
Yumna tengah berbaring di atas ranjang miliknya. Badannya terasa kedinginan, bahkan peluh sebesar biji jagung sudah keluar dari pori-pori dahinya. Badan Yumna tampak gemetaran sangking dingin yang dia rasakan. Bahkan bibirnya tampak bergetar dan pucat.
Beberapa jam yang lalu Ali sudah berangkat ke kampus, karena hari ini dia ada ujian. Tak bisa untuk diundur, bahkan Ali sendiri pun tidak ingin ujian susulan. Rasanya tidak enak jika ujian seorang diri.
Ali tidak tau jika sang bunda tengah sakit, lantaran tadi saat dia berangkat kuliah, Bundanya tampak baik-baik saja. Bahkan tak ada tanda-tanda jika dirinya tengah sakit. Seperti biasa bahkan sehat bugar. Cara bicaranya pun tak berubah kala Ali menghampiri sang bunda yang tengah mengisi piring makannya. Yumna menyiapkan sarapan pagi seperti biasanya, maka dari itu Ali tidak tau jika sang bunda tengah demam. Meski Ali melihat sekilas bibir sang bunda pucat, tapi biasanya bibir Bundanya tidak di poles. Jadi Ali beranggapan itu hal biasa.
Yumna menyelimuti tubuhnya yang terasa kedinginan, bahkan selimut sudah dua helai membungkus tubuhnya, namun rasa dingin itu tak juga kunjung hilang. Kepalanya terasa agak pusing. Ingin muntah, namun tak mau keluar. Yumna memejamkan nertranya dengan rapat, menghalau rasa pusing yang kian mendera.
Bahkan untuk mengambil air diatas nakas saja Yumna tidak kuat. Apalagi untuk berdiri dan turun dari ranjang. Badannya terasa lemas seperti tak bertulang. Mau menghubungi putranya juga tidak mungkin, menggerakkan tangannya saja Yumna sudah kesulitan, apalagi untuk mengambil gawainya. Gemetaran di tubuhnya semakin menjadi. Yumna semakin memeluk erat selimut yang kini memeluk erat tubuhnya.
Bahkan rasa pusing itu semakin menjadi. Sekuat apapun Yumna menutup matanya, rasa itu masih saja terasa. Ingin rasanya Yumna menangis, lantaran rasa sakit yang tak bisa dia tolak.
Bahkan obat saja dia tidak punya, karena selama ini Yumna sangat jarang sakit. Maka dari itu dia tidak menyimpan stok obat. Bahkan sang putra pun juga sangat jarang sakit.
***
Ali kini tengah mengikuti ujian. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak, ingin segera untuk pulang menemui wanita yang telah menghadirkannya ke dunia ini. Rasa cemas membuat Ali kurang konsetrasi untuk mengisi jawaban pada kertas ujiannya. Dengan sekuat tenaga Ali berusaha menghalau rasa cemas pada dirinya. Ali tidak tidak mau nilai ujiannya malah buruk, yang akan membuat dirinya nantinya malah menyesal, karena nilainya tidak bagus seperti keinginan dirinya serta sang bunda.
Waktu dua jam untuk ujian akhirnya selesai. Seluruh yang ada di dalam kelas itu mengumpulkan jawaban mereka pada meja dosen. Selanjutnya mereka keluar dari ruangan itu. Karena hari ini tidak ada belajar tambahan.
Ali langsung menuju parkiran. Menghidupkan mesin motornya dan tak lupa laki-laki itu terlebih dahulu memakai helmnya. Keselamatan dirinya itu yang lebih utama. Setelahnya Ali melajukan motornya keluar dari perkarangan kampus. Meninggalkan gedung bertingkat itu menuju kediamannya bersama sang bunda. Rasa cemas itu semakin meningkat, membuat Ali mengendarai motonya dengan kecepatan tinggi, agar dia lekas sampai dirumah.
Kini motor yang dikendarai Ali sudah masuk ke dalam perkarangan rumahnya. Langsung saja Ali memarkirkan motornya asal. Rasa cemas akan sang bunda membuat Ali tidak fokus sama sekali. Kaki panjang itu melangkah menuju dalam rumah. Langsung saja Ali masuk ke dalam kamar sang bunda tanpa mengetuk pintu seperti biasa.
