
"Bunda lagi apa?" Ali datang dari kamarnya dan langsung duduk di samping sang bunda yang tengah duduk sambil memainkan gawainya. Tampaknya wanita itu sangat serius melihat gawai tersebut.
Pemuda yang sudah y dengan rambut sedikit basah. Disisir ke arah atas yang menambah kesan gagah pemuda itu. Tapi emang kenyataan pemuda itu sangat gagah, kegagahan yang menurun dari sang ayah. Jika saja dia bersama dengan Reyhan mungkin saja dia akan di katakan adik kakak, lantaran wajah mereka yang nyaris sama.
Yumna menghentikan tangannya yang tengah asik menscroll gawainya. Menatap sang putra yang kini tengah duduk di sampingnya.
"Ini lagi buka fb Sayang, bunda mau lihat-lihat perlengkapan dapur. Sepertinya panci bunda sudah mulai agak jelek," jawabmu kepada sang putra.
Wanita itu jika sudah memainkan gawainya tidak akan jauh dari kata panci, kuali serta teman-temannya. Kadang Ali juga bosan mendengarkan itu-itu mulu saat dia bertanya kepada Yumna sedang apa, jika dia tengah memainkan gawainya. Seakan-akan yang ada di dalam gawai itu hanya membahas tentang alat-alat dapur. Tapi apa boleh buat, kan sekedar basa-basi terhadap sang bunda.
"Bun aku mau ngomong sesuatu," ujar Ali yang melihat Yumna kembali pada layar pipih itu. Kembali menscrool berbagai macam model panci serta kuali.
Yumna kembali menghentikan aktifitas yang menurutnya sangat menyenangkan. "Boleh, emang kamu mau ngomong apa, Nak?" tanya Yumna sembari meletakkan gawainya di atas meja. Sepertinya anaknya itu mau ngomong serius. Terlihat dari raut wajahnya.
"Tadi aku ketemu Ayah, Bun," Ali menatap wajah sang bunda yang tampak agak terkejut saat mendengar ucapannya.
"Dimana?" tanya Yumna kepada sang putra.
"Di taman Bun," jawabnya jujur.
"Terus?" Yumna penasaran kenapa mantan suamimu itu mengajak sang putra ketemuan di taman. Padahal bisa saja dia datang berkunjung ke rumah. Lagian Yumna juga tidak akan melarang dia jika ingin bertemu dengan anaknya. Jikapun melarang, Yumna tau akan agama. Tak mungkin dia melarang ayah kandung menemui darah dagingnya. Tak lantas dengan kesalahan masa lalunya. Yang namanya darah daging tidak akan pernah terputus sampai kapanpun.
"Aku diajak tidur di rumahnya Bun, meskipun sekali seminggu ataupun dua kali seminggu," jawab Ali dengan jujur. Ali sungguh tak mau membohongi wanita yang melahirkan dirinya itu. Bahkan hal sekecilpun jika sang ibu berhak tau, maka Ali akan menceritakan.
"Lalu apa kamu jawab Sayang?" Sungguh Yumna sangat terkejut dengan ucapan anaknya. Jikapun mantan suaminya ingin sang putra meginap di rumahnya, kenapa tidak langsung datang ke rumah untuk meminta izin dulu padanya. Bukan malah langsung kepada sang putra. Tak ingatkah laki-laki itu, jika selama ini dia yang sangat besar berperan untuk putra mereka.
"Ya aku jawab, jika aku nggak bisa mutusin seorang diri. Aku tanya dulu sama Bunda apa Bunda ngizinin aku menginap disana atau tidak. Itu kata aku, Bun," jawab Ali.
Yumna menghela nafas dalam. Rasanya dia tidak rela jika sang putra menginap disana. Tapi, Yumna tak bisa egois, karena apapun yang berhubungan dengan sang putra itu juga ada haknya sang mantan suami. Darah dagingnya. Jika saja tak ada dia, Yumna tidak akan pernah melihat kehadiran Ali dikehidupannnya.
"Yasudah jika kamu memang ingin menginal disana Bunda izinkan," jawab Yumna dengan menghela nafas panjang.
"Apa Bunda ikhlas aku menginap di sana?" Ali menatap sang Bunda yang tampak menghela nafas panjang. Ali tak mau sang bunda memberinya izin, jika sang bunda merasa terpaksa melepas dirinya untuk menginap di rumah sang ayah.
