
Setelah memeriksa pasien terakhirnya yang tak bukan tak lain adalah anak dari adik tirinya. Saat ini mereka sudah menuju testoran seberang rumah sakit. Tak lupa Ali membawa tas kerjanya, lantaran laki-laki itu akan langsung pulang setelah bercerita dengan Reni.
"Kamu mau pesan apa Ren?" Saat ini Ali tengah melihat-lihat menu yang tertulis pada buku yang di sodorkan waiters.
"Samain saja Kak," balasnya.
"Baiklah, pesan ini dan ini ya Mbak," pints Ali menunjuk menu pada buku itu.
"Baik Mas, tunggu sebentar ya,"
Saat ini mereka belum membuka suara. Menunggu pesanan mereka terlebih dahulu, lalu makan dan baru akan bercerita. Akhirnya pesanan mereka sudah datang. Ali maupun Reni makan dengan lahap. Sesekali Reni menyuapi putri kecilnya.
"Ah ya kamu mau ngomong apa, Ren?" Ali menatap wajah adiknya itu.
Reni menatap wajah laki-laki yang sangat mirip dengan Ayah mereka. "Aku mewakili Ayah untuk minta maaf sama Kakak," ucap Reni menatap wajah Kakak laki-lakinya itu.
Ali menaikkan alisnya sebelah. "Aku sudah maafin Ayah sejak lama, Ren," jujur Ali. Lagian untuk apa Ali menaruh dendam dengan seseorang yang membuat dirinya hadir di muka bumi ini. Hanya saja kata-kata yang dulu di keluarkan laki-laki itu yang tak bisa Ali lupakan. Jika diingat terus maka, rasa sakitnya akan tetap ada. Maka dari itu Ali berusaha untuk melupakan kata-kata itu, meski sekali-sekali akan muncul.
"Ayah benar-benar menyesal sudah memutus hubungan darah antara Kakak dengannya. Ayah menyesal karena sudah membuat kakak kecelakaan. Bahkan setiap hari ayah selalu menyesali apa yang sudah dia lakukan kepada kakak. Setiap hari aku selalu melihat Ayah menangis seorang diri di dalam kamarnya. Setiap hari Ayah memukul dadanya yang terasa sakit. Setiap hari pula Ayah menanyakan pada Ibu, apakah ada kata maaf dari Kakak untuk dirinya. Ayah benar-benar sangat menyesal Kak," Mata cantik wanita itu sudah mengembun. Sunggu rasanya sangat sakit mengingat apa yang dilakukan Ayahnya untuk berjuang meminta maaf dari putranya. Rasanya sangat sakit melihat ayahnya yang menderita karena penyesalan yang mendalam.
"Kakak sudah memaafkan Ayah jauh sebelum Ayah meminta maaf sama kakak. Bahkan saat terakhir kakak bertemu dengan Ayah, kakak juga sudah memaafkan dirinya. Meski saat itu kakak belum tahu siapa dalang dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawa kakak," Ali menatap adik tirinya yang tampak sudah menangis. "Hingga akhirnya sebelum kakak kembali melanjutkan kuliah ke LN, Bunda sama Abi mengatakan bahwa dalang kecelakaan kakak waktu itu adalah Ayah. Kamu tahu Ren, hati kakak sangat sakit mendengar kenyataan itu. Ayah dengan teganya menuduh kakak mencelakai Nenek, lalu menuduh Kakak karena kamu menjauhi Ayah. Dan terakhir Ayah berusaha membunuh darah dagingnya sendiri. Sungguh itu tidak akan bisa kakak lupakan," Ali menatap adiknya itu dengan mata berkaca-kaca. Sungguh hatinya masih teramat sakit mengingat itu semua. Takdir yang sangat kejam menurut Ali.
"To-tolong maafkan apa yang sudah Ayah lakukan sama Kakak. Tolong maafkan kesalahan yang pernah Ayah lakukan kepada Kakak. Aku mohon maafkan Ayah Kakak. Agar Ayah bisa tenang disana," ucap Reni dengan sesegukan. Sungguh dia juga teramat sakit mendengar apa yang dikatakan Ali kepada dirinya. Jika saja itu terjadi padanya, maka dia juga akan melakukan hal yang sama.
"Tenang maksud kamu apa Ren?" Ali menatap Reni bingung.
"Ayah sudah meninggal Kakak. Ayah sudah tidak ada lagi di dunia ini," jawab Reni menatap wajah laki-laki dengan mata yang mungkin saja sudah sembab.