Ali terkejut melihat sang bunda tampak sangat pucat. Bahkan bibirnya bergtar dengan cepa
Hati Ali terenyuh melihat keadaan sang bunda. Dia sangat sedih melihat Bundanya jika sudah sakit begini. Bundanya tampak lemah, tak bertenaga.
"Bunda," Ali menyebut nama itu dan melangkah dengan cepat menuju Bundanya yang tampak pucat dan juga gemetaran.
Ali menyentuh dahi sang bunda. Terasa sangat panas. "Bunda kita ke rumah sakit ya," ajak Ali dengan cemas.
"Tidak Bunda, kita harus ke rumah sakit. Badan Bunda sangat panas, dan tubuh Bunda juga gemetaran begini. Aku nggak mau terjadi sesuatu pada Bunda. Bunda tunggu di sini dulu, aku cari taksi diluar sebantar" Ali meningalkan sang bunda seorang diri. Ali sungguh tak mau terjadi sesuatu pada Bundanya. Dia takut, bahkan sangat takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada wanita kesayangannya.
Dengan cepat Ali berlari menuju jalan raya yang berada tepat di depan rumahnya. Kebetulan mereka tidak memiliki mobil, jadi Ali hanya akaan mengandalkan taksi yang akan membawanya serta sang bunda ke rumah sakit terdekat.
Ali melambaikan tangannya saat ada taksi yang lewat. Untung saja taksi itu kosong, jadi supir taksi tersebut bisa masuk langsung ke dalam pekarangan rumah Ali.
Ali menyuruh supir itu mengunggu sebentar dan menyuruh membukanya pintu belakang agar dia mudah untuk memasukkan sang bunda pada jok belakang.
Dengan langkah cepat Ali, masuk ke dalam rumah. Menuju kamar sang bunda. mengangkat tubuh Bundanya yang tidak terlalu berat bagi Ali. Membawa sang bunda pada mobil taksi yang tengah berdiri di depan rumahnya. Memasukkan sang bunda dengan hati-hati ke dalam taksi tersebut.
Setelah itu Ali kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil kartu ATM untuk membayar biasa rumah sakit sang bunda. Tak lupa Ali mengunci pintu rumahnya sebelum masuk ke dalam taksi tersebut.
Sekitar 40 menitan, akhirnya taksi yang membawa Ali dan Yumna tiba di pekarangan rumah sakit. Sebelum turun Ali memberikan uang pecahan seratus ribuan dan meminta sang supir untuk tidak memberikan balikannya yang alias untuk si bapak.
Ali kembali menggendong sang bunda masuk ke dalam rumah sakit. Dan tak lupa mulut laki-laki itu memanggil-manggil suster juga dokter.
"Nak Ali, Bundanya kenapa?" Tiba-tiba saja Andi muncul di depan Ali dengan menggunakan jas dokternya.
Ali yang melihat kehadiran Andi sedikit terkejut. Pasalnya Ali tidak tau jika Andi menjadi dokter di rumah sakit ini. Memang Ali mengetahui profesi Andi sebagai dokter, namun dia tidak tau Andi bekerja dimana.
"Banda Bunda panas dan juga menggigil Om, aku takut terjadi sesuatu pada Bunda," Ali menatap Andi dengan pandangan terpukul. Sungguh dia sangat takut saat ini.
Belum sempat Andi menjawab, seorang suster membawa bangsal menuju ke arah Ali. Dengan segera Ali meletakkan tubuh Bundanya di atas bangsal itu dengan hati-hati. Lalu suster itu membawa Yumna pada ruang UGD yang disusul Ali di sampingnya.
Sampai di depan ruangan bercat biru itu, Ali di suruh untuk menunggu di luar terlebih dahulu. Agar Yumna bisa ditangani oleh dokter. Disamping itu, Andi kini juga tengah berada di samping Ali. Dia menatap wajah pemuda itu yang tampak sangat sedih. Andi pun juga bisa merasakan apa yang dirasakan Ali saat ini. Dia juga pernah berada di posisi Ali saat dia masih remaja. Maka dari itu dia bercita-cita menjadi seorang dokter. Cita-cita yang mulia, karena ingin menyelamatkan nyawa seseorang. Meski takdir tentang kematian itu hanya milik Allah semata.
TBC