas putih yang jelas ada coretan tinta hitam di atasnya.


"I-ini semua ti-dak benar 'kan Dok?" Lani menatap dokter itu meminta jawaban jika apa yang ada di kertas itu hanya omong kosong. Bahkan air mata semakin membanjiri wajahnya.


Dokter itu mengangguk. "Itu benar Bu. Maka dari itu saya memberikan kertas itu untuk di tandatangani keluarga pasien. Kebetulan hanya Ibu yang datang. Maka, saya berharap Ibu menyetujui tindakan selanjutnya. Itupun jika Ibu ingin yang terbaik untuk suami, Ibu," Sang dokter menjawab dengan pasti.


Lagian tak ada gunanya dia berbohong untuk kesembuhan pasiennya. Apalagi ini merupakan hal yang serius, yang tak bisa dianggap main-main.


"Ta--tapi ke-kenapa harus di amputasi Dok? apa tidak ada cara lain untuk suami, saya?" Lani masih berusaha bernegosiasi dengan dokter yang berada di depannya. Berharap masih ada cara lain untuk kesembuhan suaminya.


Lagi-lagi dokter itu menggeleng. "Maaf Bu, tidak ada. Sebelah kaki suami Ibu, terluka sangat parah. Bahkan bagian tempurung kakinya retak parah, bisa dikatakan hampir hancur. Tidak hanya itu dari atas lutut hingga bagian kaki bawah hancur. Mengakibatkan kakinya harus di amputasi secepat mungkin. Jika saja tidak, maka nyawanya bisa terancam." jelas dokter membuat Lani semakin syok. Bahkan wanita itu sampai menutup mulutnya dengan tangis yang terdengar di mulutnya.


Tak menyangka jika suaminya mengalami kecelakaan yang begitu parah. Rasanya dunia Lani hancur dalam seketika. Apa salah suaminya sampai-sampai takdir sepahit ini dialaminya.


***


Di kediaman Yumna kini tampak ramai dengan para tetangga yang datang untuk membantunya menyiapkan pernikahannya. Pernikahannya yang hanya tinggal dua hari lagi.


Kamar Yumna bahkan sudah dihias sedemikian rupa. Seperti kamar pengantin biasanya. Meski umurnya tak lagi muda, tak membuat pernikahannya kali ini tak mewah. Bahkan harapannya, pernikahan kali ini adalah untuk yang terakhir baginya. Cukup kali ini saja dia menikah lagi. Jika saja terulang lagi, maka Yumna tidak akan menikah lagi sampai ajal menjemputnya. Itu janji wanita yang kini tengah menatap kamarnya yang sudah tampak bagus, dengan selimut yang dibentuk seperti sepasang angsa. Jangan lupakan anggur yang bertebaran di samping angsa tersebut. Yang jelas terbuat dari selimut denga isian kertas.


"Bunda," Ali mendekat ke arah sang bunda yang tengah berdiri di bibir ranjang. Memeluk sang bunda dari samping. Menyalurkan rasa bahagia yang juga tengah dirasakan pemuda itu.


"Iya, Sayang," Yumna mendongak menatap sang Putra yang Bahkan kini lebih tinggi darinya. Tak menyangka jika putranya sudah sebesar ini sekarang.


"Aku bahagia, akhirnya Bunda menemukan laki-laki yang mau menerima Bunda dengan tulus," Ali berulang kali mengusai lenggang sang bunda dengan lembut.


"Iya Sayang, alhamdulillah. Bunda berharap ini pernikahannya terakhir bagi bunda, Nak," ujar Yumna.


"Aamiin Bunda. Aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk Bunda, serta pernikahan Bunda. Aku yakin jika Abi, memang laki-laki yang baik. Bahkan aku sangat yakin jika Abi, laki-laki yang penuh tanggung jawab." Ali sangat yakin dengan apa yang dikatakannya. Karena sangat terlihat jelas bagaimana laki-laki itu memperlakukan Bundanya.