"Tidak Sayang, bunda ikhlas. Jika kamu mau menginap disana tidak apa-apa. Lagian bunda tidak mau berdosa lantaran melarang kamu untuk menginap di rumahnya karena ajakan ayah kamu, Sayang." jawab Yumna dengan senyum manis di bibirnya. Tapi yakinlah di dalam hatinya terasa berat jika sang anak menginap di sana. Rasanya dia belum cukup ikhlas melepaskan putranya menginap di rumah mereka yang terlalu dalam memberinya luka.
Yumna mengangguk. "Iya Sayang, bunda ikhlas," balas Yumna menampilkan senyum manis dibibirnya.
Ali masih tampak ragu dengan sang bunda. Tapi jika bundanya sudah berkata demikian, mungkin saja memang bundanya ikhlas.
"Terimakasih Bunda, mungkin aku hanya menginap disana hanya satu kali seminggu itupun kalau nggak terlalu sibuk buat tugas," Ali menampilkan senyum manisnya saat berkata demikian. Sungguh dalam hatinya dia juga sedikit bahagia. Bukan terlalu ya ingat, sedikit! Karena apa, karena Ali memang tak ingin meningalkan sang bunda seorang diri di rumah ini. Bahkan jika saja bisa, Ali memilih untuk tidak mau menginap di sana.
"Iya Sayang, sama-sama," jawab Yumna menampilkan senyuman khas dirinya.
Ali memeluk wanita yang ada di sampingnya dengan erat, yang dibalas Yumna tak kalah eratnya. Dibalik punggung sang putra, percayalah air bening keluar dari pelupuk mata terang itu. Sungguh dia sangat sedih jika saja hari itu tiba, hari dimana sang putra menginap di rumah mantan suaminya. Melarang pun Yumna rasa dia tak bisa, takut akan dosa dan laknat Allah.
Yumna dengan segera menghapus air matanya, sebelum Ali melepaskan pelukannya. Yumna takut jika saja putranya melihat dirinya menangis, Yumna yakin sang putra tidak akan mau menginap disana dengan alasan dirinya.
"Pesan bunda hanya satu Sayang," ujar Yumna saat Ali sudah melepaskan pelukannya.
"Apa Bun?" tanya Ali menatap netra Yumna yang sedikit basah. Ali tau jika tadi sang bunda menangis dalam pelukannya. Hanya saja Ali tidak mau menanyakan apa penyebab bundanya itu menangis. Bahkan tanpa Ali tanyapun, dirinya tau jika dirinyalah yang membuat sang bunda meneteskan kristal bening dari mata indahnya.
"Nanti jika kamu disana, jangan pernah nakal ataupun melakukan apapun yang kamu rasa memang tidak baik. Bunda nggak mau, nanti mereka malah menyalahkan kamu, dengan dalih hanya sesuatu yang memang tak disengaja. Bukan bunda mau menakuti ataupun memburukkan keluarga itu, tidak! Bunda hanya tak ingin terjadi hal buruk kepada kamu, Sayang," Yumna mengusap surai hitam pekat milik sang putra. Surai yang sama dengan dirinya.
"Iya Bunda, nasehat Bunda pasti akan aku ingat. Terimakasih Bunda sudah nasehatin aku. Aku juga tidak akan melakukan apapun disana," balas Ali dengan senyum lembut dibibirnya. "maka dari itu aku hanya ingin tidur satu kali seminggu disana Bun, takutnya menang apa yang Bunda takutkan itu terjadi. Karena feeling seorang Ibu tidak akan pernah salah," lanjut Ali menatap sang bunda. Memang benar bukan apa yang dikatakan Ali itu benar. Jika feeling seorang itu sangat kuat.
"Bunda tidak bermaksud mendo'akan yang buruk untuk kamu, Sayang. Hanya saja perasaan bunda tidak enak," jujur Yumna.
"Do'ain saja jika aku disana nanti akan baik-baik, Bunda." ujar Ali.
"Itu sudah pasti Bunda do'akan Sayang. Bunda juga tidak akan pernah menginginkan hal buruk terjadi pada kamu, Sayang,"
"Terimakasih do'anya Bunda,"
"Sama-sama Sayang,"
TBC