
Yumna tengah memakaikan baju untuk putri kecilnya, Aillen. Gadis itu sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik. Perpaduan antara wajah Yumna dan Andi.
Gadis kecil itu kini sudah berumur dua tahun kurang. Gadis kecil yang sangat cerdas dan juga aktif. Di umur yang satu tahun tujuh bulan gadis kecil itu sudah bisa berbicara meski belum seluruhnya. Gadis kecil yang sudah bisa berjalan meski belum terlaku kuat. Karena,sesekali dia pasti akan terjatuh. Wajah tembem gadis kecil itu membuat siapa saja ingin mencubitnya. Saking gemasnya dengan daging kenyal itu.
"Da.. Da...," racau Aillen saat sang bunda memakaikan hijab kecil pada kepalanya. Yumna memang mengajarkan sang putri untuk memakai hijab dari usia belia. Agar suatu saat dia tak akan susah jika di suruh untuk memakai hijab. Lebih tepatnya risih.
"Apa Sayang, hmm?" Yumna memoleskan krim bayi pada pipi putrinya.
"Ain... Ain... Bi,"
"Iya nanti kita main sama Abi, ya Nak. Sekarang Abi sedang mencuci mobil." Yumna gemas mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kecil putrinya. Beberapa kali Yumna mendaratkan ciuman pada pipi gembul putrinya.
Yumna menggendong putrinya untuk di bawa keluar. Apalagi cuaca saat ini sangat mendukung. Awan putih bersih serta langit biru yang tampak sangat cerah.
"Aileen mau kemana?" Ali menghampiri Bundanya yang tengah berjalan menuju pintu.
"Ini Adek mau ketemu Abi, Abang," jawab Yumna.
"Yuk sama abang ketemu Abi," Ali memberikan tangannya pada gadis kecil itu.
Dengan senang hati Aileen merentangkan tangannya kepada Ali. Agar laki-laki itu menggendong dirinya. Dengan senang hati, Ali menggendong Aileen. Tak lupa pemuda itu mendaratkan ciuman pada pipi gembul adiknya. Sedangkan Yumna hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku ke-dua buah hatinya.
"Bi... Bi....," Saat ini Ali maupun Aileen sudah sampai di dekat Andi yang tengah mencuci mobilnya.
"Ehhh, putri Abi kesini rupanya. Sudah mandi Sayang?" Andi mendekat ke arah putrinya untuk mendaratkan ciuman pada pipi gembul anaknya.
"Sudah Abi," jawab Ali mewakili Aillen.
"Ain... Ain... Bi,"
"Pantasan sudah harum begini. Nanti kita main ya, Nak. Kerjaan Abi belum selesai Sayang. Main sama Abang dulu ya," pintanya kepada gadis kecil itu yang tengah merentangkan tangannya kepada Andi.
"Kita main ke sana dulu ya, Dek. Nanti main sama Abi, lihat Abi masih banyak kerjaan," ujar Ali menghibur adik kecilnya yang hampir saja menangis. Lantaran Andi tak menggendong dirinya.
Ali membawa Aileen dari hadapan Andi. Menghibur gadis kecil itu untuk beberapa menit kedepan. Hingga Andi selesai mencuci mobil serta membersihkan tubuhnya.
****
Andi tengah bermain bersama gadis kecilnya di ruang keluarga. Disana juga terdapat Yumna dan juga Ali. Mereka hanya memperhatikan Ayah dan anak itu. Menikmati tontonan gratis yang tengah berlangsung di hadapan mereka.
"Coba baca bismillah," Andi mengajari gadis kecilnya untuk mengucapkan kata bismillahirrahmanirrahim.
"Milah,"
"Bukan Sayang, bismi,"
"Bimi,"
"Sedikit lagi Sayang. Bismi,"
"Bismi,"
"Pinter," Andi mendaratkan ciuman pada pipi gembul putrinnya. Melanjutkan mengajarkan putrinya untuk mengucapkan kata 'bismillahirrahmanirrahim' meski masih ada yang kurang dalam pengucapan yang di ucapkan bibir kecil gadis itu.
"Mas makan dulu yuk," ajak Yumna saat melihat suaminya tak lagi mengajari anaknya.
Andi mengalihkan penglihatannya pada istrinya. "Iya Bun, Mas juga sudah lapar. Bunda masak apa?"
"Ayam goreng kesukaan Mas, sama ayam kecap kesukaan Ali," jawab Yumna menampilkan senyum manis kepada suaminya.
"Ya sudah yuk, Bun," Andi membawa gadis kecil di pangkuannya menuju dapur, untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar.
"Al mana Bun?" Andi mengalihkan penglihatannya kepada sang istri, saat melihat putranya tak ada di dapur.
"Tadi pergi ke kamar mandi Mas,"
Andi hanya mengangguk mendengar ucapan istrinya.