"Aamiin Sayang. Terimakasih do'anya Nak," Yumna membalas pelukan sang Putra dengan erat. Seperti yang dilakukan anaknya kepada dirinya.


Ke-dua anak dan ibu itu keluar dari kamar pengantin milik Yumna. Mereka akan membantu tetangga yang kini tengah memasak di dapur. Setidaknya mengiris bawang atau memotong daging yang masih tampak besar-besar.


***


"Ba--baiklah Dok. Saya akan menandatangani surat ini. Tolong lakukan yang terbaik untuk suami, saya," Akhirnya Lani menandatangani kertas putih itu, setelah sang dokter memberikan pulpen kepadanya.


"In sya Allah kami akan melakukan sebisa kami, Bu. Ibu berdo'a saja untuk keselamatan suami, Ibu." Dokter menerima kertas yang udah ditandatangani Lani. "Yasudah Ibu langsung saja membayar biasa administrasi. Kami akan membawa suami Ibu ke ruang operasi untuk melakukan tindakan selanjutnya," Lanjut dokter yang diangguki Lani.


Dengan segera wanita itu meningalkan ruang UGD. Yang kini dia harus membayar biaya administrasi suaminya terlebih dahulu. Agar dokter bisa melakukan hal selanjuntya untuk sang suami yang kini mungkin saja sudah dibawa ke ruang operasi.


Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah satu jam lamanya Lani berada di depan ruang operasi. Lampu pada bagian atas masih saja warna merah, tanda operasi masih berlansung. Harap-harap cemas kini tengah dirasakan wanita itu. Takut jika saja terjadi sesuatu yang lebih parah kepada suaminya. Bahkan wanita itu tidak tahu bagaimana keadaan suaminya. Yang dia tahu, hanya apa yang di sampaikan dokter satu jam yang lalu.


Tak henti-hentinya wanita itu berdo'a kepada Allah untuk kesembuhan suaminya. Bahkan dalam hatinya tak pernah berhenti mengucap istighfar kepada sang Kuasa.


Ceklek...


Mendengar suara pintu yang dibuka membuat wanita itu otomatis berdiri. Bahkan wanita itu tak menyadari jika lampu sudah berubah warna. Saking asiknya berdo'a hingga lupa.


"Dokter, bagaimana dengan oprasi suami, saya? Apakah berjalan dengan lancar? Tidak terjadi sesuatu kepada suami saya bukan, Dok?" Lani memborong pertanyaan kepada sang dokter, yang kini jelas terlihat ngurat kelelahan di wajahnya.


Dokter itu menghela nafasnya. "Alhamdulillah operasinya berjalan lancar Bu. Tapi hingga kini suami Ibu masih dinyatakan koma. Berdo'a saja semoga suami, Ibu tidak terlalu lama dalam masa kritisnya," jawab dokter itu.


"Ki--kira-kira berapa lama suami, saya akan kritis Dok?" Lani menatap dokter itu dengan serius. Bahkan masih jelas terlihat wajah wanita itu tampak sembab.


Dokter menggeleng. "Saya tidak bisa memastikannya Bu. Apalagi dahi suami Ibu juga terdapat benturan yang membuat dahinya harus dijahit. Bisa jadi karena itu suami, Ibu masih kritis hingga kini. Tapi yakinkan, jika Ibu terus berdo'a, semoga Allah kabulkan do'a Ibu," ujar dokter itu menenangkan Lani yang kini tampak kembali menangis dengan keadaan suaminya.


"I-iya Dok, te-terimakasih," jawab Lani.


"Baiklah Bu, saya permisi dulu. Nanti akan ada suster yang akan mengantar suami Ibu ke ruang rawat," Pamit dokter itu.


"Iya Dok, sekali lagi terimakasih,"


Dokter hanya mengangguk. Selanjutnya dia kembali masuk ke dalam ruang operasi. Meninggalkan Lani yang kini tengah menangis di depan pintu ruang operasi.


TBC