Deg...
Sungguh Ali tak pernah menyangka jika dirinya akan menerima berita ini. Padahal sebelum itu Ali berharap Ayahnya masih hidup. Meskipun Reyhan pernah melakukan kesalahan fatal kepada dirinya, bukan berarti Ali akan sangat kejam dengan Ayahnya sendiri. Ali sudah ikhlas, ikhlas dengan apa yang sudah Reyhan lakukan kepada dirinya. Tapi berita ini juga sangat menyakitkan bagi dirinya. meski dirinya hanya beberapa kali saja tinggal di rumah Reyhan, Ali tetap menyayangi laki-laki itu.
"Innalilahi wainnailaihi roji'un. Kapan? Kapan Ayah meninggal, Ren?"
"Tiga tahun yang lalu Kak," jawabnya.
"Apa Ayah sakit atau apa Ren?"
"Ayah kecelakaan, tepat setelah Kakak bertemu dengan Ayah. Kata Ibu kusir roda Ayah mungkin ada yang menyenggol karena, saat itu banyak yang berlalu lalang di dekat itu. Maka dari itu kursi roda Ayah berjalan dengan kencang menuju jalan raya. Ibu lupa meletakkan batu pada depan roda kursi roda Ayah. Karena ada beberapa bagian kursi roda Ayah yang tidak lagi berfungsi," jelas Reni menatap Kakak laki-laki itu yang tampak matanya sudah berkaca-kaca.
Ali tak menyangka jika pertemuan mereka waktu itu adalah pertemuan terakhir antara dirinya dan Ayah kandungnya. Mata laki-laki itu kembali mengembun, tak menyangka jika dirinya sudah tak lagi memiliki Ayah kandung. Menyesal? Ali tidak terlalu menyesal. Bukan Ali anak durhaka, lantaran dirinya tidak begitu dekat dengan Ayahnya. Bahkan Ali hanya beberapa kali saja menginap dan bertemu dengan Reyhan.
Ali anak durhaka? Biarlah orang menganggap begitu. Mereka tidak tahu apa yang Ali rasakan. Mereka tidak tahu betapa terlukanya hati Ali kala dirinya mengetahui kenapa Ayahnya meninggalkan Bundanya. Mereka tidak tahu betapa susahnya perjalanan yang Ali lalui berdua dengan sang bunda. mereka tidak tahu betapa banyak cemooh yang dia dapatkan waktu masih sekolah. Mereka tidak tahu betapa orang-orang menganggap dirinya bukanlah anak dari hasil pernikahan. Kejam bukan? Tapi itulah yang Ali rasakan di hidupnya. Mau menganggap semua ini tak adil namun, itu sudah garis takdirnya.
Benci akan Reyhan? Ya Ali sempat benci dengan laki-laki yang menurut Ali hanya mementingkan dirinya sendiri. Tanpa tahu betapa terlukanya hati Bundanya saat laki-laki itu menceraikan sang bunda. Hanya karena seorang anak. Tapi itu semua kini sudah Ali ikhlaskan, ikhlas menerima takdir yang di berikan Allah kepada dirinya.
Biarlah, mungkin itu takdir yang terbaik Allah berikan kepada dirinya. Ikhlas dan sabar adalah kunci dari segalanya. Apapun itu bentuk takdir yang diberikan Allah kepada dirinya, dia tak pernah menyesal menerima itu. Belum tentu yang baik menurutnya akan baik pula menurut Allah.
"Bisakah kamu membawa kakak untuk berkunjung ke tempat peristirahatan terakhir Ayah, Ren?" tanya Ali.
"Boleh Kak, lagian Kakak juga harus tahu dimana Ayah dikubur. Kapan Kakak mau kesana?" tanya Reni menatap Ali.
"Besok, besok kakak libur jadi kakak bisa datang ke sana," jawab Ali.
"Baiklah Kak," balas Reni dengan tersenyum.
Reni bersyukur akhirnya dia bertemu dengan Ali setelah beberapa tahun lamanya tak bertemu. Reni bersyukur akhirnya sekarang kata maaf sudah dia dengar langsung dari mulut Ali. Reni besyukur akhirnya Ayah, mereka bisa tenang disana tanpa merasa sedih lagi.
Selanjutnya mereka memilih untuk pulang. Sebelum itu Ali mengantarkan Reni pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Setelahnya baru laki-laki itu pulang ke kediaman sang bunda.
TBC