Setelahnya mereka melanjutkan mengisi perut yang sudah tampak berontak. Menikmati makan tanpa ada suara yang keluar. Sedangkan gadis kecil Yumna, kini juga makan sendiri meski berlepotan, namun gadis kecil itu tampak tak risih. Malah dia sangat menikmati makanannya.
"Apa Sayang?" Yumna mengalihkan penglihatannya kepada sang putra.
"Kalau aku tambah kuliah lagi gimana Bun?"
"Itu lebih bagus Al, Abi dukung kamu," ujar Andi yang tengah melihat ke arah putra sambungnya.
"Iya Al, bunda juga setuju dengan apa yang dikatakan Abi," tambah Yumna.
"Beneran Bun, Bi?" Ali menatap bergantian Bunda dan Abinya. Tampak mata pemuda itu berbinar saat mendengar ucapan ke-dua orang-tuanya.
Yumna dan Andi hanya menganggukkan kepalanya.
"Iya, lagian itu juga memudahkan kamu untuk bekerja di rumah sakit nantinya. Jika hanya mengandalkan ijazah yang sekarang Abi kurang yakin jika kamu akan mendapat pekerjaan di rumah sakit. Lagian itu juga untuk masa depan kamu, Al,"
"Iya Al, itu semua demi masa depan kamu. Apa pun itu akan Bunda dan Abi lakukan untuk kamu. Asalkan kamu tidak akan bikin Bunda sama Abi kecewa suatu saat nanti," tambah Yumna.
"Iya Al, Abi juga berharap begitu. Jangan sia-siakan apa yang kini tengah kami lakukan untuk kamu,"
"Iya Bi, Bun, aku tidak akan mengecewakan Abi maupun Bunda nantinya. Aku akan berusaha untuk mewujudkan impianku agar membuat Abi dan Bunda bahagia. Terima kasih Bunda, Abi," Ali tampak sangat bahagia mendengar ucapan Bunda dan Abunya. Mereka sangat mendukung apa yang akan Ali lakukan.
"Sama-sama Sayang. Tapi ingat Nak, jika nanti kamu sukses jangan pernah lupakan orang-tua kamu. Banyak kan di zaman sekarang seorang anak yang melupakan orang-tuanya dikala dirinya sukses." ucap Andi.
"Iya Sayang, jangan pernah berlaku seperti itu, ingat dengan ajaran yang selama ini bunda tanamkan dalam diri kamu." tambah Yumna.
"Iya Bi, Bun, aku tidak akan melakukan itu nantinya. Aku akan selalu mengingat apa yang pernah Bunda ajarkan untukku selama ini. Terima kasih Bi, Bun," Mereka hanya menganggukkan kepala.
***
"Apa Aileen sudah tidur, Bun?" tanya Andi setelah keluar dari kamar mandi.
"Belum Mas, ini saja matanya masih merem-melek," jawab Yumna yang menyusui putrinya. Yumna memang berencana untuk menyusui sang putri hingga umur dua tahun.
"Apa masih lama lagi Ai akan tidur Bun?" Andi mengusap wajahnya dengan handuk yang ada di bahunya.
Yumna mengedikkan bahu. "Nggak tau juga Mas, tapi biasanya cepat kadang juga lambat. Apalagi jika aku berhentiin nyusuin Ai, pasti dia kan bangun lagi Mas,"
Andi menarik nafas panjang. Berjalan mendekati sang putri yang tengah meminum ASI Bundanya. Tampak gadis kecil itu sangat menikmati asupan nutrisi yang diberikan sang bunda.
"Bi," Aileen melepaskan asinya. Mendongak menatap Andi yang kini berada di samping.
"Kenapa dilepas Nak, apa mau Abi ambil, hmm?" goda Andi kepada putri kecilnya itu.
"Bi," Lagi Aileen memanggil sang abi. Bahkan gadis kecil itu tak menghiraukan ucapan Abinya. Menatap wajah laki-laki yang berstatus Abinya itu dengan wajah sayu.
Matanya sesekali terpejam. Mungkin saja gadis kecil itu sudah sangat mengantuk. Hingga akhirnya mata itu tertutup dengan rapat.
"Apa Ai sudah tertidur itu Bun?" Andi memastikan putrinya sudah tertidur atau belum.
"Sudah Mas," Yumna memencet-mencet hidung putrinya, melihat apakah anaknya itu sudah tertidur atau hanya tidur-tidur ayam saja.
"Apa boleh sekarang Bunda?" Andi beralih ke samping sang istri. Memeluk tubuh itu dengan erat.
Yumna menggeleng. "Tidak bisa Mas,"
"Kenapa?" Andi mengerutkan keningnya tak paham.
"Aku lagi datang bukan Mas,"
Wajah Andi seketika menjadi lesu. Padahal berjarak malam ini dia bisa berbahagia bersama istrinya. "Sejak kapan Bun?"
"Tadi habis maghrib Mas,"
Wajah Andi semakin kecewa mendengar ucapan istrinya. Apa yang hendak dia inginkan, nyatanya harus di undur untuk satu minggu ke depan.
TBC